
Setelah pertemuannya dengan Nico
itu, Riana jadi murung sepanjang waktu. Ia benar-benar pusing sama kisah
cintanya yang nggak pernah beres. Dulu ada Rey yang toxic, dulunya lagi (sampai
sekarang malahan), ada Nico yang mencintainya, tapi beda keyakinan. Dianya
yakin, Nico-nya enggak *eh. Enggak deng, serius, mereka emang bener-bener
berbeda keyakinan. Terus juga, ngapain sih tu anak pake acara nyusulin Riana ke
Jogja segala? Tau darimana juga kalau Riana akan menghabiskan akhir tahunnya di
Kota Pelajar ini? Apa jangan-jangan, Nico telah menyewa mata-mata tak terlihat
untuk mengawasinya dari tempat yang aman tanpa ketahuan? Hiiii! Membayangkannya
saja Riana jadi ngeri sendiri. Kenapa juga imajinasinya jadi ngawur begitu?
Mungkin gara-gara sering baca cerita-cerita semacam itu ; dinikahi mafia, jadi
istri CEO dingin, etc. Emang dasar Riana. Tapi bukan itu masalahnya sekarang. Apa
iya Nico sudah segila itu memiliki rasa padanya? Tapi tunggu... Kalau udah
sampai di tahap ini sih, bukan cinta lagi namanya, tapi obsesi. Aduh! Riana
jadi tambah bergidik membayangkannya. Saking bergidiknya, sampai pintu kamarnya
diketuk dengan bar-bar, dianya gak denger.
“Mmbaaaaak, woooooiii,
cepeeeeeettt!”
“Eh buntut copot...
Ganeeeeessshhh.... Bisa nggak teriak-teriak nggak?” ucap Riana kesal seraya
buru-buru membuka pintu kamarnya.
“Lagian mbak sih, aku udah
setengah jam berdiri disini, ayooo, nanti telat, Mas Muara sama Mas Abhi udah
nunggu di bawah, tau...” Ganesh mengerucutkan bibir, sebal dengan sang kakak.
Riana nyengir, lalu mengusap rambut sang
adik.
“Ya udah iya, maaf. Kali ini,
cewek yang salah. Yuk, turun...” kata Riana seraya menggandeng tangan Ganesh.
Dan Ganesh makin cemberut.
***
Sakura Hotel. Riana
sebenernya bingung, kenapa tiba-tiba dia bisa ada disini. Tapi dia ingat lagi,
kemarin, Muara bingung setengah mati karena gak punya additional player untuk
penampilannya. Biasanya dia yang jadi cabutan sana-sini bersama berbagai band,
lah sekarang, dia disuruh bawa band sendiri. Apa nggak keder tuh? Dan pada
akhirnya, ketika dia ingat kalau keempat sahabatnya pada bisa main musik semua,
akhirnya diajaklah mereka (Riana, Wisnu, Ganesh dan Abhi), untuk manggung
bersama, selama kurang lebih tiga hari.
“Sorry ya guys, ini modal nekat
banget sebenernya, aku nggak tau lagi harus ngontak siapa, yang kepikiran sama
aku Cuma kalian berempat yang aku ingat, sama-sama pro lah di bidang musik...”
kata Muara seraya merapikan penampilannya. Sungguh, ia benar-benar berantakan
hari ini ; wajahnya kuyu, matanya merah, karena dua malam berturut-turut nyari
teman-teman buat diajak nge-job dan nge-band bareng, ternyata banyak yang nggak
bisa. Lagian akhir tahun begini, setiap orang slot job-nya pasti penuh.
“Santai aja, Ra, lumayan juga
sih ini, habis ngabisin duit buat liburan, eh balik ke Jakarta bawa duit lagi
gara-gara tetiba dapet kerjaan...” Riana nyengir. Dan kata-katanya segera
diikuti anggukan setuju dari ketiga orang yang juga ada disitu.
“Big-big thanks to you, guys,
orang-orang baik yang dateng kayak air bah, sekali banyak, tak terduga, dan
ngagetin caranya. Aku lega sekarang...” Muara mengusap wajahnya. Sinar matanya
yang tadi redup, kini cerah kembali. Dan Riana, selalu suka menatap mata itu.
“Ya udah, yuk prepare...”
ajaknya. Semua mengangguk.
***
-Pov Abhi
“Taukah kamu taukah dirimu
Betapa diriku
menginginkan dirimu
Pedih hatiku saat
kusadari
Mencintamu yang
cinta pada dia” (Yovie & Nuno, Demi Hati).
