
Riana menerima banyak ucapan selamat, bukan hanya dari rekan-rekan guru di sekolahnya, tapi dari guru-guru sekolah lain yang mengapresiasi pencapaiannya dengan keenam anak muridnya yang berhasil memasuki babak semi final. Apa lagi, Riana adalah guru termuda, jadi benar-benar memantik rasa kagum semua orang yang terlibat dan hadir pada kegiatan Pekan Budaya Pelajar itu.
“Hebat Mbak Riana, saya jadi punya firasat kalau Saras CS bisa jadi juara...” ucap Pak Catur seraya menepuk-nepuk pundak Riana dengan sikap bangga.
“Aamiin, pak. Tapi saya sudah menanamkan kepada anak-anak itu bahwa, apapun hasil akhirnya nanti, mereka harus tetap bbangga karena telah menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri,” kata Riana. Pak Catur mengangguk-angguk. Makin banggalah ia kepada guru muda yang satu ini. Dan dia benar-benar serius berharap, kalau Riana bisa melanjutkan pendidikannya. Ia tahu, Riana sangat ingin sekali kuliah. Ambisi dan harapannya tentang dunia pendidikan sangat tinggi.
“Mbak, bagaimana kalau misalnya mbak dapet kesempatan berkuliah, lewat jalur beasiswa, gitu? Mbak pilih tetap mengajar, atau kuliah dulu?” tanya Pak Catur iseng.
“Saya mencintai dua-duanya pak, tapi satu yang harus saya pilih kan? Saya akan pilih kuliah dulu, dengan catatan, setelah lulus, kembali mengajar dan menjadi lebih baik kemudian...” ucap Riana mantap. Pak Catur semakin takjub dengan keluesan pemikiran dan keluasan hati gadis itu.
“Niat yang baik selalu akan berakhir baik, mbak. Bismillah ya,” kata Pak Catur seraya masih menepuk bangga pundak Riana. Riana tidak mengerti, tapi ia mengangguk juga. Tak apalah, toh yang dikatakan oleh beliau adalah do’a yang baik kan?
***
“Ibu... Terima kasih banyak ya bu, sudah melatih dan mengantarkan kita sampai ada di titik ini. Rasanya Saras masih nggak bisa percaya, kalau band kita pada akhirnya masuk grand final, dan dengan perolehan nilai tertinggi pula...” kata Saras serius seraya memeluk Riana. Barusan mereka menyimak pengumuman, dan lagi-lagi, band dari sekolah Riana menduduki peringkat teratas dalam penilaian.
“Iya, Saras, dan kalian semua. Ibu bangga sama kalian, kalian semua telah berhasil melampaui diri kalian sendiri. Dan itu yang patut diketengahkan. Yang harus kalian ingat dan harus kalian pahami adalah, kompetitor terbesar itu bukan orang lain, bukan temen-temen kalian di sekolah, bukan para peserta dari 33 provinsi, tapi diri kalian sendiri. Rasa malas, rasa takut, rasa tidak percaya diri, insecure, overthinking, itu yang menghambat kemajuan kalian...” kata Riana sungguh-sungguh. Anak-anaknya mendengarkan dengan patuh.
“BU, bagi tips biar bisa jadi kuat, dong.” Pinta Saras. Dan permintaan itu dianggukki oleh anak-anak yang lain. Riana menghela napas, menatap satu-persatu muridnya.
“Ibu bukan pahlawan, ibu bukan super hero, ibu nggak ngerasa diri ibu kuat. Ibu juga pernah terpuruk, pernah jatuh, pernah ngerasa rendah diri, sama kayak kalian. Kuat atau tidaknya kita itu, Cuma kita yang tau. Jangan pernah berpikir kalau orang lain kuat, kalian akan punya kekuatan yang sama. Artinya begini, setiap orang itu harusnya tau sampai dimana batas kekuatan diri mereka. Kalau emang udah capek, ya berhenti aja dulu. Berhenti, bukan berarti menyerah tapi ya. Tujuan dari berhenti itu Cuma kayak ngasih kesempatan diri kita buat rileks, buat merenungi semuanya, nanti kalau tenaganya udah kumpul lagi, ya jadi kuat lagi, tapi kalau capek, berhenti lagi. Gitu aja, simple, nggak usah dibuat susah...” ucap Riana panjang lebar. Tiba-tiba, Andre mengambil gitarnya yang ternyata ia bawa-bawa dari tadi, dan mulai memetiknya seraya bernyanyi pelan.
“Ketika kau lelah
Berhentilah dulu
__ADS_1
Beri ruang, beri waktu
Mereka bilang, "Syukurilah saja"
Padahal rela tak semudah kata...” Lalu kemudian semuanya (termasuk Riana), ikut bernyanyi.
“Tak perlu khawatir, ku hanya terluka
Terbiasa 'tuk pura-pura tertawa
Namun bolehkah s'kali saja ku menangis?
