Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]

Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]
Episode 57


__ADS_3

1 pekan kemudian ..


Cuaca pagi kali ini tidak begitu cerah seperti hari-hari sebelumnya, seolah langit akan menurunkan rintik hujan yang sudah lama ditahannya selama hampir 2 pekan ini.


Namun hal itu tidak menyurutkan semangat juang seorang Bennedict, yang akan melangsungkan audisinya pagi hari ini di sebuah agensi besar yang ada di kota Jakarta.


BangQit agensi.


Di temani oleh Andheera, Bennedict dengan berani melangkahkan kakinya memasuki sebuah agensi, mereka berdua langsung menuju area administrasi untuk mendapatkan nomor urutan. Setelah berhasil mendaftar lewat online Bennedict hanya perlu mengambil nomer urut kemudian menunggu gilirannya.


“kau sudah mendapatkan nomer urut Ben?” tanya Andromeda yang baru saja bergabung di tengah adik dan keponakannya.


“sudah.. apa aku akan lolos?” tanya Ben sedikit gugup sebab ia melihat banyak sekali peserta yang lebih tampan juga kemampuan vokalnya benar-benar luar biasa.


“kau harus percaya pada dirimu sendiri Ben, kau pasti bisa melewatinya oke!” kata Andheera seraya menggenggam erat lengan Bennedict yang tampak keringat dingin.


“kau hanya perlu menampilkan semaksimal mungkin kemampuanmu, sisanya biar kakak yang urus, mengerti.” Andromeda menambahkan sembari mengusap  kepala Ben lembut juga senyum hangatnya.


“baiklah meda..” sahut Ben yang akhirnya bisa tersenyum lebar.


“kau ini!” balas Andromeda seraya menjitak pelan kepala Ben, sebab bocah lelaki itu tak pernah mau memanggilanya kakak.


“oh iya kurasa tadi  aku melihat temanmu, Andheera, sedang mengantri mengambil nomer urut.” Sambung Andromeda yang mengalihkan pandangannya pada adik perempuannya.


“siapa?” tanya Andheera seraya mengerutkan dahinya.


“itu dia..” seru Andromeda saat orang yang tengah dibicarakannya sedang berjalan ke arahnya, refleks baik Andheera maupun Ben mengarahkan pandangnnya pada hal yang Andromeda lihat.


“kak Brian? kakak disini?” tanya Andheera yang kebingungan.


“kakak yang waktu itu..” gumam Ben yang ikut memandangi Brian yang baru saja bergabung diantara mereka.


“iyaa, aku menuruti saranmu untuk pindah agensi, dan mencoba peruntunganku di agensi ini.. ohh hay bocah kecil..” sahut Brian yang diakhiri dengan sapaannya untuk Bennedict.


“ahh begitu, baiklah semoga kalian berdua beruntung dan bisa debut bersama.” Kata Andheera seraya menyunggingkan senyum lebarnya untuk Ben juga Brian.


“cihh.. “ Ben berdecak kesal seraya memalingkan wajahnya dari Brian, seolah ia merasa tidak nyaman berada bersama Brian, sebab terakhir kali mereka bertemu, Brian sudah membuat teman wanita Ben mengabaikan dirinya.


“waahh itu pasti akan menyenangkan..” seru Brian sembari merangkul tubuh Ben yang msaih sedikit merajuk.


“dimana Vivian, dia ngga ikut? biasanya dia selalu menempel padamu.” Celetuk Andromeda.


“aahh dia sedang mengunjungi kedua orang tuanya di kolumbarium.” Sahut Andheera yang dibalas anggukan dari kakak lelakinya.


Note : Kolumbarium atau Rumah abu, adalah tempat penghormatan bagi orang meninggal yang telah dikremasi dan biasanya abu jenazahnya disimpan disebuah pasu, yakni sebuah guci yang menyimpan sisa kremasi almarhum.


“amm.. Kakak ke toilet dulu ya.” Kata Andheera seraya tersenyum lembut ke arah Ben sebelum pergi meninggalkannya bersama Brian dan Andromeda.


“iyaa, jangan lama-lama Kakak.” Sahut Ben.


Dalam perjalan Andheera mencari toilet, ia malah mendapati sosok yang tak asing tengah melambaikan tangannya serta berjalan menuju menghampirinya.


