Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]

Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]
Episode 44


__ADS_3

Gazebo depan rumah Andheera.


Gadis cantik itu tengah duduk sendirian di temani dengan secangkir teh hangat buatanya sendiri, selagi menunggu pamannya, gadis berparas cantik itu melamun untuk beberapa saat sebelum akhirnya satu pesan masuk di ponselnya membuat ia tersadar, kemudian lengannya meraih ponsel yang ia letakan di atas meja.


#maafkan aku, tapi bisakah berikan aku kesempatan untuk bersamanya lebih lama.# isi pesan tersebut yang di kirim oleh teman baiknya itu yang menggantikan dirinya untuk menemani Brian.


Andheera hanya menghela nafas panjangnya, kemudian menaruh kembali ponselnya di atas meja tanpa membalas pesan dari Vivian, sebab ia sendiri tak tahu harus menanggapinya bagaimana jadi dia hanya membiarkannya.


“apa yang kau fikirkan Andheera?”


“ahhh tidak..” Andheera sedikit terkejut dengan kemunculan pamannya yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.


“kapan kakak ku sadar?” tambahnya saat pamannya duduk disampingnya kemudian meletakan kotak yang berisi peralatan medisnya.


“jika tidak malam ini mungkin besok pagi, kau yang menyuntiknya?” tanyanya lagi.


 “heemm, apa dia akan baik-baik saja.” Gumam Andheera dengan tatapan kosong ia melihat ke arah taman bunga yang berada dihadapannya.


“seharusnya kau khawatirkan dirimu sendiri, lihatlah tanganmu ini.” Ujar pamannya yang bernama Oliver, seraya menarik tangan Andheera untuk melihat lebih jelas luka yang didapatkan Andheera setelah menyelamatkan kakaknya tadi pagi.


Adik dari ayahnya itu kemudian membuka kotak peralatan medisnya, ia berniat untuk menjahit luka keponakan perempuannya yang terlihat cukup dalam. Untungnya kali ini Andheera menurut tidak melakukan perlawanan pada pamannya yang hendak menjahit luka ditelapak tangannya.


“paman sudah menemukan jawabannya?” tanya Andheera.


“jawaban apa?” Oliver yang tengah menjahit luka Andheera malah balik bertanya karena pertanyaan Andheera yang ambigu ia bingung dengan apa yang Andheera maksud.


“penyebab kecelakaan 11 tahun yang lalu.” Jelas Andheera membuat Oliver terhentak sesaat menghentikan aktifitas menjahitnya.


“hey ayolah!! paman ini seorang dokter bukan detektif, tugasku mengobati pasien bukan menyelidiki kasus.” Protesnya lalu kembali melanjutkan aktifitas menjahitnya.


“paman sudah berjanji bukan?” kata Andheera mencoba mengingatkan Oliver akan janjinya di masa lalu.


“oke oke baiklah, paman akan menyelidikinya kembali, tapi kau juga harus janji apapun yang terjadi kau tidak boleh membalasnya.” Ujar Oliver.


“kenapa kau tak menjawab?” tambah Oliver milhat Andheera yang mengabaikannya.


“sudah berapa lama paman disini?” Andheera pura-pura tak mendengar dengan mengubah topik pembicaraannya.


“huhh kau ini.” meski sedikit kesal namun ia tak bisa memaksa Andheera dan hanya membiarkannya.


“dari sebulan yang lalu mungkin.” Katanya lagi lalu menyelesaikan jahitan nya dengan rapi serta memasukan kembali peralatannya ke kotak medisnya.


“paman kesini untuk mencari Ben?” tebak Andheera.


“apa kau tahu keberadaannya?” Oliver malah balik bertanya.


“tidak.” sahut Andheera.


“kau yakin? Bukankah kau paling dekat dengannya dia pasti selalu mengabarimu kan.” Kata Oliver yang tak percaya pada perkataan keponakannya itu.