Sebelum kembali membohongi diri.”
“Pak Abhi ya, bu?” ledek Rachel. Kontan saja bunyi koor “cieee” yang sangat kompak memenuhi seluruh ruangan.
“Eh-eh, udah pada mulai julid ya kalian. Udah sana, have fun ya guys. Kita ketemu lagi pas makan malam. Nanti ada briefing singkat juga di kamar ibu, tentang penampilan kalian di grand final besok. Kalian siap?”
“Siap!” seru semuanya kompak. Riana mengangguk, puas. Dan akhirnya, ia meninggalkan kamar anak-anak cowok, lalu menjemput Abhi di kamarnya. Soalnya sore ini, mereka akan berjalan-jalan bersama, tour singkat keliling Kota Malang, hal yang hampir terlupakan karena Riana yang terlalu sibuk dengan Muara.
***
“Seneng, Bhi?” tanya Riana seraya mengaduk perlahan bakso malangnya. Ya, inilah akhir dari tour singkat mereka ; singgah di kedai bakso Malang untuk menikmati dan mengabadikan citarasanya. Bakso Malang, satu yang tak bisa lepas ; yang paling ikonik dari kota dinginnya Jawa Timur ini.
“Aku seneng banget, apa lagi bisa main ke kampus juga, dan kok ya bisa pas ketemu dosen-dosen juga. Malah jadi berasa reuni kecil-kecilan,” ucap Abhi seraya bersiap hendak menikmati baksonya.
__ADS_1
“Sebentar, Bhi, itu belum tak sambelin. Kamu mau sambelnya seberapa banyak?” tanya Riana.
“Jangan banyak-banyak, aku lagi gak terlalu kepingin makan pedes, Ri.” Jawab Abhi pelan. Riana mengiyakan. Setelah baksonya Abhi siap, mereka lanjut makan seraya tetap bercakap-cakap.
“Aku nggak nyangka, ternyata kamu pernah ada di kota ini dengan durasi yang cukup lama,” kata Riana.
“Iya, tapi setelah kuliah aku belum ada kesini lagi, jadi lupa deh. Makanya aku minta temenin kamu buat jalan-jalan bentar...” jelas Abhi.
“Kalau aku sih nggak pernah lupa sama kota ini. Aku sama Ganesh lahir disini, tapi kami tuh tinggalnya di Lawang, di kabupaten, bukan di kotanya...” kata Riana. Abhi mengangguk-angguk, paham.
“Tapi, makasih ya udah nemenin aku jalan-jalan sore ini, aku seneng banget,” ucap Abhi sungguh-sungguh.
“Iya Bhi, sama-sama. Ya udah cepetan yuk makannya, sudah mau jam enam ini. Kita harus kembali ke hotel kan...” kata Riana. Abhi mengangguk. Kini, mereka kembali melanjutkan makan tapi dalam suasana yang hening.
***
[Very nice trip today... Kuharap ini bukan yang terakhir. Seandainya aja waktuku bisa diperpanjang....] Riana begitu heran membaca postingan WhatsApp story dan juga instagram Abhi. Foto yang dia pasang adalah fotonya berdua dengan Riana, tapi caption-nya itu terdengar begitu something di telinga. Ini waktu apa yang maksudnya diperpanjang? Waktu kebersamaannya dengan Riana kah? Bukankah setiap hari mereka masih bisa ketemu lagi nantinya? Kan Abhi juga ada di Jakarta... Karena terus memikirkan itu, Riana jadi tak fokus. Berkali-kali Saras memanggil, ia tidak merespon. Barulah ketika Andre mencolek bahunya, ia menoleh.
“Kenapa?” tanyanya setengah terkejut.
“Katanya mau briefing, bu?” tanya Andre.
“Astaghfirullah iya, ibu lupa. Jadi begini anak-anak, buat besok...” Riana menjelaskan secara rinci apa-apa saja yang harus dilakukan anak-anak didiknya di babak grand final besok, karena yang akan mereka pertunjukkan nantinya adalah sesuatu yang benar-benar berbeda. Riana telah mempersiapkan semuanya dengan matang ternyata. Deadline sebulan yang diberikan oleh kepala sekolahnya, ternyata malah cukup membuat Riana mempersiapkan banyak konsep untuk band ini, terlebih, ia sudah mengetahui alur dari Festival Pekan Budaya Pelajar ini seperti apa. Jadi makin mudahlah baginya menyesuaikan waktu latihan yang ada, dengan kemampuan anak-anaknya. Memang dasar anak-anaknya pinter juga sih, jadi kayak nggak ada kesulitan berarti gitu buat merekanya. Ya sudah, mari kita do’akan, semoga kompetisi hari terakhir besok diberikan kelancaran. Aamiin.
(TBC).
__ADS_1