
-Pov Author
Riana menggeliat di atas tempat tidurnya. Sinar mentari yang hangat menembus langsung menuju indera lihatnya, membuat si empunya indera terpaksa mengerjap-ngerjap lagi, dan bahkan menutupinya dengan bantal, saking silaunya. Jam berapa sekarang? Riana melirik malas ke jam yang tergantung di dinding di atas nakas sebelah tempat tidurnya. Jam setengah delapan pagi.
Riana memijat-mijat pelipisnya. Kepalanya begitu pening, mungkin efek wine semalam. Ah... Riana mendesah, kesal kepada dirinya sendiri. Seharusnya semalam ia tidak hilang kendali begitu. Dan terus, yang jadi pertanyaannya sekarang, siapa yang membawa dia ke kamar, bahkan membaringkannya di atas ranjang ini? Dan dia nggak diapa-apain, kan?
***
Pantai, lagi. Riana tidak main air, ia memilih untuk tidur-tiduran di atas pasir sambil mengoleskan sun protection pada tubuhnya, biar nggak gosong katanya, hihihi. Seperti biasa, namanya pantai dan tempat wisata, pasti rame, banyak rombongan keluarga. Sejauh mata memandang, Riana melihat berbagai pemandangan yang membahagiakan matanya, tapi menyedihkan hatinya. Di ujung sebelah sana, ada ibu, ayah dan anak yang sedang mengambil foto dengan berbagai gaya. Di seberangnya, ada pasangan ayah dan anak laki-lakinya yang sedang asyik bermain pasir. Lalu, ada banyak lagi hal menyenangkan yang tertangkap oleh matanya. Riana menghembuskan napasnya, lalu berguling ke pasir pantai yang ada di sisi satunya, sedikit berlindung dari sengatan matahari. Lagi asyik menikmati suasana pantai, tiba-tiba, ada sesosok pemuda di sebelahnya, sedang kerepotan dengan perahu kano yang dibawanya.
“Mau ngapain, mas?” tanya Riana penasaran.
“Mau ekspedisi ke luar angkasa, mbak. Ya kaliii, ini mau main ke tengah, pake perahu...” jawab pemuda itu seraya mengambil jaket pelampungnya.
“Ikutan dooong, sewa perahunya dimana?” tanya Riana tertarik.
“Sama saya aja mbak, ini luas kok perahunya. Lagian kalau mbak kenapa-napa di tengah laut nanti malah repot...” ucap pemuda itu lagi. Riana mengangguk. Kemudian, ia bangkit dari posisi berbaringnya, bermaksud hendak melihat dengan lebih jelas, siapa sosok pemuda yang dari tadi berbicara dengannya. Dan Riana merasakan jantungnya seperti tertarik keluar, begitu menyadari, itu adalah pemuda yang sama yang dilihatnya semalam di ruangannya Mario, dan juga di lounge, ketika dia gila-gilaan disana.
“Masnya bukannya yang semalam main + nyanyi di lounge itu ya?” tanya Riana. Pemuda itu menoleh, dan ia merasakan hal yang sama ; serasa jantungnya seperti keluar dari tempat seharusnya berada.
“Ini Mbak Riana?” tanyanya refleks.
“Lho, kok tau?” Riana heran.
“Mbak... Boleh saya ngomong nggak?” tanya pemuda itu hati-hati.
“Ngomong aja, mas, kenapa?” Riana tampak penasaran. Kenapa cowok ini kelihatan salah tingkah?
“Anu... Se-Semalam... Itu lho... Ituuuuu...”
“Sek talah. Ngopo e mas? Ngomongo sing genah,” kata Riana yang mendadak menggunakan Bahasa Jawa.
“Lho, mbaknya orang jawa ta?” tanya pemmuda itu kaget.
“Iya mas, saya perantau, pergi ke Jakarta dari Malang,” jawab Riana.
“Lho, saya juga, cabut dari Surabaya, nyari penghidupan disini...” jawab pemuda itu.
“Yo wes jare arep ngomong. Ngopo mau?” tanya Riana lagi.
