Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]

Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]
Episode 38


__ADS_3

Kelas musik.


Brian tengah duduk di depan Piano, masih ragu untuk memainkannya karena terakhir kali ia bermain piano sudah sekitar 5 tahun yang lalu. Tapi jemari-jemarinya tak bisa menahannya lagi, dengan hati-hati ia mencoba nada dasar yang pernah dimainkannya dahulu.


Meski tak selincah dulu, namun ternyata ia masih ingat sedikit melodi yang selalu ia mainkan bersama dengan adik perempuannya, senyum kotaknya pun merekah menambah ketampanan Brian.


Tak lama setelah ia bersenang-senang dengan permainan jemarinya selama beberapa menit, ia merasa ponselnya bergetar dalam saku celana sekolahnya, tak menunggul lama ia merogoh ponsel yang dikantonginya, kemudian mengklik panggilan video call yang tak lain adalah adiknya.. Tsuyu.


“Kakak!! (Seru Tsuyu yang menyapa Brian dengan penuh antusias)


bagaimana kabar kakak? Aku sangat merindukanmu.” Tambahnya lagi.


“baru sekarang kau menghubungiku?  1 tahun ini kemana saja kau hampir lupa kalau kau memiliki kakak disini.” Gerutu Brian yang tak terima, sebab adiknya itu tak pernah mengabari dirinya sejak kepergiannya hampir 1 tahun yang lalu.


“maaf kakak, sebenarnya aku disini juga sangat kesulitan, kau tahu kan bahasa inggrisku tidak terlalu lancar, jadi aku harus berusaha untuk cepat menyesuaikan diri dengan sekolah baruku. Bahkan pola makan dan tidurku juga berantakan karena waktu ku habis untuk belajar setiap harinya.” Paparnya.


“begitu, maafkan kakak karena tak bisa melindungimu Tsuyu. Kakak janji setelah kakak sukses tak perlu bantuan ayah lagi, kakak akan membawamu kembali, kau akan hidup bersama kakak.” Ujarnya mencoba untuk sedikit menghibur adik perempuannya yang malang itu.


“kakak yakin dengan jalan yang kakak ambil? menjadi Idol itu gak mudah kak, ditambah tanpa dukungan dari Ayah, kakak yakin bisa melaluinya?”


“tentu kakak sangat yakin dengan kemampuan kakak, kau hanya perlu terus menyemangati kakak okay.” Serunya penuh percaya diri, seolah semuanya akan berjalan sesuai rencanaya.


“iya baiklah, aku menyayangimu kak.” Pungkas Tsuyu sebelum mengkhiri percakapan singkat dengan kakak lelakinya.


“kakak juga.” Respon Brian lengkap dengan box smilenya, ia hendak mengakhiri video call dengan adik perempuannya, Namun..


Kreett..  suara pintu terbuka membuat pandangan Brian langsung teralihakan, ia melihat Vivian yang berdiri masih memegangi gagang pintu seraya memandangi Brian dengan tatapan terkejut bisa bertemu dengan Brian di ruang musik.


Brian menyambut kehadiran Vivian dengan senyum manisnya, kemudian mengurungkan niatnya untuk mengklik tombol merah dilayar ponselnya.


“Hey Vivian, kau sudah selesai makan siang?” Sapa Brian.


“ada kak Vivi boleh aku bicara dengannya.” Tsuyu yang menyadari kemunculan Vivian diruangan itu pun langsung terlihat anstusias ingin bertemu dengan Vivian.


Mendengar suara yang tak asing di telinga Vivian membuat kedua kaki Vivian bergerak lebih cepat untuk mendekati Brian dan memastikan jika suara itu berasal dari ponsel milik Brian.


“apa itu Tsuyu?” tanya Vivian lalu duduk dengan santai di samping Brian,seraya melihat ke layar ponsel Brian yang ditaruh di atas piano.


“HEY KAK VIVI!! (seru Tsuyu yang terlihat senang sekali bisa melihat wajah Vivian)


kau semakin cantik saja kak Vivi.” Puji Tsuyu berhasil membuat Vivian tersipu malu.


“kau ini bisa saja, dari dulu selalu membuatku malu, bagaimana kabarmu disana Tsuyu?” tanya Vivian.


“aku baik kak Vivi, oiia bagaimana hubunganmu dengan kakak ku sudah sejauh mana? Hehehe.” Tsuyu cekikian menggoda Vivian.


Merasa canggung karena digoda oleh Tsuyu, Brian memlih pergi meninggalkan ponselnya bersama Vivian.


“kak Brian malu-malu tuh kayaknya hehehe.” Tak berhenti disitu Tsuyu masih terus menggoda kakaknya dan Vivian, tak ingin membuat Tsuyu berfikir yang tidak-tidak Vivian hanya meresponnya dengan ukiran senyum hangat di wajahnya.


Percakapan diantara mereka berlangsung cukup lama sampai berakhirnya bell istirahat.