“menyerahlah paman, Ben sudah benar-benar membencimu.”


“apa kita tak bisa saling membantu, paman akan menyelidiki kasus kecelakaan itu dan kau membantu paman untuk bertemu kembali dengan Ben, oke.” Ujarnya mencoba untuk melakukan pertukaran yang saling menguntungkan.


“padahal paman sendiri yang membuat kekacauan kenapa harus melibatkanku.” Gumam Andheera pelan.


“paman bahkan belum sempat meminta maaf padanya, Andheera, paman juga sangat merindukannya.” Rengeknya seraya menunjukan ekspresi semenyedihkan mungkin, agar gadis yang tengah dihadapannya itu merasa iba padanya.

__ADS_1


“iya iya berhentilah merengek seperti itu.” Ujar Andheera yang kembali menyeruput teh hangatnya.


“kenapa paman harus melakukan hal bodoh saat itu.” tambahnya lagi, seolah ia benar-benar sangat menyesal dengan apa yang ia lakukan dimasa lalu.


“paman baru menyadarinya?” celetuk Andheera.


“tak bisakah kau menghibur paman mu yang malang ini, paman benar-benar sedih sekarang.” rengek Oliver seperti bocah yang tengah merajuk pada ibunya.


“paman fikir hanya paman yang memiliki masalah?!


Sampai paman menemukan jawabannya, aku tak akan mempertemukan paman dengan Ben.” Tegas Andheera kemudian lebih dulu pergi meninggalkan Oliver yang masih duduk sendirian di Gazebo.


“Aisssh!! Apa dia benar-benar seorang gadis remaja, ucapannya sangat tak terduga.” Oliver menggerutu seraya menatap tajam punggung Andheera yang berjalan menjauhinya.


***


Tempat wisata Dunia Fana (Dufan).


“wahana apa yang ingin kau naiki lebih dulu?” tanya Brian pada gadis yang berdiri disampingnya.


“bagaiamna kalau komedi putar atau istana boneka.” Respon Vivian yang terlihat sangat antusias sekali.


“tunggu, apa itu ngga kekanak-kanakan? kita jauh-jauh kesini hanya untuk naik komedi putar.” Sahutnya tak percaya dengan jawaban dari Vivian.


“karena aku yang bayar jadi semua terserah aku.” Katanya seraya menatap tajam kedua bola mata Brian.


“iya baiklah kau saja yang naik, aku terlalu malu untuk naik wahana anak-anak itu.” Ujarnya dengan nada malas.


“ayolah, kakak bilang ingin menuruti keinginanku.” Vivian menarik paksa lengan Brian hingga sampai ke antrean wahana komedi putar yang dipenuhi dengan anak-anak SD.


Meski di paksa sekalipun oleh Brian, Vivian tetap konsisten pada pendiriannya jika ia tidak akan pernah mencoba menaiki wahana yang mengancam nyawanya.


Sampai..


Tak terasa waktu sudah berlalu begitu cepat seiring dengan rasa lelah yang mulai menjalar ke seluruh tubuh Brian, lain halnya dengan Vivian, gadis itu tampak masih semangat untuk bermain lebih banyak wahana lagi.


Namun karena Brian sudah sangat kelelahan tak bisa mengikutinya lagi, akhirnya vivian pun menyerah, kemudian mereka duduk di kursi dibawah pohon rindang untuk beristirahat sejenak sembari meminum minuman yang dibeli oleh Vivian.


“sepertinya aku sudah sangat lelah.” Gumam Brian seraya meneguk beberapa kali minuman yang diberikan Vivian.


“iya baiklah kita pulang, aku juga harus kumpul osis 1 jam lagi.” Sahut Vivian yang juga ikut meneguk minumannya beberapa kali.


“amm, Vivian..” panggil Brian seraya menutup botol minumannya.


“iya.” Sahut Vivian, lalu menoleh ke arah Brian untuk menunggu kalimat yang ingin Brian katakana padanya.


