Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]

Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]
Episode 58


__ADS_3

Sesampainya di kediaman Kimbrian, setelah membayar ongkos taxi, lelaki yang akan menginjak usia 19 tahun itu langsung berlari masuk ke dalam rumahnya, sedangkan Andheera dibiarkan sendiri dibelakangnya.


“apa ini rumahnya?” gumam Andheera seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh area halaman luas kediaman Kimbrian.


Sampai ia menemukan sosok yang  tak asing yang pernah ditemuinya, iya gadis itu muncul dari area belakang kediaman Kimbrian, dan ia terus mengamati eskpresi gadis yang tengah menyeret sebuah koper besar dengan tangannya yang tampak terluka.


“kenapa gadis SMP itu ada disini?” Andheera bergumam lagi seraya mencoba berjalan perlahan mendekati sosok gadis tersebut.


Gadis itu adalah Tsuyu adik dari Kimbrian yang juga adalah kekasih dari kakak Andheera, gadis mungil itu terlihat tengah menyeret koper besarnya menuju sebuah taxi yang sudah ia pesan sebelumnya, dengan langkah yang sedikit tertatih ia pun memasukan koper besarnya ke dalam bagasi mobil yang dibantu oleh supir taxi tersebut.


Layaknya orang yang sangat ketakutan, gadis itu buru-buru pergi tanpa menoleh lagi kebelakang, membuat Andheera berfikir apa orang yang ditelfon Brian sebelumnya adalah gadis tersebut.


Setelah gadis itu menghilang dari pandangannya, Andheera buru-buru menyusul Brian ke dalam rumahnya.


Andheera melihat Brian yang tengah kebingungan seolah tengah mencari seseorang di lantai 2, tak sampai disitu pencariannya pun berlanjut ke bawah sembari sesekali meneriakan sebuah nama yang tengah dicarinya, tanpa memperdulikan Andheera yang sudah berada didalam.


“KIMTSUYUUUU!!” panggil Brian yang terus mencari ke setiap ruangan.


Saat Andheera hendak menghampiri Brian, langkahnya terhenti sesaat karena ada asisten rumah tangga yang lebih dulu melewatinya dengan membawa sebuah baki yang berisikan pecahan gelas dan juga mangkuk, lengkap dengan raut wajah ketakutan yang sama percis seperti yang Tsuyu tampakan sebelumnya.


Seketika fikiran liarnya memenuhi otaknya saat itu, kedua mata tajamnya pun mencoba mencari sebuah ruangan yang diyakini tempat asisten tersebut keluar, pandangannya terhenti saat mendapati sebuah ruangan yang tak jauh darinya dengan pintu yang setangah terbuka.


Meski tubuhnya merasakan aura yang sangat menyeramkan namun ia tetap mencoba berjalan perlahan mendekati sebuah ruangan tersebut.


Dirinya benar-benar terkejut kala ia tersadar, ternyata di dalam pantulan cermin yang berada diruangan itu ada seorang wanita dengan gaun tidur berwarna putih tengah berdiri memandangi dirinya lewat pantulan cermin tersebut lengkap dengan senyum menyeringainya.


Saking terkejutnya Andheera hanya bisa terdiam, hanya detak jantungnya yang kini berdatak tak karuan mewakili perasaan terdalamnya yang ingin berteriak namun ia sama sekali tak bisa mengeluarkan suaranya.


Sampai akhirnya panggilan Brian membuyarkan pandangannya.


“Andheera..”


Suara Brian seakan menarik Andheera keluar dari situasi menegangkan itu, ia pun menoleh kebelakang dengan sedikit rasa takut yang masih menyelimuti tubuhnya.


“sedang apa kau disini?” tanya Brian.


“amm..”


“ayo kita pergi, adikku sudah kembali ke Inggris.” Ajak Brian seraya menarik kembali lengan Andheera untuk menjauh dari are tersebut.


Penasaran dengan sosok wanita yang dilihatnya tadi, Andheera pun kembali menoleh ke belakang sesaat, namun sosok itu telah menghilang bersamaan dengan pintu kamarnya yang telah tertutup rapat.


“apa aku sedang bermimpi, wanita tadi begitu mengerikan.” Batin Andheera.


***


Rumah sakit Haneul Jakarta, setelah Tsuyu mengobati luka dan membalut lengannya, ia berjalan menuju bangku taman tak jauh disekitar rumah sakit sembari masih menyeret koper besarnya.


“pada akhirnya aku melarikan diri lagi..” keluh Tsuyu seraya menghela nafas panjangnya lalu duduk dibangku untuk beristirahat sejenak.


“garis takdirmu begitu menyedihkan..” celoteh seorang wanita paruh baya yang tiba-tba saja duduk disamping Tsuyu.


Membuat Tsuyu menatap wanita tua itu dengan raut wajah kebingungan.


