
Setelah Zidan tak terlihat dalam pandangan, Reyhan kemudian pergi melangkahkan kaki menuju perpustakaan.
Tap... Tap...
Langkah kaki Reyhan terdengar begitu beriringan. Sehingga banyak pasang mata melihat ke arahnya.
Apalagi cewe - cewe tak luput dari pandangan mereka untuk sekedar mengedipkan mata. Karena mungkin mereka tak rela jika melewatkan kesempatan untuk memandang cowo tampan kaya Reyhan ini.
Argh... intinya gak bisa banget untuk di abaikan.
Lebay mungkin ya, tapi itulah kenyataan yang ada. Baik adik kelas, teman sengangkatan ataupun kakak kelas, mereka tak pernah kenyia - nyiakan kesempatan.
"Wah gila, walaupun udah lama liat nih si Rey, tetep aja tampan. Pake apa sih wajahnya itu sampai glowing gitu. Bahkan ngalahin kulit cewe. Gue jadi iri deh liat nya." Kata salah satu teman seangkatan Reyhan yang mengagumi ke tampan wajah Reyhan.
__ADS_1
"Lo nih, baru aja liat yang glowing kaya gitu udah gini. Apalagi kalau nih si Reyhan ada sepuluh, pasti tuh air liur lo akan netes." Kata teman seangkatan Reyhan yang lain dan panggil aja dia Nita.
"Apa sih Nit, lo ko jahat amat sama gue. Pake bilang netes lah air liur gue. Ngga sampai gitu juga kali Nit gue irinya." Kata Sofi orang yang mengagumi Reyhan.
"Lagian lo Sof, lebay amat dah. Baru liat yang kaya gini aja lo udah lebay. Sementara wajah gue yang glowing abis tak pernah lo puji." Kata Nita menjawab ucapan Sofi.
"Apa? lo glowing? yang ada nih Nit, wajah lo itu bukan glowing tapi udahh kaya kaca. Mengkilau, gue aja kalau deket sama lo. Harus pake kaca mata kaya gini biar ngga kena silau dari wajah lo." Kata Sofi menjawab ucapan Nita.
"Ya elah, lo pake kaca mata nya itu kan, bukan karena takut silau. Tapi, memang harusnya pake nih kaca mata kali Sof." Kata Nita yang sedikit emosi.
"Ngga lucu." Kata Nita yang langsung jutek saat menjawab ucapan Sofi.
"Marah nih ye ceritanya. Aduh... duh... duh... temen gue ko baperan sih. Ntar, kalau baperan kaya gini. Tak aku kasih permen." Kata Sofi yang malah membuat Nita semakin jutek.
__ADS_1
"Lagian gue bukan anak kecil yang harus di kasih permen." Kata Nita yang makin jutek.
"Eh iya ya, lo kan udah gede ya. Bahkan udah bisa pake scincare sampai buat wajah lo bening kaya kaca. Hahaha..." Kata Sofi yang semakin menyebalkan bagi Nita.
"Argh... sebel banget gue sama lo Nit, ko lo jadi gini ya." Kata Sofi menjawab ucapan Nita sambil bertanya pada Nita.
"Pikir aja sendiri." Kata Nita yang langsung pergi meninggalkan Sofi.
"Kumat lagi deh bapernya. Punya temen ko gini amat ya. Sof... Sof... lo harus banyak sabar kaya nya." Kata Sofi yang langsung mengelus dadanya.
Dari jarak posisi Sofi saat ini, ternyata ada yang terus memperhatikan Sofi. Bahkan di saat Sofi mengelus dada pun, orang tersebut masih setia memperhatikan nya.
"Em... gue langsung kejar aja deh, terus perbaiki hubungan sama dia. Kalau di lamain, ntar yang ada gue ngga punya temen. Kan ngga asik kalau ngga ada dia tuh. Gue jadi bingung harus ledekin siapa. Hahaha... bagahagia banget kaya nya gue, kalau ledekin dia." Kata Sofi berbicara pada diri nya sendiri.
__ADS_1
Bersambung...