Merried With Adam

Merried With Adam
24. Masih Peduli


__ADS_3

Adam dan Clara masih melanjutkan permainan mereka di dalam kolam renang, kini giliran Clara yang harus membuat Adam senang.


Adam duduk dipinggir kolam, kemudian Clara menikmati punya Adam dengan setengah badan yang terendam air. Keluar masuk dalam mulut Clara dengan cekatan Clara berhasil membuat Adam mencapai klimak nya.


"Argh, Clara . . Good job girl."


Clara menelan semua cairan kental Adam. Setelah nya Adam masuk ke dalam kolam renang dan mencium bibir indah Clara dengan rakus. Kedua nya terlarut dalam ciuman dingin dan panas.


Adam merapatkan tubuh Clara ketepi dinding kolam, mengacak sebentar mulut bawah Clara dengan tangan nya cepat keluar masuk dan mulut atas juga.


Clara merasakan geli sangat, dia sudah tidak tahan harus segera merasakan milik Adam masuk kedalam milik nya.


"Ah sayang, susah main didalam air, pindah ke kursi aja yuk."


Clara menarik tangan Adam dan keluar dari kolam renang, kemudian mereka duduk di kursi panjang, Clara ambil posisi nungging agar Adam segera menancapkan milik nya, namun Adam malah meraih ponsel nya karena ada panggilan.


"Issh Adam, kenapa main ponsel sih, ni ada makanan lezat malah dianggurin, gimana sih."


"Sebentar sayang, ada hal penting."


Adam menggeser tom *** hijau dilayar ponsel nya dan mulai berbicara dengan orang lain di seberang sana, dia kelihatan sangat serius dan sering mengangguk mengerti.


"Sayang, aku harus pergi, nanti kita akan sambung lagi ya."


Adam mencium singkat bibir Clara, meraih baju dan memakai nya kemudian pergi. Clara nampak kecewa, karena permainan kali ini belum the end, masih to be continued.


"Apaan sih si Adam, main pergi seenak nya, huft, nyebelin."


Clara berjalan masuk rumah nya dan mengambil sebuah terong didalam kulkas, berukuran cukup besar tidak kalah dengan punya Adam.


"Pakai ini aja, dari pada gak sama sekali." Ucap Clara.


***


Adam melajukan mobil menuju kantor polisi, karena tim penyidik baru saja menemukan bukti baru dalam peristiwa kebakaran di mess.


Adam berharap akan segera berhasil menemukan dan menangkap pelaku pembakaran tersebut. Kehilangan nyawa harus dibalas hal yang sama.


Adam diberitahu tim penyidik bahwa orang yang terekam cctv di dekat lokasi kebakaran adalah seorang remaja. Dia nampak membawa dirijen bensin dan menumpahkan nya.


Menyalakan api dan dengan cepat menyambar bensin membuat kebakaran, dia pergi naik motor nya, dan plat nomor sudah terdeteksi.


Adam ikut bersama tim penyidik pergi kerumah tersangka. Setelah nya sampai di sana, ramai warga yang memadati rumah remaja tersebut.


Adam bertanya pada salah seorang warga, dan di beritahu bahwa si remaja ditemukan gantung diri di dalam kamar nya. Hal yang mengejutkan, apa boleh buat.


Si pelaku pembakaran kini telah tiada, kasus sudah berakhir tidak ada tersangka lagi, Adam harus menerima kenyataan gagal menangkap pelaku.


Tapi kenapa perasaan Adam mengatakan ada sesuatu lain nya di balik ini semua, mungkin Adam harus mencari tau sendiri.


Ponsel Adam bergetar. Vicko menelfon.


"Dimana brow?, bisa ke studio sekarang?." Tanya Vicko diseberang sana.


"Gue lagi ada urusan, nanti gue kesana."


"Ngak bisa cepat apa?, ini ada anak baru gantiin Ipank."

__ADS_1


"Maksud lu, Ipank udah lu cari ganti nya, belum juga kering tu makam."


"life is must go on mas brow, tour kita masih ada tiga kota lagi, lu mau ganti semua tiket yang udah kejual ha, jangan banyak bacot dah."


Adam kesal dan memutuskan sambungan telfon nya, Vicko bertindak seperti itu karena dia tidak mau mengalami kerugian akibat gagal nya band Adam konser.


Adam kemudian singgah sebentar ke rumah bapak Kinara, ingin bertemu sebentar dengan kedua anak nya, sudah hampir dekat sana, Adam melihat Nada dan Natan berjalan bersama seorang pria.


Adam menepikan mobil nya dan turun, menyusul mereka.


"Nada, Natan". Teriak Adam agar anak nya berhenti berjalan.


