Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]

Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]
Episode 10 (Gadis angkuh)


__ADS_3

Dikantin.


Tampak Vivian tengah menikmati makan siangnya dengan beberapa teman baiknya, Anha, Hanyoora dan Yerim. Tak seperti temannya yang lain, kali ini juga Vivian tak begitu semangat untuk menghabiskan makan siang, seperti ada hal yang terus difikirkannya. Ia hanya mengaduk-aduk makanannya.


“berbaikanlah dengan Andheera.” celetuk Anha seolah tau apa yang tengah Vivian fikirkan.


“kau mengenal Andheera? bukankah dia ciwi terdingin di sekolah kita, hiiihh.. dia ngga asyik sama sekali.” timbrung Hanyoora sembari mengunyah makanannya.


“dia kan manusia bukan es batu.” sahut Yerim yang penuh dengan kepolosan.


“bukan, maksduku bagaimana ada orang seperti dia didunia ini, dia selalu menerima sapaan dan senyum dari orang lain bahkan dari kakak senior. Tapi dia tak pernah membalasnya, ia berlalu pergi tanpa ekspresi seperti mayat hidup.” Hanyoora mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini ia pendam.


Merasa tak nyaman karena teman baiknya menjadi bahan pembicaraan, Vivian menghentakan alat makannya dimeja makan dengan penuh emosi, membuat Hanyoora, Anha dan Yerim kompak terkejut .


“astaga kaget aku, kau ini kenapa sih?!” gerutu Hanyoora sebal karena vivian bersikap aneh.


Tak ingin berdebat dengan teman-temannya, Vivian pun pergi membawa baki makanan miliknya serta mengabaikan Hanyoora.


“hih dia itu kenapa sih, tadi pagi baik-baik saja tuh, mungkinkah dia kerasukan setan penunggu sekolah ini.” Hanyoora bergidik sembari memeluk dirinya sendiri karena merinding.


“mungkin ini hari pertama dia PMS.” timpal Yerim membuat Hanyoora tak lagi berfikiran konyol karena dia mendapatkan alasan yang logis ketimbang kerasukan setan disiang bolong.


“aahh benar juga, kau pintar Yerim.. kadang-kadang hhahaha.” Hanyoora setuju dengan pemikiran Yerim.


Sedangkan Anha hanya merespon dengan menggelengkan kepala tak ingin bergabung pada percakapan kedua temannya yang tidak berfaedah.


“hari ini tugasmu piket dengan Andheera ya, jangan lupa.” Anha mengingatkan pada Yerim sebelum ia pergi menyudahi makan siangnya.


“okee, ketua kelas!” seru Yerim tersenyum lebar menunjukan deretan gigi putihnya yang rapih.


***


Di perpustakaan.


Karena merasa jenuh dan bosan menemani Brian belajar hampir satu jam, akhirnya Andheera mengantuk kemudian tertidur diatas meja. Melihat Andheera sudah memejamkan kedua matanya Brian mengakhiri aktifitas membaca buku lalu beralih untuk memandangi wajah Andheera yang berada disampingnya.


“kau benar-benar tidur Andheera?” bisik Brian, namun gadis itu tak bergeming yang menandakan Andheera memang sudah berada di alam mimpi fikir Brian.


“tadi kau bertanya tentang mimpiku, lalu bagaimana denganmu, apa mimpimu Andheera?


apa kau sudah memiliki mimpi. Kau tahu.. hanya bicara memang mudah tapi pada kenyataannya dunia tak bekerja semudah itu.


Dari kecil kehidupanku sudah berjalan sesuai keinginan ayahku, tak hanya pendidikan, bahkan sebenarnya aku sudah dijodohkan Andheera, aku hanya perlu mengikuti jalan yang telah ayahku tentukan.


Aku bahkan tak pernah memikirkan apa yang menjadi impianku, tapi terimakasih karena sudah membuat hari-hariku sedikit lebih berwarna, bersamamu aku bisa menunjukan sisi lemahku tanpa harus berpura-pura kuat.


Aku benar-benar iri dengan seseorang yang nanti akan menjadi kekasihmu, kau memiliki cara tersendiri untuk menunjukan keperdulianmu, cara yang unik. Jaga dirimu baik-baik Andheera.” pungkas Brian seraya membereskan semua bukunya kemudian pergi membiarkan Andheera tertidur lebih lama.

