![Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]](https://asset.asean.biz.id/mimpi-dan-harapan--pov---andheera-.webp)
Dalam mobil Jaehyun, Andheera sudah kembali bersama seseorang yang kini duduk dikursi belakang, pandangan Andheera langsung tertuju pada GPS mobil Jaehyun, kemudian lengan panjangnya mencoba memasukan alamat Apartemennya ke dalam GPS.
“aku sudah memasukan alamat Apartemanku di GPSmu, kau hanya perlu mengikutinya, aku lelah ingin tidur sebentar.” Gumamnya kemudian langsung memejamkan kedua matanya tanpa menunggu respon dari Jaehyun.
“huhh kau bicara seolah kita berteman dekat.” Jaehyun mendumel sembari menancapkan gas mobilnya.
Lyra yang berada dikursi belakang tersenyum melihat interaksi antara Andheera dan Jaehyun.
“aku tak ingat kau dekat dengan Andheera, Jae?” timbrung Lyra di belakang.
Jaehyun kebingungan mendengar seseorang dibelakang yang tampak seperti mengenal dirinya, lelaki tampan yang mirip sekali dengan Jaehyun NCT itu melirik ke arah cermin mobil yang tergantung untuk memastikan siapa yang ada di kursi belakang.
Mendapati seseorang yang tak asing tengah duduk dikursi belakang seraya menyunggingkan senyum termanisnya, ia pun menoleh kebelakang sejenak karena terkejut masih tak percaya jika orang yang dijemputnya adalah petugas/dokter UKS di sekolahnya.
“dokter Lyra? Kok bisa.” Kata Jaehyun seraya melirik ke arah Andheera juga Lyra secara bergantian.
Sementara Andheera tidak menanggapi pertanyaannya, di sisi lain Lyra sendiri juga tak tahu harus menjawab apa, Lyra hanya nyengir menunjukan deretan giginya yang rapih juga putih membuat Jaehyun semakin kebingungan, sebenarnya ada hubungan apa dokter sekolah dengan Andheera, karena Andheera bukanlah orang yang bisa akrab dengan siapa pun.
“sudahlah jangan terlalu difikirkan fokus saja pada jalanan, kurasa tidak jauh lagi sampai.” Ujar Lyra mencoba untuk mengakhiri pembahasan yang tak bisa ia jawab.
“aah baiklah..” respon Jaehyun yang menyerah kemudian fokus kembali mengemudi.
Setelah keheningan beberapa saat, “apa kalian berdua berkencan.” Celetuk Lyra mencoba menebak situasi yang terjadi saat ini.
“apa dia terlihat seperti pantas ku kencani.” Andheera bergumam dalam mata terpejamnya mendahului Jaehyun yang hendak merespon tebakan konyol Lyra.
“YAK!! Apa aku terlihat jelek bagimu?” seru Jaehyun yang tak terima dengan cibiran gadis yang berada disampingnya.
“bukan itu, (merasa terusik akhirnya Andheera membuka kedua matanya)
apa ini, kurasa ini bukan jalan menuju Apartemanku.” Seru Andheera dengan raut wajah syok kala ia melihat lokasi Aparteman nya sudah jauh terlewat oleh Jaehyun.
“iya tadi aku melewatkan belokannya, tenang saja GPS bisa mencari jalan alternatif lain.” Sahutnya santai.
“apa kau bodoh? Kita bisa sampai dalam 15 menit dan sekarang kau malah jalan memutar yang akan memakan waktu 30 menit!” Andheera masih dalam amarahnya.
“kau tidur saja lagi (balas Jaehyun seraya menutup setengah wajah Andheera dengan telapak tangannya yang besar) kalau sudah sampai akan ku bangunkan.” Ujar Jaehyun yang masih mencoba mengalah dan menahan emosinya.
“ciih!!” Andheera berdecak kesal karena kecerobohan Jaehyun membuatnya harus menunggu 30 menit lagi untuk sampai ke Apartemannya.
***
Aparteman Andheera.
Tampak Jaehyun dan Andheera sudah memulai latihannya, dengan Jaehyun yang memainkan Instrumen piano sedangkan Andheera fokus bernyanyi di samping piano seraya mengarahkan tubuhnya ke hadapan Jaehyun.
Song- The truth untold BTS.
