MENTARI UNTUK MUARA

MENTARI UNTUK MUARA
BAB 20, TENTANG PERASAAN


__ADS_3

                Setelah pertemuannya dengan Nico


itu, Riana jadi murung sepanjang waktu. Ia benar-benar pusing sama kisah


cintanya yang nggak pernah beres. Dulu ada Rey yang toxic, dulunya lagi (sampai


sekarang malahan), ada Nico yang mencintainya, tapi beda keyakinan. Dianya


yakin, Nico-nya enggak *eh. Enggak deng, serius, mereka emang bener-bener


berbeda keyakinan. Terus juga, ngapain sih tu anak pake acara nyusulin Riana ke


Jogja segala? Tau darimana juga kalau Riana akan menghabiskan akhir tahunnya di


Kota Pelajar ini? Apa jangan-jangan, Nico telah menyewa mata-mata tak terlihat


untuk mengawasinya dari tempat yang aman tanpa ketahuan? Hiiii! Membayangkannya


saja Riana jadi ngeri sendiri. Kenapa juga imajinasinya jadi ngawur begitu?


Mungkin gara-gara sering baca cerita-cerita semacam itu ; dinikahi mafia, jadi


istri CEO dingin, etc. Emang dasar Riana. Tapi bukan itu masalahnya sekarang. Apa


iya Nico sudah segila itu memiliki rasa padanya? Tapi tunggu... Kalau udah


sampai di tahap ini sih, bukan cinta lagi namanya, tapi obsesi. Aduh! Riana


jadi tambah bergidik membayangkannya. Saking bergidiknya, sampai pintu kamarnya


diketuk dengan bar-bar, dianya gak denger.


                “Mmbaaaaak, woooooiii,


cepeeeeeettt!”


                “Eh buntut copot...


Ganeeeeessshhh.... Bisa nggak teriak-teriak nggak?” ucap Riana kesal seraya


buru-buru membuka pintu kamarnya.


                “Lagian mbak sih, aku udah


setengah jam berdiri disini, ayooo, nanti telat, Mas Muara sama Mas Abhi udah


nunggu di bawah, tau...” Ganesh mengerucutkan bibir, sebal dengan sang kakak.


Riana nyengir, lalu mengusap rambut  sang


adik.


                “Ya udah iya, maaf. Kali ini,


cewek yang salah. Yuk, turun...” kata Riana seraya menggandeng tangan Ganesh.


Dan Ganesh makin cemberut.


***


                Sakura Hotel. Riana


sebenernya bingung, kenapa tiba-tiba dia bisa ada disini. Tapi dia ingat lagi,


kemarin, Muara bingung setengah mati karena gak punya additional player untuk


penampilannya. Biasanya dia yang jadi cabutan sana-sini bersama berbagai band,


lah sekarang, dia disuruh bawa band sendiri. Apa nggak keder tuh? Dan pada


akhirnya, ketika dia ingat kalau keempat sahabatnya pada bisa main musik semua,


akhirnya diajaklah mereka (Riana, Wisnu, Ganesh dan Abhi), untuk manggung


bersama, selama kurang lebih tiga hari.


                “Sorry ya guys, ini modal nekat


banget sebenernya, aku nggak tau lagi harus ngontak siapa, yang kepikiran sama


aku Cuma kalian berempat yang aku ingat, sama-sama pro lah di bidang musik...”


kata Muara seraya merapikan penampilannya. Sungguh, ia benar-benar berantakan


hari ini ; wajahnya kuyu, matanya merah, karena dua malam berturut-turut nyari


teman-teman buat diajak nge-job dan nge-band bareng, ternyata banyak yang nggak


bisa. Lagian akhir tahun begini, setiap orang slot job-nya pasti penuh.


                “Santai aja, Ra, lumayan juga


sih ini, habis ngabisin duit buat liburan, eh balik ke Jakarta bawa duit lagi


gara-gara tetiba dapet kerjaan...” Riana nyengir. Dan kata-katanya segera


diikuti anggukan setuju dari ketiga orang yang juga ada disitu.


                “Big-big thanks to you, guys,


orang-orang baik yang dateng kayak air bah, sekali banyak, tak terduga, dan


ngagetin caranya. Aku lega sekarang...” Muara mengusap wajahnya. Sinar matanya


yang tadi redup, kini cerah kembali. Dan Riana, selalu suka menatap mata itu.


                “Ya udah, yuk prepare...”


ajaknya. Semua mengangguk.


***


-Pov Abhi


                “Taukah kamu taukah dirimu


Betapa diriku


menginginkan dirimu


Pedih hatiku saat


kusadari


Mencintamu yang


cinta pada dia” (Yovie & Nuno, Demi Hati).


