![Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]](https://asset.asean.biz.id/mimpi-dan-harapan--pov---andheera-.webp)
Sepulang sekolah, Andheera menunggu Vivian di taman sekolah, Andheera berharap kali ini Vivian tak mengabaikan pesannya.
Tak berapa lama benar saja vivian datang dengan langkah yang sedikit ragu-ragu, namun ia memaksakan diri untuk terus berjalan kearah Andheera yang tengah menunggunya dibangku taman, dengan senyum bahagia yang begitu tulus terpancar dari bibir Andheera yang hanya gadis itu berikan pada Vivian.
Vivian langsung duduk disamping Andheera dan memfokuskan pandangannya kedepan masih belum ingin menatap Andheera secara langsung, lain halnya dengan Andheera yang sedari tadi memandangi wajah Vivian dari samping membuat Vivian sedikit tak nyaman.
“kau masih marah?” Tanya Andheera yang mengawali pembicaraan.
“hanya itu yang ingin kau katakan? Aku pulang saja.” Ucap vivian yang berniat bangkit dari tempat duduknya namun masih ditahan oleh lengan Andheera.
“maafkan aku,” Vivian melihat tangan teman baiknya itu yang terbalut kain kassa, seketika kecurigaan muncul dalam benak Vivian, kemudian memberanikan diri untuk menatap wajah Andheera.
“aku hanya melukai diriku, mereka baik-baik saja, hanya untuk menutup mulut mereka agar kau tak mendapat masalah.” pengakuan Andheera membuat Vivian kembali duduk dan terus memandangi Andheera sebelum akhirnya 1 pelukan hangat Vivian berikan untuk Andheera.
Vivian jelas tahu arah pembicaraan yang dimaksud Andheera, entah kenapa mendengar pengakuan itu membuat hati Vivian terasa sakit dan tanpa sadar meneteskan air matanya.
“apa kau menangis?” Tanya Andheera saat menyadari Vivian sedikit terisak mencoba menahan tangisannya.
“tidak.” dustanya seraya mengeratkan pelukannya.
“kau masih membenciku?” Tanya Andheera lagi untuk memastikan.
“bagaimana mungkin aku bisa membencimu.” Vivian mengusap lembut bagian belakang kepala Andheera dengan sedikit isakan tangis yang sudah tak mampu ia tahan.
“aku baik-baik saja vian, aku tak menyakiti orang.” gumam Andheera pelan.
“iyaa aku percaya padamu, aku akan selalu percaya padamu.” respon Vivian lalu menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya. Mendengar itu Andheera pun tersenyum bahagia karena teman yang sempat menghilang kini telah kembali.
***
Sebelumnya saat Andheera meminta Vivian untuk duluan saja ke kafetaria.
Andheera berbohong akan menyusulnya ke kafetaria, nyatanya ia malah menunggu Nuran’s geng tak jauh dari UKS, Andheera sudah menduga Nuran’s geng pasti akan datang ke UKS untuk mengobati luka lebam yang disebabkan oleh Vivian.
Benar saja tak lama Andheera menunggu, mereka datang dengan saling membopong satu sama lain. Gadis itu pun tampak menyeringai seolah tengah menemukan mangsanya, kini hanya tinggal satu permasalahan, bagaimana caranya membuat petugas UKS itu keluar.
Tak diduga sebelum ide lain muncul seolah dewi keberuntungan berpihak padanya hari ini, Andheera melihat petugas UKS itu keluar. Tak ingin menundanya lagi Andheera berjalan menuju UKS lengkap dengan tatapan mematikannya.
Kreekk.. Andheera membuka pintu.
Berfikir petugas UKS yang telah kembali, baik Nuran maupun temannya tak ada yang bergeming, mereka tertidur diranjangnya menunggu pengobatan dari petugas UKS.
Andheera langsung berjalan menuju ranjang Nuran dan mengabaikan teman-teman Nuran yang tertidur diranjang lain yang saling berjauhan, Andheera menutup semua tirainya sebelum melancarkan aksi liarnya, agar teman Nuran tak melihat apa yang akan ia lakukan selagi mereka memejamkan kedua matanya.
“cepat sekali datangnya, katanya..”
