![Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]](https://asset.asean.biz.id/mimpi-dan-harapan--pov---andheera-.webp)
-Kilas balik 4 tahun yang lalu.
Sejak umur 8 tahun Vivian sudah dirawat dipanti asuhan karena kebakaran yang terjadi di kediamannya, gadis kecil itu beruntung karena berhasil selamat, namun sayangnya ia harus merelakan kedua orang tuanya pergi dalam waktu bersamaan.
Berusaha tegar gadis kecil itu selalu menyembunyikan kerinduan dan kesedihannya dibalik senyum dan tawa palsunya, meski begitu ia tidak benar-benar sendiri selain orang-orang di panti yang sudah seperti keluarga baginya, ia juga memiliki Kak Hani yang kini menggantikan ayah Vivian untuk mengelola Kafe milikinya, sebelum Vivian sudah cukup umur dan siap untuk mengambil alih Kafe peninggalan ayahnya.
Di panti asuhan juga Vivian mengenal Brian dan adiknya Tsuyu, mereka bertetangga lalu berteman baik, taman bermain belakang panti selalu menjadi tempat mereka menghabiskan waktu bersama anak-anak panti lainnya.
Sampai 4 tahun kemudian ada seorang Kakek yang tak lain adalah Kakek Vivian datang ke Panti asuhan berniat untuk membawa Vivian. Karena Vivian sangat perduli dengan masa depan dan juga pendidikannya, ia terpaksa harus ikut dengan Kakeknya meninggalkan semua teman-teman baiknya di panti.
Saat itu kepergian Vivian, Vivian dan Tsuyu tengah bermain ayunan dibelakang panti asuhan.
“kak Vivi yakin mau pergi?” tanya Tsuyu seraya mengayunkan ayunannya pelan.
“iya kalau aku ikut dengan kakek mungkin aku bisa sekolah di tempat yang lebih baik dan memiliki masa depan juga karena semua kebutuhanku akan kakek penuhi.” Tuturnya.
“padahal meski kak Vivi tetap tinggal pun masih bisa sekolah kan? kak Vivi gak harus meninggalkan semua teman-teman kakak disini terutama kak Brian, dari kemarin kak Brian keliatan murung sampai gak mau keluar kamar begitu denger kabar kak Vivi mau pergi.” Kata Tsuyu lagi masih mencoba untuk menahan Vivian.
“aku kan masih bisa mengunjungi kalian kesini gak seperti aku akan pergi jauh dan melupakan kalian bukan?” balas Vivian yang tetap pada keputusannya.
“iyaa sih, tapi bener ya kak Vivi janji mau berkunjung setiap akhir pekan oke?” Tsuyu mengacungkan jari kelingkingnya, seperti pada umumnya orang-orang mengikat janji dengan menautkan sesame jari kelingking.
“oke!” seru Vivian dengan senang hati ia menyambut kelingking kecil Tsuyu bersamaan dengan senyum termanis yang ia miliki.
***
Sementara itu di Rumah sakit Haneul Jakarta.
Andheera berjalan melewati lorong rumah sakit pandangannya hanya tertuju pada satu ruangan, sampai ia tak sadar jika telah berpas-pasan dengan Hyunjie, begitupun dengan Hyunjie karena kondisi hatinya yang kurang baik ia hanya melewati Andheera begitu saja.
Ruangan Lyra, gadis itu terus berjalan perlahan mendekati ranjang Lyra lengkap dengan raut wajah yang membingungkan bagi Lyra, sebenernya apa yang tengah terjadi pada gadis tersebut, hingga ia harus berkunjung di waktu yang sudah larut.
“kau baik-baik saja?” tanya Lyra yang terkejut akan kehadiran Andheera.
“heemm, aku hanya tak pernah menduga jika ternyata selama ini dia menyayangiku, aku hanya mengkhawatirkan hal yang tidak berguna.. hikss.” Terdengar suara isakan pelan Andheera yang tengah menundukan kepala menahan rasa yang berkecamuk dalam hatinya, hingga air mata haru pun tak dapat ia hindarkan.
Melihat kondisi Andheera yang seperti itu membuat hati Lyra ikut merasakan sakit, tangannya mencoba meraih tangan Andheera yang tampak gemetar, kemudian menarik lalu memeluknya erat, tak terduga suara isakan itu semakin menjadi kala Lyra mengelus-elus punggung Andheera dengan penuh kelembutan.
