MENTARI UNTUK MUARA

MENTARI UNTUK MUARA
BAB 16, A BIG TRAGEDY


__ADS_3

[Nico kecelakaan, ada di rumah sakit sekarang.] JGER! Satu pesan dengan satu kalimat itu benar-benar membuat Riana terkejut setengah mati. Pagi ini, ia baru saja bangun. Dan satu pesan dengan satu kalimat itu ternyata sudah terkirim dari malam sebelumnya. Riana buru-buru mengirim balasan kepada si pengirim chat.


[Ini siapa?]


[Ini aku Carissa, mbak. Mbak bisa ke rumah sakit sekarang kah? Mas Nico-nya kritis!] Aduh! Makin paniklah Riana. Ada kejadian apa sebelumnya, sampai-sampai ada berita kecelakaan begini dan dia taunya telat hanya karena terlalu mementingkan pekerjaan?


[Di rumah sakit mana, Carissa? Nanti aku kesana...]


[Rumah Sakit Harapan, mbak. Segera ya mbak, ini penting...] Riana Cuma sempat mengirim “ok” sebelum akhirnya ia benar-benar pergi menuju ke rumah sakit.


***


Riana memasuki ruang tunggu rumah sakit dengan napas terengah-engah. Keringatnya bercucuran, pertanda bahwa ia benar-benar pergi kesini dengan kecepatan penuh.


“Carissa...” panggil Riana. Carissa mengangguk. Ia segera mendatangi Riana yang baru tiba. Wajahnya kusut dan kuyu. Matanya merah, mungkin akibat semalaman tak tidur.


“Gimana ceritanya Sa? Aku semalam sampai rumah itu langsung ngurus kerjaan...”


“Bukannya mbaknya baru pulang dari Bali ya? Dibiayain Mas Nico? Terus sekarang, orangnya kecelakaan, dan mbak bersikap seolah nggak tau apa-apa? Dasar nggak punya hati ya!” seru Carissa berang. Tiba-tiba, tatapannya berubah sinis. Ia memandang Riana dengan sikap penuh penghinaan.


“Mbak tuh bener-bener gak tau diri ya...” ucapnya. Riana cuma menatapnya bengong. Ini cewek ABG kemasukan apa ya? Kok bisa-bisanya dari mode kalem langsung berubah jadi mode ngamuk begitu?


“Heh, mbak, mestinya mbak tuh berterima kasih karena sudah dicintai sebesar itu sama Mas Nico, tapi kenapa sedikitpun nggak ada usahanya mbak buat jaga perasaannya dia? Kenapa mbak? Kenapa aku nggak seberuntung mbak yang dicintai sebesar itu oleh orang yang aku cinta? Aku cinta mbak sama Mas Nico, tapi aku gak pernah dapet hatinya dia!” Riana mengangguk-angguk. Ia tidak menjeda ucapan Carissa sedikitpun. Biar bagaimanapun, ia paham, bahwa perasaan Carissa itu adalah hanya karena ia masih remaja, dan masih kesulitan me-manage emosi. Sebagai seseorang yang telah dewasa, Riana harus mengalah.


“Eh, Carissa gendeng, apa-apaan sih kamu? Wong tuwek main damprat wae!” seru Alit seraya menarik tangan Carissa, mendudukkannya paksa di atas kursi tunggu rumah sakit.


“Jarno Mas Alit, jarno wes...” kata Riana pelan.


“Ya nggak gitu Mbak Ri, sampean lho lebih tua...” protes Alit.


“Yo babah, aku bukan kali pertama aja ngurusin anak remaja dengan emosi yang up and down begini. Aku i guru mas, dan pengalaman terbaik tidak harus selalu aku dapatkan di dalam kelas, di tempat lain juga bisa. Ya kayak sekarang aja...” jelas Riana.


“Terus yoopo?” Alit garuk-garuk kepala.


“Yo gak lapo-lapo. Nanti aku yang jelasin sama Carissa tentang kondisi sebenernya antara aku sama Nico. Wes tenang ae...” kata Riana.


“Tenan ya mbak? Sepurane lho, bocah ra ngerti tatanan i, kacau...” omel Alit.


