![Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]](https://asset.asean.biz.id/mimpi-dan-harapan--pov---andheera-.webp)
Aula Kirin school Jakarta.
Setelah hampir 30 menit mendengar pidato dari kepala sekolah, akhirnya para siswa pun terbebas dari rasa kram juga membosankan yang sedari tadi mereka tahan, kemudian mereka semua berhamburan menuju papan madding yang terletak di salah satu koridor dekat tangga lantai 2.
Untuk mengetahui kelas mana mereka ditempatkan, mereka harus berdesakan mencari nama mereka masing-masing agar bisa lebih dulu masuk kelas dan menduduki bangku yang mereka inginkan sebelum ditempati yang lainnya.
Lain hal nya dengan Andheera, ia hanya berjalan santai masih dengan ransel dipunggungnya, lalu terdiam dengan jarak yang tak terlalu jauh dari papan madding, seraya melipat kedua tangan dan menyandarkan bahu kirinya ke dinding.
“waaah akhirnya kau kembali juga Andheera.” Ujar seseorang dari belakang seraya memandangi Andheera dari ujung kepala hingga kaki.
Andheera hanya menanggapinya dengan lirikan sesaat untuk memastikan suara siapa yang kini ada disampingnya, kemudian kembali terfokus pada kerumanan yang berada dihadapannya.
“astaga, kau masih saja kaku, huhh..” Hanyoora menggerutu lalu pergi meninggalkan Andheera dan mencoba bergabung dengan teman-temannya untuk melihat namanya di madding.
Selang beberapa menit saat kedua matanya berkeliaran kesana kemari, ia mendapati sosok yang tak asing di ujung koridor bersama dengan sekelompok gadis yang belum pernah ia lihat sebelumnya, salah satu diantaranya tengah merangkul Yerim bersamaan dengan tawa yang tampak seperti mengintimidasi.
Diikuti dengan beberapa temannya yang berjarak 2 langkah dibelakangnya yang juga tengah tertawa lepas, sementara Yerim sendiri hanya terdiam seraya menundukan kepalanya dalam rangkulan salah satu gadis dalam kelompok tersebut.
Otak Andheera mulai bekerja dan mencoba memahami situasi yang terjadi, “tidak mungkin, jika ada orang yang mengganggunya dia tentu akan melawan, dengan tenaganya yang sekuat hulk cewe-cewe itu bukan apa-apa baginya.” Andheera membatin.
“hey! kenapa kau hanya diam disini?” seru Anha yang baru saja keluar dari kerumunan lalu membuyarkan lamunan karibnya itu.
“ahh.. engga.. apa kau melihat namaku?” tanya Andheera barangakali saja Anha berbaik hati mau mencarikan namanya juga di madding.
“kau IPS-2 bareng sama Yerim, oh iya btw.. apa kau liat Yerim pagi ini? semenjak aku pisah kelas dengannya selama 1 tahun ini aku jarang melihat dia di kafetaria.” Ceritanya.
“Yerim? aku lihat dia tadi dengan..” respon Andheera yang keburu disambar oleh Hanyoora begitu ia selesai berdesak-desakan dalam kerumunan.
“AUGHH!! Sial, lagi lagi aku bareng dengan cewe-cewe centil itu, iih najis!” pekik Hanyoora seraya berjalan mendekati kedua temannya dan mengeluarkan ponsel dari dalam saku blazernya.
“sudahlah hanya tinggal setahun lagi ko..” sahut Anha mencoba menengahi.
“siapa?” timpal Andheera tampak penasaran.
“kau tak akan tahu, karena dia datang setelah kau pergi.” Jawab Hanyoora masih dengan pandangannya yang terfokus pada layer ponsel miliknya.
“kau IPA berapa, yoora?” tanya Anha.
“IPA 1, kau?” Hanyoora balik bertanya kemudian memasukan ponsel ke dalam blazer karena merasa sudah cukup mengecek ponselnya.
“IPS 1, waah kelas kita sepertinya berjauhan lagi..” sahutnya,
Sementara itu ada 1 gadis yang kebingungan mendengar percakapan kedua temannya.
“kau pindah jurusan Hanyoora?” timbrung Andheera.
“iya, tiba-tiba saja ibuku ingin aku kuliah kedokteran, huhh.. seharusnya dari awal saja ibuku melarangku masuk IPS, menyebalkan!” gerutunya seraya memonyongkan mulutnya lalu melipat kedua tangan diatas dadanya.
