MENTARI UNTUK MUARA

MENTARI UNTUK MUARA
BAB 23, SANG PENYELAMAT


__ADS_3

“Riana, banguuuunnn!” seruan dan gedoran pintu yang membahana, mengacaukan minggu siang yang tenang. Riana sudah kembali ke Jakarta, dan kini sedang berhibernasi di kamarnya, balas dendam karena tidurnya yang nggak maksimal selama di Jogja kemarin, dikarenakan dia yang ternyata malah liburan sambil bekerja.


Riana menggeliat. Ok, baiklah, mungkin sekarang ia harus mengalah. Lagi pula, semalam ia sudah tidur dari jam delapan, dan sekarang, dia nggak tau udah jam berapa.


“Ri, tangio talah!” omel Milia, begitu Riana membuka pintu, berdiri di hadapan gadis itu dengan rambut acak-acakan.


“Ini udah, kan. Jam berapa sekarang?” tanya Riana seraya mengucek-ngucek matanya.


“Setengah rolas yo!”


“Hah? Temen ta?” Riana kaget. Buru-buru ia mengecek jam weker di atas nakas, dan disitu, terpampang dengan indahnya angka 11:35.


“Wah, nyenyak banget berarti gue tidur...”


“Terlalu nyenyak kalau itu, lagi simulasi mati apa emangnya?” omel Milia.


“Anjir, emangnya seleksi masuk universitas, pake simulasi segala?” Riana nyengir.


“Halah, ya udah,, bangun ah, anak perawan bangun siang-siang...” omel Milia. Ya harap dimaklumi ya teman-teman, Milia ini anaknya disiplin dan feminim banget, dan dia dididik dengan kultur Jawa yang kental di rumahnya, jadi sebenernya sikapnya anggun gitu,lemah-lembut gitu, kayak wanita Jawa pada umumnya. Tapi semenjak kenal Riana yang tomboy dan bar-bar, ya, jadi rusak dia.


“Iya-iya, ah, ini juga udah bangun kok, kan baru sekali gue tidur sampai jam segini... Ya udah awas, gue mandi dulu...” kata Riana. Milia mengangguk, tapi dia masih menggerutu panjang-pendek sambil keluar dari kamar Riana. Tapi Riana-nya sendiri mah woles sih, nggak baper dia sama sikapnya Milia yang begitu. Baginya, selama itu nggak bertabrakan sama tujuan dia, ya oke-oke aja, kalau nggak setuju pun bukan berarti harus nolak mentah-mentah, tinggal nggak diikuti, gitu aja.


***


Riana mendengar suara-suara gaduh dari sekitar tempatnya menunggu lampu merah. Ini ada apa ya? Kok macet sih? Penasaran, Riana segera turun dari motornya, dan mendekati kerumunan. Disana terlihat seorang gadis yang berdiri di atas jembatan, sedang mengambil ancang-ancang, bersiap untuk melompat ke sungai yang membentang di bawahnya. Dengan naluri gurunya (kkarena dalam penglihatan Riana, sepertinya gadis itu masih ABG), ia segera berlari, menyeruak kerumunan, Lalu menarik gadis itu – bahkan setengah mengangkatnya, menjaga agar gadis itu tidak memberontak dan lepas dari pegangannya.


“Kamu ngapain kayak gitu? Kamu ada masalah apa?” tanya Riana, sesampai mereka di tempat yang sepi. Ia membonceng gadis itu, setengah ngebut dengan motornya.

__ADS_1


“Hey!” Riana – setengah tak sabar, mengguncang lengan gadis itu. Dari tadi, wajahnya separuh tertutup rambut, jadi Riana tidak bisa melihat bagaimana ekspresi yang sebenarnya dari gadis yang hampir bunuh diri tersebut.