“Wes-wes, rasah mikir kene, Yoopo kondisinya Nico?” tanya Riana.


“Ya masih kritis mbak. Sek tak ke sana lagi ya...” pamit Alit. Rriana mengangguk. Kini, fokusnya kembali kepada Carissa yang masih menatapnya dengan tatapan yang sama sekali tidak bersahabat.


“Kamu mau denger penjelasan aku, Sa? Bisa ditahan dulu emosinya?” tanya Riana. Carissa mengangguk. Riana menatap gadis yang lebih muda darinya itu serius, dan ia mencoba menjelaskannya dengan tenang, kendati sebenarnya dia sendiri kesal setengah mati, karena didamprat secara sembarangan oleh pegawainya Nico kayak gitu.


“Aku harus berapa kali bilang ini, bukan Cuma ke kamu, tapi ke orang-orang yang mencoba mencocok-cocokkan dan menjodoh-jodohkan kami berdua? Kami itu berbeda, kami tidak mungkin melompati pagar pembatas yang sudah ada dan tercipta, bahkan dari kami belum saling mengenal. Aku bukan ahli ibadah, aku bukan wanita shalihah, tapi aku tau, kalau menjalani cinta beda agama itu salah. Aku tidak pernah bermaksud mencampakkan atau mengabaikan perasaan Nico, karena sejujurnya aku juga punya rasa yang sama dengan dia, tapi perbedaan ini sudah pasti akan menjadi penghalang untuk kami, sampai kapanpun. Sampai sini, kamu paham?” Carissa terhenyak. Ini adalah fakta yang sama sekali tidak ia ketahui ; fakta bahwa ternyata orang yang beberapa menit lalu ia damprat dan ia maki-maki juga menyimpan beban yang sama beratnya dengan apa yang dipikul Nico, pujaannya. Hanya saja, perempuan ini terlihat lebih tangguh. Dan Oh My God, Apa yang dia lakukan barusan? Melabrak perempuan tak berdosa ini hanya karena kepentingan perasaannya?


“Ma-Af, Mbak Riri...” lirihnya. Kini ia menangis. Riana menghampiri gadis itu, dan memeluknya. Carissa menangis. Mungkin ini titik terrendah dari pengharapannya atas perasaannya yang tak kunjung terbalas. Sungguh, bila dibolehkan, ia ingin menyerah saja sekarang ; bahkan bila ini bukan hal yang berdosa, ia ingin sekali meminta Tuhan mencabut nyawanya detik ini juga, agar rasa sakit yang menyiksa ini tidak terus bercokol di dalam dirinya yang terlalu rapuh dan lemah ini.


“Perjalanan kamu masih panjang, Carissa. Dan kurasa hidupmu hanya akan berakhir sia-sia, kalau kamu menggunakan waktumu hanya untuk melabrak orang yang tidak tahu-menahu apapun perihal perasaan kamu...” kata Riana serius. Sungguh, ia tidak ada dendam dengan gadis ini, hanya saja ia ingin mengingatkan dimana letak salah gadis ini dengan caranya sendiri.


“Keluarga Nicolas Fernandes...” suara seorang pria berjas putih memecah sekat hening yang tercipta di antara Riana dan Carissa.


“Saya, dok...” Riana maju.


“Saya Cuma mau mengatakan, pasien kehilangan banyak darah. Sementara stok darah disini sedang habis. Adakah yang mau mendonorkan darahnya untuk pasien? Golongan darahnya AB..."


"Saya mau, dok. Dokter bisa cek dulu golongan darah saya, sambil saya kirim broadcast message sama yang lain, supaya ada banyak stok darah tambahan...” kata Riana mantap.

__ADS_1


“Baik, silakan mbaknya ikut saya. Atas nama siapa?”


“Riana, dok. Riana mentari...”


“Baik, kalau begitu, akan kita adakan pengecekan sekarang ya, mbak...” kata sang dokter. Riana Cuma mengangguk. Kemudian, Riana dan sang dokter pergi dari ruang tunggu menuju ruang laboratorium, membiarkan Carissa sendirian dengan carut-marut kemelut perasaannya.


