![Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]](https://asset.asean.biz.id/mimpi-dan-harapan--pov---andheera-.webp)
Kediaman Reza alvarhez.
Tokk.. tokk.. suara ketukan pintu terdengar nyaring dari luar, membuat Reza yang tengah menikmati waktu istirahatnya di atas sofa buru-buru terbangun untuk menyambut siapapun yang datang.
“masuk!” seru Reza dari dalam.
“ayah..” panggil Andheera yang berjalan mendekati ayahnya.
“putri bungsu ayah ternyata, apa ada yang kau butuhkan Andheera?” tanya Reza.
“aku ingin pinjam buku, ayah.” Sahut Andheera seraya berjalan menuju rak buku yang berada disamping meja kerja ayahnya.
“aahh begitu, tumben, biasanya kau paling malas membaca buku.” ujarnya lagi sembari memperhatikan putri bungsunya yang tengah mencari buku yang diinginkannya.
“winter bear..” gumamnya saat ia mendapati sebuah buku dengan judul yang tidak asing baginya, ia pun langsung meraih buku itu dengan tatapan lirih seolah ia tengah teringat suatu kenangan yang tak pernah bisa ia lupakan.
“kau mau membaca novel fiksi Winter bear? Ayah rasa itu tidak akan sesuai dengan seleramu.” Tutur ayahnya seraya bangkit dari tempat duduknya untuk menghampiri Andheera yang masih ingin membaca beberapa bagian dalam buku Winter bear.
“bagaimana akhir dari pertemanan Bear dan Ellsa.. ayah?” tanya Andheera seraya memandangi wajah ayahnya dengan tatapan sendu.
“hah? apa kau pernah membacanya?” tanya ayahnya.
“tidak, aku hanya tahu dari temanku, dia adalah penggemar novel Winter bear.” Sahutnya kemudian kembali terfokus pada novel yang tengah dipegangnya.
“begitu, emm.. yang ayah ingat Ending dari novel itu adalah open Ending, mereka berdua sama-sama tersesat dalam sebuah labirin besar, setelah itu tak ada yang tahu mereka akan kembali bertemu atau sama-sama memiliki jalan pulang yang berbeda.” Jelasnya.
“lalu bagaimana akhir dari yang ayah inginkan untuk Bear dan Ellsa..?”
“amm.. ayah fikir semua orang pasti menginginkan akhir yang bahagia, tapi Andheera.. tidak semua bisa berjalan sesuai keinginan, begitu juga kehidupan yang tak selalu benar-benar berakhir dengan kebahagiaan.” Ujar ayahnya seraya mengusap kepala putrinya lengkap dengan tatapan hangat seorang ayah.
“iyaa aku mengerti, aku akan pinjam buku ini ayah.” Sahutnya kemudian berniat untuk pergi setelah mendapat apa yang diinginkannya.
“Andheera..” panggil ayahnya saat putrinya hendak membuka pintu kamarnya, ia pun berbalik tanpa bersuara.
“ayah sangat menyayangimu.” Lanjut ayahnya yang dibalas oleh senyuman tipis Andheera kemudian berlalu pergi.
Begitu Andheera keluar dari kamar ayahnya, ponsel dalam sakunya bergetar, tanpa menunggu lagi ia langsung merogoh ponsel dalam saku celananya.
“kak Brian..” gumamnya sebelum akhirnya mengangakat telfonnya.
“Hallo..” sapa Andheera.
“ada apa..?” tanya Andheera setelah saling menyapa.
“sekarang?!”
“iyaa baiklah.” Pungkasnya seraya menutup telfonnya lalu menaruh kembali ponsel dalam saku celananya.
***
Di taman bermain dekat komples Andheera.
Andheera dan Brian tengah berayun sembari menjilati es krim yang di belikan oleh Brian dalam perjalanannya menemui Andheera.
“kenapa kau ingin bertemu malam-malam begini?” tanya Andheera yang mengawali pembicaraan kala itu, sebab Brian tak banyak bicara sejak ia datang.
“kau percaya padaku kan?”
“tiba-tiba, kenapa?” sahut Andheera seraya melirik sesaat ke arah Brian.
“aku hanya..”
“apa sesuatu terjadi padamu?” tanya Andheera sedikit khawatir.
__ADS_1
“tidak.. apa kau bisa menghiburku?” ujarnya seraya menundukan kepalanya dan sesekali menendang batu kerikil yang tersebar di bawah ayunan.
“kenapa?” tanya Andheera dengan nada datar juga masih menjilati es krimnya.
“karena aku sedang sedih sekarang.” Ujarnya masih menundukan kepalanya.
“kenapa?”
“YAAAKK!!” bentak Brian kesal karena sedari tadi Andheera hanya membalasnya dengan satu kata ‘kenapa.
“HAHAHA!! oke-oke baiklah, tapi aku tak bisa menghiburmu karena aku bukan pelawak.” Katanya lengkap dengan raut wajah yang menyebalkan.
“huuhh.. kau benar-benar tak bisa diandalkan!” gerutu Brian.
“ciihh.. lagipula siapa dirimu sampai aku harus menghiburmu.” Balas Andheera.