__ADS_1
“oeroumi gadeukhi, pieoissneun I garden, gasituseongi hmm.. I moraeseonge nan nal maeeosseo.” Andheera mengisi di bait lagu pertama kemudian dilanjutkan oleh Jaehyun, sembari memainkan piano Jaehyun begitu menghayati isi lagunya seolah ia mengerti makna dari lagu tersebut.
(Kebun ini dipenuhi dengan kesepian yang semakin dalam, hmmm.. aku mengikat diriku di istana pasir yang dipenuhi duri).
“neoi ireumeun mwonji? gal gosi issgin hanji? oh could you tell me? hmm.. I jeongwone sumeodeun neol bwasseo.” Jaehyun mengisi part lagu yang dinyanyikan oleh Jungkook BTS, karena suaranya yang soft ia memilih bagian jungkook dan Jimin sedangkan part jin dan V akan di nyanyikan oleh Andheera.
(Siapa namamu? Apakah kau punya tujuan? Bisakah kau memberitahukannya padaku? Hmmm.. Aku melihat kau hanya bersembunyi di taman ini).
“And I know noe on gin modu da jinja ran gol, purun kochul kok nun son jab go ship ji man.”
(Dan aku tahu, kehangatan dirimu memang benar adanya. Aku ingin memegang tanganmu yang memetik bunga berwarna biru itu, tapi…) –Jaehyun.
“ne un myong in gol, don’t smile on me, light on me, no yege daga sol su opus nika, negen bullo jul irumi opso.”
(Ini adalah takdirku. Jangan tersenyum dan menerangi aku, karena aku tak akan bisa menemuimu. Tak ada nama yang bisa ku panggil). –Andheera.
“You know that I can’t, show you me, give you me chora han mosub bo yojul sun opso to gam yonul sugo nol man naro ga.”
(Kau tahu bahwa aku tak bisa menunjukkan dan memberitahukan kelemahanku. Aku memakai topeng ketika bertemu denganmu). –Jaehyun.
“but I still want you.” Bersamaan (Andheera & Jaehyun)
Meski mereka berdua tidak terlalu akur, sebelumnya juga mereka sering melontarkan kata-kata kasar seperti Tom and Jerry, namun saat ini mereka berdua sama-sama saling melengkapi dan juga menghayati.
Seakan lupa dengan situasi yang terjadi sebelumnya, baik Andheera maupun Jeahyun kini terlihat seperti sudah masuk ke dalam sebuah lagu, dan benar-benar mengalami hal yang ada di dalam lagu tersebut.
Andheera dan Jaehyun mencoba terus mengulang agar benar-benar terlihat sempurna hingga beberapa kali, dengan sesekali di bumbui keisengan Jaehyun lalu kembali di geplak oleh Andheera, akhirnya mereka saling melempar tawa karena menikmati situasi yang ada.
“yak! bukankah kau masih berhutang maaf padaku.” ujar Jaehyun seraya menghentikan kegiatan jemarinya yang menekan tuts piano untuk beberapa saat, lalu memandang ke arah Andheera yang tengah berdiri disamping piano sembari membaca kertas yang berisikan lirik lagu dan juga pembagian part.
“maaf untuk?” tanya Andheera santai seraya menyingkirkan kertas yang menghalangi pandangannya untuk melihat wajah Jaehyun yang lebih rendah darinya.
“ciihh!!.. (Jaehyun berdecak kesal seraya melipat kedua tangan di atas dadanya)
kau menendangku sampai aku tersungkur!” Jaehyun mencoba mengingatkan Andheera kejadian yang membuatnya malu setengah mati, iya dia langsung tersungkur setelah mendapat tendangan maut dihadapan semua teman sekelasnya.
“aahh itu, harusnya kau yang berterimakasih padaku.” Jawabnya dengan raut wajah yang sama sekali tak merasa bersalah.
“apa?!” Jaehyun tak mengerti dengan maksud dari perkataan Andheera.
“jika bukan aku, Yerim yang akan melakukannya.” Tambah Andheera melihat Jaehyun yang masih kebingungan karena pengakuannya barusan.
“Yerim?
Yak! aku lebih baik ditendang oleh nya daripada kau.” katanya dengan penuh percaya diri membuat Andheera yang melihatnya tak dapat menahan tawa.
