
"Iya sih Rey, tapi setidaknya gitu lebih panjang dikit lah jawabnya. Biar gue nggak ngira kalau lho itu masih marah ke gue. Atau nggak lebih ramah lagi jangan kaya barusan yang terlihat cuek." kata Zidan menjawab ucapan Reyhan.
Tanpa menjawab ucapan Zidan, Reyhan pergi meninggalkan Zidan dengan membawa setumpuk buku.
Zidan yang di tinggalkan oleh Reyhan mulai mengeluarkan suara nya lagi.
"Lah, lah Rey. Lho ko ninggalin gue sih. Nggak ngajak lagi kalau mau pergi. Nasib, nasib ko gini amat sih punya temen." kata Zidan ketika menyusul Reyhan yang lebih dulu melangkahkan kakinya.
Reyhan yang mendengar suara Zidan tak berniat sedikit pun untuk melihat Zidan yang berada di belakangnya.
Karena saat ini ia terus berjalan membawa setumpuk buku tersebut.
"Ini si Reyhan malah lempeng - lempeng aja. Nggak mau liat kebelakang sedikit pun hanya untuk liat gue. Awas ya Rey gue bales ntar lho. Tunggu aja gue pasti bales lho." kata Zidan di dalam benaknya mengata - ngatain Reyhan.
Sementara Reyhan pun sama, ia juga sempat berkata di dalam benak nya.
"Gue yakin nih, si Zid pasti lagi ngata - ngatain gue. Ah... bodo amat dia mau ngatain gue kek, nggak kek, gue nggak peduli." kata Reyhan di dalam benaknya.
Lalu ia pun mulai menarik nafasnya dengan terburu - buru. Entah karena apa ia harus menarik nafasnya dengan terburu - buru.
__ADS_1
Apa karena ia terlalu emosi atau karena terlalu tak peduli. Hingga membuat ia lebih memilih menarik nafas dengan terburu - buru.
"Rey, lho ko malah tinggalin gue sih. Huh... huh... huh..." kata Zidan yang saat ini telah berada di samping Reyhan sambil mengatur nafas nya karena terlalu capek berjalan dengan cepat untuk menyusul Reyhan.
Sebelum menjawab, Reyhan melihat Zidan yang sedang mengatur nafas nya itu.
"Oh itu, karena lho lama Zid makannya gue tinggal." kata Reyhan menjawab ucapan Zidan. Lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah jalan.
"Hem... lama darimana nya Rey. Lho nya aja mungkin yang udah laper pengen makan." kata Zidan menjawab ucapan Reyhan.
"Lho nggak sadar Zid kalau lho itu lama. Dan satu lagi bukannya kebalik ya, yang suka laper kan lho bukan gue." kata Reyhan menjawab ucapan Zidan.
"Emang bisa gitu, perut teriak." kata Reyhan yang heran dengan ucapan Zidan.
"Bisa lah Rey, emangnya lho nggak tau kalau perut itu bisa teriak." kata Zidan.
"Nggak" kata Reyhan menjawab ucapan Zidan dengan satu kata itu saja.
"Kasian banget sih kamu Rey, nggak pernah tau teriakan perut. Ntar gue kasih tau, gimana teriakannya setelah gue kasih buku ini ke bu Sinta." kata Zidan.
__ADS_1
"Nggak perlu di kasih tau juga nggak papa Zid, gue nggak akan nangis ko, kalau cuman nggak tau hal itu." kata Reyhan.
"Hem... tapi nggak papa Rey, lho tuh harus tau biar ntar kalau gue bilang perut gue teriak, lho bisa tau dari bunyinya. Oke, jadi lho tinggal dengerin aja nanti gue kasih tau ke lho." kata Zidan masih tetap ingin memberitahukan pada Reyhan.
"Hem... ya udah terserah lho aja. Percuma juga gue nolak kalau lho masih kekeh pengen kasih tau gue." kata Reyhan.
"Nah ini baru yang gue suka dari lho Rey. Oke deh yuk cepet - cepat aja jalannya biar buku - buku ini bisa sampai ke bu Sinta." kata Zidan.
"Santai aja kali Zid, nggak perlu terburu - buru. Lagi pula belum sampai lima menit ko kita jalan sekarang." kata Reyhan.
"Siapa yang bilang Rey kalau ini belum sampai lima menit. Lho tau dari mana." kata Zidan penasaran dengan ucapan Reyhan.
"Gue asal tebak aja Zid, ya udah jangan banyak bicara terus, ntar yang ada nggak akan sampai - sampai kita ke bu Sinta." kata Reyhan menjawab ucapan Zidan.
"Hem... iya deh Rey." kata Zidan menjawab ucapan Reyhan.
Percakapan di antara mereka berdua pun berhenti dengan sendirinya.
To be continued
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