“astaga.. bagaiamana aku bisa menyukai gadis seperti dirimu.”
“HAHAHAHA!! cepat habiskan es krim kak Brian, aku akan mengajakmu berkeliling dengan sepedaku.” Seru nya lalu melahap sisa es krimnya dan bangkit dari ayunan untuk berjalan menuju sepedanya.
Tak ingin membuat Andheera menunggu lebih lama, Brian pun melahap semua sisa es krimnya seperti yang telah dilakukan Andheera, kemudian menyusul langkah Andheera.
“kau akan memboncengku?” tanya Brian seraya mengernyitkan dahinya. “kau yakin kuat?” tambahnya lagi saat Andheera sudah menduduki kursi depan dan bersiap untuk mengayuh sepedanya.
“mau taruhan lagi? jika aku bisa membawamu selama satu jam tanpa henti kau harus mengabulkan keinginanku.” Ujarnya seraya menunjukan senyum penuh arti.
“enggak.. enggak, terakhir kali aku meremehkanmu aku sendiri yang kena batunya.” Katanya yang kemudian duduk di bangku penumpang.
“hehehe!!” Andheera tertawa renyah sebelum akhirnya mulai mengayuh sepedanya.
Malam semakin larut baik di kota Yogya ataupun di Jakarta, bedanya jika di Yogya tengah diguyur hujan yang semakin deras sedangkan di Jakarta cuacanya sangat mendukung untuk bermain-main di malam hari.
Ditemani ribuan bintang juga bulan yang penuh suasana malam itu benar-benar bercahaya, sama halnya dengan situasi yang terjadi antara Brian dan Andheera yang tampak masih asyik bermain-main diluar, dengan diselingi candaan juga tawa bahagia mereka, untuk sesaat mereka terlihat seperti tak memiliki beban apapun.
***
Seperti biasanya SMA Kirin school selalu mengadakan berbagai macam perlombaan antar kelas, sebagai ajang semua murid bisa saling berinteraksi selain dengan teman sekelasnya, juga untuk merayakan kenaikan kelas mereka dengan bersenang-senang melakukan berbagai macam perlombaan yang mereka inginkan.
Sebagian murid sudah berkumpul didalam stadiun, (lapang basket yang berada didalam ruangan) sesuai dengan kelas mereka, dan yang lainnya tersebar di seluruh ruangan sekolah, karena banyak nya perlombaan yang diselenggarakan hari itu membuat beberapa perlombaan di lakukan secara bersaman ditempat yang berbeda.
Tak ingin kalah dengan kelas lain yang tengah menyemangati teman seperjuangannya di area lapang, beberapa ciwi-ciwi di kelas Andheera pun ikut menyoraki teman-temannya yang ikut tergabung dalam pertandingan basket yang akan dimulai sesaat lagi.
“YEEEEE..!! YEEEEEE..!! LALALALA..!! IPA-2 FIGHTING..!! HUUUUUU..!!” teriak mereka serempak lengkap dengan spanduk yang bertuliskan seorang nama pemain juga pom-pom yang ikut memeriahkan suasana saat itu.
Meski awalnya Andheera bersikeras untuk mangkir dari perlombaan yang didaftarkan secara illegal oleh ketua kelasnya, namun ia sudah tak bisa mengelak lagi ketika semua teman dekatnya serperti Vivian, Anha, Yerim juga Hanyoora yang menjemputnya secara paksa di kediamannya.
Mau tak mau akhirnya ia kini ikut berada di tengah-tengah kekisruhan yang ada di dalam stadium, membuat raut wajahnya tampak kesal seolah gadis itu benar-benar tidak nyaman dengan keramaian seperti ini.
“perlombaanmu 30 menit lagi, kau tidak akan melakukan gladi resik dengan Jaehyun..?” bisik Anha pada Andheera yang duduk disampingnya.
“gak mau tuh..” sahutnya dengan nada menyebalkan seperti biasanya.
“HEY!! dimana Yerim?” sapa Vivian yang baru saja bergabung diantara mereka dengan membawa berbagai cemilan di dalam pelukannya.
“dia sudah pergi barusan, lombanya sudah akan dimulai.” Jawab Anha seraya bergeser untuk memberikan Vivian ruang agar ia duduk diantara mereka, kemudian dibalas anggukan serta senyum ramah dari Vivian.
“kau darimana saja, aku bosan disini sendiri.” Celotehnya lengkap dengan raut wajah masamnya dan kedua tangan yang ia letakan diatas dadanya.
“lalu kau anggap aku ini apa.. hantu?!” protes Anha yang tak terima dengan keluhan Andheera barusan.
“kau mau?” untuk menengahi kedua temannya Vivian menawari Anha cemilan miliknya.
“kapan perlombaanmu dimulai?” tanya Anha seraya membuka cemilan milik Vivian lalu mulai menikmatinya.
__ADS_1
“setelah pertandingan basket..” sahutnya sembari merogoh sesuatu didalam saku celana olahraganya.
“apa itu?” tanya Anha lagi setelah Vivian berhasil mengeluarkan sesuatu didalam saku celananya.