Aku menyanyikan lagu request
dari salah satu pengunjung lounge hotel itu dengan sepenuh hatiku. Entah
kenapa, lagu terakhir milik Yovie & Nuno itu seperti relate dengan apa yang
__ADS_1
aku rasakan kini. Entah kenapa, aku tiba-tiba merasa, sesuatu yang aneh kini
tengah terjadi padaku.
Aku menimbang-nimbang, bermain
dengan angan sebentar, sebelum aku tahu tentang sesuatu yang sedang terjadi
saat ini, dan siapa sosok yang ada di balik segalanya yang terasa buntu dan
membingungkan ini. Riana, ya, Riana. Ini semua berawal ketika aku tak sengaja
dipertemukan dengannya sebulan lalu, di dalam penerbangan menuju Bali. Riana,
sosok perempuan baik hati yang mengajak negosiasi pramugari agar aku duduk tak
jauh darinya, untuk memudahkan perjalananku. Dan sosok perempuan manis ini
jugalah yang pada akhirnya mencerahkan hariku yang buram serupa langit kelam.
Sosok yang sayangnya – mungkin saja tak akan tergapai. Siapalah aku ini? Cuma
sosok tak sempurna yang kebetulan dipertemukan dan dibantu olehnya pada hari
itu. Ingin meraihnya sama saja seperti seekor anak ayam yang berharap dapat
terbang setinggi burung elang. Takkan mungkin, tak akan pernah. Apa lagi, kini
ada pendatang baru yang seperti mencuri separuh perhatiannya ; Muara. Demi
Tuhan, demi langit, demi galaksi dan semesta. Tak ada sedikitpun hakku untuk
cemburu padanya. Tapi bagaimana bisa? Bagaimana mungkin? Biar bagaimanapun,
rasa insecure ini telah menyerangku demikian dahsyatnya, Muara, jelas lebih
segalanya bila dibandingkan aku.
“Oh mungkinkah diri ini dapat
merubah buih
Yang memutih
menjadi permadani
Seperti pinta
yang kau ucap dalam janji cinta
Juga mustahil
bagiku menggapai bintang di langit
Siapalah diriku
hanya insan biasa
Semua itu sungguh
aku tiada mampu
Salah aku juga
karna jatuh cinta
Insan sepertimu
Seharusnya aku
cerminkan diriku
Sebelum tirai
hati aku buka
Untuk mencintaimu”
***
Lagu penutup untuk malam
ini adalah masih lagu request-an dari pengunjung ; Buih Jadi Permadani, yang
dipopulerkan oleh group musik asal Malaysia – Exist, dan sekarang di-viral-kan
kembali oleh Tri Suaka, Nabila Maharani, dan Zidan, yang kabarnya, mereka semua
juga tinggal di Daerah Istimewa ini. Alhamdulillah, hari pertama manggung
dadakan kita berjalan dengan cukup lancar, meskipun kita semua (aku, Muara,
Riana, Wisnu dan Ganesh), belum pernah satu panggung dan main bareng
sebelumnya.
“Mas-mas...” panggilan Ganesh
menginterupsi lamunanku.
“Kenapa, Nesh?” ttanyaku tanpa
minat.
“Kenapa sih pas closing tadi
nyanyinya kayak dalem banget gitu?” tanya Ganesh seraya mengambil posisi
tiduran di sebelahku. Iya, kami sudah kembali ke hotel semula tempat kami
menginap, bersama dengan Wisnu, Muara, dan Riana yang mungkin juga sudah ada di
kamarnya masing-masing. Ganesh sekamar denganku kini. Katanya, udah lama dia
nggak ngobrol sama sesama tunanetra.
“Maksudnya?” aku memperjelas.
“Ya koyok sing piye yo... Ah
mbuh wes, pokoke jeru, duaaaleeeem banget... Lagi patah hati ya mas?”
“Hhh... Gimana ya Nesh?” aku
menghela napas. Kalau aku jujur sama ini anak, reaksinya bakal gimana ya?
Secara lho, sing karepe tak pek iku mbakne dewe, alias yang lagi tak incer itu
mbaknya, kakak perempuannya dia... Apa ya nggak repot?
“Ngomongo sih... Tenang aja,
curhat sama aku, dijamin aman 100 %...” penyakitnya temen-temen tunanetra ;
__ADS_1
kalau sesamanya lagi resah, dia pasti bakal maksa cerita, tapi caranya
halus-halus aja. Dan perkara ini orang nantinya bisa dipercaya apa enggak ya
dipikir belakangan. Yang penting, cerita aja dulu.
“Aku lagi suka sama perempuan,
Nesh...” aku mengawali ceritaku. Ganesh masih tiduran di sebelahku, dan
sepertinya dia menyimak.
