Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]

Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]
Episode 22 (Video call)


__ADS_3

Dari dalam Kafe, Andheera melihat jelas Vivian turun dari mobil Brian, sebab dinding kafe terbuat dari kaca.


Entah perasaan apa yang harus ia rasakan saat ini, kecewa, cemburu, sakit, terkhianati atau bahagia. Perasaannya bercampur aduk, namun ia tetap tak bisa menunjukannya dalam ekspresi di wajahnya.


Andheera lebih memilih diam dan terus memandang ke arah luar, hingga mobil Brian pergi meninggalkan Vivian yang masih berdiri di depan kafe, menunggu Brian menghilang dari pandangannya.


Andheera memang tak bisa mengekspresikan perasaan di wajahnya, ia hanya akan terus menatapnya dengan tatapan kosong hingga ada seseorang yang menyadarkannya. Kakak lelakinya yang saat itu tengah menikmati makanannya merasa ada yang aneh dengan tatapan Andheera.


“Andheera, kau baik-baik saja?” Andromeda menepuk bahu Andheera membuat adiknya tersadar dan berhenti memandangi temannya yang berada diluar.


Namun sekilas, Andheera merasa ada yang aneh, seperti ada seseorang jauh diseberang tengah memperhatikan Vivian, pandangan Andheera tertuju kembali keluar kafe untuk mencari seseorang yang mencurigakan.


Instingnya benar-benar yakin jika orang itu tadi ada disana, tapi setelah Vivian membalikan badannya berjalan masuk ke dalam kafe, orang itu menghilang hanya dalam hitungan detik membuat Andheera gusar hingga memutuskan untuk mencoba mencarinya keluar.


“dheera kau disini, kau pakai bajuku?” sapa Vivian saat mereka berpas-pasan di dekat pintu.


Seolah Andheera hanya terpaku pada satu tujuan, ia tak mendengar sapaan dari Vivian, dan terus berjalan keluar dengan tatapan tajamnya, ia masih mencari sosok laki-laki yang mencurigakan tadi.


“dia kenapa sih.” gumam Vivian kebingungan karena sikap aneh Andheera.


“Vivian! “panggil Andromeda sembari melambaikan tangannya ke arah Vivian yang masih berdiri di dekat pintu masuk, Vivian membalas lambaian tangan Andromeda lalu berjalan menghampiri mejanya.


“kenapa kalian tidak pulang bareng? Kalian berantem lagi?” sambung Andromeda masih sambil mengunyah makanannya.


“aku piket, terus ada rapat pemilihan anggota osis juga disekolah jadi aku pulang telat. Oiia, tadi aku lihat Andheera keluar mau kemana?” tanya Vivian lalu duduk di sebelah Andromeda dan meletakan ransel di kursi sebelahnya yang kosong.


 “entahlah, sejak tadi dia cuma diam, kakak seperti bicara dengan tembok, apa dia diputuskan pacarnya?” gumam Andromeda meski mulutnya dipenuhi makanan namun ia tetap menjawab pertanyaan Vivian dengan baik.


“Andheera gak pernah diputusin kakak, malah dia yang selalu mutusin cowonya karena bosan.” ujar Vivian lalu menyender dikursi seraya melipat kedua tangan diatas dadanya.


“benarkah, waaah adikku hebat.” Andromeda memuji adiknya dengan penuh kebanggaan.


“kau bangga adikmu menyakiti banyak hati cowo, bagaimana jika kakak yang kena karma!” tukas Vivian seraya memutar bola matanya, karena ia tak menyangka dengan respon Andromeda yang diluar dugaan, malah mendukung sikap adik perempuannya yang buruk.


“itu tak kan terjadi.” sahutnya sangat percaya diri tanpa melepas perhatiannya dari makanan.


“kenapa?” Vivian mengernyitkan kening.


“ya.. karena kakak tak memiliki pacar, jadi gak mungkin diputusin kan ahhaahaa!!” jawab lelaki polos itu semakin menambah buruk mood Vivian.


Vivian menyipitkan matanya menatap tajam wajah menyebalkan Andromeda, tak ingin menguras tenaga hanya untuk menanggapi Andromeda, Vivian pun akhirnya mengalah dan membiarkan Andromeda.


“hmm.. ini tokpoki Andheera?” tanya Vivian sembari melirik ke arah tokpoki yang tak bertuan dihadapannya.


#Tokpoki makanan yang berasal dari Korea selatan yang terbuat dari kue beras.


“iyaa, kau mau?” ucap Andromeda.