__ADS_1


***


Pelajaran selanjutnya untuk kelas X-2 adalah pelajaran olahraga, setelah selesai berganti seragam semua murid berjalan santai menuju lapangan sekolah, seperti pada umumnya sebelum berolahraga pasti selalu dimulai dengan pemanasan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti kram otot contohnya hihi.


Semua murid kelas X-2 tampak semangat mengikuti arahan pak Sehun di depan, kecuali 1 murid yang memang tidak pernah melakukan hal apapun dengan benar. Iya siapa lagi.. tentu gadis itu Andheera, selain terkenal dengan pribadinya yang kasar, ia memliki hal buruk lainnya.


Yaitu kemagerannya terhadap apapun, ia hanya melakukan apa yang diinginkannya saja, sampai semua guru yang berhadapan langsung dengannya merasa kewalahan dan menyerah, untuk membiarkan Andheera dengan dunianya sendiri.


10 menit berlalu.


Pemanasan pun berakhir, semua murid dibolehkan beristirahat sejenak duduk di pinggir lapang sekolah, sebelum melanjutkan kegiatan berikutnya, namun tiba-tiba ada seorang murid dari kelas lain tampak menghampiri Anha sang ketua kelas X-2 di pinggir lapang.


Mereka berdua mengobrol serius sampai akhirnya Anha pun bangkit, kemudian berjalan mendekati Pak Akbar bersama murid tadi, seolah tengah meminta ijin untuk absen dari pelajaran olahraga.


Pak Akbar mengangguk memperbolehkannya pergi, mereka berdua pun pergi berjalan keluar lapang sembari masih melanjutkan obrolan dalam perjalanannya.


“oke perhatian anak-anak!” seru Pak Akbar membuat perhatian semua murid menjadi terfokus padanya yang tengah berdiri di tengah untuk menginstrusikan sesuatu.


“istirahatnya sudah cukup ayo kembali ke lapang.” Tambah pak Akbar meski para murid terlihat masih lemas namun mereka tak memiliki pilihan selain mengikuti apa yang dikatakan guru olahraga tersebut.


Setelah semua berkumpul membentuk setengah lingkaran.


“kalian akan bertanding basket untuk pelajaran olahraga hari ini, silahkan bagi tim kalian masing-masing. 1 lagi, sebaikanya kalian bermain sungguh-sungguh ya jika beruntung diantara kalian bisa terpilih ikut lomba basket untuk mewakili sekolah yang akan di selenggarakan akhir bulan ini.” paparnya kembali.


“BAIK PAK.” Jawab semua murid serempak kecuali Andheera yang malah sedang memperhatikan hal lain bukannya mendengarkan Pak Akbar bicara didepan.


“kau ikut main kan?” bisik Vivian ke telinga Andheera.


“enggak, kau saja.” Respon Andheera masih terfokus memperhatikan sesuatu yang cukup jauh.


“bukannya itu ponsel kak Brian.” kata Andheera saat ia mengalihkan perhatiannya ke arah Vivian yang berdiri disamping tengah membuka layar ponsel milik Brian.


“amm.. tadi aku habis video call dengan adik kak Brian, kau tahu kan kalau kita pernah bertetangga.” Jelas Vivian sedikit gugup takut Andheera salah paham.


“kalau begitu biar aku saja yang kembalikan.” Pinta Andheera seraya menyodorkan telapak tangannya agar Vivian menyerahkan ponsel Brian padanya, begitu Andheera mendapat ponsel Brian ia langsung melesat pergi meninggalkan Vivian tanpa sepatah kata pun.


“Andheera kau mau kemana?” seru Vivian, ia tak menyangka jika Andheera akan mengembalikan ponsel itu sekarang, disaat jam pelajaran masih berlangsung, bahkan mungkin Brian pun masih berada di kelasnya, lantas gadis angkuh itu buru-buru mau kemana dengan membawa ponsel milik Brian.


***


Atap Kirin school Jakarta.


Dari balik pintu atap sudah terdengar nyaring suara musik bergenre hip hop, dengan hati-hati Andheera membuka pintu atap agar Brian tidak menyadari kehadirannya.


Andheera mengendap-endap mencoba lebih dekat lagi, ia senang sekali bisa melihat langsung Brian tengah berlatih menari di atap sendirian, untuk sesaat Andheera dibuat kagum dan terpana sampai ia lupa untuk mengedipkan matanya.


Namun saat Brian melakukan gerakan memutar akhirnya ia menyadari kehadiran makhluk lain selain dirinya di atap, membuat nya berhenti dan tertawa malu.


“kenapa berhenti, kapan lagi aku bisa menonton konser gratis kan hehehe.” Goda Andheera lalu berjalan dan duduk di bangku.


“sejak kapan kau disitu, aku tak mendengarmu membuka pintu.” Sahutnya seraya menyeka keringat dilehernya menggunakan handuk kecil yang sudah dipersiapkannya.

