Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]

Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]
Episode 21


__ADS_3

“gak seharushnya aku berkata kasar padamu.” lanjut Brian kemudian menyimpan ponselnya ke dalam saku celana agar ia bisa fokus ngobrol dengan Vivian.


“aku yang seharusnya minta maaf padamu karena lebih memilih kehidupan yang lebih baik daripada harus menetap di Panti bersama kak Brian.” respon Vivian yang masih memperhatikan teman-temannya dibawah.


“kau masih belum berdamai dengan Andheera?” Brian mengganti topik pembicaraannya, seraya melirik sedikit ke arah Vivian sesaat, untuk melihat wajah Vivian dari samping yang hanya terlihat pipi gembilnya.


“sudah, berkat bantuan Fansclub kak Brian hhehee.” jawab Vivian dengan tawa renyah mencoba untuk menikmati obrolan ringan bersama Brian.


“Nuran? Bagaimana caranya?” tanya Brian tak mengerti sembari menoleh kearah Vivian.


“entahlah itu terjadi begitu saja, aku datang saat Andheera tengah dibully oleh Nuran, aku menyelamatkan Andheera bak seoarang pangeran yang menyelamatkan seorang Putri hhahaa.” ujarnya dengan menunjukan ekspresi bangga terhadap dirinya sendiri.


“itukah sebabnya banyak luka lebam diwajahmu, karena kau berkelahi dengan Nuran untuk menyelamatkan Andheera?” kesalahpahaman terjadi kembali, Vivian hanya menghela nafasnya dan mengiyakan apa yang Brian fikirkan.


“hmm.” respon Vivian tak ingin banyak berkomentar.


“coba ku lihat.” Brian membalikan tubuh Vivian secara paksa, lalu memegangi wajah vivian untuk memeriksa sebarapa banyak luka lebam yang vivian dapat, hingga membuat Vivian tersipu karena dipandangi Brian dari dekat.


“jika luka mu sebanyak ini bagaimana dengan Andheera?” namun setelah mendengar kalimat terakhir Brian yang ternyata mengkhawatirkan Andheera, dalam sekejap Vivian langsung mengubah ekspresi diwajahnya.


“dia baik-baik saja!” ketus vivian merasa cemburu sembari menepis kedua tangan Brian dengan kasar.


“sory gara-gara aku kalian jadi begini, sudah ke rumah sakit takutnya ada luka serius yang gak disadari?” Brian memandangi Vivian dari ujung kaki hingga kepala.


“tak perlu aku sudah mengolesinya dengan salep.” vivian mengalihkan pandangan karena salting.


“maksudku Andheera, jika lukamu seperti ini mungkin Andheera perlu dirawat dirumah sakit.” goda Brian sengaja membuat Vivian malu.


“andai saja aku bisa bilang sialan, huuhh.” Gumam Vivian sangat pelan sembari menahan emosi kekesalannya pada lelaki yang disukainya.


“aahhaahaa!! kau lucu sekali Vivi.” Brian mencubit kedua pipi gembil Vivian sembari tertawa, kemudian ia pergi meninggalkannya sendiri.


“jadi tujuan dia sebenarnya mengajak bertemu disini tuh untuk apa?” gerutu Vivian merasa dipermainkan oleh Brian.


Tak beberapa lama setelah Brian pergi, ponsel miliknya bergetar, dengan malas ia mengecek siapa yang mengiriminya pesan.


“Kak Brian,” gumam Vivian lalu membuka pesannya.


#kau semakin cantik vivian.# begitulah isi pesan Brian yang membuat Vivian membeku dalam 10 menit ke depan hingga bell masuk pun tak terdengar, karena fikirannya tengah berkelana jauh menuju tak terbatas dan melampauinya!.


***


Chimi café.


Setelah menerima pesan dari Andromeda, Andheera sedikit mengeluh kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar vivian yang terletak dilantai atas tepatnya di atas kafe.


“kak Hani, aku akan pinjam baju vivian,” ujarnya sembari berjalan melewati Hani yang tengah membantu karyawannya menerima pesanan,


“kau mau beristirahat dikamar vivian?” pertanyaan Hani menghentikan sejenak langkah andheera,


“tidak, aku hanya ingin mandi dan meminjam baju vivian,” jawab andheera kemudian melanjutkan kembali langkahnya yang sempat tertunda.

__ADS_1


***


SMA Kirin school Jakarta.


Mereka berdua tampak lelah setelah menyelesaikan piketnya, Vivian dan Anha malah berbaring di tempat duduk pinggir lapang basket, bukannya pulang mereka memilih untuk beristirahat sejenak sembari memandangi langit yang cerah di sore hari.