“garis takdirmu terhubung dengan wanita itu, jadi kau tak akan pernah bisa lepas atau menyingkirkannya, kecuali kau ikut bersamanya.” Sambung wanita tua tadi.


Tidak mengerti dengan ocehan wanita tua itu, Tsuyu memutuskan untuk pergi tanpa menanggapi perkataannya. Ia hanya mengira jika wanita tua itu sakit jiwa hingga berbicara omong kosong.


“aku sudah terlanjur bilang akan liburan di Jakarta, aneh rasanya jika langsung kembali ke Inggris, tapi aku juga gak bisa menginap di hotel karena aku tak memiliki KTP, menemui kak Meda juga tak mungkin dengan kondisi seperti ini.. huhhh..” Tsuyu terus mengoceh sepenjang perjalanannya, mencoba memikirkan nasib dirinya yang malang.

__ADS_1


***


Tempat makan milik Ahreum ibu dari Bennedict.


Ahreum sudah banyak menyiapkan makanan sedari siang, untuk merayakan putranya yang kini menjadi trainee dari sebuah agensi besar yang ada di Jakarta.


 “sore tante..” sapa Andheera yang baru saja saja datang bersama dengan Brian.


“ahh.. hey Andheera.” Ahreum yang tengah menyiapkan alat makan dimeja menanggapi sapaan Andheera, kemudian langsung memeluk Andheera lengkap dengan senyum hangat layaknya seorang ibu yang telah lama tidak bertemu dengan putrinya.


“kau semakin cantik saja Andheera, tante hampir tak mengenalimu.” Tambah Ahreum yang melepas pelukannya lalu dilanjut dengan cubitan pelan di kedua pipi Andheera.


“hay Kakak, kau sudah sampai.” Ujar Ben yang baru saja bergabung dengan membawa 1 wadah besar berisi hidangan laut kesukaan Andheera.


Andheera hanya membalasnya dengan senyuman kecil diwajahnya.


“siapa.. pacarmu?” tanya Ahreum saat baru menyadari ia belum menyapa seseorang yang datang bersama Andheera, sementara itu Bennedict sudah duduk lebih dulu serta memulai mangambil makannanya karena sudah merasa sangat lapar.


“pengen nya sih tante hihihi.” Celoteh Brian lengkap dengan tawa lebarnya.


“Brian.. tante, senior disekolahku.” Timpal Andheera.


“begitu yaa, tapi kalian cocok kok.. (goda Ahreum seraya tersnyum nakal ke arah Andheera) yaudah ayo duduk, tante sudah menyiapkan semua makanan kesukaanmu.” Sambungnya seraya menarik kursi untuk di duduki oleh Andheera.


“waahhh.. banyak banget tante, udah kayak mau ngasih makan 1 kompleks aja hehehe..” ujar Brian yang ikut duduk disamping Andheera.


“kalian hanya berdua, tadi Ben bilang masih ada 2 orang lagi?” tanya Ahreum.


“kakakku dan 1 temanku lagi akan menyusul, tante..” sahut Andheera yang mulai mengambil makanannya.


“begitu, lalu teman mu Jessy mana Ben?” giliran putranya yang kini ditanyai.


“baiklah kalau begitu tante masuk dulu ya, ada pelanggan.” Pamit Ahreum yang melihat ada beberapa pengunjung yang baru saja datang ke restonya.


Andheera dan Brian hanya membalasnya dengan senyum juga anggukan.


“meda akan datang Kakak?” tanya Ben.


“pagi tadi bilang nya akan ikut kesini, tapi gak tahu sejak siang tadi kakak belum bisa dihubungi.” Sahutnya.


“bagaimana dengan Vivian?” tanya Brian yang ikut mengajukan pertanyaan pada Andheera disela suapannya.


“aku sudah mengirim pesan tapi dia belum membacanya.” Respon Andheera lagi.


Selang beberapa detik, entah kenapa beberapa fikiran negative terlintas dalam benaknya, membuat Andheera terusik kemudian memutuskan untuk pamit keluar sebentar, dengan dalih ingin menelfon seseorang.


“aku harus menelfon seseorang, kalian makanlah dulu..” kata Andheera seraya bergegas berjalan keluar dari resto membuat Brian juga Ben mengerutkan dahinya untuk sesaat.


***


Diluar resto.


Wajah Andheera tampak sedikit tegang dengan ponsel yang menempel ditelinganya, gadis itu masih tak bisa berhenti khawatir kala telfonnya tak juga tersambung. Sampai ia pun memutuskan untuk menghubungi sekretaris kakek dari Vivian.


“paman.. tolong lacak ponsel Vivian sekarang juga.”


“apa yang terjadi Andheera?”


“cepat lacak ponsel Vivian!”