Nuran menghentikan kalimatnya saat ia mendapati Andheera sudah berada tepat didepan wajahnya, lengkap dengan senyum mengerikan dan juga pisau lipat yang ia deketkan ke arah leher Nuran membuat dirinya tak dapat berkata-kata, seluruh tubuhnya gemetar melihat ekspresi Andheera yang begitu mengerikan seperti seorang Monster yang siap melahap mangsanya hidup-hidup.
“Annyeong..” sapa Andheera dengan suara deep yang tak kalah menyeramkan dari tatapannya.
__ADS_1
(Annyeong adalah sapaan yang berasal dari bahasa korea, yang berarti juga Hello).
“And.. And..” Nuran terbata-bata bahkan untuk bernafas pun terasa sulit.
“sstttt.. apa kau masih ingin mengadukan hal ini pada ayahmu?” bisik Andheera, ternyata Andheera sudah mengetahui jika ayah Nuran adalah seorang Direktur sekolah Kirin school.
“aku.. aku..”
Alih-alih melukai Nuran dengan pisau lipat miliknya, Andheera malah menunjukan sesuatu yang sangat mengejutkan, saking shocknya Nuran sampai tak bisa bersuara, Nuran menutup mulutnya dengan kedua tangan sembari menyaksikan gadis mengerikan itu menyayat telapak tangannya sendiri.
Teess.. teess.. tak butuh waktu lama darah itu menetes ke lantai.
Ketika pada umumnya ekspresi yang biasa orang tunjukan saat terluka adalah rasa sakit atau meringis, namun tidak dengan gadis yang berada dihadapan Nuran, Andheera malah tersenyum lebar seolah sangat puas melihat Nuran yang sangat ketakutan, Andheera sama sekali tak merasakan sakit.
“apa kau ingin berakhir seperti ini?” Andheera mendekatkan telapak tangannya tepat ke depan wajah Nuran hingga darahnya menetes mengenai seragam Nuran.
Nuran sudah tak bisa lagi menahan ketakutannya, air mata mulai menetes detak jantung nya pun tak beraturan, Nuran tak bisa berteriak apalagi bergerak seolah tubuhnya telah terkunci.
“jika tidak, diamlah.” lanjut Andheera masih dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya, Andheera berbalik untuk pergi, namun merasa masih ada yang harus dikatakan Andheera kembali menoleh ke arah Nuran.
“atau kau akan berakhir lebih dari ini.” tambah Andheera lalu pergi meninggalkan Nuran yang masih terdiam tak dapat berkata-kata.
***
Diparkiran SMA Kirin school Jakarta.
Kedua gadis remaja yang berusia 16 tahun itu tengah menunggu kedatangan Pak Budi (Supir Andheera) untuk mengantarnya ke Stasiun agar bisa menjemput Diana, nenek Andheera.
“Andheera, Kakak juga ikut menjemput omma, hay Vivian.” sapa Andromeda yang mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil dengan penuh antusias.
Namun Andheera malah mengernyitkan keningnya, kadang ia tak mengerti dengan kelakuan kakaknya sendiri yang lebih sering seperti bocah daripada menunjukan sikap dewasanya.
“okee baguslah kalau Kakak juga datang, tolong bawa sepedaku yaa Kakak.” Andheera membuka pintu mobil depan, lalu menarik tangan kakaknya keluar dari mobil sedikit memaksa hingga Andromeda tak memiliki pilihan untuk menurutinya.
“tinggal naikan saja ke mobil sepedanya,” saran Andromeda yang sudah berdiri diluar mobil saling berhadapan dengan Andheera.
“okee, sepedanya disana Kakak tolong bawakan.” pinta adiknya manja, meski dengan ekspresi yang malas Andromeda tetap memenuhi keinginan Andheera, Andromeda pun berjalan untuk membawa sepeda Andheera.
Tak ingin mengalah pada rencana awalnya, tanpa aba-aba mereka berdua langsung masuk kedalam mobil tanpa menunggu Andromeda lalu meninggalkannya. Vivian duduk di depan disamping pak Budi dan Andheera duduk dibelakang sendirian.
“Kakaaak!! (Andheera membuka jendala mobil berteriak ke arah kakaknya diluar yang tengah menuntun sepeda miliknya)
sepedaku jangan sampai lecet yaa, byeee!!” seru Andheera yang disambut dengan gelak tawa Vivian didalam mobil.
“aiisshh sia***l!” melihat ia akan ditinggalkan meda berniat untuk mengejar mobil nya namun mereka begitu cepat menghilang, akhirnya meda mengalah lalu pulang dengan sepeda adiknya meskipun disepanjang perjalanan ia terus mengomel karena kesal.
