![Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]](https://asset.asean.biz.id/mimpi-dan-harapan--pov---andheera-.webp)
Sementara itu di tempat lain (RS. Haneul Jakarta).
Karena kesalahan sang sekretaris Reza yang sempat membuat dirinya panik, sampai ia harus mengebut dijalanan serta berlarian di RS Haneul hingga menimbulkan keributan sesaat, sebab banyak orang tertubruk bahkan terjatuh dan yang lebih parahnya lagi lelaki yang berumur 40an itu menyenggol seorang staff yang bertugas membagikan makanan untuk pasien, membuat lorong Rumah sakit itu menjadi kotor seketika akibat banyak nya makanan yang berceceran dilantai.
Namun sialnya ketika ia sampai diruangan yang disebutkan oleh sekretarisnya, ia malah mendapati seseorang yang asing tengah berbaring di ranjang Rumah sakit, untuk beberapa saat ia terdiam agar bisa memahami situasi yang terjadi saat ini, sampai ada beberapa petugas keamanan yang membawanya pergi.
Karena sikap sembrononya itu Reza dibawa ke pos Keamanan untuk mempertanggung jawabkan kekacauan yang telah ia buat di Rs selama berjam-jam, untunglah akhirnya ia pun dilepaskan berkat bantuan teman baiknya jadi kasusnya tidak diperkarakan lebih lanjut oleh pihak Rs.
Ruangan dr. Shana teman baik Reza dan dr. Hyunjie, setelah berjam-jam Reza diintrogasi oleh pihak keamanan, kini giliran temannya yang meminta dirinya untuk datang ke ruangannya.
“kau sehatkan?” celetuk Shana yang setengah bersandar dimeja kerjanya, sedangkan Reza duduk di sofa.
“maaf aku tak bermaksud mengacaukan Rumah sakitmu.” Sahut Reza yang masih terdiam merenungi perbuatannya.
“bukankah seharusnya kau pastikan dulu, tidak.. maksudku haruskah kau berlebihan seperti itu Reza?! Bagaimana jika kau menabrak seorang pasien?” seru Shana yang masih tak percaya dengan tindakan kekanak-kanakan teman lelakinya itu.
“iya aku kan sudah minta maaf sudahlah, aku lelah seharian ini di tahan di pos keamanan kau ingin menambahnya lagi.” Keluh Reza.
“YAAA!!” bentak Shana membuat Reza sangat terkejut.
“astaga, jangan ngagetin gitu dong gimana kalau jantungku berpindah tempat.”
“kau tak menyesal sama sekali dengan perbuatan bodohmu ini?!” tambah Shana.
“aku sudah meminta maaf bukan lalu kau ingin aku bagaimana lagi.” Balas Reza yang tak kalah ngegas dari Shana.
“jika kau begitu mencintainya kenapa kau memutuskan Hyunjie, kau fikir kau berada dalam usia yang masih bisa bermain tarik ulur!!” Seru Shana yang mulai tak bisa mengendalikan dirinya.
“dia yang memilih untuk itu.” Gumam Reza.
“itu karena kau yang memaksanya untuk berhenti menjadi dokter, apa kau berusaha menempatkannya dalam peran antagonis agar kau terlihat lebih baik, Reza?”
“hidupku tak akan lama lagi Shana, impianku sejak dulu adalah tinggal di sebuah perkampungan yang dikelilingi tanaman dan juga pepohonan yang ku tanami sendiri, menghabiskan sisa umurku bersama orang yang kucintai di tempat yang damai jauh dari pekerjaan yang melelahkan dan membosankan seperti ini. Aku sudah terlalu lama hidup mengikuti kemauan orang lain dan sekarang aku hanya ingin hidup untuk diriku sendiri, melakukan semua hal yang aku inginkan.” Paparnya seraya menunjukan raut wajah yang begitu memilukan.
“apa maksudmu?” respon Shana yang kebingungan dengan perkataan panjang teman lelakinya.
“aku mengidap kanker otak stadium akhir.” Ujarnya lagi.
“benarkah?” sahut Shana seraya berjalan mendekati Reza.
“Tapi bohong!! AHAHAHAHAHA!!” seru Reza, kemudian pergi secepat kilat dari ruangan Shana.
__ADS_1
“SIAL BR**#JHF**@@JG@**!! HEY !! APA KAU SUDAH BOSAN HIDUP!!” teriak Shana yang sudah mencapai puncak emosinya, berkat tingkah laku Reza yang diluar nalar.
***
Di depan kamar Andromeda.
Saat tangan Vivian hendak membuka pintu kamar, Andheera lebih dulu menghentikan Vivian dengan memegang bahu temannya itu.
“jangan sampai tertidur di samping Kakak.” Andheera mengingatkan Vivian sebelum ia masuk ke kamar Andromeda.
“iya iya aku mengerti, aku hanya ingin melihatnya sebentar.” Sahut gadis manis itu lalu masuk ke dalam kamar Andromeda, sedangkan Andheera memutar balik langkahnya untuk menaiki tangga menuju kamarnya, ia berniat untuk membersihkan tubuhnya dahulu sembari membawa jinjingan kresek cemilan miliknya dan Vivian dengan 1 tangannya.
Kamar Andheera.
Tak butuh waktu lama sesaat ponselnya yang ditaruh di atas meja rias, ponsel itu bergetar menandakan ada telfon masuk Andheera pun langsung mengangkatnya begitu ia membaca nama yang tertera di layar ponselnya seolah ia memang sedang menunggu telfon dari penelfon tersebut.
“bagaimana?”
“begitu, baiklah terimakasih.”
Hanya beberapa kalimat yang terlontar dari mulut gadis ramping itu kemudian ia mematikan telfonnya masih dengan raut wajah serius ia menatap pantulan wajahnya dari cermin, seolah tengah memikirkan sesuatu.