“Sudah kuduga... Nggak jauh-jauh
dari cewek ini pasti... Terus?”
“Yah... Gitulah. Tapi aku
ngerasa aku sama dia tuh kayak langit sama bumi, kayak air sama minyak, kayak
Dekisugi dan Nobita, pokoknya bedanya tuh jauuuuh banget... Aku kayak ngerasa
lancang aja nyimpen perasaan ini sama dia...”
“Mbak Riana?” tebak Ganesh. Aku
terhenyak, lalu menegakkan posisi dudukku. Kok dia bisa tau sih?
“Aku sudah menduganya, mas...”
kata Ganesh, seperti mengetahui isi pikiranku. Gila. Nih anak ada turunan
cenayang apa ya?
“Ma-Maaf, Nesh...” kataku lemah.
Alih-alih marah, Ganesh justru tertawa, lalu meninju pelan lenganku yang berada
persis di sebelahnya.
“Kok malah minta maaf sih? Emang
Mas Abhi salah apa? Perasaan suka, atau bahkan cinta itu kan milik semua orang
mas? Termasuk juga aku...” kata Ganesh.
“Nggak, gini lho, aku ngerasa
lancang karena suka sama kakakmu, Nesh...” aku memperjelas ucapanku.
“Yah, nggak lah, kalau misalnya
aku setuju gimana ayo? Kan nggak papa lho mas, wajar itu tuh...” kata Ganesh.
“Iya, wajar buat kamu karena
kita sama. Tapi nek konangan bapakmu piye? Isok dikampleng aku!” seruku. Ganesh
terdiam. Kayaknya, dia juga lagi mikir sesuatu nih.
“Iya juga sih mas... Masalahnya
aku ya lagi ngincer cewek juga, lebih tua dari aku, anak kuliahan gitu.
Mahasiswa PPL yang nggak sengaja aku temuin waktu dia mengadakan observasi ke
sekolah untuk tugas kampusnya... Tapi yang ngebedain aku sama kamu, si mbak
mahasiswi ini sama kayak kita, sama-sama tunanetranya... Namanya Azkia, aku
manggilnya Mbak Kiki...”
“Azkia Putri Madina?” tanyaku. Aku
merasa tidak asing soalnya dengan nama itu.
“Iya, mas...”
“Heh, gendeng kon... Iku lak
adik tingkatku mbiyen sih, aku kan dulu kuliah di Malang juga... Arek Ngalam kan bocah iku?”
“La iyo mas, arek ndi maneh? Yo
wes iku pokoke...” Halah! Ternyata moment “mbulet” ini tidak hanya dialami oleh
kita-kita yang kembali dipertemukan dengan seseorang oleh semesta secara tidak
sengaja, tapi juga bagi temen-temen tunanetra yang circle-nya begitu dan
segitu-segitu aja.
“Ya udah lah ya mas, kalau nanti
ada kesempatan, coba ngomong aja sama Mbak Ri-nya, biar lega. Masalahnya
ngempet perasaan kayak gitu pasti gak enak kan? Dulu aku sama Mbak Kiki juga
gitu, meskipun pada akhirnya nggak diterima sih, karena dia nganggep aku
sebagai adik aja. Lagian, bentar lagi udah mau nikah tuh orangnya, udah
dilamar, habis lulus, terus nikah sambil ngajar. Katanya yang ngelamar itu adik
dari dosen pembimbingnya apa gimana gitu...”
“Anjir, nggak sakit tuh
perasaanmu?” tanyaku refleks.
“Ya sakit lah mas, tapi mau
gimana lagi? Lagian, perasaanku ke Mbak Kiki nggak kuat-kuat amat, nggak kayak
sama mbakku yang sekarang, namanya Hani. Dia mahasiswa baru anak musik,
cantiiiik deh, dan sama tunanetranya juga. Nah, tuh orangnya telepon kayaknya.
Ya udah deh mas, selamat merenung ya. Kalau saranku sih, lebih baik ngomong
daripada nggak sama sekali, terus jatuhnya jadi sakit sendiri...” kata Ganesh
seraya buru-buru menuju meja, mengambil ponselnya. Aku berbaring, menghadap
arah yang berbeda seraya menutupi sisi sebelah kepala dengan bantal. Dan untuk
selanjutnya, keheningan kamar kami diisi dengan celotehan Ganesh dengan seorang
gadis di seberang telepon. Mereka saling bertukar canda-tawa, dan sesekali,
saling melempar kata-kata romantis juga. Huh, dasar dia!
(TBC).
__ADS_1