Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]

Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]
Episode 56


__ADS_3

“ahhh iyaa Kakak, kemarin malam aku bermimpi aneh.” Ujarnya yang mulai menyemil chikinya.


“mimpi? apa?” tanya Andheera seraya melirik kearah Ben.


“aku berada disuatu tempat yang belum pernah ku temui, aku juga melihat Kakak berjalan pergi dan jauh dibelakangmu ada seorang bocah lelaki tengah mengejarmu, ia berteriak sangat kencang memanggil namamu sampai terjatuh beberapa kali tapi Kakak tak menoleh sekalipun.” Ceritanya masih diselingi dengan menyemil chikinya.


“bocah lelaki? kau?” tanya Andheera seraya menaikan satu tebalnya.


“bukan, dia lebih mirip si beruang item yang selalu mengikuti Kakak dulu.” Jawab Ben yang membuat Andheera terhentak saat mendengar sosok bocah lelaki yang dimaksud keponakannya.


“dan yang paling mengerikan adalah wajah si beruang item itu dipenuhi darah setelah Kakak menghilang.” tambahnya lagi lengkap dengan ekspresi ketakutannya yang ia tunjukan pada Andheera.


“bagaimana kau bisa bermimpi seperti itu?” tanya Andheera seraya mengerutkan keningnya.


“entahlah, itu terjadi begitu saja.” Sahutnya.


“apa kau nonton film horror sebelum tidur?”


 “iyaa..”


“kau ini, pantas saja mimpimu tak masuk akal!” gumamnya seraya berdecak dan menggelengkan kepalanya.


 -Kilas balik 4 tahun yang lalu di Bandung, tepatnya di belakang kediaman Diana atau omma dari Andheera.


Tampak 2 remaja yang masih mengenakan seragam sekolahnya tengah berlatih mengendarai sepeda, yang tak lain adalah Keenan dan Andheera. Meski merasa sangat lelah namun Andheera masih tetap menemani Keenan berlatih mengendarai sepeda milik dirinya.


“kau sudah banyak belajar sepeda dari sepulang sekolah, apa kau tak lelah?” keluh Andheera yang masih terus memegangi bagian belakang sepeda yang dinaiki temannya.


“tidak..” seru Keenan yang masih mencoba fokus untuk bisa menyeimbangkan sepedanya.


“iyaa tentu, akulah yang lelah disini, karena harus terus memegangi sepedamu!” gerutu Andheera yang kemudian melepas sepedanya sebab sudah tak tahan lagi.


“sedikit lagi okee.. aku janji akan membocengimu nanti, makanya jangan dilepas lagi seperti waktu itu!” ujar Keenan yang bicara sendiri sebab Andheera sudah jauh berada dibelakangnya.


Merasa suasanannya seperti de ja vu, ia pun memberanikan diri untuk menoleh ke belakang, dan benar saja Andheera tengah duduk santai seraya mengipas-ngipas  wajah cantiknya dengan tangannya sendiri.


Membuat Keenan kembali oleng karena tak percaya diri, kemudian menabrak semak-semak yang ada dihadapannya. Melihat temannya yang lagi-lagi terjatuh dengan sigap Andheera langsung berlari menghampirinya dengan rasa cemas yang menghantuinya.


Takut jika Keenan terjatuh mengenai batu atau hal buruk lainnya, namun ketika Keena memunculkan kepalanya dari balik semak-semak lengkap dengan raut wajah masamnya juga dedaunan yang memnuhi rambut tebalnya, tawa nya pecah seiring dengan raut wajah Keenan yang sudah ingin menangis.


“sudah kubilang untuk berhenti bukan, aku sangat lelah!” gerutu Andheera membela dirinya sendiri, seraya mengulurkan tangannya untuk membantu Keenan berdiri, namun tak diduga Keenan malah menarik tangannya hingga mereka berdua kini terjebak di dalam semak-semak.     


“HAHAHA!! aku tak pernah melihatmu selemah ini..” ujar Keenan yang cekikikan melihat Andheera yang duduk disampingnya.