“Hey! kudengar ada trainne dari agensi BangQit di halaman sekolah, ayo kita lihat seberapa tampannya mereka hahaha!” seru salah seorang murid pada temannya yang berjalan melewati tempat 3 serangkai itu berdiri.
“waaah.. benarkah!!.. aku juga ingin lihat.” Sahut seorang gadis lainnya yang tiba-tiba keluar dari kerumunan, kemudian berlari kecil menyusul kedua temannya yang sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.
“apa katanya tadi, ada trainne?!” timpal seseorang lagi yang juga mendengar apa yang tengah diributkan oleh temannya yang sudah berlalu.
Tak disangka kabar itu menyebar begitu cepat hingga semua siswi yang tengah focus mencari nama mereka di madding pun teralihkan, dan dengan cepat mereka semua tanpa terkecuali saling berlarian menuju halaman sekolah untuk memastikan kebenaran kabar yang mereka dengar.
__ADS_1
Sementara itu ketiga serangkai yang tengah bersantai tak jauh dari papan madding pun dengan gesit berpindah tempat mendekat ke dinding, agar tak menghalangi murid lainnya yang akan berlari melewati mereka.
“Astaga! cewe-cewe jaman sekarang benar-benar alay banget sih!” gerutu Hanyoora yang kesal dengan kelakuan teman-temannya.
“kau yakin gak mau liat siapa trainne nya? aku sih penasaran juga.” Celetuk Anha yang kemudian ikut menyusul teman-temannya namun dengan gaya yang lebih elegan hahaha.
“yaa.. yaa.. penasaran sih.” Saut Hanyoora yang akhirnya ikut menyusul Anha dengan menarik lengan Andheera dengan paksa.
“apa sih! aku ga tertarik.” Tolak Andheera seraya menarik kembali lengannya.
Namun tak diduga Hanyoora malah mau menggigit lengannya lengkap dengan kedua sorot matanya yang tajam, membuat Andheera mengernyitkan keningnya.
“okee.. okee.. aku ikut, tapi lepaskan!” ujar Andheera seraya mencoba menjauhkan kepala Hanyoora dari lengannya.
“janji!” Hanyoora ingin memastikan sekali lagi.
“yaa.. yaa.. lepaskan! lengan blezerku sudah terkontaminasi jigongmu augh!” pekik Andheera.
Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju sumber suara teriakan histeris dari teman-temannya dihalaman sekolah, selagi beberapa trainne itu berjalan menuju parkiran dengan ditemani sang manager, semua murid perempuan tak hentinya berteriak histeris karena ketampanan yang mereka miliki.
“UUHH KAKAKA!!” teriak salah satu siswi.
“KAKAK godain aku dong!!” saut siswi lainnya yang disambut gelak tawa oleh para trainne tersebut.
“kenapa kau diam? katanya ingin melihat kakak.” Ujar Andheera seraya melirik kearah temannya yang tampak sangat tenang, tidak seperti beberapa menit yang lalu.
“Yonggi..” gumam Hanyoora seraya memandangi beberapa trainne tersebut hingga mereka masuk ke dalam mobil.
“kau mengenal kak Yonggi?” sahut Andheera yang lagi-lagi mengerutkan keningnya.
“apa sih..” ketus Andheera seraya menggelangkan kepalanya melihat sikap aneh temannya tersebut.
Saat Andheera hendak berbalik berniat untuk kembali masuk, tiba-tiba sekilas kedua mata elangnya mendapati sosok Yerim kembali, gadis itu tengah berjalan dari area belakang sekolah dengan langkah kaki yang sedikit dipaksakan juga rambutnya yang terlihat seperti terkena guyuran air seember.
Membuat Andheera berfikir keras hingga menggigit bagian bawah bibirnya yang tipis seraya memicingkan kedua matanya, ‘apa yang sebenarnya terjadi’ fikirnya.
Meski dirinya mencoba untuk tidak perduli, namun tanpa ia sadari hati kecilnya benar-benar terusik dan tak bisa tinggal diam begitu aja.
***
Siang harinya di sebuah apartemen Renville di daerah Jakarta utara.
Terdengar bunyi suara bel dari balik pintu apartemennya, dengan langkah malas sang pemilik tersebut pun berjalan keluar kamar, seraya mengikat rambut ikal panjangnya dengan karet hitam yang berada di pergelangan tangannya.
“iya sebentar..” sahut sang pemilik apartemen agar seseorang diluar sana bisa sabar sedikit dan tidak terus menekan tombol bel apartemennya.
Seperti biasa jiso selalu mengecek terlebih dahulu siapa yang datang bertamu melalui door viewer/kaca lubang pintu, kalau kalau yang datang hanyalah orang iseng yang berniat jahat padanya.