“Hey, jawab dong! Kamu saya bawa kesini bukan buat jadi patung!” sentak Riana, semakin tak sabar. Sebenernya dia nggak tega mengeluarkan jiwa bar-barnya pada kondisi seperti ini ; karena siapa tau, cewek ini benar-benar sedang dalam kondisi tertekan. Sama seperti dia, yang nggak suka didesak dan ditanya-tanya ketika kepergok melakukan self-harm. Gadis asing itu pada akhirnya menyerah. Dengan gerakan pelan, ia menyibak rambut yang menutupi wajahnya, hanya demi supaya bisa melihat siapa gadis yang lancang itu, yang telah menggagalkan usaha bunuh dirinya. Dan begitu ia melihat, tubuhnya menegang seketika. Ia panik. Riana juga akhirnya melihat rupa gadis itu, dan rasa terkejut yang sama juga hinggap pada dirinya. Jadi, siapa gadis itu sebenarnya?


***


Riana menatap iba gadis yang pernah menjadi perusak hubungannya dengan Rey itu. Ya, dia Elsa, si gadis selingkuhan Rey yang tak sengaja dilihatnya di cafe milik Nico pas hari ulang tahun Rey, beberapa bulan lalu.


“Sa... Jadi...”


“Iya, mbak, Rey nggak mau bertanggung jawab... Gue nyesel kasih semuanya sama dia...” isaknya.


“Aduh gimana ya kalau udah begini? Lo kan model ya, Sa, terus karier lo kedepannya gimana?” tanya Riana. Ia geleng-geleng kepala, benar-benar shock, ternyata, Rey sudah melanggar batasan yang selama ini selalu ia pasang, Rey melanggar itu bersama Elsa.


“Itu dia yang masih gue nggak tau, mbak, gue bener-bener bingung sekarang, manager gue aja lepas tangan...”


“Aduh... Ya susah kalau begini ceritanya, Sa, yoopo terusan?” Riana menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Sebenernya nggak juga sih, Sa,” Riana cepat memotong. “Kalau lo bunuh diri, masalah lo di dunia selesai, tapi di dunia baru nanti, lo dapet masalah baru juga, roh lo nggak akan diterima dimana-mana...” lanjutnya. Elsa menundukkan wajahnya. Air matanya masih terus mengalir, dan sebetulnya, ia begitu merasa bersalah dengan Riana, karena hadir tiba-tiba, dan merusak hubungannya. Tapi di sisi yang lain, ia merasa lega karena Riana tidak berlanjut dengan Rey, itu artinya, Tuhan telah menyelamatkan gadis itu, melalui perantara dirinya.


“By the way... Kenapa lo susah-susah nyelamatin gue sih, mbak? Kan gue udah jahat sama lo, udah ngaduin yang enggak-enggak tentang lo, dan bikin Rey ngelabrak lo di Bali, emang pas kebetulan dia lagi ada disana sih...”


“Entah ya... Kayaknya naluri kemanusiaan aja deh.” Riana meringis. Terus terang, kalau dia tau yang mau melakukan itu tadi Elsa, dia bisa aja terus pergi dari jembatan itu, lalu melupakan semuanya. Tapi kalau udah ngeliat begini, dan nasib tragis yang dialami gadis itu, ya... Gimana?


“Terus, sekarang gue harus apa, mbak?” tanya Elsa putus asa.


“Hmm... Apa ya? Coba berpikir jernih dulu, siapa tau masih ada jalan keluarnya. Pertolongan gue kayaknya Cuma bisa sampai sini aja ya, Sa, kalau sampai ke ranah pribadi lo, gue nggak berani...” kata Riana terus terang. Karena jujur, dia sendiri sebenernya masih agak gimana gitu sama model cantik di depannya ini. Dan kenapa juga mereka harus dipertemukan di situasi yang aneh dan serba tidak enak seperti ini?

__ADS_1


“Iya mbak, nggak apa-apa. Gue paham, lo pasti bingung kan tiba-tiba trerlibat di situasi kayak gini?” tanya Elsa. Riana mengangguk. Sebenernya dia pengen buru-buru pergi dari sana, tapi, kok, hati kecilnya mengatakan hal lain? Jadi, dia harus gimana?


