Menunggu Penantian Tanpa Batas

Menunggu Penantian Tanpa Batas
Menebak Asal


__ADS_3

"Berhubung kalian udah siap ibu kasih hukuman. Sekarang juga kalian lari 10 kali keliling lapangan. Setelah itu hormat ke bendera sampai jam istirahat selesai. Inget ya, bukan pas jam istirahat tapi setelah jam istirahat." kata bu Sinta memberitahukan hukuman untuk Jajang dan Dino.


"Apa bu? ibu nggak salah kasih hukumannya itu." kata Dino secara spontan berkata seperti itu pada bu Sinta.


"Kenapa? hukumannya kurang ya. Mau ibu tambahin lagi." kata bu Sinta menjawab ucapan Dino.


"Nggak bu nggak, kami berdua setuju." kata Jajang dengan terburu - buru menjawab ucapan bu Sinta.


"Ya udah kalau kalian setuju sekarang juga kalian lakuin hukuman kalian." kata bu Sinta.


"Baik bu." kata Jajang sambil menarik salah satu tangan Dino untuk ikut dengan dirinya melaksanakan hukuman dari bu Sinta.


Di luar kelas, Dino yang di tarik oleh Jajang. Mencoba melepaskan tangannya dari tarikan Jajang tersebut.


Dengan menghempas - hempas kan tangannya agar Jajang bisa melepaskan tangannya saat ini.


Namun, setelah cukup lama ia melakukan itu. Tetapi hasilnya tetap sama, Jajang tak melepaskan tangganya sama sekali.


Dengan malas ia pun mulai mengeluarkan suara nya pada Jajang.

__ADS_1


"Woi Jang lepas tangan gue. Lho kira tangan gue apaan di tarik - tarik kaya gini. Tali juga bukan nih tangan, kenapa lho suka banget tarik tangan gue. Lepas coba tangan gue." kata Dino dengan cukup keras berkata pada Jajang.


"Gue baru sadar kalau ternyata gue tarik tangan lho. Sorry gue kira tangan lho beneran tali makannya gue tarik." kata Jajang sambil melepaskan tangan Dino.


"Dari tadi kek lepasin tangan gue nya. Giliran di minta, baru deh nih tangan lho lepas. Kalau gue nggak minta ntar yang ada orang - orang ngiranya lho ada apa - apa sama gue. Kan bisa berabe." kata Dino pada Jajang setelah tangannya di lepaskan.


"Ada apa - apa maksud lho?" kata Jajang yang penasaran dengan ucapan Dino tersebut. Sehingga ia pun bertanya pada Dino.


"Ya bisa aja kan ntar orang - orang ngiranya lho ada hubungan sama gue sampai pegang tangan gue." kata Dino menjawab ucapan Jajang.


Kemudian Jajang pun terdiam sejenak. Mungkin ia sedang memikirkan kata demi kata yang barusan ia dengar dari Dino.


"Maksud lho Din, lho dan gue punya hubungan kaya pacaran gitu." kata Jajang menebak asal ucapan Dino tersebut.


"Hem... bisa di bilang kaya gitu." kata Dino menjawab santai ucapan Jajang tersebut.


"Gila apa Din? mana mungkin gue pacaran sama lho. Lho kira gue cowo yang nggak normal apa? sampai cowo aja gue ajakin pacaran." kata Jajang tak terima dengan ucapan Dino.


"Ya kan kita nggak tau ya, sifat orang itu seperti apa aslinya." kata Dino.

__ADS_1


"Ya iya cuma gue lebih baik pacaran sama cewe daripada sama cowo. Apalagi kalau pacaran sama cowo kaya lho. Ih... gue nggak mau lah." kata Jajang bergidik ngeri menjawab ucapan Dino.


"Lah emang kenapa kalau sama gue?" kata Dino.


"Lho kenapa Din, apa jangan - jangan lho suka nya sama cowo ya selama ini. Jadi takut gue deket - deket sama lho." kata Jajang.


"Apaan coba? gue masih suka cewe kali Jang. Jangan asal bicara kamu, ntar yang ada cewe - cewe pada nggak mau sama gue." kata Dino.


"Ya lho sendiri yang bahas hal itu. Emangnya salah ya kalau gue mulai curiga ke lho." kata Jajang.


"Salah sih nggak, cuman ya di pikir - pikir dulu Jang lho bicaranya. Yang ada kalau ntar satu cewe denger bisa menyebar nih berita. Gue nggak akan dapet cewe kalau mereka ngiranya gue tuh suka cowo." kata Dino menjawab ucapan Jajang dengan cukup panjang.


"Hem... iya deh iya gue salah, maaf gue nggak sengaja bicara kaya gitu ke lho." kata Jajang akhirnya meminta maaf pada Dino.


"Hem... iya, tapi awas ya jangan di ulangi lagi Jang." kata Dino menjawab ucapan Jajang sambil mengancam Jajang.


"Iya nggak akan." kata Jajang menjawab ucapan Dino.


To be continued

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2