Ceklek.. pintu pun terbuka setelah mengetahui jika yang berdiri di depan pintu apartemennya adalah karibnya yang tak lain adalah Keenan.
“ku kira kau tak ada di apartemen..” celoteh Keenan saat dirinya berjalan masuk melewati Jiso yang masih terdiam di ambang pintu.
“aku baru saja pulang, ada apa?” tanya Jiso, setelah pintunya tertutup kembali ia pun berjalan menyusul Keenan keruang tengah.
“tidak.. aku hanya ingin beristirahat.” Sahutnya kemudian membaringkan tubuhnya diatas sofa empuk milik karibnya itu seraya menutup setengah wajahnya dengan sikunya.
__ADS_1
Melihat Keenan yang tampak kelelahan, Jiso pun berinisiatif untuk mengambilkan air mineral untuk Keenan dari dalam kulkas.
“kau baik-baik saja?” tanya Jiso yang berjalan dari dapur menuju ruang tengah kembali, lalu menaruh gelas yang berisikan air mineral diatas meja kacanya dan duduk di sofa yang lainnya, seraya masih memperhatikan wajah Keenan yang tertutupi sikunya.
Keenan tak bergeming, ia masih terdiam dalam tidurnya.
“oke, istirahatlah dulu, aku mau mandi, kalau kau lapar ada burger tuh di meja dapur masih hangat.” Katanya kemudian pergi menuju kamarnya tanpa mendapat respon dari temannya tersebut.
***
Kembali ke Kirin school Jakarta.
Karena Anha dan Andheera berada dalam satu kelas yang sama mereka pun memutuskan untuk menuju kafetaria bersama, amm.. lebih tepatnya Anha yang menarik paksa lengan Andheera agar mau berjalan beriringan dengannya.
“padahal 5 menit sebelum istirahat aku melihat Yerim, tapi saat aku melihat lagi ke belakang dia udah ngga ada, kemana ya dia.” Gumam Anha yang masih mengaitkan lengannya pada lengan Andheera.
“btw.. kita mampir ke kelas Yoora dan Vivian dulu ya, baru ke kafetaria bareng.” Ucapnya lagi, namun Andheera hanya meresponnya dengan dehaman.
“bisa kau lepaskan tanganmu, aku bisa jalan sendiri ngga perlu digandeng begini, kita bukan sepasang kekasih!” ketus Andheera seraya kembali mencoba melepas kaitan tangannya.
“oke baiklah, awas saja kalau kau kabur.” Ancam Anha yang kemudian melepaskan lengan Andheera dari kaitan lengannya.
“huhh! memangnya aku mau kabur kemana,” Andheera menggerutu.
Sesampainya di depan kelas IPA-1, Anha langsung mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, namun ia tak menemukan seseorang yang dicarinya, sampai..
“kau mencari Yoora?” tanya seseorang yang hendak keluar kelas.
“iya, apa kau melihatnya?” giliran Anha yang bertanya.
“sepertinya dia ke perpustakaan, karena aku lihat dia membawa banyak buku tadi.” Jawabnya.
“aah begitu, oke makasih.” Ucap Anha.
“oke..” sahutnya kemudian pergi terlebih dahulu meninggalkan Anha dan Andheera yang masih terdiam di dekat pintu kelasnya.
“ya sudahlah, mungkin dia sedang ingin belajar, kita ke kelas Vivian aja.” Ajak Anha, tanpa memberi tanggapan Andheera hanya berjalan mengikuti kemana arah Anha pergi.
Dan.. seperti Hanyoora ternyata satu temannya yang lain pun tak ada di kelas, jika Hanyoora berada di perpustakaan, lain halnya dengan sang ketua osis tersebut, ia tengah sibuk rapat osis dengan para anggotanya.
Hingga membuat Anha mendengus kesal, “cihh bahkan untuk sekedar makan siang bareng pun sekarang sulit sekali.” Ocehnya seraya berjalan menuju kafetaria bersama Andheera disampingnya.
“bukannya kau juga anggota osis Anha?” Andheera menanggapi ocehan karibnya itu.
“tidak lagi, setelah aku bekerja paruh waktu di agensi, membuatku tak memiliki waktu luang untuk mengurusi hal seperti itu.” Keluhnya.
“btw, kau akan terus masuk sekolah?” tanya Anha seraya melirik ke arah temannya.
“engga juga, aku hanya akan masuk ketika aku ingin.” Jawabnya.
“sudah kuduga.” Respon Anha.
***
Bersambung..
__ADS_1