
"Ko mendadak sedih ya gue. Padahal kan cuma di cuekin, tapi kenapa nyelekit banget ya sakitnya. Ah... kayanya gue lagi baperan deh. Sampe jadi melau gini." Kata Luna yang saat ini sedang bersedih.
Sementara Syiren yang bersikap acuh pun kini sedang berbicara di dalam hatinya.
"Sikap gue kaya gini ke Luna, baik ngga ya atau malah keterlaluan. Ah... gue jadi bimbang nih." Kata Syiren yang sedang bimbang.
"Ah... gue ko jadi pengen nangis sih. Lun tahan jangan sampe lo netesin air mata lo. Emang lo ngga takut ntar di liatin sama temen - temen lo. Terus sama adik kelas lo juga. Masa udah gede nangis. Payah, tau ngga sih Lun." Kata Luna yang kini sedang berbicara pada dirinya sendiri.
Di saat Luna sibuk berbicara pada dirinya sendiri. Syiren pun mulai mengalah dengan ego nya. Ia seketika langsung memutar tubuhnya dan kembali mendekati Luna.
Tap...
Tap...
Tap...
__ADS_1
Suara langkah kaki Syiren pun mulai terdengar. Sampai akhirnya ia berhenti tepat di hadapan Luna yang sedang menunduk.
"Lun, gue... gue... minta maaf ya. Gue udah bersikap ngga baik sama lo. Lo mau maafin gue kan Lun. Please maafin gue." Kata Syiren yang awalnya sempat ragu untuk mengeluarkan suara. Namun, ia akhirnya bisa melawan rasa ragunya. Sampai ia pun telah selesai berbicara pada Luna.
Tapi, walau sudah selesai berbicara. Ia kini mulai merasa cemas menunggu jawaban Luna atas ucapannya barusan.
"Ayo dong Lun jawab. Gue udah ngga tenang nih, lo jangan malah diem gitu." Kata Syiren di dalam hatinya saat melihat Luna hanya tetap menunduk dan terdiam seperti enggan untuk menjawab atau bahkan melihat wajah Syiren.
Namun, rasa khawatirnya Syiren pun akhirnya tak berlangsung lama. Karena setelah Syiren selesai berbicara di dalam hatinya. Ia mulai mendapatkan jawaban dari Luna.
"Iya Lun boleh banget. Sini gue peluk lo. Gue juga minta maaf." Kata Syiren yang langsung memeluk Luna.
Sehingga saat ini mereka berdua sedang berpelukan.
Tiba - tiba terdengar suara deheman dari seseorang.
__ADS_1
"Ehem..." inilah suara deheman dari seseorang itu.
"Eh... lo Ar, kenapa?" Kata Luna yang langsung bertanya pada seseorang yang berdehem itu. Karena kebetulan posisi Luna saling berhadapan dengan orang yang berdehem tersebut.
"Em... harusnya gue yang tanya ini ke kalian. Ngapain saling pelukan sih? emang kalian teletubbies. Tapi, kalau beneran teletubbies, kan harus ada empat orang ya. Jadi, gimana kalau gue sama Roy yang tambahin jumlahnya biar jadi empat." Kata Ari menjawab ucapan Luna.
"Ih... apaan sih lo Ar, masa lo sama si Roy peluk kita. Apa kata orang - orang nanti. Ah... ngebayanginnya aja gue jadi takut." Kata Luna menjawab ucapan Ari.
Selain itu, Luna dan Syiren pun mulai melepaskan pelukan nya.
"Iya ih... lo apaan - apaan sih Ar gue mana mau pelukkan sama lo sama si Roy. Tapi, kalau sama my husband Rey sih, gue ngga akan nolak, malah kayanya gue akan seneng banget tau bisa di peluk sama Rey. Ah... jadi pengen di peluk." Kata Syiren yang kini mulai kumat lagi.
"Udah deh Syi, daripada lo terus berharap di peluk sama si Rey yang entah kapan waktu nya itu akan terjadi. Lebih baik noh, di peluk sama si Roy. Kan si Roy sama si Rey ngga beda jauh. Malah ya, sebelas dua belas lah. Iya ngga Lun." Kata Ari yang langsung menjawab ucapan Syiren sambil menunjuk Roy dan bertanya pada Luna.
Bersambung...
__ADS_1