
Prosesi pemakaman Ipank di laksanakan hari itu juga. Ipank dibawa ke pemakaman keluarga nya, di sana sudah dipersiapkan lubang kuburan untuk Ipank.
Saudara dan keluarga sudah berada disana, orang - orang terdekat, para fans dan juga wartawan semua sudah memadati area pemakaman.
Terlihat Kinara memegangi sang kakak yang rasa nya dia sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan. Tiba saat nya jenazah Ipank dimasuk kan kedalam liang lahat. Kanaya tidak sanggup melihat nya, dia pingsan.
Kinara terus memegangi sang kakak dibantu bapak agar tidak terjatuh. Begitu hancur hati dan perasaan Kanaya ditinggal pergi oleh sang suami.
Rintik hujan pun menemani kepergian Ipank, suasana menjadi haru biru. Ipank Kuncoro sang drumer sudah pergi untuk selama nya. Pelayat meninggalkan area pemakaman satu persatu.
Tinggallah Adam sendirian disana, dia ingin ngobrol berdua dengan Ipank.
"Pank, lu tau gak, seharus nya lu gak mati hari ini, gue bakal usut tuntas ini, gue tau dalang di balik semua ini, sorry gue telat Pank."
Adam lama duduk disana hingga malam menjelang, barulah dia balik ke rumah, sedangkan Kinara masih nginap dirumah bapak bersama anak - anak dan juga Kanaya.
Sampai dirumah Adam melihat ada Andrew Kim sedang makan malam bersama dengan keluarga nya. Terdengar canda dan gelak tawa disana.
"Malam mas Adam." Sapa Andrew ramah, namun sapaan Andrew tidak digubris sama sekali oleh Adam, dia berjalan terus sampai ke kamar nya.
Adam tidak berniat sama sekali bergabung dengan acara makan malam tersebut. Sampai di kamar Adam menjatuhkan diri di atas kasur, dia lelah sekali.
Drt drt ponsel nya berdering.
"Pi. . papi. ."
"Ya Natan, ada apa nak?."
"Jemput Natan donk pi, Natan udah kangen tidur dikamar Natan, kangen ama mainan Natan, please pi. ." Rengek Natan.
"Besok ya nak papi jemput, malam ini papi capek banget. Sorry ya nak."
Tut. . Sambungan telfon terputus tanpa permisi. Adam bukan nya tidak mau menuruti pinta anak nya, tapi beneran dia lelah dan capek banget.
Sementara itu, Andrew mengutarakan maksud kedatangan nya kerumah Angela.
"Om Tante, saya ingin melamar Angela jadi istri saya."
"Ha?, apa bebih, aku gak salah dengar kan, kamu seriusan bebih?."
"Iya Angela, maukah kamu jadi istri ku."
"Mauuuu banget Andrew, aku mau banget, yes i do." Sorak Angela kegirangan seperti anak kecil mendapatkan apa yang dimau.
"Pa, Ma, kalian setuju kan aku nikah sama Andrew."
"Hmm mama setuju aja sih, kalau papa tau deh."
"Pa, gimana pa?, jawab donk, malah diam aja?."
"Saya mau kalian ada perjanjian pra nikah nya, biar nanti saya yang membuat perjanjian tersebut."
"Tidak masalah om, asalkan saya direstui menikahi Angela." Senyum Andrew kelihatan tulus.
"Uuuhh aku senang banget, makasi pa, makasi ma, so, kapan kita nikah nya bebih?."
"Minggu depan." Ucap Andrew tanpa keraguan.
"Ha?, secepat itu." Kata mama sedikit kaget.
__ADS_1
"Ya gak apa lah ma, lebih cepat lebih baik, iya kan bebih."
Andrew tersenyum manis menanggapi ucapan Angela itu. Sementara Baskara diam dan menyeruput kopi nya, dia memikirkan sesuatu, yaitu isi perjanjian pra nikah itu harus membuat Andrew rugi besar.
***
Pagi minggu yang cerah, namun tak secerah hati Kanaya. Dia masih duduk ditepi kasur sambil melihat foto pernikahan dengan Ipank, berulang kali air matanya menetes.
"Mas Ipank, kamu lagi apa disana?, kangen gak sih sama aku, aku kangen banget ini mas, hiks, kangen .. . .canda mu, pelukan mu. Dan aku. . .hiks."
Kanaya sudah larut lagi dalam kesedihan nya, dia menangis sesegukan hingga terdengar sampai keluar kamar.
"Mi, bude Naya nangis lagi, kasihan ya mi." Ucap Nada sambil meletakkan sarapan diatas meja makan.
"Iya nak, nanti kita hibur bude mu ya. Kita masakin makanan kesukaan bude. Setuju."