***
Meski pada awalnya Vivian hanya ingin melihat Andromeda sebentar, melihat keadaan Andromeda yang sangat mengkhawatirkan wajahnya yang pucat juga ia mulai berkeringat dingin Vivian tidak tega untuk meninggalkannya, hingga akhirnya Vivian duduk disamping Andromeda seraya memegangi tangannya berharap Andromeda akan segera membaik.
“apa dia sedang bermimpi buruk, kenapa wajahnya tampak ketakutan.” Gumam Vivian masih tak bisa memalingkan pandangannya dari wajah Andromeda, tampak jelas kekhawatiran Vivian terhadap Andromeda.
***
Tepat tengah malam di ruang latihan agensi Brian.
Ia membiarkan dirinya terbaring dilantai yang dingin, setelah berlatih menari beberapa jam membuat tubuhnya merasakan rasa lelah yang amat sangat, ditambah dengan pekerjaan paruh waktu yang banyak menyita waktunya selain aktifitas disekolah.
Ia harus berjuang demi mewujudkan impiannya sendirian tanpa dukungan dari orang tua, bahkan untuk biaya sekolahnya pun, sejak Brian memutuskan pergi dari rumah meninggalkan semua fasilitas yang diberikan ayahnya, ia sudah tak memiliki apa-apa selain kata-kata penyemangat dari gadis yang disukainya.
Gadis itu yang menyadarkan dirinya jika ini adalah hidupnya, dan hanya dirinya yang berhak menentukan kemana jalan yang akan ia tempuh, meski akan terasa sangat sulit namun ini adalah hal yang diinginkannya.
‘tidak apa selama kau menyukainya kau akan baik-baik saja. 1 kalimat yang selalu bisa membuat Brian kembali percaya akan pilihannya tidak akan salah.
Lelaki berumur 18 tahun itu kembali tersenyum cerah mengingat kalimat penyemangat dari orang yang disukainya, kemudian kembali bersemangat untuk melanjutkan latihan tarinya ditengah malam disaat orang-orang tengah terlelap dalam tidur nyenyaknya, tapi lelaki muda itu bertekad untuk melakukan yang terbaik agar ia bisa sukses dikemudian hari dan usahanya dapat diterima oleh banyak orang nantinya.
__ADS_1
Sembari memikirkan seseorang yang selalu ada dihatinya, ia terus tersenyum seiring dengan gerakannya yang semakin bertenaga seolah tubuhnya pun merespon antusias setiap wajah manis yang terlintas dalam benaknya, hingga tak terhitung berapa tetes keringat yang sudah membasahi seluruh tubuhnya membuat dirinya beberapa kali terpeleset oleh keringatnya sendiri, namun ia tetap bangkit dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlatih.
Begitulah malam-malam yang selalu Brian lewati penuh dengan perjuangan, dan juga kekhawatiran seorang lelaki muda yang tengah bersiap untuk masa depannya yang lebih baik. Banyaknya rintangan juga hambatan yang membuat langkahnya terhenti bahkan sampai ia terjatuh, namun ia harus tetap bangkit agar semuanya bisa terlewati dan rasa sakit itu menghilang seiring dengan kesuksesan yang ia raih dikemudian hari.
***
Kamar Andheera.
“kau belum tidur?” tanya Vivian yang baru kembali dari kamar Andromeda.
“belum ngantuk.” Sahut Andheera yang tengah terbaring diranjang seraya menatap layar ponselnya.
“kau yakin gak apa-apa kakakmu dibiarin tidur sendiri?” lanjut Vivian seraya berjalan mendekati Andheera lalu duduk di sebelahnya.
“heemm besok juga dia akan lebih baik.” Ujarnya yang masih tetap fokus menatap layar ponselnya.
“benarkah, apa yang kau lihat?” kata Vivian seraya melepas satu earphone yang nyantel ditelinga Andheera dan memasangkan ditelinganya.
“hanya beberapa MV BTS.” Respon Andheera lalu terbangun agar bisa mengimbangi posisi nyaman untuk Vivian yang kini juga tengah ikut menonton MV di layar ponselnya.
“oohh, oiya mereka mau konser di Indonesia kan nanti kau sudah membeli tiketnya?”
“masih lama Vivian tiketnya juga belum dijual lah.” dengan penuh kesabaran Andheera menanggapi semua perkataan karibnya.
“begitu, ngomong-ngomong kau nonton drama hwarang disitu Kim taehyung ikut main drama ya walaupun gak jadi pemeran utamanya tapi lumayan sering muncul kok.” Kata Vivian yang tiba-tiba teringat satu drama yang tengah ia tonton.
“engga.” Respon Andheera dingin.
“kalau gitu aku ceritain dikit deh jadi.. bla.. bla..bla..”
Meski Andheera hanya menanggapinya dengan beberapa kali dehaman juga anggukan, Vivian masih terus bercerita sampai akhir.
Hingga ia pun tertidur disamping Andheera karena kelelahan, menyadari Vivian sudah terlelap dalam tidurnya sebeb ia sudah tak lagi bersuara, Andheera melirik sejenak ke arah Vivian sebelum memutuskan untuk pergi membiarkan Vivian beristirahat dikamarnya.
Saat Andheera hendak turun dari ranjangnya, tiba-tiba Vivian kembali bersuara namun kali ini dengan nada lirih dan masih memejamkan kedua matanya, seolah ia tengah berbicara dalam tidurnya. “kau sudah melaluinya dengan baik Andheera.. aku akan selalu menyayangimu.” Gumamnya.
Mendengar itu, untuk sesaat Andheera menoleh kearah Vivian sebelum ia benar-benar pergi dari kamarnya.
***
Bersambung…
__ADS_1