“besok akhir pekan kau ada acara?” Tanya Vivian pada Anha yang tengah memejamkan matanya.


“kerja,” sahutnya datar.


“kerja?” Vivian tak percaya dengan jawaban dari teman sekelasnya itu, makanya iamengulanginya untuk memastikan.


“heemm paruh waktu, setiap hari juga aku bekerja, tapi dimalam hari, kalau akhir pekan aku bisa bekerja di 2 atau 3 tempat.” Jawab Anha seraya menikmati udara sejuk di sore hari.


“apa kau..” Vivian menahan kalimatnya karena takut Anha akan tersinggung.


“ayahku sudah meninggal sejak usiaku 13 tahun, aku memiliki Ibu tiri dan kakak tiri perempuan, mereka berdua sangat baik merawatku dan membiayai sekolahku, tapi saat ibu tiriku di PHK, sekarang hanya kakak yang bekerja dan memenuhi semua kebutuhan sehari-hari, juga biaya sekolahku yang mahal karena sekolah ini termasuk sekolah Elite di Jakarta.” Paparnya.


“Padahal aku sudah bilang ingin sekolah ditempat biasa saja, tapi kakakku bersikeras untuk masuk ke sekolah ini, katanya jika sekolah mu terpandang ketika kau bekerja nanti kau takan diremehkan oleh orang lain. Makanya aku diam-diam bekerja untuk membantu sedikit keperluan sekolahku dan menabung juga untuk kuliahku nanti.” Sambungnya lagi.


“huufftt.. jika saja aku bisa lebih pintar lagi aku bisa saja mengajukan beasiswa agar tak bayar sama sekali.” Keluh Anha seraya memiringkan tubuhnya agar bisa melihat Vivian yang berbaring di bangku 1 tingkat dibawahnya.


“bagaimana dengan ibumu?” tanya Vivian lagi.


“entahlah, yang ku ingat ayah lah yang selalu bersamaku, sebelum ayah menikah dengan ibuku yang sekarang, aku tak tahu Ibu kandung ku masih ada atau tidak.” Jelasnya sembari menusuk-nusuk pipi gembil Vivian dengan jemari telunjuknya.


“apa kau pernah merindukannya?”


“tadinya aku mau mengajak kau bermain dengan Andheera besok.” Jawabnya sembari menoleh ke arah Anha.


“bukannya kau bilang Andheera sakit?” refleks Anha pun menoleh, ingin penjelasan lebih lanjut.


“aahh hheehee, dia sudah lebih baik ko, hanya memar sedikit.” Dustanya sembari nyengir.


“ammm, oke aku bisa meluangkan waktuku, aku tak akan mengambil part time malam, memangnya mau kemana?”


“ke rumahku saja, aku akan masakin kalian banyak daging (seruVvivian lalu bangkit dari tidurnya) kita ajak Yoora dan Yerim juga, gimana?” Vivian tampak antusias sekali.


“okee.” Anha langsung setuju dengan ide dari Vivian, sembari menunjukan tanda OKE dari kedua jemarinya.


“kalau gitu aku duluan yaa, sampai besok.” Vivian berlari pergi meninggalkan Anha, yang masih nyaman tiduran di tempat duduk yang biasanya digunakan untuk para siswa menonton pertandingan basket.


“dulu dia sangat jauh sekali meski berada di sekolah yang sama, juga mereka berdua terlihat susah untuk didekati. Tak kusangka sekarang 2 2 nya malah satu kelas denganku, seperti mimpi.” Gumam Anha yang membayangkan Vivian dan Andheera, 2 gadis yang popular saat di SMP kini menjadi teman dekatnya.


***


Setelah ia pindah dari rumah kakeknya yang besar, kini Vivian bisa bebas tak perlu dijaga 24 jam lagi dan tak butuh supir yang selalu mengantarnya kemana-mana, ia bisa kemana pun sendiri memakai umum.


Belum sampai pintu pagar sekolah, Vivian sudah dikejutkan oleh mobil yang tiba-tiba saja berhenti dipinggirnya, penasaran ia pun melirik ke arah pengemudi di dalam mobil, vivian sedikit mengernyitkan keningnya karena kebingungan.


Dilihatnya seseorang yang tak asing berada dibelakang kemudi, Brian dengan wajah cerianya dia melambaikan tangan pada Vivian lalu menurunkan kaca jendelanya.

__ADS_1


“butuh tumpangan Vivian, ku antar kau pulang.” ajak Brian pada teman kecilnya yang masih terdiam memandangi Brian, merasa ada yang aneh.


“hey, kau tak akan masuk?” ajak Brian lagi.


