![Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]](https://asset.asean.biz.id/mimpi-dan-harapan--pov---andheera-.webp)
Kembali ke kediaman Reza, terlihat Andheera tengah berjalan-jalan diruang tamu seraya mengedarkan pandangannya mencoba mencari seseorang dengan raut wajanhnya yang kebingungan. Sampai bi dharma pun memutuskan untuk menghampiri Andheera dan menanyakan apa yang sebenarnya Andheera cari.
“apa ada yang bisa bibi bantu nona?” ujar bi Dharma.
“kakak ku pergi kerja? Bukannya ini akhir pekan.” Kata Andheera.
“ooh den meda, den meda bilang ada yang harus diselesaikan di kantor jadi tadi den meda langsung buru-buru pergi tadi.” Jawabnya ditambah senyum ramah diakhir kalimatnya.
“huhh.. yaudah kalau gitu aku juga pergi bi, tolong sampaikan pada kakak ku, aku akan pulang telat bye.” Ujarnya kemudian pergi begitu mengetahui keberadaan kakaknya.
“baik nona, hati-hati.” Sahut bi Dharma.
***
Begitu memutuskan tempat yang akan ia tuju, ia langsung bergegas membawa sepedanya dari garasi lalu mulai mengayuh keluar dari halaman rumahnya, sembari menyenandungkan sebuah lagu untuk mengiringi perjalanannya ke tempat yang akan ia tuju.
Selang 20 menit, akhirnya Andheera sampai di tempat tujuannya yang tak lain adalah Toko komik tempat Brian bekerja part time.
Gadis remaja itu memarkirkan sepedanya dengan baik kemudian melangkah masuk ke dalam toko komik, sembari menebar senyum manisnya ia menyapa Brian yang tengah melayani seorang pelanggan.
“hay Kak Brian..” sapa Andheera seraya melambaikan tangannya dan berjalan ke samping meja kasir untuk menunggu Brian melayani seorang pelanggan.
“hay juga Andheera, kau mau beli komik?” Brian membalas sapaan Andheera lengkap dengan box smile nya yang tak kalah menggetarkan hati Andheera.
“tidak, aku ingin mengajak kak Brian makan siang, kapan shift kakak berakhir?”
“hanya 1 jam lagi, tapi..”
“tenang aja kali ini aku yang traktir, kayaknya di depan ada resto yang baru saja dibuka, mau makan disana aja?” ujarnya seraya melirik ke arah resto yang baru saja buka di seberang toko komik.
“okee.” Responnya masih dengan senyuman manis yang terukir di wajahnya.
“hay kak Brian!!” sapa seorang gadis remaja yang tiba-tiba ikut bergabung ke dalam percakapan Andheera dan Brian lengkap dengan senyum lebarnya ia berjalan menghampiri Brian.
Andheera sedikit bingung dengan situasi yang terjadi saat ini.
“hay Jessy kau datang lagi.” Ucap Brian yang membalas sapaan gadis manis tersebut.
“aku hanya mampir selagi mengantar pesanan Roti.” Katanya lagi seraya menunjukan beberapa kantung yang berisikan roti-roti hangat juga minuman dingin di satu tangannya yang lain.
__ADS_1
“begitu,” respon Brian seadanya.
“siapa?” timbrung Andheera karena merasa diabaikan.
“Jessy Fans pertamaku hihihi.” Ungkapnya diselingi dengan tawa renyahnya.
“tunggu, kau seperti..”
Belum sempat Andheera menuntaskan kalimatnya, “ayooo Jessy!! pesanan kita belum beres.” Seru seseorang yang tampak seumuran dengan gadis remaja tadi masuk ke toko untuk mengingatkan temannya.
“Ben!” gumam Andheera seraya memandangi wajah keponakannya itu seakan tak percaya jika yang dihadapannya kini adalah Ben keponakannya.
“noona kok bisa disini?” sahut Ben yang juga terkejut melihat Andheera.
“harusnya aku yang bertanya sejak kapan kau pindah ke Jakarta? Kenapa tidak menemuiku jika kau ada disini.”
“kalian saling kenal?” giliran Jessy yang kali ini kebingungan.
“dia sepupuku, Andheera noona.” Ujar Ben, yang mencoba memperkenalkan Andheera pada teman sekolahnya.
“noona?” timpal Brian yang tak mengerti.
“jadi kakak seorang KPOPers? Waaah senang berkenalan denganmu eonni.” seru Jessy seraya mengulurkan lengannya untuk mulai berkenalan secara resmi.
“aah iya.. Andheera.” balas Andheera sedikit canggung. “oiya tadi kau bilang mengantar pesanan roti, apa kau sedang bekerja part time Ben?” setelah berkenalan dengan Jessy ia kembali mengalihkan perhatiannya pada Ben.
“aamm sory apa kalian bisa ngobrol di dalam saja, kalian menghalangi pelangganku.” Potong Brian melihat beberapa pelanggannya terlihat menunggu dibelakang sebab terhalang oleh gerombolan teman-temannya.
“ohh sory-sory ayo kita kesana.” ajak Andheera seraya menarik lengan Ben.
“tunggu noona tapi aku harus mengantar pesanan dulu.”
“begitu, yaudah ayo noona bantu ada berapa pesanan lagi memangnya?” Andheera memutar langkahnya dan berjalan keluar seraya merangkul Ben, gadis itu berniat untuk membantu Ben dan Jessy mengantar pesanan.
