Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]

Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]
Episode 69


__ADS_3

Dreedd.. dreedd.. tiba-tiba ponsel Andheera bergetar di dalam saku celana trainingnya, membuat langkahnya terhenti dan beralih untuk merogoh ponsel kemudian mengangkatnya bersamaan dengan tubuhnya yang membalik.


“ya ayah..” ucap Andheera lembut kemudian berjalan perlahan ke arah yang berbeda.


Setelah lama mengikuti teman kecilnya, gadis itu memutuskan untuk berhenti dan kembali pulang.


“iya aku baik-baik aja ayah, ada apa?” tanya Andheera seraya terus berjalan keluar dari pasar malam.


“memangnya harus ada apa-apa baru ayah bisa menelfonmu? kau ini.” Seru seseorang di dalam telfon, putrinya hanya membalas perkataan ayahnya dengan tawa kecilnya.


“ayah hanya.. sangat merindukanmu.” Lanjutnya.


“amm.. gimana kalau ku alihkan ke video call?” saran Andheera seraya menjauhkan ponsel dari telinganya untuk mengalihkan mode telfon ke video call, namun..


“amm.. ayah sedang dikamar mandi nih.. EUUU!!” tolak ayahnya seraya menambahkan efek suara seseorang yang tengah buang air besar, membuat Andheera sontak bergidik jijik.


“Ayah!! ayah sedang di kamar mandi?” Andheera sedikit geram.


“ya.. EUUH.. apa kau sudah makan?” katanya lagi dengan santai mengajukan pertanyaan tentang makan padahal dirinya tengah buang air besar.


“apa ayah bercanda? setidaknya selesaikan dulu urusan ayah baru menelfonku!” seru Andheera sedikit kesal dengan kelakuan konyol ayahnya.


“tapi ayah tak bisa menahan rasa rindu pada putri ayah..” dalihnya dengan suara yang sedikit manja.


“AUGH!! kapan ayah pulang?” Andheera pun mengalah untuk tidak membahasnya lagi, dan mengalihkan topik.


“entahlah, ayah rasa akan sedikit lebih lama dari rencana awal, karena ada beberapa hal yang harus ayah selesaikan disini.” Ungkapnya.


“baiklah, ayah jaga kesehatan disana, kabari aku jika ayah akan pulang aku akan ikut menjemput ayah di bandara.”


“waaah benarkah? akhirnya kau mau meluangkan waktu juga untuk ayahmu, setelah 1 tahun ini kau tak pernah sekalipun mengunjungi ayah.” Ayahnya mencoba menyindirnya secara halus.


“setidaknya kakak selalu memberikan foto-foto terbaruku kan, itu bisa sedikit mengobati kerinduan ayah padaku.”


“kau ini..”


Ceklek.. “malam pak Reza..” sapa seseorang disana, membuat percakapan antara ayah dan putrinya terhenti sesaat.


“sudah dulu ya, nanti ayah telfon lagi..” bipp telfon pun langsung dimatikan tanpa menunggu respon dari putrinya.


Seolah seperti ada sesuatu yang tengah ditutupi ayahnya hingga ia buru-buru mematikan telfonnya, Andheera pun sedikit bingung dengan sikap ayahnya barusan hingga mengernyitkan keningnya.


“bukannya ayah sedang di kamar mandi..” gumamnya seraya memandangi ponselnya yang baru saja di matikan sepihak oleh ayahnya.


Meski ada perasaan curiga terhadap ayahnya, namun Andheera lebih memilih untuk percaya pada perkataan ayahnya dan kembali melanjutkan langkahnya untuk pulang.


Malam semakin larut, seiring dengan bertambah dinginnya suasana saat itu, membuat Andheera yang keluar tanpa mantel/jaket mencoba menghangatkan tubuhnya dengan memeluk dirinya sendiri di sepanjang perjalanannya.