“pasti rasanya hambar, gak enak aah, aku ingin minta milik kakak saja.” Vivian mengambil garpu di piring tokpoki temannya lalu berniat mengambil satu tokpoki milik Andromeda.

__ADS_1


Namun refleks Andromeda menepuk punggung tangan Vivian, sebelum garpunya menyentuh tokpoki miliknya, tanda ia tak ingin membaginya dengan Vivian, gadis malang itu hanya bisa mengigit garpu karena tak berhasil mengambil tokpoki milik Andromeda.


“kau minta tambahkan bumbu pedas saja ke tokpoki milik Andheera, lagipula Andheera sepertinya tak akan kembali tuh.” ujar Andromeda memberikan saran untuk Vivian, alih-alih membagi tokpoki miliknya.


“kau pelit sekali!” gumam Vivian seraya menatap Andromeda tajam.


”kak Risa.. (Vivian memanggil salah satu karyawannya) tolong tambahkan bumbu pedas pada tokpoki ini yaa.”pinta Vivian sembari menyodorkan piring yang berisikan tokpoki.


“baik, nona..” karyawan itu pergi dengan membawa piring tokpoki untuk menambahkan bumbu pedas pada tokpoki milik Andheera.


“kau ambil bidang apa di anggota osis?” tanya Andromeda.


“ammm, sekbid olahraga.” selagi menunggu tokpoki, Vivian mencoba minuman milik Andheera.


“kau yakin, kau saja tak pernah berolah raga, lihat tubuhmu tuh semakin bergelambir hahaha.” ledek Andromeda kemudian membereskan alat makan setelah menghabiskan tokpoki satu porsi yang tampak seperti 2 porsi.


“astaga kakak mulutmu itu huuuh, kakak pulang kerja langsung kesini?” tak ingin menanggapi ledekan kakak dari temannya itu, Vivian memilih topik yang lain untuk dibicarakan.


Gleeekk .. Andromeda minum seteguk sebelum menjawab Vivian. “tahu darimana?”


Karyawan Vivian datang membuat obrolan mereka tertunda sejenak. “topokinya nona, pedas level 5.” Ujarnya sembari meletakan piring tokpoki di atas meja.


“iya, terimakasih kak Risa, oia kak Risa tolong bawakan ranselku taruh saja diruangan kak Hani ya, terimakasih.” pinta Vivian sembari menyodorkan ransel pada karyawan Hani, dengan snyum ramah karyawan itu membawa tas Vivian menuju ruangan Hani seperti permintaannya.


“itu tas mu, pasti isinya laptop dan kamera, besar sekali.” lanjut Vivian kembali mengobrol dengan Andromeda.


Vivian melihat tas besar Andromeda yang ia letakan dibawah meja.


“pasti senang sekali memiliki kakak yang penuh kasih sayang sepertimu.” ujar Vivian seraya mulai menyantap tokpoki.


“tapi.. kakak rasa Andheera malah sebaliknya.” Andromeda meregangkan tubuhnya sejenak.


“itu karena kakak terlalu over padanya, dia sudah 16 tahun berikan dia sedikit kebebasan.” giliran Vivian yang kini bicara sembari mengunyah makanannya.


“kakak kan sudah membiarkan Andheera menginap ditempatmu, memangnya salah jika kakak menemuinya sekarang.” protes Andromeda karena merasa tak terima dibilang over protective.


“belum juga 24 jam kalian berpisah, kakak sudah merindukannya, bagaimana jika nanti Andheera menghabiskan banyak waktu dengan kekasihnya.” Celoteh Vivian membuat ekspresi di wajah Andromeda terlihat sangat kesal.


“aku akan membuat mereka putus.” jawabnya sembari menaikan satu alisnya seraya melipat kedua tangannya di atas dada.


“uuhuuukk.. uuhuuukk!! KAKAKA!!” Vivian tersentak dengan jawaban yang lagi-lagi tak terduga dari Andromeda.


“baru pertama kali aku mendengarmu berteriak Vivian.” Andromeda tampak tak suka Vivian berteriak padanya.


“itu karena…” Vivian menghentikan kalimatnya saat Andheera membuka pintu kafe, ia sedikit terkejut karena ia fikir Andheera takan kembali.


“kau darimana, Andheera?” tanya Vivian yang mengalihkan pandangannya dari lelaki yang berada dihadapannya.


“dimana tokpoki ku?” dan hal pertama yang Andheera katakan adalah keberadaan tokpoki miliknya yang kini menghilang dari meja.

__ADS_1


“ammm, ku pesan.. kan kem.. bali okee.” Vivian terbata-bata karena merasa bersalah sudah memakan yang bukan miliknya.