“aahh, iyaa okee.” Vivian tersadar dari lamunannya sesaat lalu naik ke dalam mobil Brian dengan perasaan bahagia yang luar biasa, namun ia tak ingin menunjukannya pada Brian, Vivian terus memalingkan wajahnya melihat ke arah luar.


“apa rumahmu dekat dengan rumah Andheera?” Tanya Brian sembari sesekali menoleh ke arah Bivian yang tengah asyik memandangi jalanan dari balik jendela mobil.


“hmmm, (mood vivian kembali anjlok gara-gara topik pembahasannya selalu saja Andheera)


tidak, dia tinggal didaerah Seoul, dan aku di Jalan Jeolla selatan.” Vivian mencoba sabar meski hatinya sangat kesal.


“okee.” balas Brian setelah mendapat jawaban dari Vivian ia kembali fokus pada jalanan.


“kak Brian bisa menanyakannya sendiri kenapa harus bertanya padaku.” Vivian mengajukan keluhan yang sedari tadi ia pendam.


“memangnya kenapa kau kan teman baiknya Andheera, masa aku tak boleh bertanya padamu.” jawab Brian dengan wajah tanpa dosa, ia melirik kearah Vivian yang tengah memendam kekesalannya.


“iya terserah kak Brian saja.” gumam Vivian tanpa melihat ke arah seniornya yang menyebalkan, disisi lain Brian hanya tersenyum tipis sudah mengisengi Vivian.


“Vivian, (panggil Brian dengan nada lembut)


apa impianmu masih sama seperti dulu? Menjadi Chef.” Katanya lagi.


“tiba-tiba? Kenapa bertanya impianku.” ujar Vivian seraya menoleh ke arah Brian yang tengah fokus mengemudi.


***


“aku hanya teringat tentang pertanyaan Andheera apa impianku yang sebenarnya, karena selama ini aku hanya menjalani apa yang ayahku tentukan, tak pernah berfikir akan tujuan dan impianku yang sebenarnya.” Jelas Brian, lagi-lagi tentang Andheera seolah Brian sengaja ingin membuat gadis yang berada disebelahnya cemburu.


“ooh gitu, ammm.. menjadi Chef adalah impianku dulu, tapi sekarang impianku adalah menikah denganmu.” ujar Vivian lalu mengarahkan kembali pandangannya ke luar.


Brian terlihat menaikan ujung bibirnya, “jika kau sangat menyukaiku seharusnya kau tetap bersamaku, kukira kau lebih menyukai kehidupan barumu.” Respon Brian seraya menunjukan raut wajah kekecewaan yang sangat mendalam.


“aku pergi untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik agar aku bisa pantas bersamamu.”  Vivian beralasan kemudian menoleh ke arah Brian lengkap dengan senyum yang menghiasi wajah gembilnya, Vivian berusaha untuk membuat Brian mengerti situasinya. 


“lalu kenapa kau tak pernah kembali? kau bahkan tak pernah mengunjungi panti asuhan lagi, seakan kau ingin melupakan kenyataan kau pernah tinggal di panti asuhan. Kau bahkan tak pernah mencariku!  Apa kehidupan baru membuat mu lupa diri?” mengingat kejadian masa lalu membuat emosi Brian terpancing kembali.


“apa seperti itu pandanganmu terhadapku? Baiklah, fikirkan semau kak Brian saja.” Vivian tak ingin kembali berdebat dengan Brian, ia membiarkan Brian meluapkan semua emosinya.


“apa yang membuatmu berubah Vivian, kurasa kau sudah melangkah terlalu jauh.” Brian terus memojokan Vivian tak perduli apapun alasannya, Brian masih belum bisa memaafkan Vivian yang telah meninggalkannya 3 tahun yang lalu.


“apa impianmu?” Vivian mengalihakan pembicaraan, karena ia mulai merasa mood Brian tak begitu bagus jika dilanjutkan.


Namun sepertinya brian sudah tak ingin berbicara, wajahnya tampak serius hanya memandangi jalan yang dilaluinya, sampai akhirnya tiba di tempat tujuan.


“makasih kak Brian.” ucap Vivian sebelum turun dari mobil, ia masih memandangi wajah Brian bahkan hanya beberapa detik sebelum pintu mobil ditutup dengan pandangan lirih.


Tanpa menoleh sedikitpun Brian menancapkan gasnya dan berlalu pergi setelah menurunkan Vivian di depan Kafe. Vivian hanya bisa menghela nafas panjang karena bagaimanapun juga ia membela dirinya itu hanya akan menjadi sebuah alasan. Vivian lebih memilih mengalah menerima perlakuan kasar Brian terhadapnya.


***

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2