“aku pergi dulu sebentar kak.” ujar Andheera saat hendak membuka pintu toko, Brian hanya merespon dengan kedua jari jempol dan telunjuk membentuk tanda oke lalu kembali memfokuskan perhatiannya pada beberapa pelanggannya.
***
1 jam berkeliling membantu keponakannya mengantar pesanan membuat Andheera ikut merasakan lelahnya bekerja, padahal ia baru pertama kali melakukan hal ini, tidak seperti Ben yang mungkin sudah berulang kali melakukan kegiatan yang sama demi membatu Ibunya menghasilkan uang.
__ADS_1
Di depan resto yang baru saja dibuka, Andheera, Ben dan Jessy terlihat menunggu Brian yang tengah mencoba untuk menyebrang.
“selagi menunggu kita foto dulu yuk dengan badutnya.” ajak Jessy pada Ben seraya menarik tangannya menghampiri sang badut yang sedang membagikan selembaran promo pada orang-orang yang lewat di depan resto, sembari sesekali berjoget untuk membuat sedikit hiburan di depan resto yang baru saja dibuka.
Ben pasrah lalu menuruti keinginan teman perempuannya itu, “kak Dheera bisa tolong fotokan kita?” seru Jessy pada Andheera yang terlihat memperhatikannya sembari menyodorkan ponsel milikinya, Andheera langsung berjalan menghampiri mereka berdua lalu mengambil ponsel dan memotretnya dengan baik bak seorang photogrper handal.
Setelah Andheera mulai menghitung untuk memfoto mereka pun berpose selucu mungkin tak terkecuali dengan badutnya yang ikut berpose menggemaskan juga hingga membuat kedua sudut bibir Andheera terangkat.
“1..2..3 “ cekrek “sekali lagi 1..2..3 oke udah.” Andheera mengakhiri sesi fotonya dengan langsung memberikan kembali ponsel milik Jessy bersamaan dengan Brian yang sudah bergabung ditengah mereka.
“apa aku ketinggalan, ayo kita foto bersama sekali lagi.” Ajak Brian sembari mengatur ponsel ke dalam mode selfi, kedua remaja menggemaskan itu menyambut ajakan Brian dengan antusias sembari menarik Andheera juga untuk masuk ke dalam Frame foto, meski sedikit tidak nyaman namun karena Ben yang menarik lengannya Andheera tidak bisa menolaknya, ia pun terpaksa ikut berfoto bersama dengan raut wajah alakadarnya.
Brian mulai menghitung “1..2..3,” cekrek. “aah kau sangat kaku sekali Andheera, ayolaahh sekali lagi okee senyum yang ikhlas.” Keluh Brian setelah melihat hasil jepretannya ia mendapati ekspresi Andheera yang datar.
“1..2..3,” ingin mengakhirinya dengan cepat Andheera pun bertekad untuk membuat ekspresi yang lebih baik dari tadi, ia ikut berpose lucu bersama dengan Jessy dan Ben sesuai permintaan Brian.
Begitu Brian mengecek hasil fotonya kembali, lelaki yang akan beranjak dewasa itu tampak tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya melihat wajah gadis yang disukainya terlihat sangat menggemaskan di dalam foto yang ia ambil, membuat Brian hampir hilang kendali dan tidak perduli hal sekitar.
“mana coba kak Brian aku ingin lihat,” pinta Jessy seraya menurunkan lengan Brian yang tengah menggenggam ponselnya, diikuti juga oleh Ben yang sama-sama ingin melihat hasil jepretan fotonya barusan.
“aku juga, aku juga..” seru Ben penuh antusias.
Seperti biasa Andheera hanya berdiam diri menunggu mereka selesai agar bisa masuk ke resto bersama.
Hingga ada seseorang dari dalam yang terlihat seperti salah satu staff dari resto menghampiri sang badut, kemudian memberikannya sebuah nasi bungkus.
“Luna kau boleh istirahat untuk makan 20 menit ya, ini jatah makanmu.” Tak menunggu lama sang badut itu langsung menerima nasi bungkus jatah makan siangnya.
Karena merasa sudah cukup Brian dan kedua bocah itu berjalan masuk sembari saling merangkul layaknya sudah berteman bertahun-tahun, mereka terlihat begitu akrab dan tidak canggung sama sekali melewati Andheera yang dibiarkan sendiri berjalan dibelakang.
Namun ada satu hal yang terasa mengganjal dalam hati Andheera, ketika ia hendak masuk menyusul langkah teman-temannya yang sudah lebih dulu masuk, kedua mata tajam Andheera tak bisa mengalihkan pandangannya pada sang badut yang bersiap untuk membuka kepala boneka yang menutupi seluruh kepala serta wajahnya.
“dia sangat cantik tapi kenapa dia memilih pekerjaan seperti ini.” gumam Andheera.
Sampai beberapa menit Andheera terus memperhatikan wanita badut itu yang mulai menyantap nasi bungkusnya dimeja luar resto, wanita itu mempercepat suapannya entah karena ia tengah kelaparan ataukah memang ia harus menghabiskan makanannya dengan cepat. Tapi satu hal yang pasti raut wajah itu benar-benar mengusik dirinya.
***
Bersambung...
__ADS_1