MENTARI UNTUK MUARA

MENTARI UNTUK MUARA
BAB 12, SATU KISAH YANG TERTINGGAL


__ADS_3

-Pov Ganesh


Aku, Ganesha Dwi Pradana. Usiaku 17 tahun. Aku terlahir berbeda, tapi aku tak peduli. Aku punya dua orang kakak perempuan, namun sifat keduanya sangat-sangat jauh berbeda. Yang pertama, namanya Lisa Aprilia, dia kakak sulungku. Orangnya egois, maunya menang sendiri, dan dia anak emas dalam keluarga. Kakak keduaku namanya Riana Mentari. Namanya cantik, secantik orangnya. Setidaknya itu yang aku tahu dari orang-orang. Tapi aku mempercayainya, karena ternyata, Mbak Riana memang secantik itu.


Dibandingkan kakakku yang satunya, Mbak Riana adalah orang yang sangat peduli denganku, walaupun, bisa dibilang, caranya mendidikku agak lebih keras, mungkin karena aku anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga, tunanetra pula.


Seperti yang kukatakan tadi, aku tiga bersaudara, dan dua saudaraku perempuan semua. Tapi, aku paling dekat dengan Mbak Riana sejak kecil. Dia adalah sosok kakak yang mengajarkanku banyak hal, termasuk tentang bagaimana caranya jadi kuat, dan bagaimana caranya bertahan hidup di tempat dan lingkungan yang keras.


Tapi tiga tahun yang lalu adalah masa-masa paling berat dalam hidupku. Setahun setelah kepergian mama, Mbak Riri juga pergi, karena dia tidak cocok dengan ayah. Aku tau, mereka memang sering bertengkar dari dulu. Tapi yang aku tidak tau adalah, malam itu Mbak Riri menyingkirkan kepeduliannya dariku. Ia benar-benar pergi, meskipun hujan sangat deras ketika itu. Ia juga benar-benar membatukan hati, rasanya sia-sia semua usahaku untuk mencegahnya agar tidak pergi. Pada malam berhujan itu, sambil menahan tangis, akhirnya kurelakan ia melaju bersama mobil taksi, membawa semua barangnya dari dalam kamar pink-nya, menyisakan lemari, meja, dan tempat tidur, meninggalkan jejak kosong dan hampa hampir di setiap sudut ruangannya. Malam itu, sambil masih menahan tangis, aku menutup semua pintu dan jendela, lalu menguncinya. Tak lupa, di dalam hatiku, kulontarkan sejuta hujatan dengan seluruh top collection perbendaharaan kata kasar yang kupunya kepada ayah. Dan Mbak Riri... Maafkan aku, karena pada akhirnya, aku menghujat dan menggugatnya juga. Aku begitu kecewa pada saat itu, dan telah mengukuhkan diri untuk tidak akan pernah memaafkannya lagi.


***


Dan disini, di Lova Hotel, sekarang, ketika aku sedang mengikuti seminar kepenulisan yang diadakan oleh Narendra Abhimanyu (seorangmusisi, penulis, dan guru tunanetra) bersama teman-teman sekolahku, kesialan kudapatkan saat aku tak sengaja tersandung dan menabrak meja. Saat itu, ada sepasang tangan yang menarikku untuk berdiri. Dan yang tidak kuduga, itu adalah tangan sesosok perempuan. Dan sepertinya, perempuan itu adalah orang yang kukenal, apa lagi ketika ia mempertanyakan soal keadaanku pasca jatuh. Hanya saja, karena aku tidak begitu yakin dan percaya, aku tidak berani menebak siapa dia. Aku takut kalau aku salah mengenali orang. Lagi pula pikirku, mana mungkin dia (Mbak Riri), ingat padaku?


“Ga-Ganesh...” Dan begitu namaku disebutkannya, aku semakin yakin bahwa itu dirinya. Tapi aku terlalu takut untuk menebak, sekali lagi, aku masih takut salah mengenali orang lain sebagai kakakku. Seandainya aku bisa melihat, mungkin saja tidak akan se-repot ini keadaannya.


“Dek... I-Ini mbak, dek, ini Mbak Riri...” ujarnya. Alhamdulillah, aku benar! Tapi...


“Mbak... Sek talah. Iki aku mimpi tah gak i?” tanyaku. Aku hampir-hampir tak percaya begitu mendengar gadis itu menyebutkan namanya, dengan rasa keterkejutan yang sama denganku. Mbak Riri menarikku ke dalam pelukannya.


“Iya, bener, parfumnya sama...” kataku, yang masih menempel erat di pelukannya. Pelukan yang sudah begitu lama kurindukan. Dan dengan begini, bagaimana mungkin aku tidak memaafkan dan terus menghindar darinya? Tapi kurasa, sekarang bukan saat yang tepat untukku melepas rindu dengannya. Aku harus segera menemukan dimana rombongan sekolahku. Lagi pula acara juga akan segera dimulai.


“Nanti kita ngobrol lagi ya mbak, aku nyari rombongan sekolahku dulu,” kataku.


“Seragamnya kayak gini semua kan? Mbak anter ya, mereka di sebelah sana tuh.” Tawar Mbak Riana seraya  menunjuk sesuatu. Mungkin itu adalah tempat dimana rombongan sekolahku berada.