Kedua bocah itu melihat ke arah asal suara dan mendapati papi nya yang ada disana.


Si bungsu berlarian menuju dekapan papi nya, sedangkan Nada tetap berada disamping Andrew.


"Kok ngak disusul papi nya Nada?."


"Hm gak deh om, capek jalan."


"Kita kan dari tadi jalan kok gak ada capek sih." Goda Andrew.


"Ya baru terasa capek nya sekarang, he." Cengir anak pertama Kinara itu.


Adam menggendong anak nya Natan dan mendekati Nada. Dia mengusap rambut anak perempuan nya itu dan tersenyum.


"Yuk mbak Nada, papi antar kerumah kakek naik mobil."


"Ngak ah pi, Nada jalan aja kasihan om Andrew sendirian."


"Om gak apa kok Nada, sama papi aja."


"Kalian udah makan belum, kita makan pizza gimana." Kata Adam.


"Ngak, Nada gak mau pizza, mau makan korean street food."


"Oke, dimana tempat nya sayang."


"Hehe Nada gak tau pi, cari di google dulu."


"Ada - ada saja."


***


Adam menghabiskan waktu hingga sore bersama kedua anak nya, jalan jalan ke mall, makan, beli mainan dan lain sebagai nya. Kinara senang Adam bisa mengajak anak nya main diluar, walaupun tanpa diri nya tidak masalah bagi Kinara.


"Pi. . kenapa gak ajak mami sih tadi."


"Papi mau nya sama kalian berdua, boleh kan. Besok deh kita jalan berempat."


"Bukan berempat lagi pi, mau berlima, kan mami lagi hamil, moga aja adek cewek, amin."


"Adek cowok lah, biar ada teman berantem nya." Sela Natan.


"Ngak lah, adek cewek aja, biar Nada main boneka ada teman."


"Pokok nya adek cowok, titik."

__ADS_1


"Ish adek cowok emang nyebelin."


"Mbak tu yang gak asyik, weekk."


"Udah stop, papi pusing dengar kalian berantem, kita pulang sekarang."


Adam kesal dan sedikit memarahi anak anak nya, padahal Adam masih ingin mengajak kedua nya jalan lagi, namun karena Adam sudah sakit kepala duluan menghadapi mereka berdua.


Nada dan Natan mereka berdua memilih bermain ponsel dari pada bertengkar lagi dan dimarahi papi. Adam mengantarkan kembali mereka kerumah kakek nya.


"Natan gak mau turun, Natan mau pulang kerumah."


"Yaudah sana, nanti kena gigit sama oma dan onty Angela mau, mbak sih ogah, haha, bye dek." Nada menghempaskan pintu mobil dan masuk kedalam rumah kakek nya.


"Loh mbak Nada, dek Natan mana?."


"Dia mau pulang kerumah nenek sihir, hihi."


"Nada, jangan bicara gitu, nanti terdengar sama pipi, bisa tersinggung."


"Sorry mami."


Kinara menghampiri mobil Adam dan membuka pintu depan tempat duduk sang anak lelaki.


"Mas Adam, makasi ya, yuk dek kita masuk sayang."


"Ngak mi, Natan bosan dirumah kakek, Natan mau dirumah papi aja."


"Natan, besok kita pulang oke. Sekarang papi gak bisa anterin kamu kesana, papi sibuk nak, mami janji besok kita pulang ya."


"Please mi, Natan sungguh bosaaaan disini."


"Nanti kamu tidur sama siapa, besok ya."


"Natan kan jagoan mi, bisa sendiri lah."


"Yaudah ikut papi ke studio saja, nanti kalau urusan papi dah kelar, kita pulang."


"Yes, thank's papi. Memang the best, hehe."


"Jangan nakal nakal ya Natan, ingat jangan nyusahin papi."


"Beres mami ku cayaang."


Baru saja setengah perjalanan Natan tertidur, Adam tentu akan repot nanti mengurus Natan sendirian, dia tidak terbiasa akan hal itu.


Adam memutar kembali mobil nya kerumah bapak Kinara, dan memberikan Natan kembali pada Kinara. Kinara sudah menduga mobil Adam akan kembali dan dia menunggu diluar.


"Dia tidur ya mas, hehe kata nya jagoan jam segini udah tidur, ck Natan Natan."


Kinara menggendong tubuh Natan dan Adam melarang nya.


"Biar saya saja bawa Natan." Kata Adam dan dia teringat akan ucapan Nada tadi bahwa Kirana sedang hamil.


"Natan sudah berat, jangan gendong dia, nanti bayi di perut kamu kesakitan."


"Iya mas Adam, makasih." Ucap Kinara dan sambil tersenyum Adam masih peduli pada nya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2