“Ya udah deh, Sa. Sekarang, lo mau ngapain? Biar gue temenin...” tawar Riana. Dan demi mie instant rasa soto yang dimasak tanpa kuah, Riana kaget sendiri dengan kata-kata yang keluar sepersekian detik yang lalu itu dari tenggorokannya. Elsa menatap Riana, ia kaget, tak percaya, tapi senang juga, karena di saat-saat begini, pertolongan yang begitu tiba-tiba datang padanya, meskipun, pertolongan itu juga justru datangnya dari orang yang sama sekali tidak pernah ada dalam bayangan sebelumnya ; Riana, gadis yang pernah disakitinya ; diambil pacarnya, dikacaukan acara liburannya.


“Lo serius mau nemenin gue?” tanya Elsa pelan.


“Iya Sa, gue serius, anggaplah ini sebagai salah satu cara gue men-support elo...” kata Riana seraya merengkuh hangat pundak Elsa, membuat gadis itu menangis lagi.


“Eh, jangan nangis lagi dong...” Riana tertawa, lalu menghapus air mata yang masih turun membasahi pipi Elsa.


“Sebutin aja, lo mau apa, mau kemana? Nanti gue temenin pokoknya, kalau perlu seharian penuh, sampai malam, ya nggak papa...” kata Riana. Elsa tersenyum, mencoba menghentikan isakannya, dan menatap ketulusan yang terpancar di mata Riana.


“Gue mau ke supermarket mbak, beli makanan sama isi kulkas...”


“Oke ayo, gue temenin dan gue pilihin makanannya ya. Inget, lo nggak sendirian sekarang, jangan egois ya,” kata Riana seraya mengelus perut Elsa yang masih rata. Elsa mau tak mau ikut tersenyum, mengamini ucapan Riana. Biar bagaimanapun, mau atau tidak, suka atau tidak, satu kehidupan baru kini telah dan tengah ikut hidup bersamanya, setidaknya sampai sembilan bulan ke depan.


***


Riana menyelimuti gadis itu yang akhirnya tertidur, setelah kecapekan tertawa dan kekenyangan ngemil sambil nonton netflix. Iba hatinya menatap masa depan gadis itu yang kini telah hancur, di tangan laki-laki yang pernah dicintainya pula. Astaghfirullah! Sepanjang jalan menuju parkiran, hatinya, bibirnya, terus dan terus melafazkan istighfar. Sungguh, ia benar-benar tak pernah membayangkan, seandainya (amit-amit), semua kemalangan itu menimpa dirinya. Ya sudahlah, kini waktunya ia untuk pulang. Teman-teman kost-nya pasti sudah sibuk mencarinya. Dan kalau udah begini, bukan tidak mungkin kalau ujung-ujungnya Riana bakal kena omel lagi.


***


“Ini anak kesambet apaan sih ya? Tadi tidur sampai siang nggak bangun-bangun , ini terus barusan, pergi dari habis mandi, terus jam segini baru balik. Lo kenapa sih, Ri?” tanya Milia – bukan nanya sih, lebih tepatnya itu ngomel, seraya membukakan gerbang, agar motor gadis itu bisa masuk ke pekarangan kos-kosan.


“Ish, lo tuh yang kenapa, dari tadi siang ngomel melulu, kek emak-emak belom dikasih duit bulanan... Gue tuh pergi dan pulang sampe semalam ini karena ada alasannya, dan gue emang rencananya pengen cerita sih nanti, ada hal besar yang pengen gue ceritain sama lo, Selena, juga Maura...”


“Apaan?” Milia melunak. Agaknya ia penasaran dengan cerita yang dibawa oleh Riana, usai ia bepergian seharian ini.

__ADS_1


“Besok gue ceritain ya, sekarang, gue mau tidur dulu...” kata Riana seraya buru-buru masuk rumah, meninggalkan Milia yang sebal setengah mati, yang sedang kembali menutup pintu pagar kos-kosan. Hih, minta dikardusin ini anak emang!


(TBC).


__ADS_2