Hiksss.. hikksss.. hikkss.. kali ini Andheera benar-benar mengeluarkan semua rasa pedih, sakit, luka dimasa lalu dalam dekapan hangat Lyra. Kedua tangan ramping Andheera menggenggam erat baju rumah sakit yang dikenakan Lyra.
“tidak apa-apa Andheera kau sudah melaluinya dengan baik.” Sebuah kalimat yang mampu menenangkan hati Andheera dimalam itu.
Malam yang panjang bagi 2 gadis remaja yang mulai beranjak dewasa, lain halnya dengan Andheera yang menangis karena bahagia, Vivian teman baiknya harus merasakan sakit nya patah hati sebab ia harus menyerah akan cintanya.
Sepanjang perjalanannya di dalam Bus, air matanya tak bisa berhenti mengalir, meski gadis manis berpipi gembil itu sudah mencoba untuk menahannya sekuat tenaga, namun sayangnya rasa sakit dalam hatinya tak dapat ia sembunyikan.
Dan di waktu yang bersamaan juga Andheera masih menangis dalam dekapan Lyra membiarkan dirinya terlihat lemah kali ini di depan Lyra.
***
__ADS_1
Keesokan harinya (Kamar Andheera).
Tok.. tok suara ketukan pintu diluar terdengar begitu nyaring tanpa menunggu respon dari Andheera seseorang dibalik pintu itu membuka pintu kamar Andheera. Ia mendapati adiknya itu tengah duduk di depan meja rias seraya menyisir rambutnya yang semakin hari semakin panjang.
“Andheera pulang jam berapa tadi malam, kok Kakak gak liat kau datang sampai Kakak ketiduran di sofa ruang tamu.” Katanya seraya membuka perlahan pintu kamar adiknya.
“aku bertemu dengan teman sekelasku ditoserba, jadi aku mengobrol sebentar dengannya, mungkin saat aku pulang Kakak sudah tidur.” Karang Andheera sebab tak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya jika ia pergi ke rumah sakit, akan sangat panjang menjelaskannya.
“begitu? baiklah ayo turun kita sarapan bersama.” Ujarnya seraya memegang handle pintu.
“hmm..” respon Andheera datar.
“Kakak juga sudah menyiapkan bekal untukmu masih ada sisa daging yang kemarin.” Tambahnya lagi.
“Kakak.. mulai sekarang aku akan makan di Kafetaria sekolah.” Sahut Andheera seraya menoleh ke arah kakaknya dengan senyum tipis yang terukir diwajahnya.
“benarkah?” seru Andromeda.
“hmm..” lagi-lagi Andheera hanya meresponnya dengan dehaman.
“oke baiklah, sepertinya kau sudah mendapat teman selain Vivian, Kakak senang kau mulai membuka dirimu Andheera.” katanya sangat antusias sekali mendengar adiknya itu sudah mulai memliki teman lain selain Vivian.
“tapi tunggu, kedua matamu apa kau menangis tadi malam?” sambung Andromeda saat ia menyadari wajah adiknya sedikit sembab dan juga kedua matanya yang membengkak seperti orang yang sudah menangis.
“iya.” Sahut Andheera.
“kenapa kau menangis? siapa yang membuatmu menangis bilang pada Kakak siapa orangnya yang berani membuat adik cantik Kakak menangis?” Andromeda berjalan cepat untuk menghampiri adiknya serta mengamati wajah Andheear dari dekat.
“benarkah?”
“hmm, apa ayah sudah pergi?” Andheera mencoba membelokan arah pembicaraannya.
“iya barusan, kau yang kesiangan.” Ujar Andromeda.
“sudah kubilangkan aku menonton drama Kakak, aku gak lihat jam.”
“kalau begitu cepatlah, Kakak antar kau ke sekolah kalau kau bawa sepeda kau akan terlambat.” Seru nya kemudian berjalan keluar lebih dulu.
“hmm..”
***
SMA Kirin School Jakarta.
Tak seperti biasanya kini penampilan Andheera sedikit berubah begitu juga dengan aura yang ia pancarkan, ia terlihat lebih ceria dan lebih manis dengan membiarkan setengah dari rambutnya tergerai. Sebab biasanya dia tak pernah sekalipun menguraikan rambutnya ikalnya.
Saat ia berjalan menyusuri koridor sekolah pandangannya tiba-tiba mengarah ke lapang basket, ia mendapati seseorang yang tak asing tengah bermain basket sendirian dilapangan. Senyum manisnya kembali merekah menghiasi wajah cantiknya ia mengurungkan niatnya untuk langsung ke kelas dan beralih untuk menghampiri Brian di lapang basket.
