![Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]](https://asset.asean.biz.id/mimpi-dan-harapan--pov---andheera-.webp)
Akhirnya Yerim datang dengan membawa baki yang berisikan beberapa potong roti lengkap dengan minuman segar berwarna-warni.
Yerim menaruh roti dan minuman diatas meja, kemudian kembali kedalam untuk menyimpan bakinya sebelum ikut bergabung bersama kedua temannya.
“ini coba kau pasti suka, (Yerim menyodorkan roti ke dekat Andheera yang masih asyik bermain ponsel) apa perlu ku suapi?” tambah Yerim lagi, berniat menyuapi temannya itu namun ditepis kasar olehnya.
“aku hanya ingin minum.” Andheera mengambil salah satu minuman, lalu menyedotnya tanpa merasa bersalah karena sudah berlaku kasar pada Yerim.
“hmm,” Yerim menghela nafas mencoba sabar menghadapi sikap kasar Andheera.
“biarkan saja kalau lapar juga nanti dia makan.” timpal Vivian yang duduk disebelahnya sembari asyik melahap roti miliknya.
“begitu ya, baiklah, oiia apa kau sudah menyelesaikan PR Matematika? ada beberapa soal yang tak bisa ku jawab.” Yerim ikut menikmati roti yang dibawanya, dan membiarkan Andheera sejenak dengan dunianya sendiri.
“belum, hhahaa, aku malah tidak ingat kalau ada PR, nanti malam akan kukerjakan.” Balas Vivian.
“okaayy, nanti aku nyontek yaa hhahaa.” Seru Yerim dengan tawa lebarnya membuat beberapa remah roti yang tengah dikunyahnya berjatuhan.
Obrolan ringan antara Vivian dan Yerim tak membuat gadis kasar itu tertarik, ia lebih memilih memainkan ponsel dan menikmati minuman dingin rasa strawberry favoritenya.
“bukannya Hanyoora lebih jago Matematika, bahkan nilai Anha juga lebih tinggi dari aku.” Ungkap Vivian.
“eumm, hhehee.. (Yerim nyengir)
Hanyoora, dia tak akan mungkin memberikan jawaban, dia itu sangat pelit kalau menyangkut pelajaran, sedangkan Anha dia lumayan pintar di mata pelajaran yang lain, bukan dihitungan hhehhee.” Yerim menjelaskan seolah ia sudah lama mengenal Hanyoora dan Anha.
“benarkah, sepertinya kau terlihat dekat dengan Hanyoora dan Anha.” Vivian menyedot sedikit minumannya setelah banyak memakan roti.
“heemm, Anha teman SD ku dan Hanyoora teman SMPku, baik Anha ataupun Hanyoora, aku sering berada dikelas yang sama, jadi aku tahu kekurangan dan kelebihan mereka hihi. Oiia, ku dengar dari Anha kau dengan Andheera berasal dari SMP yang sama, kalian juga sangat dekat?” tanya Yerim tiba-tiba menyinggung nama gadis yang tengah asyik dalam dunianya sendiri.
“iyaa, tapi aku dekat dengannya karena satu kejadian yang tak terduga hhaahaa, aku juga tak pernah berfikir bisa berteman dengannya, padahal banyak yang ingin berteman dengannya karena dia terlihat cantik, modis dan elegan.” Tutur Vivian.
“Mereka fikir jika dekat dengan Andheera, mereka akan ikut popular juga disekolah, tapi coba tebak apa yang Andheera lakukan saat ada cewe yang mendekatinya?” sambungnya.
Baik Vivian maupun Yerim sangat menikmati obrolan hangatnya, bahkan mereka tak perduli jika yang di bicarakan berada didepannya, mereka tetap asyik membicarakan Andheera, seolah hanya ada mereka berdua disana, dan Andheera hanya sebuah dinding yang tak terlihat.
“eummm.. melototin??” tebak Yerim dengan penuh percaya diri.
“AHAHAAHAHA..!!!” tawa mereka serempak, sebab mereka memikirkan hal yang sama.
“haruskah kalian membicarakan orang yang ada didepan kalian?” akhirnya Andheera bereaksi, dengan tatapan tajam ia melipat kedua tangan diatas dada dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“bukankah bagus bicara didepan daripada kita bergosip dibelakangmu hhahaaa!!” tampaknya kini Vivian tak lagi berada dipihaknya, ia terus melempar ledekan untuk Andheera, yang membuatnya geram.