__ADS_1


Setelah Brian jauh dari pandangan Andheera, Andheera perlahan membuka kedua matanya lalu bangkit dari tidur pura-puranya, gadis itu tersenyum tanpa alasan, entah apa yang membuatnya ingin tersenyum perasaan yang aneh tiba-tiba menyelimuti hatinya.


Kemudian ia kembali memandangi jalan yang tadi dilalui oleh lelaki yang pernah disukainya dengan tatapan tajam penuh arti.


Ternyata Brian tak pernah berbohong, ia selalu jujur dan serius dengan perkataannya hanya saja ia selalu menyampaikannya dengan candaan hingga terlihat ia seperti tengah bermain-main ‘fikir Andheera.


***


Di tengah perjalanan Brian menuju kelas, ia tak sengaja melihat Vivian yang tengah berjalan didepannya. Buru-buru ia mengatur kecepatan langkahnya agar bisa menyusul langkah Vivian.


“Vivian..” panggil Brian dari belakang membuat langkah Vivian sesaat terhenti untuk menoleh.


“apa lagi?!” Vivian sedikit menaikan nada suaranya.


“setelah aku lulus, tolong jaga Andheera untuk ku ya,” pinta Brian yang berhasil membuat suasana hati vivian semakin kacau.


Tak ingin mendengar omong kosong Brian lagi yang hanya akan menambah dirinya terluka, Vivian mengabaikannya lalu kembali berjalan, melihat Vivian kesal, Brian semakin bersemangat untuk mengganggunya lagi.


“kenapa, kau tak menjawabku, bukankah ini hanya permintaan sederhana.” Brian terus mengikuti Vivian seakan tak perduli pada perasaan Vivian.


“kau bisa menjaganya sendirikan, aku sudah tak ada hubungan apa-apa lagi dengan gadis itu.” Ujar Vivian masih mencoba mengendalikan dirinya.


“setelah lulus aku mungkin akan sulit untuk menemuinya lagi, aku akan sibuk dengan kuliahku.” mendengar kalimat terakhir Brian, yang dia akan bersungguh-sungguh dalam belajar membuat hati Vivian tersentuh lalu menghentikan langkahnya lagi sejenak.


“agar bisa menghancurkan bisnis kakek mu, aahhahahaa!! dengan begitu aku tak perlu menikahimu.” lanjut Brian yang membuat Vivian naik pitam, kemudian menatap tajam kedua mata Brian.


“kenapa kau berubah begitu banyak kak Brian? apa dengan membatalkan perjodohan kita itu cukup untukmu? Baiklah akan kucoba bicara pada kakek ku.” Vivian lagi-lagi mengalah agar tidak menimbulkan perdebatan lebih lanjut.


“berhentilah berpura-pura menjadi orang baik, kau begitu menjijikan.” tukas Brian tajam lalu pergi dengan berjalan menabrak bahu vivian.


Tak terasa air mata yang sedari tadi ia tahan, kini mengalir dengan derasnya, tak ingin menjadi pusat perhatian vivian mencoba terus berjalan sembari menyeka air mata dengan jemarinya sesekali, tak disangka seseorang datang dari belakang dan menutupi wajah Vivian dengan jaket miliknya, kemudian membawa vivian ke UKS karena jaraknya yang tak terlalu jauh.


Sesampainya di UKS Vivian dibawa sampai ia duduk diatas ranjang UKS, kebetulan saat itu sedang tak ada siswa yang berada di UKS hanya ada dokter penjaga UKS yang terlihat kebingungan karena Vivian masih menutupi wajahnya dengan jaket.


“boleh aku pinjam UKS nya sebentar dokter Lyra?” pinta seseorang yang membawa Vivian ke UKS, seolah mengerti dokter penjaga UKS yang tampak masih sangat muda itu pun memberikan ruang untuk kedua siswanya di UKS.


“sudah tak ada siapa-siapa disini, menangislah atau kau juga ingin aku keluar?” tambah Anha sang ketua kelas, ia berusaha untuk menjadi seseorang yang bisa diandalkan saat ini.


“tidak." akhirnya Vivian bersuara, kemudian Anha berjalan mendekati vivian dan duduk diranjang di samping Vivian sembari terus memandangi Vivian, Anha hanya menunggu vivian menangis didalam jaket miliknya.


Suara isakan tangis Vivian membuat Anha bisa merasakan sakit yang dirasakan Vivian, waktu terus bergulir hingga berakhirnya waktu istirahat, namun Vivian masih tak bisa menghentikan air matanya yang terus mengalir dengan derasnya begitupun dengan suara isakan itu semakin ia ingin menahannya semakin terasa sakit di dada.


