![Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]](https://asset.asean.biz.id/mimpi-dan-harapan--pov---andheera-.webp)
Di gudang, tampak Andromeda tengah berdiri sembari memegangi pecahan kaca.
“bukan.. bukan itu semua bukan salahku!! aku tak membunuh siapapun.” Ujar Andromeda seraya mengacungkan pecahan kaca yang ada digenggamannya lengkap dengan raut wajah yang terlihat sangat kebingungan.
“iya den Meda saya percaya kok jadi tolong turunkan pecahan kacanya ya.” Seorang asisten rumah tangga baru mencoba mendekati Andromeda agar bisa mengambil serpihan kaca dari genggamannya.
Namun tindakan seorang ART baru itu malah memicu emosi dari dalam diri Andromeda, hingga Andromeda berniat untuk menyakiti dirinya sendiri dengan menggoreskan serpihan kaca itu ke bagian lehernya, beruntung sebelum serpihan kaca itu mendekati lehernya, tangan sigap Andheera menahan tangan kakaknya yang tengah menggenggam serpihan kaca tersebut, membuat kedua para ART dan 1 tukang kebun itu terkejut akan tindakan berbahaya yang Andheera lakukan.
Tak sampai hitungan menit, darah segar mengalir membasahi lengan piyama Andheera menambah ketegangan situasi saat itu, sampai tak ada yang bergeming di tempatnya mereka semua hanya bisa menonton pemandangan mengejutkan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Saat Andromeda juga ikut terkejut dengan kemunculan adiknya yang tiba-tiba, gadis itu mengambil kesempatan untuk menusukan suntikan tepat ke leher kakaknya yang masih terdiam memandanginya.
Tak perlu waktu lama Andromeda terjatuh pingsan ke dalam pelukan Andheera yang berdiri di hadapannya.
***
Di depan kamar Andromeda.
Setelah Andheera memastikan kondisi kakaknya di dalam kamar sudah lebih baik, ia pun keluar dengan raut wajah menakutkan seolah ia ingin menelan manusia hidup-hidup. Sedangkan para Art yang sedari tadi sudah lama menunggu di depan pintu kamar Andromeda terlihat sedikit gugup dan takut.
Melihat hal yang tak biasa yang Andheera lakukan, ditambah dengan ekspresi Andheera yang tak tampak merasa sakit sama sekali setelah serpihan kaca itu lagi-lagi menyobek bagian telapak tangannya, gadis itu tetap mempertahankan raut wajah datarnya membuat mereka semua berfikir jika Andheera tidak sama dengan gadis remaja pada umumnya.
“bagaimana kakak ku bisa masuk ke gudang?” pertanyaan pertama yang Andheera ajukan begitu ia keluar dari kamar, tapi tak ada 1 pun dari Art nya yang membuka mulutnya, sebab situasinya terlalu gugup bagi mereka semua.
“haruskah aku bertanya 2 kali?!” lanjut Andheera masih mencoba mengontrol emosinya dengan mengepalkan salah satu tangannya.
“bibi yang membiarkan gudangnya terbuka non, bibi lupa menguncinya kemarin saat membersihkan gudang.” Sahut bi Dharma sedikit gugup ditambah kedua tangan yang ia tautkan didepan tubuhnya pun kini bergetar hebat.
“aku yakin itu bukan bibi, bicaralah selagi aku masih bisa mengendalikan emosiku.” Tatapan tajam Andheera mengarah pada seorang ART baru yang bernama Mira, membuat dirinya tak bisa menghindar dan akhirnya buka suara.
“ma.. maaf nona (saking ketakutan Mira pun berlutut sembari terisak menahan air matanya) aku yang memberikan kunci gudang pada den Meda, ka.. karena Meda ingin mengambil sesuatu digudang jadi aku..”
“berdiri!” perintah Andheera, Mira pun menurut kemudian berdiri dengan menundukan kepalanya karena tak sanggup menatap langsung kedua mata Andheera yang tampak berapi-api.