***


Riana membuka matanya. Bau obat-obatan khas rumah sakit kini melekat erat dalam indra penciumannya. Dan apa yang dilihatnya kini hanyalah warna putih. Riana – yang setengah sadar, kini berusaha menggapai-gapai sesuatu. Tapi tidak terjangkau. Dan ia baru saja sadar... Selang infus kini tertancap di lengannya.


“Mbak udah sadar? Jangan bangun dulu...” suara seorang anak laki-laki terdengar. Riana coba melihatnya ; ternyata itu Dyo.


“Kenapa kamu ada disini? Aku kira Milia, Maura atau Selena. Kemana mereka?” tanya Riana.


“Mbak Mili sama Mbak Maura masih di tempat kerja, sementara Mbak Selena lagi bimbingan, jadi aku yang disuruh kesini... Mbak butuh sesuatu?” Tanya Dyo penuh perhatian.


“Aku boleh minta air?” tanya Riana. Dyo mengangguk. Ia segera mengambilkan air dan membantu Riana minum.


“Pelan-pelan, mbak...” ucap Dyo.


“Gimana Nico?” tanya Riana, usai ia meminum air barang beberapa tegukan.


“Itu di sebelah mbak, tapi dia belum sadar...” jawab Dyo. Riana melirik satu bed di sebelahnya, dan benar, ada Nico disana, dan matanya masih terpejam.


“Mbak istirahat lagi aja ya, aku mau keluar, ngasih kabar yang lain. Katanya, ibu sama ayahnya Mas Nico juga mau datang kesini, kalau jadi...” kata Dyo.


“Waduh... Kasus nek iki...” Riana bergumam pelan.


“Nggak lah, kan mbak udah jadi pahlawan untuk hidup Mas Nico. Aku yakin, ayah sama ibunya Mas Nico pasti akan berterima kasih sama mbak...” ucap Dyo seraya mengelus pelan puncak kepala Riana.


“Boleh ambilin tas mbak nggak? Mbak pengen nelpon Ganesh, adiknya mbak...”


“Aku tutup ya tirainya, habis telpon Ganesh, mbak harus istirahat lagi...” kata Dyo, sesaat sebelum ia pergi dari ruangan rawat.


“Iyaa, tenang aja...” Riana tersenyum, memamerkan jempolnya sebagai tanda oke. Dyo juga tersenyum. Ia harus segera keluar, dan memberikan kabar kepada yang lain tentang apa yang tengah terjadi.


***


Wanita berrambut pirang itu menatap sendu dua anak manusia yang sama-sama tertidur di brankarnya masing-masing. Perjalanan yang ditempuhnya dari New York ke Jakarta sesungguhnya sungguh melelahkan ; dan lelahnya tidak berkurang sesentipun kendati ia telah berkali-kali tidur dan bangun di pesawat dalam perjalanannya selama belasan jam. Dan hati ibu mana yang tak hancur melihat anak yang hendak ditemuinya ternyata sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja?


“Thanks for your help, sweetheart...” ucapnya tulus seraya menatap Riana yang begitu tenang dalam tidurnya. Riana menggerakkan badannya sedikit, kemudian ia membuka matanya. Dan ia terkejut, begitu melihat siapa yang kini sedang duduk di samping tempat tidurnya, menungguinya.


“Aunty Aline?”


“Hi, dear... Kamu kebangun ya?” tanya Aunty Aline – ibunya Nico.


“Aunty kapan datang?” tanya Riana seraya buru-buru duduk. Keadaannya sudah lebih baik, tapi ia masih harus tetap menginap di rumah sakit barang satu atau dua hari.


“Belum lama, my dear... Gimana Nico? Dia udah bangun?”


“Belum, aunty...” Riana menggeleng lemah. Ekspresinya masih sama ; sedih, sesedih ketika kali pertama kabar itu datang padanya melalui Carissa.