__ADS_1


“Andheera..” panggil seseorang dari belakang yang tak lain adalah Vivian, membuat Andheera sedikit terkejut juga merasa lega secara bersamaan.


“kenapa kau ingin melacak ponsel ku?” lanjut Vivian yang mendengar percakapan Andheera barusan.


Tanpa mengucapkan kalimat penutup pada sang sekretaris, Andheera pun langsung mematikan telfonnya, masih seraya memandangi Vivian lekat.


“dan siapa yang kau telfon?” tambah Vivian lagi.


“Heyyy!! Andheera eonnii..” sapa Jessy yang baru saja datang dengan sepedanya.


“siapa ini?” Jessy beralih pada Vivian setelah memarkirkan sepedanya.


“Hey! Vivian.” ucapnya seraya mengulurkan tangannya pada Jessy, dengan senyum cerahnya Jessy menerima uluran tangan Vivian.


“Jessy! kenapa kalian berdua diluar? ayoo masuk! anggap saja rumah sendiri hehehe.” Celetuk Jessy seraya mendahului keduanya untuk masuk ke dalam resto. 


Seolah Vivian sudah melupakan hal yag terjadi sebelumnya, ia hanya berjalan masuk mengikuti langkah Jessy dan melewati Andheera yang masih terdiam ditempatnya.


Saat dirinya hendak menyusul kedua temannya, langkahnya terhenti kala ponselnya bergetar.


“iya ada apa paman jika tidak penting akan ku tutup..”


“Darren Erlingga.. seorang mantan jaksa yang dulu menangani kasus kecelakaan beruntun saat itu, dan dia juga yang memutuskan untuk menutup kasus tersebut sebagai kasus yang tak terpecahkan.” Tuturnya membuat Andheera membelalakan kedua matanya dengan apa yang baru saja ia dengar.


“baiklah, aku mengerti, terimakasih paman.”


“hey.. kau tak akan melakukan sesuatu yang buruk kan Andheera.” ujarnya lagi memastikan.


Beeppp.. Andheera langsung mematikan telfonnya begitu saja, kemudian memasukannya kembali ke dalam celana jinsnya dan berjalan masuk ke dalam resto.


“Benn..” panggil Andheera yang baru saja bergabung kembali, ia melihat lengan keponakannya hendak mengambil beberapa cumi kering milik Andheera.


“hanya sedikit Kakak..” rengek bocah tersebut seraya menunjukan raut wajah seimut mungkin.


“tidak!” tegas Andheera seraya duduk kembali di kursinya lalu melanjutkan makannya yang sempat tertunda akibat kekhawatiran yang tidak perlu.


Meski sedikit kesal pada Andheera namun Ben tetap mematuhinya dan mengurungkan niatnya untuk mengambil beberapa cumi kering, lalu melnajutkan dengan makanan yang boleh ia makan.


“kenapa kau sangat terlambat Vivian?” tanya Andheera di sela makannya.


“ahh.. aku harus mengambil pesanan gaunku dulu di Flower butik.” Jawab Vivian yang juga sangat menikmati makanannya.


Sementara Andheera dan Vivian mengobrol, Benn juga sepertinya tampak asyik menikmati percakapan sederhananya dengan Jessy juga Brian.


“kau benar-benar lolos dalam audisi BangQit?” tanya Jessy lagi untuk memastikan.


“kau ini! sudah berapa kali ku bilang, iya aku lolos bersama kak Brian dan juga Kakak, kita bertiga akan menjadi trainee di BangQit.” Tuturnya lagi masih dengan sabarnya ia menjawab pertanyaan teman sekelasnya.


“waaahhh!! aku udah gak sabar menantikan kalian bertiga debut hahahha!! pasti sangat menyenangkan jika memiliki teman seorang idol!! pokoknya aku janji akan tetap setia stan kalian sampai akhir YEAAH!” seru Jessy sangat exited mendengar kebenaran tentang teman-temannya yang akan menjadi idol membuat dirinya juga merasakan bahagia yang luar biasa.


“apa kau bilang? bertiga, Andheera kau juga ikut audisi?” tanya Vivian yang mendengar seruan Jessy membuat dirinya berhenti mengobrol dengan Andheera dan beralih menunggu jawaban dari Jessy.


“iya kita bertiga sudah menjadi trainee di BangQit agensi.” Timpal Brian yang mewakili Jessy untuk menjawab pertanyaannya.


“kau akan menyanyi dan menari di depan semua orang?! waahh daebak!! apa kau benar-benar Andheera yang ku kenal?” ujar Vivian seraya menatap temannya itu dengan perasaan yang tidak percaya sama sekali dengan berita yang baru ia dengar.


“berhentilah menatap ku seperti itu, aku hanya terpaksa melakukannya!” sahut Andheera seraya mengunyah makanannya.


***

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2