***
Stasiun Sondalmi Jakarta.
__ADS_1
Tak lama setelah kedua gadis remaja itu menunggu kedatangan Diana (Nenek Andheera), akhirnya mereka melihat Diana berjalan ditengah kerumunan penumpang lainnya.
Vivian melambaikan tangan ke arah Diana, “OMMAAAA!!” panggil Vivian mewakili cucu yang sebenarnya menyambut kedatangan Diana, sebab Andheera terlalu mager untuk berteriak memanggil neneknya dari kejauhan, hingga Diana pun menemukan sumber suara kemudian mereka bertiga sama-sama berjalan mendekat seraya saling melempar senyum bahagia karena sudah lama tak berjumpa.
“hey omma, masih ingat denganku kan?” Tanya vivian sok imut di depan Diana, kemudian mengambil alih membawa koper Diana.
“tentu, kau Vivian kan, bagaimana mungkin oma lupa pada gadis lucu sepertimu.” Andheera mengerutkan kening sembari memandangi Vivian dengan tatapan eoh.
“HEY!!” seru Vivian saat menyadari ekspresi karibnya yang begitu menyebalkan, Andheera hanya tertawa tipis melihat Vivian yang kesal.
“bagaimana kabar omma?” Andheera menyudahi perdebatan antara dirinya dengan Vivian.
“omma baik sayang, (Diana memegangi wajah Andheera seraya menatpnya lembut)
bagaimana denganmu, tanganmu kenapa?” Tanya Diana yang baru menyadari tangan kiri Andheera terbalut kain kassa, Diana hanya memperhatikan luka ditangan Andheera karena kepala yang diplaster tertutupi oleh poninya.
“aamm tadi waktu pelajaran olahraga Andheera jatuh omma, tangan kiri Andheera tergores karena menahan tubuhnya.” timbrung Vivian berusaha menutupi kebenarannya.
“benarkah, Lalu Andromeda?” tampaknya Diana tak curiga dan mengalihkan pertanyaannya, membuat Vivian lega.
“aku meninggalkannya di sekolah, hhehe (Andheera nyengir)
hari ini kita akan belanja bahan makanan dan juga kue tart omma, Kakak ulang tahun, jadi aku meninggalkannya disekolahku.” Diana mengangguk baru mengerti maksud Andheera, kemudian mereka berjalan menuju mobil sembari saling merangkul satu sama lain.
“aahh iya benar, kalau gitu aku juga ingin kue tart.” Celetuk vivian tiba-tiba padahal ulang tahunnya masih jauh.
“iyaa nanti ku belikan untukmu yang 2 tingkat.” mendengar respon Andheera yang mengiyakan permintaan Vivian, Vivian mengeratkan rangkulannya tanda iya benar-benar bersyukur memiliki teman seperti Andheera.
***
Matalari Jakarta.
Saat Vivian hendak masuk ke supermarket sembari mendorong trolly yang ia ambil dari luar supermarket, Andheera buru-buru naik ke trolly layaknya seorang bocah yang selalu duduk manis dalam trolly.
“aku lelah berjalan.” keluh Andheera seraya menunjukan ekspresi yang sangat imut pada Vivian, membuat Vivian tak bisa berkata-kata, ia pun mengalah dan membiarkannya duduk manis didalam trolly yang akan ia dorong.
Vivian mendorong trolly yang berisikan bayi besar lalu mulai berkeliling untuk mencari bahan makanan.
Diana hanya menggeleng kepala melihat kelakuan cucu perempuannya bersama dengan Vivian dan membiarkan mereka melakukan hal yang menyenangkan.
Selagi Diana juga sibuk memilih bahan makanan, tak terlalu fokus dengan kedua cucunya, Vivian berniat untuk mengajak Andheera ngobrol ke sisi lain.
“Dheera..” panggil Vivian dengan nada lembut sembari mendorong trolly dan melihat-lihat ke sekeliling.
“hmm..” jawab Andheera yang tengah asyik memainkan ponsel.
“bagaimana Yerim menurutmu?” Tanya Vivian, Andheera sedikit bingung karena tiba-tiba Vivian membahas Yerim namun tetap tak mengalihkan fokusnya pada layar ponsel miliknya.
***
__ADS_1
Bersambung…