![Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]](https://asset.asean.biz.id/mimpi-dan-harapan--pov---andheera-.webp)
“HEY!! Tak bisakah menunggu sampai aku benar-benar bangun, lagipula ini masih sangat pagi, kau kan pengunjung bukan pegawainya.” Gerutu Andheera sebelum masuk ke kamar mandi, sembari menggaruk-garuk perutnya padahal tidak gatal sama sekali.
“Pagi?! buka MATAMU! lihat ini sudah jam 11 SIANG!!” Vivian menunjuk ke arah jam dinding dengan centong yang masih ia pegang.
“kau meledekku? Mataku sudah seperti ini sejak aku lahir!” seru Andheera tak kalah ngegas.
Meski Andheera salah namun ia tetap tak ingin disalahkan, Ia malah lebih ngegas dari temannya, kemudian masuk kedalam kamar mandi dan membanting pintu kamar mandi seperti yang Vivian lakukan pada pintu kamarnya.
“astaga! tempramen nya benar-benar sangat buruk, tapi jika didepan cowo tampan ia bisa berubah seperti kucing manis.” gumam Vivian lalu melemparkan 1 mentimun yang ada dipinggirnya tepat kearah pintu kamar mandi.
BRUUKKK!! “YAAAKK!!” teriak Andheera dari dalam kamar mandi, membuat Vivian cekikan didapur merasa puas telah mengisengi teman baiknya itu.
***
Toko Komik.
Selagi menunggu Vivian memilih komik yang akan ia beli, Andheera iseng melihat-lihat buku yang dipajang dirak.
“kenapa buku ini hanya tulisan semua gak ada gambarnya.” keluh Andheera karena ia salah mengambil buku, niat hati ingin mengambil buku komik malah buku novel yang ia ambil, Andheera pun mengembalikan lagi bukunya seraya mencoba memilih buku yang lain.
20 menit berlalu.
Tapi temannya itu masih asyik dengan dunianya sendiri, tak memperdulikan Andheera yang sudah sangat bosan ingin pergi sejak tadi.
“jika dia sudah disini mustahil dia akan perduli denganku, lalu untuk apa dia meminta aku menemaninya ohh ****!!” Andheera masih saja menggerutu karena saking kesalnya.
Dan saat Andheera akan mengembalikan bukunya yang lain ke tempat semula, tiba-tiba jantungnya berdegup lebih kencang seperti kejadian sebelumnya yang pernah ia alami, seolah memberikan pertanda untuk Andheera.
Andheera terduduk dilantai sembari bersender pada rak buku dibelakangnya, tak ingin terlihat aneh karena duduk dilantai tak melakukan apapun, ia mencoba meraih buku disampingnya lalu berpura-pura membuka halaman pertama dari komik tersebut.
“komik ini, seperti pernah membacanya.” Gumamnya, yang dilanjutkan membaca halaman berikutnya, meski mulanya hanya pura-pura namun akhirnya ia tertarik dengan cerita di komik tersebut.
Sampai ..
Ada seseorang yang berjalan ke arahnya lalu berhenti tepat didepan drinya, Andheera masih tetap diam terfokus pada komik tak perduli siapa yang tengah berdiri dihadapannya saat ini.
Setelah lelaki itu mengambil buku komik yang diinginkannya, ia pun pergi seolah tak melihat ada yang sedang duduk dibawah. Sama seperti Andheera yang tengah terduduk dibawah, lelaki itu juga hanya terfokus pada komiknya hingga mengabaikan hal disekitarnya.
“HEY! Aku mencarimu kemana-mana, kenapa kau malah dudukan dilantai?” seruan nyaring Vivian diujung lorong, membuat lelaki tadi menghentikan langkahnya sesaat dan berniat untuk menoleh kebelakang, untuk melihat apa yang terjadi.
Namun disaat yang bersamaan, Andheera beranjak dari lantai, kemudian berjalan menghampiri temannya yang sudah menunggu diujung lorong, sedangkan lelaki tadi hanya bisa melihat punggung Andheera yang membelakanginya serta setengah wajah Vivian.
Karena setengahnya lagi tertutupi oleh tubuh Andheera yang tengah berjalan menghampiri gadis yang berada tak jauh darinya.