“Iya, boleh kok mbak,” aku mengiyakan dengan begitu antusias. Dan dengan bangga, kuperkenalkan kakak cantikku kepada teman-teman sekolahku.

__ADS_1


***


Seusai acara seminar kepenulisan yang aku ikuti, aku mendengar ada keributan di dalam ballroom itu. Aku mendengar seseorang meneriakkan nama kakakku dengan begitu keras. Dan baru kutahu kalau itu adalah mantan kekasihnya. Aku sempat hendak maju dan membela kakakku begitu si cowok gila nan bar-bar itu mulai mengata-ngatai kakak kesayanganku, menyebutnya cewek murahan, dan banyak lagi. Rasanya aku ingin sekali ikut maju dan menghajar cowok kurangajar itu. Tapi Wisnu keburu menahan tanganku, menyuruhku tetap diam di tempat dan mendengarkan.


“Jangan gegabah, Nesh, kita gak tau situasinya,” kata Wisnu.


“Tapi itu kakak gue... Dia diapain aja tadi, Nu?” tanyaku geram. Aku menjadikan Wisnu sebagai pengganti mataku, karena dia yang melihat secara detail kejadiannya.


“Kakak lo... Kakak lo dijambak tadi,” kata Wisnu takut-takut. Apa? Grrrrr... Aku semakin geram dibuatnya.


“Nu, masak kita diem aja kayak gini sih? Lakuin sesuatu dong!” seruku emosi.


“Gue juga maunya gitu Nesh, tapi risikonya terlalu gede...” kata Wisnu putus asa.


“Panggil petugas aja apa? Orang kayak gini sih harus diamanin!”


“Eh, itu mas yang tadi jadi pembicara ngapain ikut masuk di arena pertempuran? Apa jangan-jangan dia kenal kakak lo?” tanya Wisnu heran.


“Iya... Kira-kira aman gak nih? Panggil petugas keamanan sekarang tah?” tanya Wisnu khawatir.


“Bentar... Gue rasa ini akan berakhir imbang deh. Lu inget kan, kalau Mas Abhi bilang dia bisa bela diri?” tanyaku.


“Iya sih, tapi sorry, bukannya kondisi dia sama kayak lo, ya?”


“Iya, Cuma sialnya, gue ini yang nggak bisa bela diri, nggak bisa melindungi Mbak Riri...” protesku. Wisnu diam tidak menanggapi. Tapi dari gerak-geriknya yang bisa kutangkap, sepertinya dia sama ketakutannya denganku.


“Eh, lah, kok malah dia yang berantem sama cowok satunya itu? Kakak lo kayaknya udah lari manggil petugas deh!” seru Wisnu seraya refleks maju ke depan. Aku mengikuti langkahnya. Ini saat yang tepat untuk kami – aku dan Wisnu membantu Mas Abhi, ini adalah satu dari sekian banyak usaha yang ada untuk setidaknya membantu melindungi dan menyelamatkan Mbak Riri.

__ADS_1


***


“Mas Abhi!” kami kompak memburu ke arah cowok itu yang sudah kewalahan karena dihajar oleh si cowok bar-bar itu. Awalnya kupikir kekuatan mereka imbang, ternyata tidak. Aku dan Wisnu segera menghampiri Mas Abhi yang terluka.


“Mas... Mas nggak papa?” tanyaku seraya membantunya untuk bangkit berdiri.


“Saya nggak papa... Tapi Mbak Riana bagaimana?” tanyanya.


“Dia tadi yang manggil security dan mengamankan laki-laki itu, dan dia itu kakak saya, mas,” kataku.


“Sek tah, ini Ganesh berarti ya?” tanya Mas Abhi.


“Iya mas, Ganesh ini...”


“Riana itu kakak kamu, ya?” tanyanya.


“Iya, Mas Abhi. Tau dari mana?” tanyaku heran.


“Kami temenan di facebook, dan kamu ada di list pertemanan dia dan di list anggota keluarga juga ada kamu sebagai adik laki-lakinya. Terus, percakapan di pantai sore tadi juga, dia cerita...” jelas Mas Abhi.


“Ya udah, nggak usah bahas itu dulu. Mas nggak papa?” tanyaku sekali lagi.


“Nggak papa-nggak papa, aman ini, sekarang yang terpenting itu mbakmu, kasihan dia dikasarin sama mantannya kayak gitu...” kata Mas Abhi seraya menepuk-nepuk pakaiannya yang mungkin jadi kusut karena perkelahian tadi.


“Sepertinya Mbak Riri sudah dibawa ke ruangan lain sama pegawai disini, mungkin untuk diobati. Sekarang, mending kita ke atas aja, ke kamar. Mas Abhi di lantai berapa?” tanyaku.


“Saya di lantai 5. Kamu?”

__ADS_1


“Lantai 6. Nggak papa, ayo bareng. Gandengen, Nu, sakno Mas Abhi,” kataku. Wisnu mengiyakan. Dan kami bertiga segera meninggalkan ballroom, dan pergi ke arah lift, untuk naik menuju kamar kami masing-masing, sambil menyimpan kekhawatiran kepada Mbak Riana yang menghilang secara tiba-tiba.


(TBC).


__ADS_2