
[Selamat pagi, diberitahukan kepada rekan guru SMA Pelita Bangsa untuk datang ke sekolah hari ini, karena pada pukul sepuluh pagi akan dilaksanakan rapat.] Jreeeeeengggg... Riana terkejut. Dia auto bangkit dari rebahannya. Sekarang jam setengah delapan, harusnya ia membaca pesan itu dari jam enam, dan jam sepuluh pelaksanaan rapatnya. Ini sih hari buruk namanya! Mana motor dia lagi rusak pula, kan. Hadeeeh! Gimana ini? Kemana ia harus mencari solusi saat keadaan super kalut begini? Katakan peta, katakan peta... Eh, salah, itu mah Dora. Ya udah, jangan ngelantur. Mending, kita terusin aja gimana ceritanya.
***
“Riii, kenapa sih gedombrangan pagi-pagiii?” protes Milia yang lagi sibuk dengan panci dan teman-temannya di dapur, sepertinya sedang memasak (ya iya dong, yang bilang lagi nyiram tanaman juga siapa?). Hari ini dia kena shift siang, jadi dia bisa masak buat dimakan sama penghuni kost yang lain. Lumayan, menghemat pengluaran.
“Sorry, Mil, tapi gue lagi buru-buru nih...” kata Riana seraya tergesa mengenakan sepatunya.
“Nggak sarapan dulu, Ri?” tanya Milia lagi seraya mematikan kompor.
“Nggak deh, Mil, gue ngojol soalnya, lagian udah jam segini juga. Gue pamit,, ya, assalamu’alaikum...”
“Waalaikum salam, hati-hati, Ri...” kata Milia. Riana Cuma mengangguk kilas, dan ia langsung terbang menuju pintu gerbang, menaiki abang ojol *eh, ojol yang sudah dipesan.
***
Riana mengacak-acak rambutnya frustasi. Ternyata berita buruknya adalah bukan tentang dirinya yang terlambat datang ke rapat, tapi tentang kepala sekolah yang menunjuknya secara mendadak untuk menjadi pelatih bagi siswa-siswi yang terpilih mengikuti festival pekan budaya pelajar. Dia Cuma dikasih deadline sebulan. Gila, dia harus apa ini?
***
“Mbok uwes tho Mbak Riri, bisa-bisa, yakin saya,” ucap salah satu guru senior yang bertemu dengannya secara tidak sengaja di kantin. Itu Pak Catur, guru seni senior, sekarang megang monolog dan teater kelompok.
“Aduh pak, saya kan belum banyak pengalaman. Kalau ngelatih untuk event-event sekitar sekolah kayak pensi aja, saya bisa, tapi ini skala nasional e pak...” Riana menghela napas.
“Bisa mbak, saya yakin mbak bisa... Tenang aja, ada saya, ada yang lain juga, kita pasti bantu kok...” kata Pak Catur seraya menepuk akrab pundak Riana.
“Saya sebenernya nggak yakin pak.” Kata Riana pelan.
“Lho, harus yakin, mbak, inget, mbak itu guru idola disini, anak-anak selalu semangat lho kalau diajar sama mbak...”
“Aduuuh, tapi tetep gak kepikiran sama saya pak, saya harus ngajarin apa, harus bikin konsep persembahan apa buat anak-anak yang mau ikut pekan budaya ini... Pokoknya, saya masih nggak kepikiran...” kata Riana putus asa.
__ADS_1
“Yowes, Mbak Riana, makan aja dulu, nanti habis ini kita lanjut diskusi sama guru-guru yang lain juga, tenang mbak, mbak nggak sendirian kok... Saya tinggal dulu, ya,” pamit Pak Catur seraya sekali lagi menepuk pundak Riana.
“Monggo, pak, terima kasih...” jawab Riana sopan seraya melangkah gontai menuju kantin, memesan semangkuk bakso super pedas. Dia sedang stress berat hari ini.
***
[Ikut Pekan Budaya Pelajar juga?] satu pesan masuk, usai Riana merampungkan konsep yang akan ia pakai untuk melatih anak-anak yang dipercayakan padanya, ada Riza, Rachel, Saras dan Andre. Rencananya, mereka berempat itu akan tergabung dalam sebuah band.
[Iya, Bhi, emang kamu ikut juga?] Riana segera membalas. Benar, pesan itu ternyata dari Abhi. Abhi is typing.