“laki-laki itu tampan sekali, jika Andheera melihatnya dia pasti akan lompat kegirangan hahaha!!” gumam Vivian yang melihat wajah lelaki tadi menoleh kearahnya.
Setelah memastikan apa yang terjadi dibelakangnya, Keenan kembali berbalik melanjutkan langkahnya menuju kasir untuk membayar komik yang diambilnya barusan.
__ADS_1
“kau sudah selesai?” tanya Andheera.
“hmm, kau juga akan membeli komik itu?” pandangan Vivian tertuju pada komik yang masih digenggam Andheera.
“ooh ini, tidak, akan ku kembalikan dulu, kau duluan saja ke kasir.” Ujar Andheera, kemudian kembali ke tempat tadi untuk mengembalikan buku komik yang lupa ia taruh kembali.
Sementara itu, Vivian lebih dulu berjalan menuju kasir untuk membayar komik yang akan ia beli. Senyum vivian merekah kala ia melihat lelaki tampan yang dilihatnya tadi berada didepan kasir tengah bertransaksi, buru-buru ia menghampirinya agar bisa melihat lebih jelas wajah lelaki tampan idaman Vivian.
Meski hanya beberapa detik berada didekat lelaki tampan itu, namun hati Vivian benar-benar sangat senang sampai ia terus senyum-senyum sendiri, hampir lupa tujuan utamanya berdiri di depan meja kasir.
“dek, sudah pilih-pilih komiknya?” tanya abang kasir karena melihat pelanggannya yang masih bengong terus memandangi keluar.
“eeh iyaa, ini hehehe.” Vivian nyengir setelah dibuyarkan lamunannya oleh abang kasir, ia langsung memberikan beberapa komik yang sedari tadi hanya dipeluknya.
Selesai membayar Vivian keluar dari toko komik sembari menunggu Andheera yang masih juga belum muncul.
“kenapa kau senyum-senyum begitu?” tanya Andheera yang tiba-tiba muncul dari belakangnya.
“tidak.” Sahutnya masih dalam lamunannya.
“kau suka dengan abang kasirnya yaa?” celetuk Andheera sembari melirik ke arah abang kasir didalam, namun Vivian tak menggubrisnya ia malah berjalan pergi meninggalkan Andheera.
“hanya dia satu-satunya lelaki di dalam, tak mungkin kan kau menyukai sesame species.” kata Andheera sembari terus menyamai langkahnya dengan Vivian yang terlihat berjalan cepat.
“ayo kita makan, kau ingin makan apa?” tanya Vivian mengalihkan pembicaraan.
“kafemu saja.” jawab Andheera sekenanya, sebab Andheera tak memiliki pilihan tempat makan lain selain kafe milik temannya.
“kenapa? Aku ingin di kafemu tuh?” Andheera terkekeh tak ingin tempat lainnya.
“yang lain aja, aku traktir.” 2 kata terakhir Vivian membuat Andheera akhirnya luluh kemudian mengiyakan ajakan Vivian untuk makan di tempat lain.
“padahal tadi sebelum keluar juga sudah makan huuh.” Gumam Andheera setengah berbisik.
***
Sementara itu di kediaman Daniel (keluarga Brian).
Tepatnya diruangan kerja Daniel, karena ia tak masuk kerja hari ini sebagai gantinya Sekretaris Daniel yang datang ke kediamannya.
Brian yang saat itu baru saja pulang dari suatu tempat, ia berjalan melewati ruang kerja ayahnya sembari membawa minuman kaleng yang digenggamnya, ia sedikit mendengar perdebatan yang tidak berhubungan dengan pekerjaan, obrolan itu tampak sangat serius membuat Brian menghentikan langkahnya, dan beralih untuk menguping pembicaraan ayahnya dan sekeretasisnya.
Meski tak terdengar cukup jelas, namun Brian yakin itu bukan pembicaraan terkait pekerjaan, ia mendegar 1 nama asing yang semakin membuatnya penasaran, apa yang sebenarnya ayahnya bicarakan dengan sekretarisnya.
***
Di depan Toko roti milik orang tua Yerim.
__ADS_1
Mereka berdua terdiam sejenak di depan pintu masuk, sembari menatap serempak papan nama Toko roti yang berada diatas, sebelum mereka masuk ke dalam.