“Mbak, sebelumnya perkenalkan dulu, nama saya Muara...” Riana menegakkan kepala ketika mendengar pemuda itu menyebutkan namanya. Iya, pada akhirnya dia ingat kalau nama pemuda itu adalah Muara. Dan Mario, semalam juga menyebut Namanya begitu.
“Sebelumnya saya minta maaf banget, kalau mungkin kesannya saya kurang ajar sama mbak…” kata Muara lagi.
“Sek talah, ngomongo sing jelas, mas, jek ndang rampung perkorone,” kata Riana tak sabar.
“Ok, jadi gini… Selesai saya manggung semalam, teman-teman saya pada heboh, karena katanya ada orang di bawah meja. Terus terang aja, saya heran dong. Apa maksudnya gitu kan, terus ya saya turun, karena saya turun paling terakhir, jadi saya cek dong, dan ternyata Mbak Riana memang ada di bawah, ambruk, teler kayaknya. Mungkin gara-gara kebanyakan minum, karena disana saya lihat banyak sloki dan botol wine juga, terus saya disuruh temen-temen bawa mbak ke kamar. Ya udah akhirnya saya tanya resepsionis, mbak menghuni kamar mana…”
__ADS_1
“Tapi, kok kamu tau nama saya?” tanya Riana.
“Nggak sengaja tau mbak, soalnya kan tiap tamu yang datang ke hotel ini harus menunjukkan kkartu identitas, nanti itu akan di-scan dan jadi jejak digital buat kami, nanti itu sudah termasuk dengan tanggal kapan mbak check in dan sebagainya. Dan kebetulan juga, resepsionis yang saya tanyakan adalah juga orang yang sama, yang membantu proses mbak pas check in disini, jadi ya udah, saya dapet akses ke kamarnya mbak, jadi bisa membaringkan mbak disana. Ya kali mbak saya biarin tiduran di bawah meja kaya gitu. Tapi sumpah mbak, saya Cuma ngegendong mbak dan naruh di Kasur, kok, saya nggak ngapa-ngapain, saya berani sumpah, mbak,” ucap Muara panjang-lebar seraya sedikit ketakutan. Riana menatap serius pemuda itu, lalu, senyumnya mengembang.
“Saya percaya kok, mas. Kamu polos orangnya, dan kalau nggak ada kamu, entah gimana nasib saya kemarin malam, makasih ya,” ucap Riana tulus. Muara menghembuskan napas lega, bebannya terangkat sudah.
“Ayah sama bunda saya nggak pernah ngajarin saya buat kurang ajar sama orang lain, mbak, apa lagi sama perempuan. Tapi kemarin itu keadaannya darurat je...”
“Justru itu, makanya, saya paham... Ya udah, ini jadi nggak mau ngajak saya ke tengah lautnya?” kelakar Riana.
“Oh, J-Jadi, mbak, nanti saya ambil jaket pelampungnya satu lagi ya. BTW pegangin bentar dong,” ucapnya seraya menyerahkan sepasang dayung ke tangan Riana, lalu berlari lagi entah kemana, mengambil jaket pelampung untuk Riana.
***
Debur ombak dan desau manja angin laut menjadi pengiring alami percakapan dua insan yang dipertemukan tak sengaja oleh sebuah peristiwa itu. Tanpa perlu usaha lebih dari keduanya, ternyata hati mereka telah tergerakkan dengan sendirinya untuk saling bicara, saling sapa, dan bahkan saling mengenal, mengakrabkan diri. Di tengah laut, dengan ombak yang berganti-ganti kecepatan, dan pada belaian sang bayu yang sesekali mengguncang perahu, mereka saling bicara, bukan dengan bahasa lisan, namun dengan bahasa perasaan.
“Pemandangannya bagus, ya,” ucap mereka berbarengan. Riana terkejut, Muara juga. La kok bisa kompakan gitu ya?
“Kenapa kita satu pikiran begitu?” tanya Riana.
“Mbuh, mbak. Eh, belok ke sana yuk, yang ombaknya agak gedean...” ajak Muara.
