
“Saya hadir disana, di pemakaman itu. Saya... Saya ayahnya Elsa.” Riana masih mencerna semua yang didengarnya hari ini, lebih tepatnya, barusan. Elsa Pramudita, lalu Dimas Pramudya. Ada kemiripan antara dua nama itu. Jadi... Mungkin ini benar.
“Saya serius, Riana, saya tidak sedang nge-prank kamu,” kata Pak Dimas lagi, seperti tahu isi hati Riana. Riana mengangguk beberapa kali, seperti sebuah isyarat bahwa dia sepenuhnya mengerti dengan apa yang disampaikan oleh Pak Dimas tadi, Dan tidak berpikir bahwa itu hanyalah sebuah lelucon atau prank. Hanya saja, ia masih shock dengan kenyataan dan fakta yang ada. Beberapa menit dalam keheningan, tiba-tiba pelayan datang membawakan pesanan mereka. Setelah Pak Dimas mengucapkan terima kasih, ia mengembalikan fokusnya kepada Riana.
“Makan dulu, Riana, sambil saya teruskan ceritanya,” kata Pak Dimas seraya mencuci tangannya, bersiap menyantap makanannya.
“Iya, pak, saya cuci tangan dulu,” kata Riana seraya bangkit dari duduknya. Beruntung, jarak meja mereka dengan tempat cuci tangan tidak begitu jauh, sehingga Riana dapat kembali dengan cepat.
“Elsa itu anak saya satu-satunya. Dia ikut saya, karena dari kecil sudah ditinggal sama ibunya...”
“Ditinggal kemana, pak?” tanya Riana hati-hati.
“Dulu, saya bukanlah Dimas Pramudya yang kamu kenal saat ini, Riana. Jangankan perusahaan dan jabatan, pekerjaan paling rendahpun tidak ada, saya hanya pekerja serabutan yang mencoba menghidupi anak-istri dengan cara apa saja, asal halal tentunya. Dulu, saya menerima macam-macam jasa freelance, dari benerin pintu, bikin meja-kursi custom, bahkan sampai jadi teknisi kran airpun saya lakukan, semua demi keluarga. Penghasilan saya tidak banyak saat itu, tapi seharusnya cukup untuk hidup kami bertiga, saya, Elsa, juga istri. Kenapa ada kata ‘seharusnya’ disini? Karena ternyata, bagi istri saya, semua tidak pernah cukup. Istri saya hedonis, gaya hidupnya sangat tinggi sekali. Dan karena gaya hidupnya yang seperti itu, semua uang yang saya berikan tidak pernah cukup lagi baginya. Hingga puncaknya, di pertengahan tahun keenam pernikahan kami, terungkap suatu fakta yang membuat saya betul-betul dendam sama sosok perempuan, lalu trauma menikah lagi dan lebih memilih ‘one night stand’ saat sedang membutuhkan itu. Istri saya – sekarang sudah mantan, kembali ke pelukan mantannya semasa SMA, yang sudah tajir karena dia merupakan pengusaha. Sakit hati karena dikhianati dan direndahkan sebagai laki-laki, membuat saya bangkit, saya kembali kepada kebiasaan dan hobi saya, saya menyukai musik. Hingga akhirnya, setelah menabung beberapa saat lamanya, saya berhasil membangun sekolah musik bernama Big Star Music, yang sekarang sudah ada 14 cabang di beberapa kota di Indonesia...” Riana menghentikan makannya, dan ia mengangguk-angguk mendengar cerita Pak Dimas, yang menurutnya begitu luar biasa. Jadi ini pemilik Big Star Music School, tempatnya menimba ilmu musik sejak kecil dulu?
“Tapi part bagusnya justru bukan disitu, Riana, saya ingin berfokus pada Elsa. Singkat cerita, mantan istri saya pergi tanpa membawa Elsa, dia menyerahkan tanggung jawab mengurus Elsa yang masih kecil kala itu, berusia 6 tahun kepada saya. Dalam masa-masa sulit itu, Elsa sering saya titipkan ke neneknya, ibu saya. Hingga lambat-laun, karena terlalu sibuk bekerja dan merintis usaha, saya abai pada Elsa, saya lupa memperhatikannya, saya membiarkan Elsa tumbuh besar dalam limpahan kasih sayang yang tidak semestinya, karena saya hanya selalu memberinya uang, bukan bentuk perhatian yang penuh, perhatian yang semestinya diberikan oleh seorang ayah. Besar tanpa kasih sayang dari kedua orang tua, menjadikan Elsa sebagai anak yang nakal. Dan ketika ia berkarier sebagai model, disitu saya merasakan Elsa benar-benar jauh dari saya, sampai akhirnya...” Pak Dimas tidak melanjutkan ceritanya. Ia meminum orange juice-nya dalam beberapa tegukan, melegakan tenggorokannya yang tersumbat tiba-tiba.
“Saya mengerti, pak,” Riana berucap pelan. Sejatinya, bagian menyakitkan itu adalah saat-saat Pak Dimas kehilangan anak semata wayangnya ; saat kematian Elsa.