“toko roti? Bukannya kau lapar?” Andheera bingung karena Vivian malah mengajaknya ke toko roti.
“memangnya kau fikir roti bukan makanan, ayoo masuk.” Ajak Vivian seraya menarik paksa lengan Andheera yang pasrah, taka da sedikitpun perlawanan darinya.
“HEYY VIVI..!!” sapa Yerim dari dalam saat melihat kedua temannya datang berkunjung ke Toko rotinya, ia membuka celemek kerjanya dan hendak menghampiri kedua temannya yang masih berdiri, belum menentukan tempat mereka akan duduk.
“kau sengaja mengajakku kesini?” gumam Andheera tampak jelas tak menyukai ide Vivian.
Yerim berjalan mendekati kedua temannya lengkap dengan senyum cerah seperti biasanya.
“ku kira kau bercanda ketika akan mengajak Andheera datang ke toko ku hhehee, ayoo duduk disana.” ajak Yerim sembari menarik lengan Vivian dan Andheera menuju meja yang kosong di sudut ruangan.
“kau saja, aku mau pulang.” Ketus Andheera seraya melepas paksa kaitan tangan Yerim, lalu membalikan tubuhnya bersiap untuk kabur dari kedua temannya, namun tidak semudah itu, dengan sigap tangan Yerim menangkap kembali tubuh Andheera.
Yerim mengerahkan seluruh kekuatannya agar bisa membawa Andheera sampai ke tempat tujuannya.
“karena sudah disini, cobalah dulu rotiku, kemarin malam aku tak melihatmu memakan rotiku, kau hanya memandanginya.” Ujar Yerim kemudian mendudukan Andheera di kursinya, sedangkan Vivian dengan senang hati ia langsung duduk di depan Andheera.
Vivian terlihat tak sabar untuk menyantap roti hangat yang empuk buatan orang tua Yerim.
“itu karena aku tak suka.” Ketus Andheera yang kembali berontak sembari bangun dari tempat duduknya.
“kau tak suka roti atau orang yang memberikannya?” balas Yerim.
Melihat Andheera yang keras kepala, Yerim juga tak mau mengalah padanya, ia mendudukan kembali ANdheera ditempat duduknya, kali ini Andheera pasrah karena ia merasa bahunya sedikit sakit akibat genggaman erat dari kedua tangan Yerim yang sekuat Hulk.
Andheera fikir jika dia memaksa untuk berontak kembali, bisa jadi Yerim akan membuat tubuhnya remuk.
“ayoolah, udah saatnya kau keluar dari ruangan mu yang gelap itu, banyak orang yang mau berteman denganmu, contohnya akuuu..!! hheehee.” sambung Yerim, gadis mungil itu tampak bahagia karena kedatangan 2 tamu yang special di hari liburnya.
Ia pun pergi mengambilkan beberapa roti setelah pergulatan yang panjang menghadapi sikap keras satu temannya, namun pada akhirnya dimenangkan oleh kekuatan luar biasa Yerim.
“sepertinya Yerim tak takut padamu.” celetuk Vivian meledek Andheera.
“dia tak memiliki rasa takut karena dia bodoh.” Respon Andheera membuat Vivian terkejut dengan perkataan kasar temannya itu.
“hey!!” Vivian menyentil kening Andheera dengan jentrikan maut jemarinya sampai kening Andheera tampak memerah.
“oh ****!” ringis Andheera kesakitan seraya mengusap keningnya yang tak bersalah.
“kau tak boleh berkata kasar seperti itu, ingat kau sudah janji padaku akan lebih baik, Andheera.” Vivian mengingatkan kembali akan janji Andheera, saat sebelum mereka berbaikan beberapa hari yang lalu.
“astaga.. banyak sekali janjiku untukmu, Vian.” ledek Andheera tak perduli dengan perkataan Vivian, Andheera tetap berbuat semaunya, ia pun mengeluarkan ponsel dari saku celana jeansnya untuk memainkannya.
“seharusnya aku tak pernah percaya pada ucapanmu, dasar rubah licik.” Gerutu Vivian seraya memelototi wajah Andheera yang fokus pada layar ponselnya.
__ADS_1
***
Bersambung…