Karena tak ingin meninggalkan Vivian sendirian, Anha harus merelakan dirinya melewatkan jam pelajaran selanjutnya. ‘padahal aku bukan murid yang pintar, tapi aku sok-sok an meninggalkan jam pelajaran hanya untuk menemani seorang teman yang bahkan tak mengingatku, huhh’ keluh Anha didalam hati masih terus memandangi Vivian dengan penuh rasa simpati.


***


Chimi café.

__ADS_1


Seorang wanita yang tak lain ibu dari Keenan, ia tampak tengah menunggu seseorang untuk makan siang bersama, namun sepertinya orang itu sedikit terlambat beberapa menit dari waktu yang telah ditentukan.


“kau sudah menunggu lama? Maaf tadi ada kecelakaan jadi jalanan macet.” Ujar seseorang yang baru saja datang bergabung di meja yang sama dengan Hyunjie lalu duduk dikursi seberang Hyunjie.


“kecelakaan?!


Tapi kau baik-baik saja kan? Dimana supirmu, harusnya kau bersama supir jangan mengendarai mobil sendiri seperti ini.” seru Hyunjie panik seraya memandangi Reza dari atas kepala hingga ujung kaki secara bergiliran.


“hey, tenanglah yang kecelakaan orang lain bukan diriku.“ jelas Reza.


“hhehe, (Hyunjie nyengir)


kalau begitu kita pesan sekarang.” Hyunjie kemudian memanggil pelayan untuk memesan makanannya.


Diluar cafe karena dinding cafe itu terbuat dari kaca, maka terlihat jelas pemandangan luar ataupun dalam café tersebut.


Andromeda yang saat itu kebetulan telah menyelesaikan pemotretan indoor tak jauh dari Chimi café, kemudian iseng berjalan-jalan sembari sesekali ia memotret pemandangan yang ada disekitar, baik itu pemandangan alam, bangunan atau beberapa pasangan yang tengah bermesraan disekitaran taman untuk sekedar menambah koleksi foto pribadinya. Sampai ia melihat ayahnya yang ada di cafe bersama dengan seorang wanita.


Senyum kecilnya mulai terukir melihat tawa ayahnya bersama dengan wanita itu, tak ingin melewatkan momen langka yang bisa ia dapatkan secara kebetulan dan diam diam, meda memutuskan untuk mengambil banyak foto kebersamaan antara ayahnya dan wanita itu.


“haruskah aku mengirimkan foto ini ke Andheera juga, ayah sangat pintar memilih calon istri, tante ini sangat cantik.“ gumam Andromeda yang tengah melihat kembali hasil jepretannya kemudian menzoom fotonya.


***


Pulang sekolah.


Di kelas x-2 tak lain adalah kelas Andheera, saat murid-murid lain berhamburan keluar kelas karena tak ingin berlama-lama lagi berada dikelas, tiba-tiba Yerim menghampiri Andheera sebelum ia beranjak pergi dari bangkunya.


Tentu Andheera kebingungan degan sikap Yerim, Andheera mengerutkan keningnya sebelum bertanya apa tujuan Yerim menghampirinya.


“kenapa?” Tanya gadis kasar itu lengkap dengan sorot mata tajamnya yang menusuk.


“apa kau tak ingat hari ini kita piket,” Yerim menjelaskan maksud dan tujuannya menghampiri Andheer saat ini.


“hah?” Andheera terkejut dan ingin Yerim mengulang apa yang dikatakan Yerim sebelumnya.


“iya kau dan aku piket hari ini.” tak keberatan Yerim mengulangi perkataannya agar Andheera benar-benar mengerti, lengkap dengan senyuman terlebarnya yang membuat Andheera bergidik.


“oke, oke baiklah, menjauhlah dari wajahku!” ketus Andheera sembari menjauhkan wajah Yerim dengan 1 jarinya dari wajahnya, Andheera pun bangkit dari bangkunya untuk segera memulai piket mingguannya bersa dengan Yerim.


“aku yang akan mengangkat kursi, kau yang bersihkan.” ujar Andheera yang tampak seperti sebuah perintah lalu berniat mengangkat kursi miliknya terlebih dahulu ke atas meja.


“tidak, tidak, aku saja yang angkat kursi, kau yang bersihkan agar lebih cepat.” Yerim dengan lantang menolak saran dari Andheera.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2