Ketika kedua kaki itu terus melangkah menyusuri jalanan yang ramai, namun tiba-tiba saja perasaan terdalamnya merasa sangat hampa, juga kesepian, seakan hati kecilnya tengah terhantam luka kelam dari masa lalu.


“aku ngga baik-baik aja ayah, aku sangat lelah, haruskah aku berhenti melindungi semuanya agar aku bisa hidup semauku, semua ini semakin sulit untukku, ayaah..” gumamnya dengan nada lirih dan juga kedua matanya yang mulai berair.


Disaat seharusnya orang dewasa bisa menjadi tempat berlindung baginya, namun tidak bagi gadis malang itu, ia harus berjuang sendiri melindungi orang yang dikasihinya yang tak lain kakaknya sendiri yang menderita gangguan mental.


Bahkan dirinya rela bertukar peran dengan Andromeda, menerima semua tuduhan yang tidak pernah ia lakukan hingga stigma negative tentang dirinya pun masih melekat sampai hari ini. Semua itu ia lakukan hanya untuk melindungi Andromeda.


***


Beberapa hari kemudian.


Dorm Yeji CS..


Tiba saatnya para murid masuk sekolah setelah melewati libur panjang selama 2 pekan terakhir, begitupun dengan gadis cantik yang sedari tadi sudah bersiap memakai seragam sekolah lamanya, dan berakhir dengan memandangi dirinya sendiri dalam pantulan cermin seukuran dengan tinggi tubuhnya yang semampai.

__ADS_1


“hoaamm!” Yuna menguap begitu lebar tanda ia sudah sadar dalam tidurnya, kemudian menatap teman sekamarnya itu yang masih berdiri di depan cermin.


“waaah, akhirnya kau masuk sekolah juga dheera, apa kau sadar sekarang jika pendidikan itu juga penting?” ujarnya seraya bangun dari tidurnya dan masih memandangi Andheera lekat.


“tidak juga tuh!” ketusnya seraya melirik tajam ke arah Yuna.


“lalu apa tujuan mu masuk sekolah jika bukan untuk belajar?” tanya Yuna seraya mengernyitkan keningnya.


“hanya.. amm.. aku sedikit bosan dengan rutinitas ini, dan ingin bersenang-senang sedikit.” Jawabnya sembari menaikan satu alisnya keatas di lengkapi dengan senyum smirknya.


“astaga, kau benar-benar gadis aneh!” pekiknya lalu kembali menarik selimutnya dan melanjutkan tidurnya setelah melakukan percakapan singkat dengan teman sekamarnya.


Di ruang makan.


Seperti biasa Yeji selalu bangun paling awal untuk menyiapkan sarapan para member, ditengah kesibukannya sebagai mahasiswa tingkat akhir di Royal college of music di Jakarta.


Meski bukan suatu kewajiban baginya, namun nalurinya sebagai member tertua merasa terpanggil untuk merawat dan menjaga adik-adiknya, jika bukan dirinya lalu siapa lagi yang akan melakukannya’ fikirnya.


Saat Andheera keluar dari kamarnya, Yerim sang bungsu sudah berada dikursinya tengah memakan sarapan yang baru saja dihidangkan oleh Yeji, gadis itupun berjalan santai dengan ransel yang lumayan besar dipundaknya dan hampir melewati meja makan.


“sarapan dulu dheera!” seru Yeji sedikit nyaring.


“lain kali saja..” gumamnya sembari membuka laci tempat sepatunya berada, namun..


“setelah sarapan, akan kuberikan sepatu mu.” Kata Yeji sembari duduk dikursinya untuk memulai sarapan bersama Yerim.


Mendengar itu Andheera langsung memberikan sorot mata tajamnya pada Yeji yang tengah menikmati sarapannya dengan damai.


“cepat, kalau kau tak ingin terlambat masuk sekolah.” Lanjut Yeji, sedangkan Ryujin.