“hahahaha!!.. jangan tertipu oleh tubuh mungilnya, kau fikir dia akan menendang lebih lembut dariku? Tentu tidak, setidaknya beberapa tulang rusukmu patah dan kalau beruntung tulang ekormu baik-baik saja.” Papar Andheera.
__ADS_1
“kau bercanda? Yerim bisa melakukan itu?” Jaehyun benar-benar terkejut dengan hal yang baru saja ia dengar.
“kau ingin mencobanya? (tanya Andheera lalu memutar kedua bola matanya sebelum melanjutkan kalimatnya seraya melipat kedua tangan di atas dadanya).
Aahh kalau begini seharusnya ku biarkan saja dia yang menendangmu.” Lanjut Andheera lalu menaruh kertas lirik di atas piano, kemudian pergi untuk mengambil beberapa botol minuman didapur, sebab berdebat dengan Jaehyun membuat tenggorokannya menjadi kering.
“kau masih tak percaya? Apa kau tak tahu dia berpartisipasi dalam lomba apa.” ujar Andheera yang kembali dari dapur dengan membawa 2 botol minuman untuk diberikan pada Jaehyun, serta kembali ke posisinya yang berdiri di samping piano.
“apa?” respon Jaehyun seraya menerima botol minuman yang diberikan oleh Andheera.
“tolak peluru.” kata Andheera lagi seraya membuka botol minum dan meneguknya beberapa kali.
“apa.” Saut Jaehyun tanpa ekspresi, Seperti orang bodoh Jaehyun masih belum bisa menerima kenyataan yang ada.
“kau tuli? Perlu memakai bahasa isyarat atau kau tak paham bahasaku?” Andheera mulai kesal dengan Jaehyun.
“oke.. oke biarkan aku mencerna semua ini untuk beberapa saat.” Katanya kemudian meneguk berulang kali minuman yang diberikan Andheera seolah ingin menyadarkan dirinya dengan 1 botol minuman penuh.
“huhh, memangnya jika perempuan memiliki tenaga cukup besar dari lelaki itu aneh ya?” ucap Andheera lalu pergi menuju sofa di depan TV.
“bukan begitu hanya itu tidak sesuai dengan tubuh dan wajahnya.” Protes Jaehyun seraya mengubah posisi duduknya ke arah Andheera yang tengah duduk santai di sofa seraya memainkan ponselnya.
“lalu bagaimana denganku?” tiba-tiba saja Andheera mengajukan pertanyaan yang random sembari memutar tubuhnya untuk bisa melihat Jaehyun dan mengabaikan ponsel yang dipegangnya.
“kau sangat cantik, setiap kali aku bertanya pada teman-temanku juga type ideal mereka adalah kau.” Dan Jaehyun menjawabnya sesuai fakta yang ada.
“oohh.” Respon Andheera santai kemudian kembali memutar tubuhnya serta melanjutkan kegiatan semula.
“hanya oh? (Jaehyun tak percaya dengan respon Andheera seolah itu adalah hal yang biasa saja)
aammm.. waktu dimobil tadi kenapa aku bukan typemu? Apa aku jelek.” Percakapan mereka berdua pun terus berkembang.
“tidak, kau tampan.” Saut Andheera masih menatap layar ponselnya sementara itu Jaehyun yang berada tak jauh dibelakangnya tampak senyum-senyum sendiri mendengar pengakuan Andheera jika ia tampan.
“lalu?” tak sampai disitu Jaehyun masih ingin mengetahui alasan dirinya bukan type Andheera.
“hanya saja kau pendek.” Jawab Andheera polos tak perduli dengan ekspresi Jaehyun saat ini Andheera hanya asik memainkan ponselnya.
“sial!!” umpat Jaehyun.
“kalau tinggi ku 180 cm saja pendek bagimu, terus harus setinggi apa lagi.” Jaehyun bergumam pelan agar tak terdengar oleh Andheera, sembari ingin melemparkan kertas lirik yang sudah ia remas-remas membentuk sebuah bola dengan kedua mata yang menyalak seolah sudah siap menerkam hidup-hidup mangsa yang ada dihadapannya.
Namun nyatanya ia tak melakukannya, melihat senyum manis Andheera yang memainkan ponsel entah kenapa hatinya mulai berdebar tak karuan, alhasil ia mengurungkan niat jahatnya untuk melempari Andheera dengan bola terbuat dari kertas itu.
***
Bersambung...
__ADS_1