__ADS_1
“Saya sungguh berterima kasih dengan kamu, Riana, karena kamu masih sempat menyelamatkan hidup anak saya, meskipun pada akhirnya semua tetap berakhir atas kehendak takdir. Tapi seandainya kamu tidak membawa paksa Elsa dari jembatan kala itu, saya akan lebih cepat kehilangannya. Terima kasih atas kesempatan yang kamu berikan untuk saya, menebus sedikit rasa bersalah itu, menikmati waktu terakhir bersama putri saya,” ucap Pak Dimas tulus. Dan entah sejak kapan, Riana telah merasakan matanya berkaca-kaca, ketika mendengar cerita Pak Dimas.
“Semua itu kuasa Tuhan, pak, saya hanya perantara,” jawab Riana pelan.
“Dan kamu adalah sebaik-baik perantara pada saat itu, Riana. Elsa cerita banyak tentang kamu sama saya, termasuk... Tentang bagaimana dulu dia merebut mantan kamu,” Pak Dimas memelankan kalimatnya ketika sampai pada bagian cerita yang itu, seolah ia ingin memastikan bahwa Riana tidak akan bereaksi yang diluar dugaannya, karena pikirnya, mungkin Riana masih sakit hati atas perbuatan anak perempuannya itu.
“Pada dasarnya, saya dan Rey memang tidak berjodoh pak. Ada atau tidaknya Elsa di kehidupan asmara kami, sepertinya hubungan toxic itu memang harus diakhiri,” jawab Riana. Pak Dimas mengangguk. Dia percaya bahwa gadis ini ternyata memang benar-benar gadis yang baik. Justru Rey – pemuda itu, mantannyalah yang kurang baik.
Setelah ia mencampakkan gadis sebaik Riana, pada akhirnya, ia juga yang merenggut kegadisan putrinya tersebut.
“Tetap, kamu adalah pahlawan disini, Riana. Karena kamu yang sudah menyelamatkan hidup anak saya...” kata Pak Dimas. Riana mengangguk pelan. Ia tidak membantah, tapi tidak juga mengiyakan. Hatinya mashgul mendengar cerita dari Pak Dimas ini, tentang keseluruhan hidupnya, dan lalu, sepenggal kisahnya bersama Elsa. Tapi, ada satu hal yang sebenarnya bikin dia penasaran, dan ia harus tanyakan itu sekarang.
“Terus pak... Bapak tahu saya, profesi, lalu anak-anak didik saya itu lewat mana, pak?”
“Saya menyuruh orang kepercayaan saya untuk mencari data tentang kamu, saya ingin mengajak kamu bicara sebenarnya sudah sejak lama, tapi karena kesibukan yang mengikat, akhirnya saya putuskan untuk menunda keinginan itu, sampai saya tahu, bahwa kamu adalah seorang guru, dan sedang membawa anak-anak didikmu mengikuti FPBP, yang mendaulat saya sebagai jurinya di tahun ini...”
“Tapi pak, bapak memenangkan anak-anak didik saya bukan karena peristiwa yang menghubungkan antara saya, Elsa, dan bapak kan?” tanya Riana khawatir. Dan seulas senyum lega mencapai matanya, kettika ia melihat Pak Dimas yang menggeleng kuat-kuat.
__ADS_1
“Saya orangnya objektif, juga selektif Riana, yang saya lihat, anak-anak kamu memang jenius, dan mereka berbakat. Mereka sudah mencuri hati saya sejak penampilan pertamanya di babak penyisihan. Dan mereka terus menunjukkan pesonanya, sampai di grand final, konsistensi peserta, itu adalah satu point plus yang akan memperbesar kemungkinan dia menjadi juara...” jelas Pak Dimas. Riana mengangguk mengerti.
“Terima kasih, pak...” pada akhirnya, gadis itu hanya bisa berucap pelan. Pak Dimas Cuma mengangguk. Ia kembali menceritakan tentang kehidupannya bersama Elsa ; tentang penyesalannya yang tidak bisa mendidik dan menyayangi Elsa secara wajar, dan lain-lain. Hingga akhirnya, Riana tersentak pada pertanyaan yang diajukan oleh Pak Dimas.
“Menurut data yang saya tahu, kamu belum kuliah, Riana. Apa itu benar?”
“Be-Benar, pak, rencana sih tahun ini, insya allah kalau tidak ada halangan...”
“Kalau begitu, besok temui saya di alamat ini, ya,” kata Pak Dimas, seraya memberikan sepucuk kartu nama untuk Riana. Riana menerima, dan mengusapnya pelan, membaca sekilas. Jalan Anggur II nomor 14, Gedung Perkantoran Star Corporation.
“Itu kantor saya,” jelas Pak Dimas. “Waktu itu, rencana Elsa mau ke Bandung, ke tempat neneknya, mau menenangkan diri bersama saya disana, barangkali seminggu atau dua minggu, tapi...”
“Iya, pak, saya mengerti. Besok, jam berapa saya harus menemui bapak kembali?” tanya Riana hati-hati.
“Sehabis kamu mengajar saja. Dan untuk besok, kamu tidak akan sendirian menemui saya. Karena ada seseorang yang begitu dekat dalam hidup kamu, yang juga akan ada disana...”
(TBC).
__ADS_1