“kakak tau, kenapa aku tak begitu suka masakanmu, itu karena masakanmu semuanya hambar!” gerutunya seraya berjalan malas ke arah meja makan lalu duduk diantara kedua temannya.


“kau pilih hambar tapi menyehatkan untuk tubuhmu, atau enak tapi banyak membawa penyakit?” sahut Yeji sembari memandangi wajah Andheera tak lupa juga mengunyah sarapannya yang sudah berada dalam mulutnya.


“kalau kau bisa memilih keduanya sehat dan enak kenapa harus pilih salah satu!” ketus Andheera tak mau kalah lalu menuangkan sesendok sayur sop ke dalam mangkuk yang sudah berisikan nasi.


“engga, aku mau naik sepeda.” Sahutnya sembari mengunyah sarapannya dengan terburu-buru.


“kalau manager Lukcy tau kau berangkat pakai sepeda, mungkin dia akan mengadukannya pada pak Hitman.” Ujar Yeji yang kurang setuju dengan rencana Andheera barusan.


“aku sudah dapat ijin dari pak Hitman..” paparnya.


“benarkah? kalau begitu aku juga mau ikut naik sepeda deh.” Seru Ryujin girang kemudian meminum seteguk air dalam gelas miliknya.


“aku ga bilang kau dapat ijin kan?” katanya dengan nada sinisnya kemudian menyelesaikan suapan terakhirnya dan meminum air mineral disampingnya seteguk.


“aku sudah selesai, sekarang mana sepatuku!” tagih Andheera sembari bangkit dari tempat duduknya.


“ada di laci yang bawah..” sahutnya.


“apa?!”


“seharusnya kau memeriksa seluruh laci tadi..” tambahnya lagi dengan diiringi tawa renyahnya.


“AUGHH!!” umpat Andheera kesal.


Tak ingin memperpanjang perdebatannya karena ia takut akan terlambat, Andheera mengalah kemudian pergi kembali untuk mengambil sepatu miliknya di laci yang paling bawah, di ikuti oleh Ryujin yang juga mulai memakai sepatu sekolahnya.


Area baseman dorm Yeji cs yang lebih seperti sebuah Gedung apartemen, mereka berjalan beriringan bahkan hampir saling berdempetan karena Ryujin yang selalu ingin menempel dengan Andheera.


“mobilmu kan disana, jangan mengikutiku terus dong!” gerutu Andheera.


“aku kan sudah bilang akan ikut naik sepeda, kak dheera ayolaah..” pinta Ryujin sembari menunjukan ekspresi wajahnya sememelas mungkin agar hati kakaknya itu luluh.

__ADS_1


“tapi kalau kau dimarahi manager jangan salahkan aku ya!” kata Andheera memberikan kesepakatan sebelum dirinya mengijinkan sang bungsu ikut dengannya.


“SETUJU!” seru Ryujin dengan tawa lebarnya seolah tengah mendapatkan sebuah hadiah besar ia tak hentinya tertawa bahagia.


Akhirnya meraka pun melanjutkan perjalanannya menuju tempat sepeda terparkir, dan membiarkan sang manager menunggu lama di mobil tanpa sebuah kepaastian.


Andheera menaiki lebih dulu sepedanya untuk memulai mengayuh, kemudian Ryujin masih dengan tawa bahagianya ia menempati kursi penumpang dibelakang seraya memeluk tubuh sang kakak, meski sebenarnya Andheera tampak tak nyaman dengan pelukan dari sang adik.


Namun ia mencoba untuk mengabaikannya untuk kali ini,


“Ayooo berangkatt!” seru Ryujin dari belakang seraya mengangkat satu tangannya tanda ia sudah siap untuk pergi.


Andheera hanya merespon dengan senyuman tipisnya kemudian kakinya mulai mengayuh sepeda favorite miliknya itu, melewati beberapa mobil yang terparkir dibaseman dorm nya.


Sampai..