__ADS_1
“sialan..!!” umpat Andheera lalu mendekatkan tubuhnya kembali untuk menyedot minumannya.
PLAAKK.. tiba-tiba Vivian menaplok bibir Andheera sebelum sempat menyedot minumannya, Vivian tak suka karena mulut kasar Andheera selalu digunakan untuk hal buruk.
“HEY!!” teriak Andheera siap untuk mengeluarkan umpatan-umpatan yang lebih ganas.
Namun tak sempat, karena Yerim keburu memasukan paksa roti ke dalam mulut Andheera, membuat gelak tawa antara Vivian dan Yerim kembali menggema disudut ruangan, Vivian dan Yerim terlihat kompak menjahili Andheera.
Entah kenapa meski dalam hatinya Andheera benar-benar kesal, namun ketika ia melihat Vivian tertawa bahagia bersama Yerim, Andheera terdiam sembari terus memandangi Vivian dengan tatapan tak biasa.
Ruangan gelap yang Andheera bangun sejak lama, kini sudah ada yang menemukannya, mereka berusaha mencoba mengetuk pintu Andheera, membujuk Andheera agar mau membukakan pintu hingga mereka bisa mengulurkan tangannya, dan menarik dirinya keluar dari ruangan gelap yang selama ini mengurungnya sendirian.
“eehh, Jessy Joan kalian sudah pulang?” seru Yerim, melihat kedua adik kembarnya baru pulang dari sekolah, refleks Andheera ikut menoleh melihat kedua adik kembar Yerim yang melambaikan tangan, lengkap dengan senyum cerahnya mereka berjalan munuju ruang panggang roti.
“mereka terlihat seumuran dengan Ben.” fikir Andheera sembari melihat kedua adik kembar Yerim sampai masuk kedalam 1 ruangan.
“waaahh, kau punya adik? Mereka tak pulang kerumah?” tanya Vivian sembari ikut memperhatikan kedua adik kembar Yerim yang menggemaskan.
“iyaa adiku kembar non identik, kadang mereka membantu kedua orang tuaku untuk mengantar pesanan roti sepulang sekolah atau saat libur seperti ini, biasanya sih bertiga ada 1 temannya yang suka ikut mengantar mungkin hari ini dia ga ikut.” jawab Yerim.
“kau kenapa malah diam disini?” tanya Vivian lagi, Andheera hanya menjadi pendengar setia obrolan kedua temannya.
“tugasku membuat roti bukan mengantar hhehehe.”
“kakak macam apa yang membiarkan adik nya bekerja diluar, sedangkan kau enak bekerja didalam huuh.” ujar Vivian merasa kasihan pada adik kembar Yerim yang bekerja diluar, sementara Yerim sendiri didalam ruangan.
“begitu rupanya,kalau dilihat-lihat Joan mirip seperti Idol kpop loh dia sangat tampan, eummm..” Vivian mencoba berfikir keras mengingat satu nama.
“Jaemin..” kata Yerim lengkap dengan senyum lebarnya.
“yuppss, waahh andai aku punya adik atau kakak yang tampan.” gumam Vivian sembari menopang dagu dan mengaduk minumannya dengan sedotannya.
“kalau begitu kau bisa meminta kedua orang tua mu untuk membuatkan adik hhehehe.”celetuk Yerim diiringi tawa renyahnya, niat hati ingin bercanda namun Yerim tak mengetahui jika Vivian adalah Yatim piatu.
“kedua orang tuaku sudah tak ada hhehee.” Sahut Vivian, berusaha mungkin ia tak ingin menunjukan rasa sedihnya agar Yerim tak merasa bersalah, karena telah mengungkit kedua orang tuanya yang sudah tiada.
“maaf.. maaf aku ngga bermaksud maafkan aku Vivi..” kecanggungan pun tak dapat terhindarkan, mendadak hati Yerim membeku tak tahu apa yang harus dikatakan selain meminta maaf.
Andheera yang sedari tadi hanya diam, kini ia menunjukan ekspresi menyeringainya, seolah tak terima jika temannya terluka, seraya bersiap untuk bangkit dari kursinya.
“iyaa gak apa-apa, aku udah baik-baik aja.” Kata Vivian lembut.