“hehehe.. lipstick aku mau merias bibirku sedikit biar ga terlalu pucat.” Responnya seraya mencoba tutup lipstick merah yang ia pegang.
“tunggu.. lebih baik pakai liptint aja biar kelihatan natural.” Sarannya sembari mengeluarkan liptint dari tas kecilnya dan memberikannya pada Vivian.
“cair begini bagaimana pakenya?” Vivian kebingungan saat ia melihat bentuk dari liptint yang diberikan oleh temannya.
“kau jilat.” Celetuk Andheera yang langsung dibalas geplakan dibagian belakang kepalanya oleh Anha, sontak hal itu membuat Vivian sedikit terhibur seolah Anha tengah membela dirinya.
“YAAAKK!!” bentak Andheera seraya bangkit dari tempat duduknya lengkap dengan raut wajah penuh amarah.
“duduklah, jika kau tak ingin menjadi pusat perhatian.” Ujar Anha santuy tanpa menengok sedikit pun sebab pandangannya hanya terfokus pada area lapang serta cemilannya.
Andheera pun mengalah untuk membiarkannya sebab ia memiliki cara lain untuk membalas perbuatan Anha barusan padanya. Begitu Andheera duduk kembali Vivian langsung memberikan cemilannya yang lain untuk sedikit meredakan kekesalan Andeera sama seperti yang dilakukan sebelumnya pada Anha.
“KAK BRIANNNN!” seru Vivian yang langsung bangkit dari tempat duduknya untuk menyambut kehadiran Brian yang baru saja bergabung di tengah lapang, membuat Anha juga Andheera terkejut bukan main, hingga tersedak cemilannya sendiri.
“uhuukk..uhukkk..”
“astaga kau benar-benar sudah gila!” gerutu Andheera kemudian memilih pergi daripada harus terus berada didalam kekisruhan yang dibuat oleh temannya sendiri.
***
Parkiran khusus sepeda di SMA Kirin school Jakarta.
Begitu keluar dari stadium, awalnya Andheera ingin langsung menuju ke tempat perlombaannya namun tiba-tiba saja sebuah ide kotor melintas dalam fikirannya, membuat tubuhnya refleks berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan seraya menunjukan senyum menyeringainya di sepanjang perjalanannya menuju tempat parkir.
Merasa sangat kesal karena Anha selalu saja mengusik ketenangannya ia pun tak ingin tinggal diam, seperti yang sudah sering ia lakukan ia pasti akan selalu membalas dengan cara nya sendiri.
Sampai di tempat parkir khusus sepeda.
Tak butuh waktu lama untuk menemukan sepeda milik teman sekelasnya itu, karena sepeda tuanya terlihat paling menonjol dari sepeda bermerk lainnya. Langkahnya pun langsung tergerak menuju sepeda malang tersebut setelah beberapa detik ia memandanginya dengan tatapan penuh arti.
Gadis licik itu langsung berjongkok dan melancarkan aksi jahilnya pada sepeda yang tidak memiliki salah apapun, namun saat jemari rampingnya hendak menyentuh ****** ban sepedanya…
“tak sekalian kau gantung saja sepedaku diatas pohon, daripada hanya mengempeskan ban nya.” ujar seseorang yang tiba-tiba muncul dibelakang Andheera, hingga membuat dirinya terkejut dan terduduk lemas disamping sepeda milik Anha.
Dengan santai Anha berjalan melewati Andheera untuk membawa sepeda malangnya, sedangkan gadis yang masih terduduk di aspal hanya bisa nyengir kala Anha tengah memergokinya melakukan tindakan criminal.
“bukankah ini belum waktunya pulang..?” tanya Andheera seraya bangkit dari duduknya.
“tugasku sudah selesai menempatkan kalian semua untuk berpartisipasi dalam lomba tahunan.” Paparnya seraya masih memegangi sepedanya.
“kau?”
“aku sibuk, lagipula aku sudah ijin sebelumnya.” Sahutnya lagi.
“apa yang kau sibukkan? ujian baru saja berakhir tuh.” Protesnya merasa ini tidak adil baginya.
“kau lupa, aku memiliki banyak pekerjaan paruh waktu Andheera untuk memenuhi semua kebutuhanku, tidak seperti kau yang hanya tinggal minta pada ayah dan ibumu.” Jelasnya.
“kali ini kau akan bekerja dimana..?” tanya Andheera yang mulai menurunkan nada bicaranya.
“amm.. aku baru saja diterima di sebuah Agensi BangQit sebagai pekerja lepas hanya untuk membantu di bagian make up artis, okee sudah ya aku sudah telat byee..” pungkasnya seraya menaiki sepedanya kemudian mulai mengayuh sepedanya tanpa menunggu respon dari temannya yang masih terdiam menunduk seolah tengah memikirkan sesuatu dalam benaknya.
“buk..” baru saja beberapa detik Andheera mengalihkan pandangannya namun temannya itu sudah menghilang bagai manusia yang bisa berteleportasi hahaha.
“apa dia benar-benar hantu?” gumam Andheera seraya masih memandangi jalananan didepannya.
***
__ADS_1
Bersambung…