“Hey.. Andheera, kau disini untuk audisi?” tanya Anha lengkap dengan senyuman cerahnya.

__ADS_1


“tidak, aku hanya menemani keponakanku..” jawabnya.


“ahh begitu, kau tidak berniat untuk ikut audisi gitu?”


“tidak..” responnya malas seraya mencoba berjalan kembali, tak ingin menyerah sampai dsitu Anha tetap mengikuti langkah Andheera.


“hey apa kau tak takut keponakan mu itu dibully, kau harus menjaganya bukan..” bisik Anha seraya menyamakan langkahnya disamping temannya.


“memangnya masih jaman, adanya pembullyan di sebuah agensi, apalagi ini agensi besar.” Respon Andheera mencoba untuk mengabaikan bualan sang ketua kelas.


“kau ini! kau tak percaya padaku, aku sudah bekerja disini selama kurang lebih 1 bulan dan aku sudah sering sekali memergoki adanya tindak kekerasan di agensi ini, Hey! kehidupan para trainee itu sangat keras juga menyeramkan, bisa-bisa keponakanmu nanti adalah korban selanjutnya.”


Tutur Anha lengkap dengan raut wajah yang sangat mendukung membuat keyakinan Andheera sedikit goyah. Untuk sesaat Andheera menghentikan langkahnya dan mengarahkan kedua mata tajamnya pada Anha, ia mencoba mengamati pergerakan kedua bola mata Anha.


“kenapa?! kau masih tak percaya padaku! baiklah ikut aku.” Seru Anha seraya menarik paksa lengan Andheera menuju sebuah lift yang akan membawanya ke lantai paling atas, tempat yang sering digunakan para senior untuk membully beberapa juniornya.


Seolah tersihir oleh perkataan Anha, ia hanya terdiam kala temannya itu menyeretnya menuju lantai atas tanpa perlawanan.


Sesampainya di lantai yang ia tuju, Anha sedikit berlari kecil dari lift dan masih menarik paksa lengan Andheera.


“memangnya gak bisa kalau berjalan saja gak per..”


“ssttt..” Anha menutup mulut Andheera begitu sampai di balik sebuah pintu.


BRUKKKKK!! tak disangka suara hantaman keras dari balik pintu tersebut membuat Andheera tercengang seketika.


“KAU BERCANDA!! KAU FIKIR KAU LEBIH BAIK DARIKU.. HAH!! BAGIKU KAU ITU TAK LEBIH DARI SEKEDAR B**I GEMUK YANG MENYAKITKAN MATAKU!!”


Suara nyaring yang disertai umpatan-umpatan kasar pun semakin menambah suasana menegangkan kala itu, membuat Andheera membelalakan kedua mata sipitnya seolah masih tak percaya dengan hal yang baru saja ia dengar dari balik pintu.


Alih-alih menanggapi perkataan Anha, gadis itu malah langsung ngacir meninggalkannya.


“Hey! kau mau kemana, tunggu Andheera!” seru Anha yang berlari mencoba menyusul temannya.


***


Sementara itu di lain tempat.


-Kirin school Jakarta.


Seorang lelaki yang tak lain adalah Ray Keenan, tampak tengah berdiri seraya memandangi sekolahan elit itu dengan sorot mata tajamnya, seolah ia tengah memikirkan banyak hal dalam benaknya.


“akhirnya aku bisa menemukanmu, Andheera.” gumam Keenan yang masih memandangi bangunan yang ada dihadapannya dan diyakini adalah sekolah Andheera.


***


Dalam perjalanan Tsuyu menuju kediamannya, gadis mungil itu tak hentinya tersenyum seraya memandangi pemandangan dibalik jendela mobil.


“kau terlihat snagat bahagia sekali..” ujar Bima sang sekretaris ayahnya yang bertugas menjemput putri atasannya.


“tentu, karena aku akan bertemu dengan kakak juga ..” Tsuyu menghentikan kalimatnya lalu tersenyum malu-malu.


“juga siapa? pacarmu?” goda Bima seraya melirik  ke arah kaca yang menampilkan wajah memerah Tsuyu yang duduk di kursi belakang.

__ADS_1


“hehee..”