“ku fikir kak Brian tak akan bermain basket lagi, sudah lama aku tak melihat kak Brian bermain dilapang.” kata Andheera yang kemudian duduk dipinggir lapang seraya mengamati permainan basket seniornya.
__ADS_1
“ahh hey!! Andheera kau baru datang jam segini.” Respon Brian saat mengetahui Andheera menghampirinya kemudian meilirik jam tangan yang melingkar di pergelangannya sejenak.
Mantan kekasih Andheera itu menghentikan permainan basketnya, lalu berjalan sembari mendribel bola basket mendekati Andheera lengkap dengan tatapan yang bisa membuat ciwi-ciwi terhipnotis akan ketampanannya yang di atas rata-rata.
“iya aku begadang semalam jadi telat bangun.” Meski itu adalah kebohongan tapi anehnya terdengar itu kebenarannya.
“begitu? bagaiamana kalau olahraga sebentar masih ada waktu 10 menit lagi kau bisa bermian basket?” ajak Brian yang masih mendribel bola basketnya seraya tersenyum smirk ke arah gadis yang berada dihadapannya itu.
“bisa, tapi kalau aku menang gentian kak Brian yang harus mentraktirku.” Ujar Andheera yang tak kalah menyunggingkan senyum songongnya.
“okayy hahaha..” seru Brian namun terdengar seperti mengejek.
“hahhaha jangan menarik kata-katamu ya.” Kata Andheera sebelum ia melepas ransel, dan memulai permainannya dengan Brian.
“aku pria sejati mana mungkin menarik kata-kataku huh.”
“ayoo!!” seru Andheera seraya mengambil bola yang tengah di dribel oleh Brian, tanda pertandingan diantara keduanya pun telah mulai.
Permainan pun berlangsung sengit baik Andheera dan Brian tampak begitu kompetitif, pada awalnya Brian memang memberikan ruang untuk Andheera, namun ternyata hal yang dilakukannya malah membuat dirinya tertinggal.
Sebab Andheera lebih dari sekedar bisa bermain basket, membuat Brian beberapa kali menganga karena tak percaya semua shoot yang Andheera lakukan tak ada yang meleset sudah seperti pemain basket sungguhan.
Hingga Brian sedikit kesal dibuatnya, Brian berhenti seraya menaruh kedua lengan dipinggangnya seakan ia tak percaya pemandangan ini sungguh nyata, benarkah gadis yang berada dihadapannya adalah Andheera ataukah seseorang tengah merasukinya hingga ia terlihat begitu berbeda.
“Hey!! darimana kau belajar bermain basket?! Aku bahkan jarang melihatmu berolahraga dengan benar.” Keluh Brian yang tak terima dengan situasi yang kini tengah ia alami.
“aku hanya malas melakukannya bukan berarti aku tak bisa.” Jawab Andheera lengkap dengan senyum smirknya kemudian melempar bola basket ke arah Brian tanda ia ingin mengakhiri permainannya karena Brian sudah kalah telak.
Mereka berdua pun memutuskan untuk mengakhiri permainannya, dan duduk bersama dipinggir lapang seraya melakukan percakapan ringan.
“kalau tau kau jago aku tak akan mengiyakan mentraktirmu tadi huh.” Brian mendumel kesal.
“hahaha kenapa kak Brian menyesal sekarang? Mau menarik kata-katamu?” sahut Andheera lengkap dengan pandangan mengejeknya.
“aku hanya..” respn Brian pasrah.
“hanya apa?” goda Andheera lagi.
“hanya ingin mengeluh saja.” Gumamnya pelan seraya menundukan kepala.
“hahahaha aku sudah bermain basket sedari kecil.” Ungkapnya sembari menengadahkan kepalanya ke arah langit dengan kedua tangannya yang menjadi tumpuannya bersandar.
“benarkah? Dengan kakak mu?”
“bukan, tetanggaku dia selalu berlatih basket setiap akhir pekan tak jarang aku juga ikut bermain selain hanya menyorakinya.” Paparnya yang masih menikamati cuaca cerah dipagi hari sebelum akhirnya…
DING.. DONG.. suara bel begitu nyaring membuat Andheera dan Brian terpaksa harus mengakhiri pertemuan singkatnya di pagi hari, setelah mengucapkan salam perpisahan mereka berdua berpisah karena kelas mereka yang berlawanan arah.
***
__ADS_1
Bersambung…