“Ih nggak ah, aku gak bisa berenang...” tolak Riana.
“Tenang aja, kan ada saya. Kalau ada apa-apa, saya tanggung jawab deh...” kata Muara meyakinkan. Riana menimbang-nimbang sebentar. Ia menatap Muara, perahu, dan panorama alam di depannya berganti-ganti. Ia bingung, tidak bisa mengambil keputusan. Tapi, panorama alam se-menawan ini, rasanya begitu tak berarti jika harus terlewatkan hanya karena ketakutannya. Jadi lebih baik, ia percaya saja dengan Muara. Ia yakin, Muara pasti akan menjaganya.
***
“Mas Abhi, tak pikir siapa. Naik sama siapa dirimu, mas?” tanya Muara.
“Ini sama Ganesh dan Wisnu, teman-teman baru saya...”
“Lho, Ganesh?” Riana kaget.
“Hi, Mbak Riri... Mbak nggak papa tah?” tanya Ganesh khawatir.
“Nggak papa kok Nesh, kemarin itu Cuma insiden kecil aja... Mas Abhi sendiri gimana itu? Kan dia lanjut berantem sama Rey?” tanya Riana.
“Saya nggak papa mbak, berantem itu hal biasa buat anak laki-laki, mau dia normal kayak Mas Muara dan Wisnu, ataupun yang tunanetra seperti saya dan Ganesh...” jawab Abhi seraya tersenyum. Riana mengangguk, mengiyakan kata-kata Abhi. Bagaimanapun, setiap manusia memiliki fitrah dan naluri yang sama, tak peduli bagaimana ia terlahir, sempurna atau tidak itu bukan tolak ukur, karena yang bisa membuat manusia mampu bertahan dan bersaing di muka bumi ini adalah kekuatan dari dalam dirinya sendiri.
“Ya udah yuk, kita jalan lagi aja...” kata Muara. Riak ombak mengguncangkan kedua perahu berpenumpang tersebut, dan masing-masing dari pengendali perahu itu mengambil arah yang sama, dan mereka lanjut bercengkerama di atas perahu seraya menikmati suguhan lukisan mahakarya terbaik sang pencipta.
***
Ombak bergulung keras. Perahu mulai berguncang hebat. Masing-masing pengendali dari kedua perahu itu sama-sama panik. Tapi ini bukan saat yang tepat untuk berteriak-teriak panik tanpa melakukan apa-apa. Ini saat terpenting sekaligus tergenting dalam hidup mereka yang ternyata salah mengambil arah, mereka terlalu berjalan ke tengah. Dan kedua perahu itu kini dipermainkan oleh ombak yang mengganas.
Muara mengambil napas perlahan. Dalam situasi begini, pokoknya, panik tidak boleh dikedepankan. Yang terpenting adalah tindakan ; tindakan yang cepat dan tepat untuk menyelamatkan mereka semua.
__ADS_1
***
Muara membantu Riana yang gemetar hebat itu turun dari atas perahu. Sementara tiga orang pemuda di belakangnya – dengan ketegangan yang sama, juga turun dari perahunya, dan menghela napas lega setelah kaki mereka berhasil berpijak di permukaan halus pasir pantai yang lembab karena terus-menerus disapu ombak setiap hari, sepanjang waktu.
“Alhamdulillah, untung kita masih selamat ya...” ucap Wisnu yang turun paling terakhir, usai membantu Abhi dan Ganesh yang masih sama-sama pucat pasi, ketakutan setengah mati.
“Maaf guys, aku kira ombak di tengah tadi nggak sekencang itu...” kata Muara merasa bersalah.
“Nggak papa mas, mungkin kalau kita berempat doang semuanya oke, tapi ada anak perempuan disini, jadi kayak ber-risiko gitu nggak sih...” kata Abhi.
“Justru itu Mas Abhi, apa lagi, Mbak Riri nggak bisa berenang...” timpal Ganesh.
“Iya, aku tau, tadi udah ngomong dianya...” kata Muara.
“Sekarang, mana mbakku?” tanya Ganesh.