“ Hey Bennedict!” sapa Ryujin saat melewati Ben juga member lainnya yang tengah berjalan santai menuju mobil grup nya.


Melihat kakak dan juga temannya yang akan berangkat sekolah memakai sepeda, membuat kedua mata Ben membulat dan terus memperhatikan mereka hingga menghilang dari pandangannya.


“ayo Ben..” panggil kakak keduanya yang bernama Yonggi, membuat pandangan Ben kembali beralih pada member lainnya yang mulai memasuki mobil.


“aku juga ingin pakai sepeda kak, boleh kan?” rengek Ben pada sang manager yang sudah berada dibelakang kemudi.


Sang manager hanya menggeleng kepala dan menunjukan sorot mata tajamnya, memberi tanda jika ia menolak dengan tegas keinginan sang bungsu.


Tak dapat membantah Ben pun akhirnya masuk ke dalam mobil mengikuti para member yang sudah berada di dalam.


Begitu sang menager menyalakan mesin untuk memulai perjalanannya, Yonggi yang duduk disebelahnya tiba-tiba membisikan sesuatu ke telinga Bennedict.


Seolah telah mendapat energy baru, wajah Ben yang mulanya muram kini berubah menjadi senyum merekah juga kedua bola matanya yang kembali membulat, membuatnya terlihat menggemaskan hingga Yonggi juga tertawa seraya mengusap kepala sang bungsu.


“kalian akan merencanakan apa?” ucap Seokjin setengah berbisik seraya menyembulkan kepalanya ditengah Ben dan Yonggi dari bangku belakang.


“boleh aku ikut?” timbrung Brian yang juga menyembulkan kepalanya dari kursi belakang.


“ga ada apa-apa..” sahut Yonggi yang kemudian memalingkan wajahnya ke balik jendela mobil dan mengabaikan kedua temannya yang duduk dikursi belakang.


Sedangkan Namjoon yang duduk di kursi dekat sang manager hanya melirik ke belakang dengan sorot matanya yang penuh tanda tanya, memandangi ke seluruh membernya mencoba memahami yang akan direncanakan para temannya itu.


 ***


Di depan gerbang Kirin school Jakarta.


Saat Andheera hendak mengayuh sepedanya melewati gerbang sekolahnya, namun suara panggilan yang begitu nyaring membuatnya menghentikan kayuhannya dan menoleh ke arah sumber suara.


“ANDHEERAA!!” siapa lagi kalau bukan Anha, gadis itu berlari agar bisa cepat menghampiri Andheera yang menunggunya di depan gerbang.


“apa yang kau lakukan?” tanya Andheera begitu karibnya itu sampai seraya masih mengatur pernafasannya yang terengah-engah.


“kak.. Anha?” ucap Ryujin agak ragu kemudian turun dari sepeda dan berdiri di dekat Anha.


“ohh hey Ryujin, kau masih mengingatku?” sahutnya tak percaya, padahal ia hanya sekali merias wajah gadis mungil tersebut.


“hehehe.. aku ingat karena kakak dulu juga pernah membelikan minum untukku.” Katanya lagi dengan senyum manis yang tak pernah hilang dari wajah cantiknya.


“waaahh, padahal hanya air mineral tapi kau masih mengingatnya, aku terkesan Ryujin..” ujarnya lembut seraya mengusap kepala Ryujin yang tak terlalu tinggi darinya.


Melihat pemandangan yang menurut Andheera eoh, tanpa berfikir panjang ia pun meninggalkan kedua temannya itu yang masih saling melempar senyuman.


Sontak keduanya pun terkejut dan tak percaya jika Andheera akan meninggalkan mereka begitu saja.


“astaga, gadis kasar itu benar-benar!” kecam Anha kemudian berlari untuk mengejar Andheera, lalu diikuti Ryujin yang juga ikut berlari bersama Anha sembari tertwa.

__ADS_1


***


Bersambung…


__ADS_2