“itu karena kau sudah menghabiskan energy ku hari ini.. huhhh!!” ketus Andheera seraya memicingkan mata sipitnya ke arah Keenan yang masih tertawa cengengesan.


“yaudah kalau begitu aku ga akan belajar sepeda lagi.” Keenan merajuk seraya melipat kedua tangan diatas dadanya dan memalingkan wajahnya.


“jadi kau akan berangkat sekolah dengan berjalan kaki saja..?”


“kau kan bisa memboncengiku!!” seru Keenan seraya menatap tajam Andheera.


3 detik kemudian mereka tertawa bersama.


“hahahaa!! lihat wajah mu kucel sekali jadi makin jelek tahu!” goda Andheera.


“kau juga!! hahahaha..” balas Keenan seraya menunjuk ke arah wajah Andheera yang kucel akibat terjatuh ke dalam semak-semak.


***

__ADS_1


Kembali ke taman bermain di komplek kediaman Andheera.


“sudah malam, biar Kakak antar kau pulang.” Ucap Andheera seraya bangkit dari tempat duduknya.


“gak mau.” Jawabnya.


 “kenapa? apa ada masalah dengan ibumu?” tebak Andheera.


“tidak, kubilangkan aku merindukan Kakak, sudah lama sejak kita tidak bertemu.” Tuturnya seraya menunjukan ekpresi seimut mungkin.


“kau ingin menginap dirumah Kakak?” tanya Andheera.


“tidak..” sahutnya lagi seraya menggeleng kepalanya.


“hmm.. baiklah, ayoo..” seru Andheera yang berjalan menuju sepedanya.


“kemana?” tanya Ben seraya bangkit dari ayunan kemudian menyusul Andheera.


“ikut saja!” kata Andheera. “taruh kantong kreseknya dikeranjang.” tambahnya


“baiklah..” sahut Ben yang kemudian menaruh cemilannya di keranjang sepeda dan duduk di kursi penumpang seraya memeluk erat gadis yang tengah memboncengnya.


***


Apartemen Andheera.


Saat Andheera sampai di Apartemennya ia mendapati sepasang sepatu yang tak asing bagi kedua matanya.


“apa ini apartemenmu Kakak?” tanya Ben yang baru sampai 1 menit lebih lambat dari Andheera.


“iya, taruh sepatumu di laci dan pakai sandalnya..” ujar Andheera seraya melakukan hal yang sama seperti yang ia katakan pada Ben.


Masih dengan tawa lebarnya Ben menuruti semua perkataan Andheera dengan baik, kemudian menyusul Andheera yang lebih dulu masuk.


“gak mau! kau sendiri yang memberikannya padaku.” Sahutnya tak ingin kalah sembari mengunyah makanan milik Andheera.


“Hey kak Vivi!!” sapa Ben yang ikut masuk ke dalam perdebatan antara kedua gadis tersebut.


“setidaknya isi kulkasku, jangan hanya bisa mengosongkannya..!!” seru Andheera lagi dengan nada tingginya.


“HEY! kau ini pelit sekali, kau takan jatuh miskin hanya karena semua makanan yang ku makan..!!”


“AUGHH!!”


“Kakak aku lapar..” timbrung Ben dengan polosnya seolah ia tak perduli dengan perdebatan yang terjadi dihadapannya.


“beri makan tuh keponakanku! kalau tidak, aku akan membuat daftar tagihan untuk semua makanan yang sudah kau habiskan!” seru Andheera yang kemudian pergi meninggalkan dapur dan berjalan menuju kamarnya.


“astaga, gadis itu benar-benar!” gumamnya seraya menatap tajam punggung Andheera, kemudian mengalihkan perhatiannya pada bocah lelaki yang berdiri tak jauh disampingnya.


“kau mau ku masakan apa Ben?” tanya Vivian lembut lengkap dengan senyum ramahnya. “apa itu yang kau bawa?” sambung Vivian saat kedua matanya melirik kantong kresek besar yang dijinjing Bennedict.


“aahh ini.. cemilan.” Jawabnya seraya menunjukan lebih dekat kantong kreseknya ke depan wajah Vivian.