“Jangan khawatir, kita masih bisa berdo’a untuknya...” Aunty Aline tersenyum, mengusap sayang puncak kepala Riana. Riana mengangguk, merasakan ketulusan Aunty Aline yang begitu besar kepadanya. Dan demi perempuan itu, akhirnya ia juga memaksakan bseulas senyum, berusaha menyalurkan energi bahagianya yang tidak seberapa itu, agar Aunty Aline tetap punya keyakinan lebih untuk kesembuhan putranya.


“Kamu tau nggak, sweetie? Pada dasarnya, Nico itu memang hobinya tidur, wajar saja jika hingga detik ini, dia masih malas untuk membuka mata,” Aunty Aline mengusap matanya. Sungguh, ia benar-benar berusaha keras untuk tetap terlihat tegar di hadapan Riana.


“Everything will be alright soon, honey. Trust him, he is a strong boy...” ucap sang suami yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya.

__ADS_1


“Louis!” seru Aunty Aline. Ia memeluk suaminya begitu erat.


“Ssssttt... Pelankan suaramu, kasihan Riana,” ucapnya. Riana menggeleng, lalu tersenyum menatapi pasutri yang berbeda benua tersebut.


“It’s ok, uncle...”


“Bagaimana kondisi kamu?” tanya Louis seraya menatap lama Riana.


“Saya baik-baik saja, uncle...” jawab Riana pelan. Tiba-tiba, entah mungkin karena mendengar suara percakapan orang-orang,  Nico menggerakkan sedikit jari tangannya, lalu beberapa saat kemudian, kelopak matanya bergerak membuka. Dan Aline lah yang pertama kali menyadari hal itu.


“Hey, dia bangun!” serunya dalam luap kebahagiaan. Louis dan Riana menoleh, lalu sama-sama tersenyum dan menatap Nico yang kebingungan melihat mereka semua.


“Ada apa ini? Kok ada... Mom, Dad, ini... Riana juga kenapa bisa ada disini?” tanya Nico lemah.


“Kamu kecelakaan semalam, dan kamu dirawat disini. Oh iya, kata dokter, kamu kehilangan banyak darah, dan seseorang yang sangat baik telah menolongmu,” jelas Aline.


“S-Siapa, mom?” tanya Nico. Matanya memindai seluruh ruangan, mencari entah siapa gerangan yang dimaksud oleh sang ibu.


“Dia ada di sampingmu,” jawab Aline lagi. Nico menoleh, bertepatan dengan Riana yang sedang menatapnya, seraya tersenyum penuh kelegaan.


“R-Ri...” ucapnya. Riana hanya mengangguk. Seperti tahu tentang sesuatu, Aline memberikan isyarat kepada Louis untuk mengajaknya keluar ruangan. Louis juga mengerti, maka ia menuruti ajakan istrinya, dan cepat-cepat menutup tirai pembatas ruangan.


“Ma-Maafin gue...” Nico memecah kesunyian. Rriana tidak merespon. Ia ingin tahu, apa yang harus ia maafkan, sepertinya sejauh ini, Nico tidak pernah berbuat kesalahan padanya.


“Kenapa minta maaf sih? Lo nggak salah apa-apa Nic,” ucap Riana.


“Ingat kejadian kemarin di airport?” tanya Nico lagi. Riana memijat-mijat dahinya sebentar, tanda ia sedang berpikir keras, mencoba mengingat sesuatu yang baru saja terjadi kemarin.


“Don’t be a stupid, Nic. Sampai kapanpun, kita nggak akan pernah bisa bersama!” seru Riana.


“I know, Ri, I know. Tanpa lo bilang pun, gue sudah memahami itu...”


“N-Nic...” Tiba-tiba, rasa bersalah yang amat besar menyerang Riana dari berbagai arah. Ini bukan Nico yang salah, tapi dirinya. Dirinya yang menghantam Nico pada kenyataan itu lagi ; kenyataan menyakitkan yang sama-sama mereka rasakan, kenyataan yang sama-sama harus mereka terima dan mereka hadapi.


“Gue yang salah, Nic...” Riana menangis. Ia menutup wajahnya dengan satu tangan yang bebas, tak terhalang infus.


“Riana... Sssttt...” Nico mengelus pelan puncak kepala gadis itu. Syukurlah, ranjang mereka disetting untuk berdekatan, setidaknya jadi nggak susah kalau ada moment seperti ini, yang datangnya tidak pernah bisa diduga.