“maaf nona ini salah bibi juga yang tidak memberi tahu Mira tentang gudang itu, mohon maafkan Mira untuk kali ini nona.” Timpal bi Dharma yang tak bisa membiarkan situasi semakin menegangkan untuk Mira, keponakan dari bi Rani.
“iya nona, Mira masih baru disini mohon berikan kesempatan untuk Mira saya akan mengajarinya lebih baik lagi.” Tukang kebun itu menambahkan, membantu gadis malang tersebut agar bisa dimaafkan oleh putri majikannya.
“dia sudah membahayakan kakak ku dan kalian ingin aku melepaskannya?!” Ujar Andheera seraya menatap tajam ke arah Mira yang masih menunduk ketekutan, kemudian pergi begitu saja.
Setelah memberikan sedikit penekanan pada sang ART baru, ia pun berjalan menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas masih dengan kekhawatiran terhadap kakaknya, ia mencoba sekuat tenaga untuk mengontrol kendali atas dirinya.
***
Dreedd.. dreedd.. ponselnya bergetar saat lengannya hendak membuka pintu kamar, ia pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk mengecek pesan masuk. Sedangkan lengannya yang terluka membuka pintu kamar hingga meninggalkan noda darah di handle pintu kamarnya.
__ADS_1
#kau tidak lupa kan, aku sudah menunggu mu di Chimi Café# begitulah isi pesan yang dikirim oleh Brian, satu janji yang terlupakan Andheera.
Andheera hanya bisa menghela nafas panjang untuk menanggapinya sebab ia benar-benar lupa memiliki janji di akhir pekan dengan Brian, tak ingin membuat Brian menunggu lama sendirian di kafe Andheera berniat menelfon seseorang bisa menemaninya sebentar sebelum dirinya bisa menemui Brian.
“hallo.” Sapa seseorang di telfon.
“Vian kau bisa turun sekarang?” pinta Andheera.
“turun kemana?” Vivian yang keheranan dengan permintaan mendadak temannya itu.
“cafemu, kak Brian sudah menunggu disana, temani dia sampai aku datang oke.” Jelasnya.
“kau kan tahu..”
“oke thanks aku akan cepat kesana.” Beep bunyi telfon dimatikan sebelum Vivian menjelaskan situasinya.
Tok.. tokk!!.. Suara ketukan pintu membuat Andheera membalikan tubuh rampingnya.
“masuk.” Seru Andheera dari dalam, kemudian bi Dharma masuk dengan membawa kotak P3K mendekati Andheera yang berdiri di depan meja rias masih menggenggam erat ponselnya.
“biar bibi bersihkan lukanya ya.” Ujar bi Dharma seraya menarik lembut lengan Andheera membawanya untuk duduk di ranjang.
“akan ku bersihkan sendiri.” Andheera menarik paksa lengannya yang digenggam oleh bi Dharma, namun bi Dharma tak membiarkannya ia menarik kembali dengan lembut lengan Andheera lengkap dengan senyum menyejukan layaknya senyum seorang ibu pada umumnya.
“apa pamanku sudah datang?” tanya Andheera selagi bi Dharma fokus dengan tangannya.
“luka nona sangat dalam sepertinya harus dijahit, kita ke rumah sakit sekarang yaa, bibi akan memanggil pak Budi untuk menyiapkan mobil.” Seru bi Dharma lengkap dengan ekspresi paniknya.
“sudah ku bilangkan aku bisa mengatasinya.” Tegas Andheera seraya menarik kembali lengannya dari genggaman lembut bi Dharma, lalu berdiri untuk meletakan ponsel di meja belajar.
“Andromeda pasti akan melupakannya jadi jangan pernah ungkit kembali, dan jangan sampai Ayahku tahu.” Sambung Andheera sembari memandangi wajah bi Dharma dari pantulan cermin di sudut ruangan kamarnya.
“baik nona, tapi untuk Mira..”
“aku tak akan memecatnya, sudahkan?! bibi boleh keluar sekarang.” Perintah Andheera seraya membalikan tubuhnya menghadap bi Dharma.
“baik nona, terimakasih.” Bi dharma pun keluar dengan perasaan sedikit lega.
***
Chimi Café.