“kau memakannya!?” Andheera menaikan nada suaranya sembari menatap Vivian dengan tatapan tajamnya.


“hhhehee, ku pesankan kembali Andheera tenanglah, sekalian aku ganti baju dulu oke.” Vivian terlihat panik, kemudian berjalan cepat menuju kasir untuk memesankan tokpoki.


Meski raut wajah Andheera sedikit kesal, ia tak memiliki pilihan selain menurut dan duduk disamping Andromeda selagi Vivian memesankan kembali tokpoki milik Andheera.


“tadi kau kemana Andheera?” tanya Andromeda penasaran.


“kakak, bukannya kakak ingin menunjukan foto dan video kamaren?” Andheera mengalihkan perhatian Andromeda sealami mungkin.


“oiia, kau ingin melihatnya? tadinya kakak akan mengedit videonya cuma belum sempat.” ujarnya sembari mengambil laptop dari tas besarnya, Andheera pun mendekatkan kursinya agar bisa melihat dengan jelas, seakan gadis itu benar-benar perduli.


“disini omma dan Vivian sangat kompak sekali, mereka seperti nenek dan cucu beneran hhahaaa.” Seru Andromeda tampak sangat antusias juga bahagia.


“omma kan memang mengangkat Vivian sebagai cucunya.” Celetuk Andheera ngasal.


“benarkah, kakak tak pernah tahu tuh.” Kata Andromeda lengkap dengan raut wajah bingungnya.


“becanda.” Tambah Andheera datar.


Baru beberapa menit Andromeda memutar video ulang tahunnya kemarin, tak diduga ada video call masuk dari seseorang yang sudah lama ia tunggu kabarnya, raut wajah Andheera berubah seolah tengah mengingat wajah seseorang yang tak asing.


“bukannya ini ciwi bar-bar itu kan kakak yang menjambak rambutku?!” seru Andheera dengan ekspresi wajah yang tak bersahabat, Andromeda malah nyengir kemudian mengklik panggilan video call dari Tsuyu.


“hay!” sapa Andromeda malu-malu seperti baru pertama kali bertemu dengan gebetan, membuat Andheera terlihat eoh.


“hay.. kak meda, bagaimana kabarmu aku sangat sangat merindukanmu!!” gadis kecil di dalam video itu tak kalah antusias bisa melihat wajah lelaki yang disukainya.


“waaaah.. ada adik ipar hallow!!” tambah Tsuyu saat melihat Andheera berada disamping Andromeda.


Tak seperti Tsuyu yang menerima dengan baik kehadirannya sebagai adik ipar, Andheera malah tak menyambut hangat sapaan nya, gadis itu hanya melipat kedua tangan diatas dadanya dan menatap tajam Tsuyu untuk menunjukan rasa tidak sukanya.


“kau masih sama saja yaa, menyebalkan hahahhaa.” Goda Tsuyu membuat Andheera menaikan satu alisnya, sebelum adiknya terpancing, Andromeda buru-buru mencairkan suasana.


“aahh hhhahaa, kau baik-baik saja disana Tsuu? Libur sekolah nanti kau akan liburan disini kan?” sahut Andromeda mencoba untuk menengahi antara gebetan dan adiknya.


“kenapa? Kakak sangat merindukan ku yaa, tenang saja ku pastikan nilaiku bagus agar aku diijinkan pulang ke Indonesia.” Balas Tsuyu.


“okaaay belajar yang rajin yaa.” Kata Andromeda lembut.


TTUUTTTT.. sambungan dimatikan paksa oleh Andheera karena tak tahan melihat pemandangan yang eoh dengan santainya, seolah tak ada yang terjadi  ia mengeluarkan ponsel dan memainkannya, tak perduli dengan Andromeda yang siap mulai mengeluarkan bakat terpendamnya.


“OOH ****!! kakak sudah menunggu lama untuk ini!! karena dia terlalu sibuk untuk menaikan nilainya dia hampir tak ada waktu untuk menghubungi kakak dan setelah beberapa bulan dia baru menghubungi kakak lagi, tapi kau malah dengan seenak jidat mematikan sambungan Video call kakakmu sendiri apa kau tak ingin kakakmu bahagia hah?!”


Andromeda mengeluarkan kalimat dengan satu tarikan nafas, untung saja ia sudah selesai makan jadi Andheera hanya terkena cipratan jigong Andromeda sedikit haha.


Dengan santai Andheera mengambil tissue yang disediakan di atas meja, kemudian mengelap wajahnya yang kecipratan jigong Andromeda barusan.

__ADS_1


***


Bersambung…


__ADS_2