                Aku menyanyikan lagu request


dari salah satu pengunjung lounge hotel itu dengan sepenuh hatiku. Entah


kenapa, lagu terakhir milik Yovie & Nuno itu seperti relate dengan apa yang

__ADS_1


aku rasakan kini. Entah kenapa, aku tiba-tiba merasa, sesuatu yang aneh kini


tengah terjadi padaku.


                Aku menimbang-nimbang, bermain


dengan angan sebentar, sebelum aku tahu tentang sesuatu yang sedang terjadi


saat ini, dan siapa sosok yang ada di balik segalanya yang terasa buntu dan


membingungkan ini. Riana, ya, Riana. Ini semua berawal ketika aku tak sengaja


dipertemukan dengannya sebulan lalu, di dalam penerbangan menuju Bali. Riana,


sosok perempuan baik hati yang mengajak negosiasi pramugari agar aku duduk tak


jauh darinya, untuk memudahkan perjalananku. Dan sosok perempuan manis ini


jugalah yang pada akhirnya mencerahkan hariku yang buram serupa langit kelam.


Sosok yang sayangnya – mungkin saja tak akan tergapai. Siapalah aku ini? Cuma


sosok tak sempurna yang kebetulan dipertemukan dan dibantu olehnya pada hari


itu. Ingin meraihnya sama saja seperti seekor anak ayam yang berharap dapat


terbang setinggi burung elang. Takkan mungkin, tak akan pernah. Apa lagi, kini


ada pendatang baru yang seperti mencuri separuh perhatiannya ; Muara. Demi


Tuhan, demi langit, demi galaksi dan semesta. Tak ada sedikitpun hakku untuk


cemburu padanya. Tapi bagaimana bisa? Bagaimana mungkin? Biar bagaimanapun,


rasa insecure ini telah menyerangku demikian dahsyatnya, Muara, jelas lebih


segalanya bila dibandingkan aku.


                “Oh mungkinkah diri ini dapat


merubah buih


Yang memutih


menjadi permadani


Seperti pinta


yang kau ucap dalam janji cinta


Juga mustahil


bagiku menggapai bintang di langit


Siapalah diriku


hanya insan biasa


Semua itu sungguh


aku tiada mampu


Salah aku juga


karna jatuh cinta


Insan sepertimu


Seharusnya aku


cerminkan diriku


Sebelum tirai


hati aku buka


Untuk mencintaimu”


***


                Lagu penutup untuk malam


ini adalah masih lagu request-an dari pengunjung ; Buih Jadi Permadani, yang


dipopulerkan oleh group musik asal Malaysia – Exist, dan sekarang di-viral-kan


kembali oleh Tri Suaka, Nabila Maharani, dan Zidan, yang kabarnya, mereka semua


juga tinggal di Daerah Istimewa ini. Alhamdulillah, hari pertama manggung


dadakan kita berjalan dengan cukup lancar, meskipun kita semua (aku, Muara,


Riana, Wisnu dan Ganesh), belum pernah satu panggung dan main bareng


sebelumnya.


                “Mas-mas...” panggilan Ganesh


menginterupsi lamunanku.


                “Kenapa, Nesh?” ttanyaku tanpa


minat.


                “Kenapa sih pas closing tadi


nyanyinya kayak dalem banget gitu?” tanya Ganesh seraya mengambil posisi


tiduran di sebelahku. Iya, kami sudah kembali ke hotel semula tempat kami


menginap, bersama dengan Wisnu, Muara, dan Riana yang mungkin juga sudah ada di


kamarnya masing-masing. Ganesh sekamar denganku kini. Katanya, udah lama dia


nggak ngobrol sama sesama tunanetra.


                “Maksudnya?” aku memperjelas.


                “Ya koyok sing piye yo... Ah


mbuh wes, pokoke jeru, duaaaleeeem banget... Lagi patah hati ya mas?”


                “Hhh... Gimana ya Nesh?” aku


menghela napas. Kalau aku jujur sama ini anak, reaksinya bakal gimana ya?


Secara lho, sing karepe tak pek iku mbakne dewe, alias yang lagi tak incer itu


mbaknya, kakak perempuannya dia... Apa ya nggak repot?


                “Ngomongo sih... Tenang aja,


curhat sama aku, dijamin aman 100 %...” penyakitnya temen-temen tunanetra ;

__ADS_1


kalau sesamanya lagi resah, dia pasti bakal maksa cerita, tapi caranya


halus-halus aja. Dan perkara ini orang nantinya bisa dipercaya apa enggak ya


dipikir belakangan. Yang penting, cerita aja dulu.


