
Riana dan Muara sama-sama terkejut, kemudian tertegun. Kedua nama ini sama sekali tidak asing terdengar di telinga, dan bahkan, salah satu nama itu terasa menyakitkan untuk didengar, dan serasa meremas jantung mereka ketika diucapkan. Narendra Abhi, atau Abhi, sahabat mereka yang belum lama pergi.
“Lova Hotel adalah salah satu anak dari perusahaan Star Corporation, dan sekarang dikepalai oleh Mario, lalu Narendra Abhi, dia adalah keponakan sahabat dekat saya. Ketika saya berkunjung ke rumah omnya, sering sekali ada Abhi disitu, dan dia sering juga menjadi partner diskusi dan tukar pikiran yang asyik bagi saya. Hingga suatu hari, beberapa waktu sebelum persiapan FPBP, dia bercerita tentang sahabat-sahabat barunya, dan sosok wanita yang akhir-akhir ini menyita seluruh ruang di hati dan pikirannya. Tapi yang mengejutkan bagi saya adalah ketika dia bilang, ‘aku tahu aku berhak atas rasaku kepada Riana, nggak ada juga yang mempersalahkan aku atas tumbuhnya perasaan ini. Tapi om, aku sadar diri, bahwa sebenarnya, sosok yang dibutuhkan gadis itu adalah dia yang bisa melindungi dan menjaganya, bukan sebaliknya, yang dilindungi dan dijaga.’ Begitu saya tanya siapa sosok itu, ternyata tersebutlah nama kamu, Muara...” jelas Pak Dimas.
“Kalau Abhi... Okay, mungkin secara tidak langsung, ia berharap ada yang mampu menjaga Riana, dan kami dihubungkan oleh ikatan persahabatan. Kalau Bang Mario... Saya rasa tidak ada yang mengesan tentang saya di hatinya, selain, saya pernah berada di Lova Hotel sebagai pengisi di lounge-nya...”
“Itu dia masalahnya, Ra...” tukas Pak Dimas. “Mario tau kamu berbakat, dan sayangnya, kamu tidak kuliah. Padahal, jika kamu bisa kuliah, dan mengambil jurusan yang tepat, kamu pasti akan jauh lebih hebat...” lanjutnya kemudian. Riana mengangguk setuju, dan Muara balas mengangguk kepadanya, karena statement Pak Dimas tentang Riana juga pasti sama persis, terlebih beliau telah melihat sendiri kinerja anak itu di FPBP kemarin. Untuk beberapa saat lamanya, ruangan tersebut hening. Sampai akhirnya, Pak Dimas bergerak menuju mejanya, dan mengambil sesuatu dari dalam lacinya.
“Coba, kalian pelajari ini dulu,” katanya seraya menyerahkan masing-masing selembar kertas kepada Riana dan Muara. Mereka menerimanya dengan hati berdebar, dan pake acara saling lirik dulu sebelum membuka lipatan kertas itu. Tanpa sadar, mereka juga menahan napas, sebelum akhirnya setengah menjerit, di waktu yang nyaris bersamaan.
“Seleksi bersama masuk perguruan tinggi?”
“Kiranya tidak ada lagi hadiah yang lebih pantas diterima oleh kalian berdua selain kesempatan itu.” Kata Pak Dimas seraya tersenyum. Riana menghapus buliran kristal bening yang tiba-tiba saja sudah membanjiri pipinya. Muara terpana, seraya tetap memegang kertas itu, mengelus-elusnya, seolah khawatir tulisan yang barusan dibacanya lenyap, dan kertas itu berubah menjadi kertas putih kosong.
“Ikuti semua instruksi yang ada disitu, nanti urusan administrasi dan keuangan, serahkan pada saya,” kata Pak Dimas.
“Ini beneran kan pak?” Muara masih tak percaya. Biar bagaimanapun, ini adalah salah satu dari sekian banyak mimpinya, mimpi yang hampir dilupakannya, karena kebutuhan ekonomi yang menuntutnya untuk tidak mementingkan diri sendiri. Rasa tak percaya yang sama juga melingkupi Riana. Memang, rencananya gadis ini ingin mendaftar kuliah, karena tabungannya sudah cukup. Tak disangkanya, ia malah mendapatkan rezeki seperti ini, ini bisa dikatakan semacam beasiswa gak sih?
“Kalian fokus belajar aja, urusan yang berkaitan dengan uang, pokoknya saya yang akan handle. Sudah, jangan heran begitu, simpan baik-baik kertas itu di dalam tas kalian,” kata Pak Dimas lagi. Seolah terhipnotis, kedua anak muda itu memasukkan kertas yang baru saja mereka terima ke dalam ransel mereka.
“Te-Terima kasih banyak, pak...” Muara gemetar. Ia luruh dalam rasa bahagia yang luar biasa. Diraihnya tangan Pak Dimas, hendak diciumnya. Riana hampir mengikuti jejak Muara, tapi keduanya keburu ditahan oleh Pak Dimas.