“maafkan aku.”


“untuk apa?” tanya Vivian bingung seraya menutup botol minumannya lalu mletekannya di samping.


“aku selalu berfikir buruk tentangmu bahkan sampai kemarin pun kata-kataku masih selalu menyakitimu.” Lanjut Brian.


“gak apa-apa karena apa yang kakak katakan memang benar kok.” Katanya seraya menyunggingkan senyum cerah seperti biasanya.


“pokoknya mari kita berteman dari awal lagi dan saling mendukung okaaay.” Serunya sembari mengulurkan tangannya untuk mengajak Vivian bersalaman.


“tentu..” dengan senang hati, Vivian pun menerima uluran tangan Brian serta senyum lebarnya.

__ADS_1


***


Kamar Andromeda.


Baik Oliver maupun Andheera, masih menunggu di kamar Andromeda sembari melakukan percakapan sederhana mereka saling bergantian mengawasi Andromeda yang masih belum sadarkan diri.


“apa kau masih tak mau percaya pada kakak mu.” Ucap Oliver dengan tatapan yang mengarah pada lelaki yang tengah tertidur pulas diranjangnya.


“aku hanya.. tak ingin mengambil resiko terburuknya.” Sahutnya kemudian menaikan kedua kakinya ke atas sofa agar bisa memeluknya.


“bagaimana denganmu?”


“aku baik-baik saja.” Jawabnya yang ikut mengarahkan pandangannya pada Andromeda.


“kalau kau sudah kelelahan, lebih baik membaginya Andheera, jangan terus menyimpannya sendirian.” Tambah Oliver.


“aku sudah membaginya dengan ayah.” Katanya dengan nada datar.


“benarkah lalu bagaimana responnya?” respon Oliver tampak bahagia akhirnya keponakannya itu mau terbuka pada orang lain selain dirinya.


“hanya diam, seperti tidak ingin percaya hahaha.” Sahutnya diiringi dengan tawa menyedihkan diakhir kalimatnya.


“kau masih bisa tertawa?” ujar Oliver yang tak mengerti dengan jalan fikiran keponakannya.


“lalu?! paman ingin aku menangis di pojokan.. ciiih..?” seru Andheera seraya memutar kedua bola matanya untuk menanggapi perkataan pamannya.


Dreed.. dreedd ponsel Andheera bergetar dalam saku celana jinsnya, membuat percakapan diantara mereka terpotong sebab Andheera harus mengangkat telfon saat itu juga. Ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya yang tak lain adalah teman baiknya Vivian.


#apa?# tak ingin berbasa-basi, gadis kasar itu langsung menanyakan tujuan temannya menelfon dirinya.


#temani aku membeli komik.#


#bukannya kau sedang bersama kak Brian?# tanya Andheera yang kemudian menurunkan kedua kakinya serta mencoba duduk dengan benar.


#aku sudah berpisah dengannya dari beberapa jam yang lalu, karena aku harus menghadiri rapat osis.# katanya lagi


#dengan temanmu yang lain saja, aku sibuk.# sahut Andheera yang hendak mematikan telfonnya seperti yang ia lakukan di pagi hari.


Namun…


#oke ku tunggu kau di depan sekolah 30 menit lagi bye.# beep telfon ditutup begitu saja.


“sial, dia membalasku!!” umpatnya seraya memandangi tajam layar ponselnya.


“ada apa?” tanya Oliver yang kembali mengajak ngobrol Andheera.


“tidak, aku akan pergi sebentar, sebaiknya paman juga pulang sebelum ayahku pulang, bi Dharma yang akan menjaga Andromeda nanti.” Ujarnya kemudian pergi.


 “hmm, aku akan pulang sebentar lagi.” Sahut Oliver.


“oke aku pergi.” Pamit Andheera seraya menutup pintu kamar.


“iya hati-hati Andheera.” sahut Oliver lagi meski Andheera sudah keburu menghilang dari pandangannya.


***


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2