
"Wus, keren bener dah mas vicko ngejualin tiket kita, laku semua, habis terjual".
"Ini baru disatu kota Wily, belum di kota kota lain".
"Yang penting mah, transferan ke rekening gue lancar mas, haha".
"Aman itu mah".
Drt drt, ponsel Vicko berdering.
[apaa Giska?].
[gimana mas vicko tentang kontrak kerja aku?].
[loh belum dikasih sama Adam].
[hmm kemarin pas gladi resik, aku gagal deh kayaknya, mas Adam ninggalin aku dihotel malam itu, dia bilang aku berisik].
[hahah, lawak banget kamu Giska, nanti deh mas tanya lagi sama Adam].
[please ya mas, taruhan nya nyawa mak gue mas].
[iya iya].
Tut sambungan telah terputus.
Vicko berencana menemui Adam, namun siapa disangka Adam sudah sampai di studio.
"Panjang umur lu Adam, kita ngobrol sebentar".
"Masalah apaan?".
"Hmm tentang Giska".
"Oh dia, udah bawa aja tour".
"Udah lu testing belum?".
"Nanti aja dan jangan lupa lu bawa lakban".
"Buat?".
"Dia berisik, suara nya cempreng".
"Haha kalian sama lawaknya"
Sejam dua jam telah berlalu, Adam teman lain sudah latihan, namun tanpa Brian.
"Kemana brian sih, gak nongol juga tu anak".
"Tauk, mungkin lagi *** *** sama tante baru nya, haha".
"Seriusan, seleranya jadi berubah haluan wil?". Tanya ipank penasaran.
"Yup, doi sendiri yang ngemeng sama gue".
"Parah parah parah".
__ADS_1
Brak pintu studio dibuka keras oleh vicko.
"Nape lu? Abis di kejar setan?".
Vikco datang dengan nafas yang tersengal, karena dia berlarian menuju ruangan tersebut.
"Brian, dia diamuk warga dan sekarang di tahan dikantor polisi".
"Jangan becanda lu vic?"
"Sumpah demi apapun, gue harus kesana sekarang".
"Kita ikut".
"Kenapa sampai diamuk warga sih".
"Nanti gue cerita".
***
Sampailah dikantor polisi tempat Brian ditahan sementara.
"Vic, vic, keluarin gue dari sini sekarang juga vic".
"Ya sabar, gak semudah itu bambang, mesti kudu ada prosesnya".
"Haha ngapain sih lu ampe diamuk warga, heran gue, ketauan lu ya, haha". Ledek Wily dan sambil ketawa ngakak
"Bangsat lu, bisa diam gak". Brian emosi lihat Wily meledek dirinya.
"Iya iya udahlah diem lu anak sholehah, gue lagi gak mau dengar ceramah lu pada, taik".
Adam hanya melihat Brian tanpa berkata sepatah katapun. Rupanya Brian memang ketahuan oleh suami si tante lagi main bersama didalam rumah, lalu suami si tante melaporkan pada pak RT, jadilah semua warga di sana ngamuk.
Si tante pacar Brian juga langsung diceraikan oleh sang suami, dan disuruh pulang ke rumah orang tuanya. Sedangkan Brian harus minta maaf sama suami si tante dan juga para warga.
Brian wajahnya sudah babak belur, dia dibawa ke rumah sakit, guna mengobati luka diwajahnya.
"Waduh, si pianis kita wajahnya gak glowing lagi, apa kata dunia". Wily dengan santai bicara sambil duduk di sofa dekat ranjang Ade Brian.
Ade Brian sedang diobati luka diwajahnya oleh salah satu perawat di sana. Si perawat hanya tersenyum geli mendengar ucapan Wily tadi.
"Aw aw mbak sakit". Seringai Brian.
"Maaf mas maaf, saya gak sengaja".
"Hati - hati dong mbak".
"Iya mas, saya akan lebih hati hati".
"Duh mas Brian jangan galak galak napa sih". Ledek Wily lagi.
Brak, kepala Wily telak kena botol plastik alkohol medis.
"Wah wah main fisik lu ya Brian, gue tinggalin juga lu, lu pulang sendiri".
"Terserah lu martono, eneg gua lihat wajah lu".