__ADS_1


“amm cukup lama tuh.” Respon Andheera seraya melipat kedua lengan diatas dadanya.


“kau bolos pelajaran olahraga.” tebak Brian lalu ikut duduk disamping Andheera seraya meraih botol mineral yang ia taruh di samping bangku dan meneguknya dengan cara yang keren, lagi-lagi lelaki tampan itu membuat kedua mata nakal Andheera tak bisa beralih memandanginya.


“bagaimana jika aku katakan, aku menyesal berpisah denganmu.” Gumam Andheera yang membuat lelaki disebelahnya sangat syock hingga...


Byuurrrr.. Brian memuncratkan kembali air yang barusan ia teguk, hingga Andheera tak dapat menahan tawa gemasnya karena tingkah Brian yang masih salting terhadapnya.


“kau sengaja kan Andheera!!” geram Brian seraya menatap tajam wajah Andheera yang masih tersenyum manis.


“ini ponselmu.” Andheera mengembalikan ponsel Brian, dan mengabaikan keluhan Brian barusan.


“darimana kau dapat..” belum sempat menuntaskan kalimatnya Andheera keburu memotongnya.


“Vivian, aku bilang pada Vivian akan mengembalikan ponsel kak Brian, tapi sebenarnya  itu hanya alasan saja agar aku tak perlu ikut ke dalam tim basketnya.” Papar Andheera lalu tersenyum nakal.


“untuk acara tahunan sekolah kau sudah memutuskan untuk berpartisipasi dalam lomba apa?” tanya Brian kemudian kembali meneguk air mineral yang masih dalam genggamannya.


“itu amm, kurasa lomba vocal, ketua kelasku sudah mendaftarkannya.” Sahutnya pasrah.


“benarkah kau akan menyanyi solo?


Aku harus menonton berarti, aah tapi seingatku perlombaan vocal itu selalu bentrok dengan pertandingan basket.” Ujarnya.


“tidak, aku akan duet.” Jawab Andheera.


“APA!!” seru Brian seraya bangkit dari tempat duduknya, mendengar kenyataan Andheera bukan menyanyi solo membuat Brian sangat terkejut, bahkan lebih terkejut dari saat Andheera menggodanya tadi.


“astaga!! Kaget aku, kenapa kau ini?” seru Andheera yang tak kalah terkejutnya melihat respon berlebihan mantan kekasihnya itu.


“tidak, kau tidak boleh duet.” Kata Brian sembari memelototi gadis yang ada disampingnya.


“itu sudah diatur oleh ketua kelasku aku tak bisa menolaknya, lagipula memangnya kenapa kalau duet, sebenarnya partner duet ku juga tampan kok.” Ujarnya dengan nada polos, seolah ia tidak mengerti situasinya.


“YAAK!!” sentak Brian dengan semua amarah yang ia luapkan, membuat Andheera lagi-lagi terkejut mendapat teriakan yang tak terduga.


“apa sih, hehehe..” Andheera nyengir, karena berhasil membuat Brian cemburu.


Merasa sudah terlalu lama berada di atap ia harus segera kembali sebelum jam pelajaran olahraga habis.


Andheera pun beranjak dari tempat duduknya berniat pergi meninggalkan Brian yang masih menatapnya tajam, namun saat Andheera bangkit dari tempat duduknya hendak meninggalkan Brian, tangan Brian menyambar pinggul Andheera lalu mendorongnya hingga ke tepi dinding pembatas atap.


Karena Andheera memiliki tinggi yang tak terpaut jauh dari Brian, wajah mereka hampir saja beradu akibat terlalu dekatnya wajah mereka saat ini. Layaknya adegan drama Romance mereka berdua malah saling terdiam sesaat, sembari terus saling memandang dengan jarak yang hanya 10 cm.


“kenapa kau selalu menggodaku seperti ini.” Gumam Brian seraya menatap kedua mata sipit Andheera, tidak seperti anak gadis lainnya yang akan salah tingkah, Andheera malah tersenyum menyeringai semakin membuat Brian tidak tahan dan ingin melahapnya hidup-hidup.


Perlahan Brian mendekatkan wajahnya, seolah pasrah Andheera hanya terdiam sembari memejamkan matanya menunggu bibir Brian sampai pada bibirnya, hanya tinggal 1 cm lagi bibir mereka bertemu, tiba-tiba kedua mata Andheera terbuka lebar seiring dengan tangannya yang meremas lengan Brian, membuat Brian pun ikut terkejut lalu menjauh seketika.


“kau kenapa ?” tanya Brian khawatir seraya memegang wajah kecil Andheera dan menatapnya lekat.


“aah tidak, maaf aku harus kembali.” Masih dengan ekspresi yang kebingungan Andheera berlari meninggalkan Brian, sama halnya dengan Brian ia juga sama bingung nya, sebenarnya apa yang terjadi pada Andheera tadi.

__ADS_1


***


Bersambung…


__ADS_2