“Apa yang lo sampaikan kemarin itu bener kok. Gue nggak ada hak apapun atas diri lo, seharusnya gue bisa tetap melindungi dan menjaga lo, tanpa ada keinginan lain yang bodoh dari hati kotor gue ini. Pagar pembatas di antara kita sudah jelas-jelas nyata adanya, tapi... Entah kenapa, gue nggak bisa melupakan perasaan ini semudah menghapus embun yang menitik pada kaca jendela...”


“Sejujurnya, gue pun begitu, tapi... Gue rasa, sesaat lagi, lo akan bisa melupakan dan atau menghilangkan sama sekali perasaan yang ada ini. Karena, ada satu hati dan satu perempuan yang harus lo pertimbangkan setiap perjuangan, pengorbanan dan perasaannya...” kata Riana.


“Carissa?” tebak Nico. Riana mengangguk.


“Hhh...” Nico menghela napas. Ia menatap Riana begitu dalam.


“Gue nggak tau, tapi, gue merasakan hati gue terbagi, satu untuk elo, dan yang lain, untuk si imut itu. Sebut gue apapun, sebanyak perbendaharaan kata kotor dan kasar yang lo punya, tapi gue mencintai dua orang, dua perempuan, secara tidak langsung disini. Gue nyaman sama lo, tapi, gue juga nyaman sama Carissa. Kalian dua orang yang berbeda, kalian memberikan dua warna dan dua rasa yang berbeda di kehidupan gue. Maaf, Ri, cinta ini nggak lagi hanya untuk lo sekarang...”


“Nggak apa-apa, Nico. Sudah seharusnya seperti ini, karena, kita tidak mungkin melompati pagar-pagar pembatas itu. Kalau kita bicara bisa, ya bisa aja sebenernya, tapi, kebayang nggak perasaan orang tua kita masing-masing bakal kayak apa?” tanya Riana. Sejujurnya, hatinya sedikit sakit mendengar pengakuan ini, dari Nico sendiri, lagi. Tapi bukankah ini yang dia inginkan ; Nico fokus pada kebahagiaannya, Nico move on darinya?


“Maafin gue ya, Ri... Dan tolong, kasih gue waktu untuk sepenuhnya menghilangkan perasaan gue sama lo...”


“Tidak ada yang perlu dimaafkan, kita nggak salah, cinta juga nggak salah. Cuma, Tuhan pengin bermain-main sejenak sama kita, menguji apakah cinta kita kepada-Nya jauh lebih besar daripada cinta kita kepada makhluk yang diciptakannya? Gue bukan perempuan shalihah, gue bukan ahli ibadah, tapi gue percaya, ada rencana Tuhan yang indah sedang menanti kita...” kata Riana. Nico mengangguk. Digenggamnya tangan Riana yang tak bisa bergerak kemana-mana karena terpasang infus.


Ia merenungi semua hal dalam hidupnya ; termasuk perkataan sang ibu tadi, bahwa Riana telah menjadi penyelamatnya, mendonorkan sebagian darahnya untuk dirinya. Dan Riana, tetap sebaik itu, kendati dalam diam, Nico telah mengkhianatinya dengan membagi hati kepada Carissa.


“Kita saudaraan aja ya, sekarang? Darah lo, sebagian udah mengalir di dalam tubuh gue. Dan gue bener-bener berterima kasih atas hal itu. Seandainya nggak ada lo, entah, gue masih bisa selamat atau nggak. Thank you, sis...” kata Nico tulus. Riana mengangguk. Ia mengusap pelan air mata yang mengalir turun melewati pipinya. Perkara melepaskan, memang selalu sesulit ini. Kadang ada dimana situasinya adalah yang satu takut kehilangan, dan yang lain tak rela melepaskan. Tapi semua kejadian besar hari ini telah cukup memberikan pelajaran kepada mereka ; bahwa cinta yang baik adalah cinta yang secukupnya, cinta yang baik adalah cinta yang tidak menimbulkan luka untuk siapapun.

__ADS_1


(TBC).


__ADS_2