
Sementara di lapangan, Dion dan Jajang yang selesai mengelilingi lapangan sebanyak sepuluh kali.
Kini sedang mengatur nafas nya untuk berdiri tegak menghormat ke bendera.
"Huh... huh... huh... Jang, lho capek nggak. Kalau gue capek bener nih Jang. Gue jadi kapok kalau pas pelajaran bu Sinta, gue nggak akan berumah lagi. Huh... huh... huh..." kata Dino dengan nafas yang tak beraturan mengeluarkan suara nya pada Jajang.
Sedangkan Jajang. Ia pun tak berbeda jauh dengan kondisi Dino saat ini.
"Huh... huh... huh... sama Din, gue juga capek banget. Mana tadi pagi gue belum sempet sarapan lagi. Lemes banget nih. Besok - besok kalau tau bakalan di hukum, gue pasti sarapan dulu Din. Hem.. jadi nyesel gue tadi pagi nggak sempet sarapan. Apalagi saat ini gue di hukum. Dan ucapan lho bener juga Din, gue akan mikir dua kali buat berulah lagi di pelajaran nya bu Sinta. Huh... huh... huh..." kata Jajang menjawab ucapan Dino.
"Hem... ya udah deh Jang. Lain kali kita nggak boleh lakuin itu lagi. Yuk langsung berdiri untuk hormat ke bendera. Lho masih kuat kan atau gue minta izin ke bu Sinta, biar gue aja yang gantiin lho di hukum sendirian." kata Dino menjadi khawatir dengan kondisi Jajang yang katanya belum sarapan.
"Bisa ko Din, gue masih bisa berdiri. Jadi jangan khawatir gue kan cowo kuat. Dan makasih udah mau gantiin gue buat gantiin hukumannya." kata Jajang menjawab ucapan Dino.
"Hem... ya udah, gue bantu lho berdiri tegap ya."
__ADS_1
"Nggak perlu Din, gue masih bisa sendiri ko."
Tak lama setelah itu, Jajang dan Dino kini mulai hormat ke bendera.
Belum sampai lima belas menit mereka berdiri sambil hormat. Terdengarlah bel istirahat.
Mereka berdua mulai saling pandang. Ketika bel istirahat telah berbunyi.
"Lho mau ke kantin dulu nggak?" kata Dino.
"Mau ngapain ke kantin?" kata Jajang.
"Kita kan lagi di hukum Din, bagaimana bisa kita pergi ke kantin." kata Jajang menyadarkan Dino yang lupa bahwa ia saat ini masih di hukum.
"Hem... bener juga kamu Jang. Gue malah lupa kalau kita ini kan di hukum sampai jam istirahat selesai ya. Itu artinya kita nggak akan beli apa - apa dong ya." kata Dino.
__ADS_1
"Iya begitu lah Din. Dimana kita melakukan kesalahan di situ lah kita harus menanggungnya." kata Jajang.
"Aduh gimana dong sama lho Jang. Kalau nggak beli makanan sama minuman, lho kelaparan dong. Mana jam istirahat ke dua masih lama. Lho masih kuat nggak Jang." kata Dino.
"Masih ko tenang aja Din, gue nggak akan pingsan karena nggak makan." kata Jajang.
"Tapi Jang, gue jadi makin nggak enak nih. Semua ini nggak akan terjadi kalau tadi gue nggak berdebat sama lho." kata Dino.
"Ya udah Din jadi in pelajaran aja. Agar lain waktu lho nggak ulangi kesalahan yang sama." kata Jajang mencoba menenangkan Dino yang merasa bersalah pada kejadian yang terjadi pada mereka saat ini.
"Iya Jang, maaf ya sekali lagi udah buat lho ikut di hukum juga." kata Dino meminta maaf dengan tulus pada Jajang.
"Iya Din, gue juga minta maaf karena ikut berdebat juga dengan lho." kata Jajang.
"Iya Din." kata Dino menjawab ucapan Jajang dengan singkat.
__ADS_1
To be continued
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