__ADS_1
Wily beneran meninggalkan Brian di rumah sakit, dia balik lagi ke rumah sakit.
Malam ini semua anggota kru dan assiten band Adam & Friend's Play sudah bersiap pergi ke kota tour pertama mereka.
"Kalau lu gak sanggup, lu bisa gak ikut kok Bri". Kata Vicko sambil menepuk pundak nya.
"Ah gak apa, cuma wajah yang penyok sedikit, jari jari mah masih aman".
"Oke, baiklah semuanya, perhatian, kita berdoa dulu sebelum pergi, agar semua dilancarkan dan tidak ada kendala apapun selama kita melakukan tour ini, berdoa menurut kepercayaan masing masing dimulai".
Dengan khusyuk dan khidmat semua orang berdoa setelah selesai mereka melakukan selebrasi dengan menyatukan tangan ditengah dan lalu mengangkatnya ke udara secara bersama. Uuu yee.
Perjalanan tour konser band Adam & friend's play, dilakukan melalui jalur darat saja, kota pertama yang dituju tidak terlalu jauh dari ibu kota. Menggunakan tiga bus besar yang masing masing bus isi nya berbeda beda.
Bus pertama, berisi para pemain band, kru dan asisten juga ada tim medis, bus kedua peralatan band, kabel kabel, lampu, spekear, sound system dan tetebengek lain peralatan.
Sedangkan bus ketiga khusus untuk wardrobe, pakaian, kustom, sepatu, pendukung penunjang penampilan dan alat alat lainnya, yang dimasukkan kedalam koper besar dan sudah diberi nama masing masing pemain band, juga disana ada bahan konsumsi dan alat kemedisan.
Sengaja mereka jalan malam, supaya sampai dikota tujuan pagi hari. Dan dilakukan berbagai persiapan, karena jadwal konsernya siang hari tepat pukul 12.00 wib. Serta panggung denga tema terbuka telah dipersiapkan oleh tim lain.
Panggung terbuka di tengah lapangan memang cocok untuk mengadakan konser, karena bisa menampung banyak penonton. Segala macam hal hampir rampung selesai, tinggal menunggu hari pertunjukkan.
Didalam bus pertama, Adam dan teman band lain saling bercanda dan ada pula yang hanya tidur saja. Masih setengah perjalan, duarrr, ban belakang bus meletus.
Bus terseok jalan nya dan segera menepi, para wanita yang berada dalam bus berteriak histeris dan ada juga berdoa dalam hati.
"Njiiir kaget gue, sumpah spot jantung". Wily sambil mengelus dada nya.
"Gimana pak sopir, aman gak?". Teriak Adam kencang.
"Saya cek dulu".
Pak sopir dan asisten sopir turun dari bus dan segera mengecek keadaan bus nya. Ternyata benar ban meletus, dan pak sopir menyuruh para penumpang turun sebentar karena akan mengganti ban serap nya.
Karena sudah tengah malam, para penumpang tidak ada yang terlalu jauh pergi, cuma berkumpul didekat bus. Karena disekeliling hutan dan tidak ada rumah warga. Suasana pun gelap karena minim lampu jalan.
Cukup lama bagi pak sopir dan asisten sopir mengganti ban serap nya.
"Duh gue kebelet ni brow, temanin gue". Pinta Brian pada Adam.
"Pergi aja lu sendiri". Sela Wily.
"Gue gak ngomong ama lu tono, udah deh diam aja, Dam please temanin gue".
"Yaudah ayo buruan".
"Gue juga ikut". Wily mengekor dibelakang mereka berdua.
Mereka bertiga tidak berpamitan pada yang lain, karena cuma mau buang air saja, mereka berjalan terburu karena rasa takut sudah mengikuti mereka sedari tadi.
"Dah lah buruan disini aja". Mereka memilih sebuah batang kayu yang jaraknya tidak terlalu jauh dari bus. Menggunakan senter dari ponsel untuk menuntun jalan.
Mereka bertiga saling membuang air dan memperhatikan sekitar. Mereka takut kalau bus akan pergi meninggalkan mereka.
"Bus nya udah jalan !!".
Bersambung.
__ADS_1