“Haisssss... Jangan berbuat yang aneh-aneh. Oh iya, mulai sekarang, karena kita sudah akrab, jangan panggil saya bapak lagi, panggil saya Om Dimas, atau Mas Dim ya gak papa, biar kelihatan lebih muda...” selorohnya.
“Ma-Masak begitu, pak? Eh, om, eh, tante, ups!” Riana menutup mulutnya. Entah grogi entah salah obat, bisa-bisanya dia salah sebut begitu, sehingga mau tidak mau Muara harus mendelik kepadanya.
“Sudah-sudah. Mau gimanapun, kamu harus terbiasa manggil saya om, Riana, dan kamu juga, Muara. Pokoknya, itu yang harus kalian pelajari, semuanya, termasuk persyaratan, dan soal-soal yang akan diujikan. Saya akan meng-handle yang lain dari sini. Silakan, kalian save kontak saya,” kata Pak Dimas seraya menuliskan nomor ponselnya pada secarik kertas, dan menyerahkannya kepada salah satu dari mereka.
“Jangan lupa di save, ya,”
“Ba-Baik, om...” kata Muara. Ia buru-buru mengeluarkan ponselnya, dan menyimpan kontak Pak Dimas itu. Tak terasa, hari telah beranjak sore, dan mereka harus segera pulang. Apa lagi, Muara harus terbang kembali ke kotanya besok. Biarlah ia mengurus semua ini dari tempatnya, begitupun dengan Riana. Dengan harapan, mereka bisa satu kampus, sefakultas, sejurusan, dan satu prodi.
***
“Ra, aku bahagia...” bisik Riana, sesampai mereka di depan kost Riana. Ya, mereka pergi kesana, Muara mager balik ke hotel katanya. Lagian, dia juga gak naik kendaraan, mumpung Riana bawa motor, kan gak papa kalau dia ikut nebeng wkwk. Dan sejujurnya, dia juga penasaran sama tempat kost Riana.
“Aku lebih bahagia lagi, aku udah hampir lupa lho sama cita-citaku yang satu itu,” kata Muara seraya turun dari boncengan. Dia nggak tau jalan Jakarta, jadi terpaksa deh dia boncengan sama Riana. Malu banget aslinya, tapi mau gimana lagi. Seandainya Riana yang ke Surabaya, pasti dengan senang hati dia membonceng Riana, dengan Si Jago, motor kesayangannya, keliling kota Surabaya berdua saja.
“Masuk, Ra,” kata Riana seraya memarkirkan kendaraannya.
__ADS_1
“Makasih, Ri... Gede juga ya tempat kost kamu,” kata Muara seraya berjalan menuju pintu ruang depan, yang ternyata dibukakan langsung oleh salah satu penghuni kost yang lain.
“Haiii, baru pulang mbak?” sapa seraut wajah cantik yang tampaknya baru saja menyelesaikan makannya, karena terlihat ada sebuah piring di atas meja.
“Iya, Sel, eh kenalin nih, temen mbak...”
“Oh yang namanya Mas Muara itu gak sih? Kemarin aku kan datang ke party-nya temen, di Imperium Hotel, nah ini nih yang isi acara...”
“Lhooo, mbaknya yang request Can’t Take My Eyes Of You itu berarti,” kata Muara.
“Kalian udah kenalan?” Riana kaget.
“Kenalan dikit doang kok mbak, gak usah cemburu gitu. Kalau aku kenalan sama Mas Muara sampai akrab, Dyo bisa ngamuk nanti...”
“Hah? Wait! Dyo?” Riana membulatkan matanya. Kali ini, dia beneran kaget.
“Kami jadian kemarin, mbak,” ucap Selena malu-malu. Riana geleng-geleng kepala. Kenapa semakin bermunculan Ganesh-Ganesh berikutnya, yang bisa jatuh cinta sama anak kuliahan, yang ini malah mahasiswa tingkat akhir, pula. Hadeeeh...
“Aduh wes... Ngelu ndasku. Yowes lah, Sel, aku masuk dulu...” kata Riana. Selena Cuma mengangguk, lalu ia melanjutkan acara makannya yang ternyata tertunda. Di piringnya masih ada nasi dan sepotong ayam. Duh, kayanya enak.
***
“Wih, kamu suka penyetan terong juga?” tanya Muara, seraya menatap piring yang dibawa Riana dengan penuh minat.
“Lho, kenapa gak suka? Enak lho ini!” kata Riana seraya mengambil nasi + penyet terong itu. Muara yang tampak lapar itu juga akhirnya mengikuti jejak Riana, duduk dan makan di sebelahnya.
“Ra,” panggil Riana.
“Hmm?”
“Kenapa sih kita selalu dipertemukan dengan cara yang ajaib?” tanya Riana.
“Mungkin ini kali cara Tuhan bekerja buat menunjukkan siapa jodoh kita sebenernya.”
“Hah? Maksudnya?” Riana heran.