"Setuju mi. . ."Ucap Nada dengan riangnya.
Terdengar suara mobil masuk kedalam halaman rumah.
"Yes papi datang, hore." Natan langsung berlarian keluar rumah dan mendekat kearah mobil.
"Loh bukan mobil papi, mobil siapa ya?." Natan berfikir sendiri, dan setelah yang punya mobil turun barulah Natan berteriak.
"Om Andrew, bawa mainan buat aku ya."
"Hey Natan, iya ni buat kamu. Mami ada?."
"Makasih om, ada didalam, mi. . .mami ada om Andrew datang."
"Apa sih dek teriak teriak." Kinara berjalan keluar dan kaget melihat kedatangan Andrew kerumah bapak nya.
"Apasih yang saya gak tau tentang kamu Kinara." Senyum Andrew manis sekali.
"Hmm ada apa ya kesini." Tanya Kinara gugup, setelah mengingat kejadian di apartemen Andrew kemarin.
Jujur Kinara masih belum bisa melupakan bagaimana Andrew mencium nya dan mengutarakan isi hati nya.
"Saya mau ber belasungkawa kepada kakak kamu, kemarin gak sempat ke pemakaman suami nya."
"Oke saya panggilkan mbak Naya dulu."
"Gak usah, kamu aja yang sampaikan nanti, saya ada urusan dengan kamu."
Andrew menarik tangan Kinara hingga menuju taman belakang rumah bapak yang banyak ditumbuhi bunga karena bapak sering merawat dan menyirami nya.
"Eh main tarik aja, emang aku koper." Sunggut Kinara.
"Sorry, duduk sini." Kata Andrew.
"Yang tuan rumah siapa yang nyuruh duduk siapa, mau minum?." Tawar Kinara.
"Hehe gak usah, saya mau ngomong penting."
"Hm ngomong apa sih."
"Saya mau ngelamar Angela."
"Bagus donk, eh. . jangan, dia kan adik tiri sebapak kamu." Bisik Kinara segera.
__ADS_1
"Haha saya tau, saya hanya melihat bagaimana respon Baskara, dia malah bilang harus pakai perjanjian pra nikah yang dia buat sendiri."
"Hm gitu, kalau respon mama dan Angela gimana?."
"Mama Angela, setuju saja, anak nya kegirangan sekali."
"Saya penasaran apa nanti isi surat perjanjian pra nikah kamu ya?."
"Yang jelas tidak membuat dia rugi sepersen pun, dan . . ."
"Dan malah akan membuat kamu menderita, sama seperti diriku."
"Kamu ceraikan saja Adam, kamu pasti akan menemukan pengganti Adam yang lebih baik."
"Cerai katamu, nanti hak asuh anak akan jatuh ketangan Adam, aku gak mau dan gak rela. Biarlah aku sengsara lahir batin bersama dia asal bisa selalu bersama anak anak ku."
"Kamu memang ibu yang baik Kinara, saya boleh minta tolong lagi Kinara."
"Apa?."
Andrew mendekatkan bibir nya ketelinga Kinara dan berkata.
"Beri saya kesempatan buat mendapatkan cinta kamu Kinara."
Jarak yang sedekat itu Kinara bisa merasakan hembusan nafas Andrew menyentuh pipi nya. Wajah Kinara merah padam.
Kinara berdiri dan dia salah tingkah, bisa bisa nya dia merayu istri orang, kacau, Andrew baru saja mengacaukan hati Kinara.
"Uu-dah selesaikan ngomong nya, sa-saya mau masak, eh kepasar dulu belanja, kamu boleh pergi." Ucap Kinara gugup.
"Boleh saya temani Kinara."
"Gak usah, saya pergi sendiri saja."
"Hm oke, saya pamit, pasti suatu saat kita akan pergi kepasar bersama gandengan tangan." Lagi lagi senyuman Andrew manis sekali.
"Mi. . .mami dimana." Teriakan Nada menyadarkan Kinara agar turun kembali kebumi setelah sempat terbang melayang ke udara.
"Mami disamping sini nak."
"Eh ada om Andrew."
"Hey nada, do you like ice cream?."
"Yes, i like it."
"Yuk beli eskrim." Ajak Andrew dan gandengan tangan dengan Nada, Nada berjalan kegirangan dan sedikit loncat.
***
Sementara itu, Adam dan Clara sedang melakukan pemanasan sebelum bermain di dalam kolam renang rumah Clara.
"Ahh Adam, stop it, aahh aku gak kuat."
"Keluarin aja sayang, come on baby." Jari jemari Adam masih saja mengacak lobang Clara cepat di dalam air.
Bersambung.
"Kalau suka beri komen nya ya, apakah Kinara akan jatuh cinta pada Andrew?".
__ADS_1