Setelah hampir 1 jam menunggu akhirnya Vivian muncul dari dalam Café, tak butuh waktu lama untuk menemukan Brian, senior pujaan banyak wanita itu jelas terlihat menonjol dari sekian banyak pelanggan di Café hari ini.
Duduk sendirian dengan meja yang sangat penuh berbagai macam makanan, kemudian Vivian pun berjalan menghampiri meja Brian seraya menyunggingkan senyum bahagianya bisa melihat orang yang disukainya di pagi hari.
__ADS_1
Itu seperti, ia sudah mendapatkan suntikan vitamin di pagi hari yang cerah, juga suatu moment yang sangat jarang terjadi.
“hay Kak Brian.” sapa Vivian lengkap dengan senyum cerah seperti biasanya lalu duduk di kursi seberang Brian, melihat Brian hanya menatapnya dengan tatapan yang kebingungan ia pun kembali tertawa tipis.
“kenapa? Kak Brian kecewa karena bukan Andheera yang sekarang duduk di depanmu?” tambah Vivian mencoba menyadarkan Brian dari lamunannya dengan sedikit kibasan lengan tepat didepan wajah tampannya.
“bu.. bukan begitu, aah iya aku ingat kau memang tinggal disini aku hampir lupa hehe.” Ujarnya seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencoba mengingat hal yang sempat terlupakan olehnya.
“dimana Andheera?” tanya Brian sembari mengerutkan dahinya sebab ia hanya mendapati sosok Vivian yang ada dihadapannya.
“entah, dia hanya memintaku untuk menemani kak Brian sebentar.” Jawab Vivian santai lalu meminum minuman yang di sajikan untuk Andheera pada awalnya namun kini sudah diminum duluan oleh Vivian.
“begitu..” terlihat jelas ekspresi kekecewaan Brian.
“waaahh kak Brian luar biasa, sepertinya hampir semua menu di kafeku kak Brian pesan, bukannya kau sedang miskin?” celetuk Vivian mencoba mencairkan suasana agar Brian merasa terhibur dan tak memikirkan temannya lagi.
“aku meminjam sedikit uang dari temanku sekelasku.” Sahutnya dengan nada datar.
“hanya untuk mentraktir Andheera? kak Brian menyusahkan diri sendiri.” Respon Vivian.
“sudahlah ayo makan saja, kau ini terlalu banyak bicara.” Ujar Brian lalu mulai menyantap makanan yang sedari tadi hanya dipandanginya.
“aku hanya mengingatkan situasi kakak sekarang.” Imbuhnya seraya melipat kedua tangan diatas dadanya.
“iya.. iya dibandingkan denganmu aku gembel sekarang.” Kata Brian dengan mulut yang dipenuhi makanan.
“hahahaha!! kakak sadar juga, oh iya btw, terimakasih untuk kemarin, aku tak akan pernah bisa kembali tanpa bantuanmu.” Ujar Vivian yang kemudian ikut mencicipi beberapa makanan yang ada dihadapannya.
“hanya terimakasih?” sahut Brian, merasa tak cukup hanya dengan ucapan terimakasih ia ingin imbalan lebih.
“lalu kakak ingin aku bagaimana?” tanya Vivian.
“kau ingin pergi ke tempat wisata?” tawar Brian.
“tiba-tiba?”
“bukankah itu keinginanmu dulu, kau bilang saat dewasa nanti kau ingin pergi ke tempat wisata.” Ujar Brian masih anteng mencicipi hampir semua makanan yang ia pesan.
“memangnya kakak punya uang?” tanya Vivian dengan nada mengejek.
“ada kau..” jawabnya lengkap dengan senyuman lebarnya diakhir yang membuat Vivian terkekeh.
“ckckck.. waaahhh!! yang ku lihat di dalam drama laki-laki yang harus membayar semuanya, makan ataupun transport, kakak ingin aku yang membayarnya?” seru Vivian seraya memundurkan tubuhnya dan menyilangkan kedua tangan diatas dadanya.
“hey sadarlah, kita tidak sedang bermain drama.” Balasnya lagi.
__ADS_1
***
Bersambung…