                “Aku lagi suka sama perempuan,


Nesh...” aku mengawali ceritaku. Ganesh masih tiduran di sebelahku, dan


sepertinya dia menyimak.


                “Sudah kuduga... Nggak jauh-jauh


dari cewek ini pasti... Terus?”


                “Yah... Gitulah. Tapi aku


ngerasa aku sama dia tuh kayak langit sama bumi, kayak air sama minyak, kayak


Dekisugi dan Nobita, pokoknya bedanya tuh jauuuuh banget... Aku kayak ngerasa


lancang aja nyimpen perasaan ini sama dia...”


                “Mbak Riana?” tebak Ganesh. Aku


terhenyak, lalu menegakkan posisi dudukku. Kok dia bisa tau sih?


                “Aku sudah menduganya, mas...”


kata Ganesh, seperti mengetahui isi pikiranku. Gila. Nih anak ada turunan


cenayang apa ya?


                “Ma-Maaf, Nesh...” kataku lemah.


Alih-alih marah, Ganesh justru tertawa, lalu meninju pelan lenganku yang berada


persis di sebelahnya.


                “Kok malah minta maaf sih? Emang


Mas Abhi salah apa? Perasaan suka, atau bahkan cinta itu kan milik semua orang


mas? Termasuk juga aku...” kata Ganesh.


                “Nggak, gini lho, aku ngerasa


lancang karena suka sama kakakmu, Nesh...” aku memperjelas ucapanku.


                “Yah, nggak lah, kalau misalnya


aku setuju gimana ayo? Kan nggak papa lho mas, wajar itu tuh...” kata Ganesh.


                “Iya, wajar buat kamu karena


kita sama. Tapi nek konangan bapakmu piye? Isok dikampleng aku!” seruku. Ganesh


terdiam. Kayaknya, dia juga lagi mikir sesuatu nih.


                “Iya juga sih mas... Masalahnya


aku ya lagi ngincer cewek juga, lebih tua dari aku, anak kuliahan gitu.


Mahasiswa PPL yang nggak sengaja aku temuin waktu dia mengadakan observasi ke


sekolah untuk tugas kampusnya... Tapi yang ngebedain aku sama kamu, si mbak


mahasiswi ini sama kayak kita, sama-sama tunanetranya... Namanya Azkia, aku


manggilnya Mbak Kiki...”


                “Azkia Putri Madina?” tanyaku. Aku


merasa tidak asing soalnya dengan nama itu.


                “Iya, mas...”


                “Heh, gendeng kon... Iku lak


adik tingkatku mbiyen sih, aku kan dulu kuliah di Malang juga...  Arek Ngalam kan bocah iku?”


                “La iyo mas, arek ndi maneh? Yo


wes iku pokoke...” Halah! Ternyata moment “mbulet” ini tidak hanya dialami oleh


kita-kita yang kembali dipertemukan dengan seseorang oleh semesta secara tidak


sengaja, tapi juga bagi temen-temen tunanetra yang circle-nya begitu dan


segitu-segitu aja.


                “Ya udah lah ya mas, kalau nanti


ada kesempatan, coba ngomong aja sama Mbak Ri-nya, biar lega. Masalahnya


ngempet perasaan kayak gitu pasti gak enak kan? Dulu aku sama Mbak Kiki juga


gitu, meskipun pada akhirnya nggak diterima sih, karena dia nganggep aku


sebagai adik aja. Lagian, bentar lagi udah mau nikah tuh orangnya, udah


dilamar, habis lulus, terus nikah sambil ngajar. Katanya yang ngelamar itu adik


dari dosen pembimbingnya apa gimana gitu...”


                “Anjir, nggak sakit tuh


perasaanmu?” tanyaku refleks.


                “Ya sakit lah mas, tapi mau


gimana lagi? Lagian, perasaanku ke Mbak Kiki nggak kuat-kuat amat, nggak kayak


sama mbakku yang sekarang, namanya Hani. Dia mahasiswa baru anak musik,


cantiiiik deh, dan sama tunanetranya juga. Nah, tuh orangnya telepon kayaknya.


Ya udah deh mas, selamat merenung ya. Kalau saranku sih, lebih baik ngomong


daripada nggak sama sekali, terus jatuhnya jadi sakit sendiri...” kata Ganesh


seraya buru-buru menuju meja, mengambil ponselnya. Aku berbaring, menghadap


arah yang berbeda seraya menutupi sisi sebelah kepala dengan bantal. Dan untuk


selanjutnya, keheningan kamar kami diisi dengan celotehan Ganesh dengan seorang


gadis di seberang telepon. Mereka saling bertukar canda-tawa, dan sesekali,


saling melempar kata-kata romantis juga. Huh, dasar dia!


(TBC).

__ADS_1


__ADS_2