
"Karena lo maksa, El. Ya udah, ayo kita pulang bareng." Kata Laras yang langsung menarik tangan Elmi.
"Et dah, Ras. Kalau tau kata gini. Gue nggak jadi dah ajakin lo." Kata Elmi yang sengaja mengeluh.
Laras yang mendengar suara Elmi itu, hanya bisa tertawa tanpa merasa bersalah atau lebih tepatnya ia hanya memberikan cengirannya.
"Hehehe..." inilah senyum yang Laras berikan pada Elmi.
"Malah ketawa lagi. Bukannya sadar, eh ini malah tak sadar." Kata Elmi sengaja menyindir Laras.
"Terserah lo aja deh El. Lo mau caci maki gue juga, itu terserah lo. Tapi, kalau sifat gue seperti ini, itu karena keinginan gue. Jadi, lo nggak berhak untuk itu." Kata Laras menjawab ucapan Elmi.
Kemudian Elmi pun berbicara di dalam hatinya mengenai sikap Laras ini.
"Ca ela, gue kira si Laras ini pemalu tapi nyatanya gue keliru. Karena ternyata Laras malah sebaliknya malu - maluin." Kata Elmi di dalam hatinya.
"Ayo masuk, udah pada siap pulang kan." Kata ayahnya Elmi saat tak terasa bahwa Elmi dan Laras saat ini tepat di dekat mobil ayahnya Elmi yang sedari tadi sudah menunggu di dalam mobil.
"Ah... iya, yah. Elmi sama Laras langsung masuk." Kata Elmi yang langsung bergegas menjawab ucapan ayahnya.
__ADS_1
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Elmi kemudian menarik lengan Laras untuk memasuki mobil bersamanya.
Setelah Elmi dan Laras masuk ke dalam mobil. Ayah Elmi pun mulai mengeluarkan suaranya.
"Ehem... anak ayah dan nak Laras sudah siap." Kata ayah pada mereka berdua.
Mereka berdua lalu saling pandang. Setelah itu, dengan kompaknya mereka pun mulai menganggukkan kepala sebagai jawaban dari ucapan ayahnya Elmi.
"Oke, kalau kalian berdua sudah siap. Ayah langsung jalan ya." Kata ayahnya Elmi menjawab ucapan mereka berdua.
"Oke yah. let's go." Kata Elmi menjawab ucapan ayahnya dengan penuh semangat.
Tapi, beruntung ayahnya Elmi bisa mendengar ucapan Laras tersebut.
"Siap, mari kita jalan." Kata ayahnya Elmi menjawab ucapan Elmi dan Laras.
Setelah itu, mobil itu pun melaju meninggalkan sekolah baru Elmi.
Di sepanjang jalan banyak sekali yang di bicarakan Elmi pada Laras. Sehingga suasana mobil pun tak sepi sama sekali.
__ADS_1
Sampai akhirnya suara obrolan Elmi dan Laras terhenti saat Laras meminta ayahnya Elmi untuk berhenti.
"Stop pak, rumah saya ada di depan." Kata Laras menghentikan laju mobil yang di kemudi ayahnya Elmi.
"Oh, iya boleh. Bentar ya nak Laras, bapak berhebtiin dulu." Kata ayahnya Elmi menjawab ucapan Laras.
"Iya pak." Kata Laras menjawab ucapan ayahnya Elmi.
Tak berlangsung lama mobil pun berhenti. Elmi kemudian mulai merasa sedih.
"Ya Ras, ko rumah kamu deket sih. Aku kira masih jauh. Kan kalau masih jauh kita masih lama ngobrolnya. Kalau udah sampai kaya gini. Ah... aku jadi nggak bisa ngobrol lagi deh. Sedih." Kata Elmi mengeluh pada Laras.
"Hehehe... cup... cup... Elmi yang cantik. Besok kan kita bisa ngobrol lagi. Jadi, jangan nangis ya. Ntar, aku nggak akan kasih permen lagi loh. Emang kamu mau kaya gitu?" Kata Laras yang sengaja ucapan nya ia di buat - buat seuwu mungkin.
"Ah... tapi kan beda Ras, besok sama sekarang itu kan beda. Hem..." Kata Elmi menjawab ucapan Laras.
"Ntar, biar aku samain dah. Tuh, udah beres." Kata Laras menjawab ucapan Elmi.
Bersambung...
__ADS_1