MENTARI UNTUK MUARA

MENTARI UNTUK MUARA
EPILOG


__ADS_3

“KETERIMAAAA!” mereka berdua tertawa-tawa bahagia, dengan vibes yang sama, meskipun kini tengah terhalang layar smartphone. Kini berbulan-bulan telah berlalu semenjak hari dimana mereka mendapat kabar untuk mengikuti SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negri). Soal perasaan, jangan ditanya. Mereka sama stress, sama grogi, dan sama cemasnya. Apa lagi, mereka sudah lulus SMA kurang-lebih 3 tahun, otomatis udah gak ada yang nyantol lagi itu yang namanya pelajaran Sejarah, Ekonomi, Geografi, dan lain-lain. Selain itu, kenyataan bahwa ini merupakan tahun terakhir mereka bisa mengikuti seleksi ini ya kian menambah kekhawatiran. Kalau sampai nggak lolos, luput wes, hangus kesempatan mereka untuk kuliah. Tapi kini lega rasanya, seluruh beban serasa terangkat sudah dari pundak tetangga (nanti dulu, ini ngapain tetangga ikut-ikutan ada disini?), ya enggak lah, maksudnya, pundak mereka. Lihat aja, saking lega dan bahagianya, dua anak manusia itu malah jejeritan sambil jingkrak-jingkrakan di rumahnya masing-masing, sambil video call-an.


“Ra, kita jadi mahasiswaaaa!” seru Riana, masih dalam mode jeritan.


“Iya-iya, busyet deh, gak usah jerit muluuuu, nanti kupingku copooooooottt!” seru Muara setengah jengkel.


“Sorry-sorry, aku seneng Ra, seneng banget...” Riana tertawa.


“Aku lebih seneng lagi Ri, soalnya kita kuliah di salah satu kampus terbaik di Indonesia, yang terletak di kotaku lagi, Surabaya. Aku bisa tetep kerja, bisa tinggal di rumah, bisa deket sama kamu terus, eh...” Muara menghentikan kalimatnya. Hmm, saya mencium aroma-aroma keceplosan ini, sodara. Sepertinya udah mulai nyaman tuh dia.


“Iya ya, ditambah lagi, kita satu fakultas, satu jurusan, dan satu prodi... Gila, aku nggak nyangka...” jawab Riana. Dan mereka terus saja video call-an hingga sore menjelang.

__ADS_1


***


Kabar bahagia itu rupanya juga telah sampai kepada banyak pihak, termasuk penghuni Kost Srikandi yang lain (Selena, Milia, Maura). Sekarang mereka tengah berkumpul di meja makan, dan menikmati Mac N Cheese buatan Riana, sebagai makanan untuk perayaan pesta spesial hari ini. Pesta kecil-kecilan aja, datang tak dijemput, pulang tak diantar *kan, salah lagi. Maksudnya, pesta ini Cuma dihadiri sedikit orang, warga kost, dan temen-temen band-nya Riana, termasuk Dyo, yang sekarang malah jadi pacar Selena. Nggak tau kenapa dan nggak tau gimana, kok bisa nggak ada ceritanya tau-tau jadian, mungkin karena emang udah jodohnya kali ya.


“Selamat ya mbak, akhirnyaaaa...” kata Selena seraya mengangkat garpunya tinggi-tinggi.


“Makasih, Sel, biar gimanapun, meskipun aku menikmati pekerjaanku sebagai guru disini, tapi kuliah juga mimpiku, dan sekarang sudah terwujud...” Riana tersenyum lebar.


“Kos-kosan bakal sepi nih, gak ada yang gedombrangan lagi...” kekeh Milia seraya mengambil Mac N Cheese-nya, untuk piring yang kedua.


“Set dah, rusuh dari mananya sih? Gue pendiem lho gesss!” Maura nggak terima.

__ADS_1


“Iya-iya, Mbak Maura pendiem kok, kalau lagi tidur tapi,” celetuk Selena. Seketika, ruang makan yang tidak terlalu besar itu dipenuhi oleh riuh-rendah tawa dari semuanya.


“Sialan lo, ah. Eh, tapi sadar gak sih kalau tamu di pesta ini kurang satu buah, eh, satu orang?” tanya Maura mengganti topic. Mereka semua saling pandang, kebingungan.


“Siapa, Ra?” tanya Milia akhirnya.


“Nico... Kemana ya itu anak? Kok nge-gosting, gak ada kabar?” jawab Maura. Riana mencengkeram garpunya. Iya juga ya, sudah berapa lama dia tidak bertemu pemuda itu, yang terakhir itu di Jogja, di Ambarukmo Plaza. Gimana kabar anak itu ya?


“Paling dia lagi sibuk skripsi, gaes... Bukannya dia sama-sama tingkat akhir kayak Selena?” ucap Riana.


“Lo nggak ngerasa kehilangan, Ri?” tanya Maura hati-hati.

__ADS_1


“Haha enggak lah, udah seharusnya dia ngilang dari gue, karena...” Riana terhenti. Ia tidak bisa mengatakan apa alasannya. Yang jelas, hal itu tidak hanya menyakitkan bagi dirinya, tapi juga bagi Nico.


“Udah-udah, jangan dibahas. Aku yakin, di suatu tempat, dimanapun, Kak Nico pasti tau tentang ini, dan dia akan ikut bahagia atas apa yang dicapai sama Mbak Riana,” kata Selena bijak. Semua mengangguk. Dan diam-diam, mereka semua – termasuk Riana, berdo’a, mendo’akan Nico, tentang kesehatan dan juga kebahagiaan anak itu, dimanapun dia berada. Sekali lagi, selamat untukmu, Riana. Kamu sudah berada satu langkah di depan untuk menuju impian kamu. Selain itu, kehidupan, dan semua jalinan cerita baru itu juga tengah menantimu. Bersiaplah menghadapi hal-hal hebat yang semuanya diperuntukkan untukmu, yang kebanyakan manusia sebut sebagai takdir. Begitulah hidup, setiap masa, setiap waktu, pasti ada ceritanya. Dan cerita-cerita itu, kelak akan dapat kamu kenang sebagai hal indah dalam warna-warni duniamu, hal-hal indah yang menghadirkan banyak pelajaran berarti setelahnya. Dan ingat, perjalananmu masilah sangat panjang. Jadi, nikmati saja alurnya.


__ADS_2