“Ini, ke kiri sedikit, Ganesh,” kata Muara. Ganesh mematuhi petunjuk itu, dan ia menggenggam tangan sang kakak yang sedingin es batu.
“It’s okay kak, everything’s allright now...” ucap Ganesh lembut. Riana merengkuh Ganesh sekali lagi, persis seperti tadi malam. Rasanya ia tidak ingin lagi terpisah dengan adik laki-laki satu-satunya itu. Seandainya dulu ia tidak dikendalikan oleh nafsu dan egonya sendiri, mungkin Ganesh tidak akan pernah lepas dari pelukannya hingga saat ini.
“Maafkan mbak, Ganesh...” ucap Riana lirih, tapi tidak cukup lirih untuk tertangkap oleh telinga Ganesh yang masih menempel erat pada pelukannya.
“Aku udah maafin mbak, bahkan sebelum mbak ketemu aku dan ngomong itu sekarang... Aku ikhlas atas takdir apapun yang menimpaku mbak, termasuk ketika mbak meninggalkan aku sendirian di tempat yang tidak aku inginkan. Seandainya mbak nggak ambil keputusan seperti itu dulu, barangkali aku akan jadi Ganesh yang manja, yang tidak bisa mengenal diri dan lingkungannya dengan baik...” Ganesh tersenyum, menepuk pundak Riana. Tiga tahun lalu, mungkin ia bisa bersumpah-serapah, berteriak-teriak menggelegar kepada seantero semesta bahwa ia tidak akan pernah memaafkan sosok saudara sedarah-sedagingnya ini. Tapi pada akhirnya, waku yang mampu memulihkan semuanya. Perlahan saja, tanpa tergesa. Dan waktu jugalah yang pada akhirnya mempertemukan mereka kembali, dalam waktu, suasana, dan kesempatan yang tak terduga.
Riana masih merengkuh Ganesh. Kini ia menangis, dan tetesan air matanya mengenai bahu Ganesh. Ganesh menepuk-nepuk punggung sang kakak, menenangkannya.
“Jangan nangis mbak, semua akan baik-baik saja...”
Ucap Ganesh lembut. Tiga orang pemuda lain menyaksikan adegan haru itu dalam diam, seolah mereka ikut terhanyut akan suasana itu. Debur ombak menjadi instrument alami yang mengiringi pembicaraan tingkat tinggi mereka.
“Eh, gimana kalau habis ini kita semua makan-makan? Aku tau rekomendasi restoran ayam betutu yang enak di sekitar sini... Mau nggak?” tawar Muara.
“Boleh... Mau sekarang ta?” tanya Riana bersemangat.
“Ya ganti pakaian dulu dong mbak, kita semua basah nih!” kelakar Wisnu, dan disambut tawa oleh yang lain. Riana menepuk jidatnya, malu sendiri. Bagaimana mungkin mereka pergi ke tempat makan, sementara penampilan mereka semua benar-benar tidak karuan?
“Ya udah, kalau gitu, mau ketemu dimana setelah ini?” tanya Riana akhirnya.
“Di lobby ya mbak, gimana yang lain, sepakat?” tanya Wisnu.
“Iya wes, kalau gitu, kita semua bersih-bersih dulu, terus kumpul lagi di lobby ya,” kata Muara. Semua mengangguk. Dan akhirnya, pagi yang indah itu diakhiri dengan jejak-jejak perpisahan mereka yang tergurat di atas halusnya pasir pantai ; perpisahan sementara yang akan dipertemukan lagi setelah mereka sama-sama berpakaian kering, dan telah siap untuk bersenang-senang kembali.
(TBC).
Sebelumnya, author mau ngucapin turut berduka cita, karena dunia literasi Indonesia baru saja kehilangan lagi salah satu punggawanya.
Adalah Hilman Hariwijaya (penulis Serial Lupus, Olga Sepatu Roda dll), telah meninggal dunia hari ini Rabu, 09-03-2022 pada pukul 08:02 WIB. Semoga husnul khotimah, dilapangkan kuburnya, diterima dengan baik amal ibadahnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, aamiin. 🙏🏻
__ADS_1