Vivian melihat Yerim menggigit bibir bagian bawah, mungkin karena itu kebiasaannya jika ia merasa bersalah, meski dia tampak kuat dan ceria dari luar, namun siapa sangka hanya karena kesalahan sepele ia bisa meneteskan air matanya.
__ADS_1
Tak tega, Vivian pun kemudian menggenggam kedua tangan Yerim, lalu memaksakan senyum palsu meghiasi wajahnya yang bulat, ia ingin menenangkan Yerim yang terus merasa bersalah.
Seolah tengah melihat adegan dalam drama melow, Andheera menyentakan kedua tangan ke atas meja lengkap dengan senyum penuh arti.
“kalau kau masih mau disini silahkan, aku pulang duluan.” Andheera bangkit dari tempat duduknya sembari memandangi tajam wajah Vivian, seolah tengah menyuruh Vivian untuk pergi dan menghentikan obrolan yang tak penting ini.
***
“maaf, pasti kau tak nyaman karena ucapanku tadi yaa, maafkan aku.” Yerim mulai tak bisa menahan tetesan air mata yang semakin berderai membasahi pipinya karena merasa bersalah.
“itulah kenapa seharusnya, kita tak usah merasa sok dekat dengan orang asing jika belum benar-benar mengenal.” senyum itu, iyaa senyum yang selalu membuat orang-orang takut dan menjauh darinya.
Meski pada awalnya Yerim mulai merasa bisa mendekat pada gadis kasar itu, namun setelah kejadian ini, Yerim kembali mundur tak berani untuk mengetuk pintu Andheera.
“Andheeraaa..!!” panggil vivian mencoba menghentikan langkah temannya, namun sepertinya Andheera sama sekali tak perduli ia terus berjalan keluar meninggalkan Yerim dan Vivian.
“hiikksss..“ Yerim menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangannya takut jika kedua orang tuanya tahu dia menangis.
“maafkan aku, aku tak bermaksud mengingatkanmu,” tambah Yerim ditengah isakan tangisnya.
“iyaa sudah tak apa Yerim (Vivian mendekap Yerim seraya menepuk pelan punggung Yerim)
ini bukan salahmu, wajar saja kau kan tak tahu dan maafkan sikap Andheera yaa, dia memang tak memiliki hati.” Ujar Vivian yang terus mencoba menenangkan Yerim.
Meski Vivian sudah mencoba menenangkan hati Yerim, namun tetap saja tak bisa membuat tangis Yerim mereda dengan cepat, ia masih terisak dalam dekapan Vivian sembari terus mengucapkan kata maaf dengan lirih, sampai baju Vivian basah terkena air mata sekaligus ingus Yerim.
Sementara itu Andheera sudah menghilang dari pandangn Vivian, ia pergi begitu saja seakan tak ada yang terjadi. Padahal dia sudah membuat anak orang menangis karena ucapannya yang tajam, namun seperti biasanya Andheera tak tampak bersalah sedikitpun.
“kau tahu, (Yerim sudah merasa lebih baik, ia melepas pelukan Vivian) Andheera mati jika tak memiliki hati.” senyum tipis Yerim kembali menghiasi wajahnya yang manis sembari menyeka air matanya, gadis mungil itu mencoba memaklumi sikap kasar Andheera, Vivian sedikit lega Yerim tak terus larut dalam kesedihannya.
Mereka berdua kembali saling melempar senyum manis. “sepertinya Andheera memang tak menyukaiku.” lanjut Yerim.
“Andheera bersikap kasar pada semua orang bahkan orang yang lebih tua sekalipun, Andheera hanya baik pada lelaki tampan.” Celoteh Vivian diiringi dengan tawa renyahnya.
“benarkah? Jadi aku harus operasi gender agar bisa diakui oleh Andheera.” respon Yerim tak terduga, ia menanggapi serius celotehan Vivian.
“hey, meski kau operasi gender kau tidak tampan sama sekali.” goda Vivian.
“kalau begitu aku harus operasi plastik juga.” Yerim benar-benar tak bisa di ajak bercanda, membuat Vivian menggelengkan kepala.
“Yerim bukan begitu maksudku, kau ini!!” Vivian meninggikan suaranya ketika Yerim bertindak seperti orang polos namun terlihat bodoh.
“segitu inginnya kau berteman dengan Andheera huhh.” Gumam Vivian setengah berbisik.
__ADS_1
***
Bersambung…