“kau taruh saja di meja, tenang aku takan mengambilnya kok aku sudah kenyang hihihi..” ujarnya seraya menaruh sisa kue kembali kedalam kulkas, dilanjutkan dengan mengeluarkan bahan-bahan masakan.


“okee.” Ben menurut kemudian menaruh kantong yang berisikan cemilannya di meja.


“aku makan apa saja kecuali makanan laut, kak Vivi..” kata Ben menjawab pertanyaan Vivian sebelumnya, lalu duduk dikursi sembari memperhatikan Vivian yang tengah memotong berbagai macam bumbu.

__ADS_1


“kau alergi?” tebak Vivian seraya melirik sesaat ke arah Ben.


Ben hanya membalasnya dengan anggukan juga senyum lebar yang menampilkan 2 gigi kelincinya, membuat Vivian ikut tersenyum karena gemas.


“Ben..” panggil Vivian disela memasak.


“iya..” sahut Ben.


“apa kau memiliki mimpi?” tanya Vivian yang tiba-tiba ingin membahas soal mimpi keponakan dari temannya.


“punya dong! setiap orang pasti memiliki mimpi.” Serunya dengan penuh antusias.


“apa mimpimu?” tanya Vivian yang sesekali melirik ke arah Ben.


“menjadi Idol hehehe..” jawabnya diiringin dengan tawa renyahnya.


“benarkah.. waaah! cocok sih, kau tampan dan juga suaramu udah gak diragukan lagi, kau mirip sekali dengan Kakakmu.” Paparnya. “apa kau sudah mencoba untuk audisi?” tambahnya lagi.


“belum, rencananya akhir pekan nanti, akan ada audisi yang diselanggarakan oleh agensi BangQit.” Sahutnya.


“BangQit? aahh, agensi tempat kak meda bekerja.” Ujarnya memastikan.


“iya, Kakak yang memintaku untuk mencoba audisi di agensi itu.” Jawabnya lagi.


“apa kau selalu menuruti apa yang Kakak mu katakan?” tanya Vivian yang mengalihkan pembicaraannya pada seseorang yang tidak ada disana.


“iyaa hehehe..” sahutnya lagi masih dengan senyum lebarnya.


“kenapa?” tanyanya seraya mematikan kompor gas kemudian menuangkan masakannya ke dalam mangkuk.


“karena dia Kakakku hehe..” sahut Ben yang kemudian berjalan mendekati Vivian untuk mencoba mengambil nasinya sendiri.


Vivian pun menaruh masakannya di atas meja seraya menunggu Ben yang tengah berjalan lengkap dengan piring yang berisikan nasi ditangannya. Mereka berdua pun duduk secara  bersamaan.


“kak Vivi gak ikut makan..?” tanya Ben seraya menciduk sayur bikinian Vivian.


“engga, aku sudah kenyang, kau saja, makan yang banyak ya.” ujar Vivian seraya mengusap lembut kepala Ben yang tengah menyuap makanannya dengan lahap.


“makasih kak Vivi..” ucap Ben masih dengan mulut yang penuh berisikan makanan.


Vivian hanya membalasnya dengan senyuman hangat, seolah ia benar-benar memiliki seorang adik lelaki yang menggemaskan, ia tak bisa berhenti memandangi Ben yang tengah asyik melahap makanannya.


***


Di ruangan kerja Andromeda.


“akhir pekan nanti mau ku jemput dibandara?” tanya Andromeda pada seseorang di telfon.


“gak usah, kita bertemu di taman kota saja.” Katanya.


“baiklah, jangan membuatku menunggu lama!” serunya dengan sedikit penekanan dalam kalimatnya.


“Iya sayanggku.. hihihi.” Goda Tsuyu diiringi dengan cekikikan diakhir kalimatnya.


“hah, apa kau bilang?!”


Beep.. telfon pun dimatikan secara sepihak oleh Tsuyu, membuat Andromeda berdecak kesal.


“ciihh! apaan sih!” gerutunya seraya memandangi layar ponselnya yang berwalpaperkan foto gadis tersebut.

__ADS_1


***


Bersambung..


__ADS_2