
-POV NICO
Jogjakarta, aku datang untuk menyusulnya. Menyusul gadis ini yang seharusnya sudah aku lupakan, tapi tidak bisa. Entah kenapa, entah apa yang salah. Perasaan ini tetap terpatri kuat semenjak awal aku melihatnya, dan bahkan hingga saat ini, setelah kita beberapa kali dipisah dan dipertemukan kembali dengan cara-cara yang entah, sama sekali tak terduga.
Kemarin, aku menemuinya di coffee shop sekitaran Ambarukmo Plaza. Sebenarnya itu pertemuan yang tidak disengaja, hanya karena kami sama-sama mengantre di kasir, sama-sama menunggu pesanan.
Kemarin, aku bicara jujur tentang semuanya, tentang hubunganku dengan Carissa, dan juga tentang perasaanku padanya. Sebut aku pengecut, pecundang, atau apapun itu, terserah kalian saja. Aku bisa membohongi semesta, membohongi orang banyak, tapi tidak dengan diriku sendiri. Jujur, aku masih – sangat mencintainya hingga hari ini.
Jogjakarta, hari ini. Aku berjalan gontai menyusuri sepanjang tepian pantai Parangtritis. Ini masih pagi, masih belum banyak turis yang berlalu-lalang. Paling ada sebagian yang naik andong sambil lihat sunrise. Tapi jam segini, sunrise-nya sendiri juga belum muncul. Aku melirik arloji di pergelangan tanganku. Baru jam enam. Mumpung masih sepi, ngegalau dulu ah.
***
Matahari telah muncul dari peraduannya, sesaat setelah aku menghabiskan rokokku, entah batang yang ke berapa. Aku berdiri, menatap raja tatasurya itu dengan pandangan penuh tekad. Biar bagaimanapun juga, aku harus melakukannya, harus. Oh ya, buat kalian yang berpikir kalau aku hendak bunuh diri, kalian salah. Aku masih punya Tuhan, dan aku masih punya orang-orang tersayang yang harus kubahagiakan.
Aku melangkahkan kakiku pelan, menuju arah datangnya ombak. Tatapanku penuh tekad, ke arah lautan luas di depanku. Kemudian, kuraba saku celana sebelah kanan, dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Sebuah kalung dengan liontin hati telah berada di telapak tanganku. Ya, ini adalah kalung pemberianku dulu untuk Riana. Aku memintanya menjaga kalung ini, sama seperti ketika ia menjaga hatiku. Dan sekarang, kalung ini dikembalikan kepadaku, sesaat setelah aku meminta hatiku kembali ; hati yang telah bertahun-tahun dicuri olehnya. Dan kini, kalung itu sudah berada dalam genggamanku, bersiap menerima takdirnya atas keputusanku.
Aku melangkah semakin mendekat ke air, menggenggam kalung hati itu erat-erat. Sebentar lagi... Bisikku.
“Sulit ku melangkah pergi
Bila kau masih di sini
Gagal diriku melupa
Tiap engkau menyapa
Aku masih menyayangimu
Aku masih cinta padamu
Bila masih saja kita bertemu
Semakin susah hati ini untuk
__ADS_1
Melupakanmu
Telah kuhapus fotomu
Dari bingkai di kamarku
Tapi masih ada wajahmu
Singgahi mimpi-mimpi
Aku masih menyayangimu
Dan aku masih cinta padamu
Bila masih saja kita bertemu
Semakin susah hati ini untuk
Tuk melupakanmu
Kau buatku
Luluh dengan kata-katamu
Semakin kuhindari
Semakin aku ingin bertemu
Aku masih menyayangimu
Dan aku masih cinta padamu
Bila masih saja kita bertemu
__ADS_1
Semakin susah hati untuk lupakanmu
Aku masih menyayangimu
Dan aku masih cinta padamu
Bila masih saja kita bertemu
Semakin susah hati ini untuk
Melupakanmu
Tuk melupakanmu”
Lagu Rossa yang berjudul “masih” itu menggema dari kejauhan, entah speaker milik siapa yang telah berbunyi pagi-pagi. Rasanya aku seperti sedang berada dalam sebuah drama, dimana aku sendirilah pemerannya, pantai Parangtritis latar tempatnya, dan rumitnya kisah asmaraku ini adalah konfliknya. Aku semakin mendekatkan diri ke air, menunggu ombak yang paling besar datang. Dan... Itu dia! Aku segera mengambil ancang-ancang ; satu... Dua... Dan kemudian, kalung itu kulempar sejauh-jauhnya, dan segera menghilang, terseret arus ombak yang baru saja datang. Kemudian aku berbalik arah, pergi, tanpa ingin melihat lagi. Aku tidak ingin tahu kalung itu nantinya akan berakhir dimana. Pergilah, pergilah menemukan penjagamu yang sebenar-benarnya. Dan teruntuk kamu, sosok yang pernah menjaga kalung itu. Permohonan yang sama juga untukmu ; pergilah, setidaknya dari ingatan dan hatiku.
Biarlah pantai Parangtritis menjadi saksi ; saksi tentang betapa kerasnya usahaku untuk melupakan kamu. Semoga ini tidak berakhir sia-sia.
***
“Aku titipkan dia
Lanjutkan perjuanganku 'tuknya
Bahagiakan dia, kau sayangi dia
Seperti ku menyayanginya
'Kan kuikhlaskan dia
Tak pantas ku bersanding dengannya
'Kan kuterima dengan lapang dada
__ADS_1
Aku bukan jodohnya” suara khas para pengamen itu mengiringi acara sarapan pagi yang aku lakukan usai prosesi pembuangan kalung itu. Aku menikmati nasi gudeg di sebuah warung makan di sekitaran pantai, dan tersenyum miris mendengar lagu milik Tri Suaka yang dibawakan dengan begitu apik oleh mereka. “Kan kuterima dengan lapang dada, aku bukan jodohnya”. Lapang dada, adalah satu-satunya hal yang tidak bisa (atau setidaknya, belum bisa), aku lakukan untuk saat ini. Ikhlas menghadapi kenyataan, ini yang berat. Tapi, fakta bahwa “Aku Bukan Jodohnya” itu nyata adanya. Tuhan, kuatkan aku...
(TBC).