[Ikut, ini habis ngelatih... Denger-denger sih kompetisinya udah akan dilaksanakan secara offline lagi, kan pandemi sudah mereda...] Riana kaget. Matanya seperti hendak mau copot dari rongganya. Apa tadi katanya? Offline? Nggak daring lagi?
[Heh, kamu serius? Emang pelaksanaannya bakal dimana, Bhi?]
[Antara Malang apa Surabaya gitu, aku kurang tau...]
[Aiiiiiisssssshhhh... Apa-apaan sih ini? Udah aku tau info telat, dikasih deadline ngelatih Cuma sebulan, wadadaw!]
[Aku ngirim band, film pendek, teater kelompok, musikalisasi puisi, sama monolog... Kamu?]
[Aku ngirim band, solois, vocal group, film pendek, sama musikalisasi puisi...] jawab Abhi.
[Berarti yang di bidang musik nyangkut di kamu semua ya, Bhi?]
[Enggak, tadinya mau ada sih satu, pemain biola gitu, tapi anaknya nggak mau ikut, mau fokus ujian. Aku paham sih, dia kan udah kelas tiga...]
[Oh, iya, disini juga mau bawa pianis, tapi kasusnya begitu, karena sudah kelas tiga, dia milih fokus belajar aja. Ya udah, sukses ya, Bhi, aku mau nelpon murid-muridku dulu.] pamit Riana.
[Okay, Riana, sukses juga ya kamu. See you, mudah-mudahan kontingen Jakarta diberangkatkan bareng, kan jadi bisa satu pesawat lagi kita wkwkwk.]
[Aamiin, selamat bertugas, Abhi. Bye...]
__ADS_1
***
Kamar kost, lagi. Akhirnya setelah seharian ia mencurahkan waktu dan perhatian (eh, itu sih judul lagu ya), tapi bener kok. Setelah seharian ini ia mencurahkan waktu, tenaga dan perhatiannya, akhirnya dia bisa pulang lagi dengan selamat kembali ke kost-kosannya. Kali ini dia dianter sama Riza, karena memang udah sore banget, Riza-nya sendiri nggak tega katanya ngebiarin Riana pulang sendirian, sementara Riana-nya nggak bawa kendaraan kayak biasanya.
Tok-tok-tok... Suara ketukan yang khas itu ; pelan dan teratur, menyapa telinga Riana, setelah ia memejamkan matanya beberapa saat. Dengan gerakan pelan, gadis itu bangkit dari atas tempat tidur, lalu membuka pintu.
“Ada apa, Sel?” tanyanya.
“Ada kiriman makanan nih, tadi dianter sama ojol, katanya pengirimnya atas nama Abhi, buat mbak...” kata Selena seraya membawa plastik berisi kotak makanan tersebut.
“Hah? Abhi?” Riana garuk-garuk kepala.
“Iya... Kayaknya itu temen mbak yang kata waktu itu kesini deh...” ucap Selena.
“Ya yang namanya Abhi, mana lagi kalau bukan dia? Temenku satu-satunya yang namanya Abhi ya yang itu... BTW, thanks ya, Sel. Kamu udah makan?” tanyaRiana seraya membuka kotak makanannya. Dan ia terkejut luar biasa ; ketika mendapati isi box makanan ini adalah dua burger besar, dua kentang goreng, dan dua cola.
“Ini Abhi niatnya ngasih makanan apa mau bikin aku tambah bulet sih? Nggak gila apa ngasih porsi double begini?” Riana heran.
“Lho, barangkali dikiranya mbak belum makan siang, kali,” jawab Selena seraya angkat bahu.
“Ampun dah bocah... Ya udah, ini, yang satu buat kamu aja Sel, dasar edan...” rutuk Riana seraya menyerahkan satu paket burger itu kepada Selena.
“Serius ini buat aku, mbak?” tanya Selena girang.
“Iya, bawa aja. Ya kali aku makan dua-duanya, minta didemo ini si Narendra Abhimanyu emang, hadeeeh...” gerutu Riana.
“Ya udah, silakan protes ya mbak, aku tak ke kamar dulu, ngelanjutin tugas...” kata Selena seraya membawa kotak burger itu dengan tampang yang sangat sumringah.
“Iya, monggo Sel, belajar yang bener yaa... Aku tak protes dulu...” kata Riana seraya membuka kotak makanannya, lalu mulai menikmati. Kebetulan emang dia lagi laper. Tapi kan ya nggak dikasihkan dua porsi begini juga, dasar Abhi, hih.
(TBC).
__ADS_1