“kakak dengar Brian sedang audisi di sebuah agensi pagi ini, sepertinya kakakmu bersungguh-sungguh ingin menjadi seorang idol.” Tuturnya.


“iyaa aku tahu, malam sebelumnya kak Brian sudah memberitahuku, makanya kak Brian tak bisa menjemputku di bandara.” Sahutnya.


“padahal tuan Daniel ingin sekali menjemputmu, Tsuyu.”


“hahaha.. gak usah membual kak Bima, sejak kapan ayah memiliki waktu untuk anak-anaknya, ayah selalu sibuk dengan dunianya sendiri.”


“kau tak boleh begitu Tsuyu, tuan Daniel bekerja keras seperti itu..”


“hahaha kalimat klasik, sudahlah aku lelah mendengarnya, bangunkan aku setelah sampai.” Potong Tsuyu lalu berpura-pura tidur.


***


Kembali ke BangQit agensi.


Karena sudah terlambat untuk menghentikan Ben ikut audisi, pada akhirnya Andheera ikut mendaftar audisi hari itu, untungnya ada jalur khusus yang memperbolehkan pesertanya ikut audisi tanpa harus mendaftar online terlebih dahulu.


Asalkan visual memenuhi syarat bisa masuk lewat jalur khusus, namun tak hanya bermodalkan visual, peserta jalur khusus juga harus mempunyai kemampuan yang lebih dari jalur biasa, sebab biasanya hanya akan terpilih sekitar 2 atau 3 orang saja yang bisa lolos jalur khusus.


“Kakak.. kenapa tiba-tiba ikut audisi?” tanya Ben, saat Andheera baru saja keluar dari ruang audisi.


“iya padahal sebelumnya kau bersikeras sekali tidak tertarik hal seperti ini?” tambah Brian yang juga menunggu Andheera bersama Ben.


“hanya ingin saja.. kemana meda Kakak?”


“dipanggil sama rekan kerjanya barusan.” Jawab Ben. “ahh iya aku harus cepat-cepat pergi Kakak, aku harus membantu ibuku menyiapkan makanan, jangan lupa sore nanti kerumah yaa byeee!” pamit Ben kemudian pergi begitu saja tanpa menunggu respon dari Andheera.


“kau benar-benar luar biasa Andheera, kau bisa lulus lewat jalur khusus yang terbilang cukup sulit.” Celoteh Brian seraya menggelengkan kepala juga menatap wajah Andheera yang lebih pendek 5 cm darinya.


“apa kau bisa berjanji untukku?” tanya Andheera seraya mulai berjalan meninggalkan agensi bersama Brian yang juga berjalan disampingnya.


“apa?” sahut Brian.


“tolong jaga Bennedict, saat dia sedang tak bersamaku.” Ucapnya.


“hahaha kukira apaan, tentu saja aku akan menjaganya, kau tak perlu khawatir, kau bisa mengandalkanku Andheera.” katanya lengakap dengan box smile andalannya.


Begitu sampai di depan agensi, ponsel milik Brian bergetar dalam saku celana jinsnya, tak menunggu lama ia pun langsung merogoh dan mengangkat telfonnya.


“hallo, kau sudah sampai dirumah?” tanya Brian pada sang penelfon.


Selagi menunggu Brian menerima telfon, Andheera mencoba mengedarkan pandangannya untuk mencari sebuah café yang bisa dijadikan tempat bersantainya.


“ada apa denganmu, kenapa kau menangis?” mendengar kepanikan Brian membuat gadis yang disampingnya berhenti dengan pencariannya dan beralih menatap Brian dengan ekspresi yang dipenuhi banyak pertanyaan.


“tidak.. tidak, jangan kembali, tunggu kakak okee! kakak akan segera pulang.” sambung Brian lagi yang kemudian menutup telfonnya.


“kak Bri...” belum sempat Andheera mengutarakan kalimatnya, tangannya keburu ditarik oleh Brian menuju taxi yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Lagi-lagi Andheera tetap diam dan mengikuti kemana orang yang menarik lengannya pergi, seolah memang ia tidak dibiarkan untuk bersuara, Andheera hanya pasrah dan terdiam.

__ADS_1


***


Bersambung…


__ADS_2