“Oke, lupakan aja. Sebenernya aku juga heran sih, kenapa pola pertemuan kita harus kayak gini. Tapi, ya disyukuri aja, apa lagi, pertemuan demi pertemuan kita ini malah mengantarkan kita pada impian yang sama-sama masih kita kejar...” ucap Muara.
“Yah, aku masih amazing sih sama kejadian hari ini, dan atau kejadian demi kejadian sebelumnya yang mengantarkan kita menuju hari ini deh...”
__ADS_1
“Mungkin emang sudah waktunya juga, Ri...” kata Muara.
“Maksudnya?”
“Ya sudah waktunya kita tidak berbuat sesuatu hanya untuk orang lain, karena lama kelamaan aku sadar sih, kalau kebahagiaan buat diri sendiri itu juga penting banget, sama pentingnya dengan ketika kita mengatur pola hidup untuk menjaga kesehatan tubuh, menjaga kesehatan mental itu juga penting...” jelas Muara.
“Jalannya dengan cara bikin bahagia diri sendiri?” tanya Riana pelan.
“Ya iya, apa lagi yang bisa bikin mental kita sehat selain rasa bahagia?” tanya Muara. Pertanyaan itu sesungguhnya tidak perlu jawaban lagi, tapi Riana menghembuskan napasnya keras-keras. Dan sekarang dia baru kepikiran, rasanya dia belum pernah ngebahagiain dirinya sendiri, kalau dipikir-pikir. Apakah benar sekarang waktunya?
“Eh, sorry, tangan kiri kamu kenapa Ri?” muara memecah kesunyian.
“Hah? Maksudmu?” Riana heran.
“Itu...” takut-takut Muara menunjuk deretan bekas luka, hasil kreasi tangan Riana sendiri itu. Riana ikut melihat kepada apa yang ditunjuk Muara. Tiba-tiba, awan mendung itu kembali melingkupi wajah ayunya.
“Mungkin, ini juga udah waktunya kamu tau siapa aku yang sebenarnya...” kata Riana pelan.
“Ceritalah, dan percaya sama aku, semua akan tetap sama,” kata Muara lembut. Riana hampir-hampir tak bisa membendung air matanya, tapi dia tahan, dia harus cerita, apapun yang terjadi nantinya tentang dia dan Muara.
“Mentalku bermasalah sejak SMA, dan self harm, adalah salah satu hal yang aku lakukan, ketika bahkan aku gak tau harus gimana mengekspresikan rasa sakit yang aku rasain, sesakit apa, dan seperti apa...”
“Kok salah satu? Emang pernah nyoba cara lain?” tanya Muara hati-hati.
“Ya pernah, aku nulis, aku main musik, aku nonton, aku baca novel, dan atau ngelakuin sederet hal lain yang aku suka, tapi ternyata semua usahaku itu... Nggak ada yang berhasil...” lirih Riana. Muara diam. Lalu, ia menatap mata itu dalam-dalam, mata yang dikaguminya sejak pertama kali tak sengaja bersitatap di ruangan manager, melihatnya yang pelipisnya terluka.
“Aku boleh ngomong gak?” tanya Muara serius. Dan matanya, masih tetap menatap mata Riana, tidak berpaling sedikitpun.
“Ngomong aja, Ra, Insya ALLAH aku siap apapun yang terjadi...” Riana menghela napasnya. Paling tidak, ada satu yang akan pergi, itu berarti, satu kehilangan lagi.
“Aku udah menduga itu dari awal ngeliat kamu...”
“Maksudnya?”
“Yah, aku tau, kalau ada sesuatu sama kamu, sesuatu yang bikin aku pengen terus deket dan jagain kamu. Rupanya ini tho jawabannya?” kata Muara seraya mengelus tangan Riana. Menerima sentuhan dan ucapan yang sedemikian lembutnya, membuat gadis itu akhirnya meneteskan air mata. Ia tidak tahu, mengapa ia ingin dan harus menangis?
“Nggak usah dilawan... Aku tau, nggak mudah ketika kamu akhirnya bersedia membagikan rahasia terbesarmu sama orang lain, belum lagi kamu masih mikir, gimana reaksi orang itu nantinya, dan seterusnya, dan seterusnya. Makasih ya udah cerita...” kata Muara. Dan pada detik berikutnya, tubuh mungil Riana kembali tenggelam dalam rengkuhan lelaki itu, dan ia benar-benar menangis disana. Yah, seperti yang telah menjadi pembahasan tadi. Mungkin sudah waktunya ; sudah waktunya mereka semua mencapai bahagia meski terjal jalannya, dan sudah saatnya pula bagi Riana untuk (mungkin), menemukan orang yang tepat untuk berbagi cerita, berbagi setiap rahasia, melewati masa-masa sulit dan indah hidupnya. Dan, mungkin sudah waktunya juga kisah ini diakhiri, karena, kisah yang baru tengah menanti mereka. Ini bukan akhir segalanya, kisah mereka masih akan berlanjut. Nanti, tunggu saja.
(Selesai).
__ADS_1