Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]

Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]
Episode 17 (Luka masa lalu Andheera)


__ADS_3

Sebenarnya Diana masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh cucunya tentang luka itu, namun sudah lama ia tak mendengar Andheera berulah. Kali ini ia ingin percaya pada perkataan Andheera berharap gadis kasar itu sudah benar-benar berubah.


Diana menghela nafasnya sebelum berjalan pergi keluar meninggalkan Reza, juga kedua cucunya yang tengah bersenang-senang, Diana merasa butuh udara segar dan menjernihkan fikirannya diluar.


Wanita yang sudah berumur lebih dari setengah abad itu berjalan menuju Gazebo sembari melihat-lihat halaman rumah Reza yang dipenuhi bunga berwarna-warni, sembari tersenyum ia seolah teringat akan kenangan masa lalunya saat keluarganya masih utuh.


“menantu kita mirip sepertimu sayang, baik dulu maupun sekarang dia masih sama selalu membuat taman indah di halaman rumah, jika kalian sudah membicarakan tentang tanaman mungkin bisa seharian sampai lupa waktu.” Diana menyeka air matanya yang mulai menetes karena merindukan suaminya yang lebih dulu pergi meninggalkannya.


“nyonya.” panggil Minna yang tiba-tiba datang dari belakang, Diana berbalik melihat siapa yang mengikutinya, kemudian kembali melanjutkan jalannya menuju gazebo setelah tahu yang mengikutinya adalah Minna.


“nyonya tidak boleh terlalu lama diluar, diluar sangat dingin.” ujar Minna yang khawatir mengingat kondisi Diana yang sudah semakin tua.


“kalau begitu tolong buatkan saya teh hangat dan ambilkan mantel saya dikamar.” Pinta Diana kemudian duduk di kursi sembari menghangatkan tubuhnya dengan memeluk dirinya sendiri.


“baik nyonya.” Minna langsung pergi setelah mendapatkan perintah dari Diana.


Dalam perjalanannya menuju rumah Minna berpas-pasan dengan Vivian yang berjalan keluar sembari memandangi ke arah Diana yang tengah duduk di kursi gazebo sendirian.


“nona Vivian juga mau teh hangat?” Tanya Minna pada teman Andheea yang terlihat akan berjalan menuju gazebo menyusul Diana yang sudah lebih dulu disana.


“coklat hangat saja, Minna eonni thank’s.” respon Vivian sembari tersenyum selebar mungkin lalu berjalan kembali.


“baik nona.” jawabnya kemudian pergi ke arah yang berlawanan.


Melihat Vivian yang berjalan ke arahnya Diana pun tersenyum manis untuk menyambut Vivian.


“kenapa kau keluar? diluar sangat dingin sayang.” Ujarnya lembut.


“kalau sangat dingin kenapa omma keluar?” balas Vivian seraya duduk di sebelah Diana kemudian memeluknya seolah tengah memeluk Neneknya sendiri, tangan Diana pun mengusap lembut tangan Vivian untuk menunjukan kasih sayangnya.


“hanya..”


“hanya apa?”


“tidak, (Diana merangkul Vivian seraya mengusap lembut kepala Vivian)


kau teman Andheera dari SMP, kau pasti sudah sangat mengenal Andheera?”


“tidak juga, Andheera hanya membuka pintu sedikit, sedikit ini (Vivian menunjukannya dengan kedua jemarinya membuat Diana tersenyum karena gemas)


aku tak benar-benar mengenalnya omma, yang ku tahu berteman dengannya membuatku merasa nyaman, meskipun Andheera gadis yang kasar, tak cuma sekali atau 2 kali perkataannya yang membuatku terluka, tapi gak tahu kenapa, aku tak pernah bisa membencinya.” Ungkap Vivian sembari terus menyender dalam dekapan Diana.


“apa dia pernah menyakitimu?” tanya Diana.


Vivian tersenyum mendengar pertanyaan Diana seolah Vivian tahu kemana arah pertanyaan Diana.


“Andheera memang bukan gadis yang baik atau ramah, tapi dia tak pernah melukai seseorang ommaa, Andheera melampiaskan emosinya dengan cara yang lain.” Paparnya.


“amm, ommaa coba ceritakan tentang Andheera.” sambung Vivian seraya mengeratkan pelukannya pada Diana.


“amm, apa yang harus omma ceritakan?” Diana kebingungan karena takut salah bicara.


Tak lama vivian dan Diana melihat Minna tengah berjalan membawa baki yang berisikan teh hangat, coklat panas pesanan Vivian dan tak lupa mantel Diana yang mina selipkan di sikunya. Vivian pun melepas pelukannya dan beralih membantu Minna meletakan teh hangat dan coklat panas miliknya di meja.

__ADS_1


“makasih kak Minna.” ucap Vivian lengkap dengan senyum cerahnya.


Mina pun dengan senang hati membalas senyuman Vivian kemudian memakaikan mantel pada Diana, sebelum akhirnya kembali pergi meninggalkan Vivian dan Diana melanjutkan obrolannya.


“kenapa aku tak pernah menemukan foto ibu Andheera dimanapun omma, apa sengaja disembunyikan?” Vivian melanjutkan pembicaraan sembari meniup coklat panas lalu menyeruputnya sedikit-sedikit.


Sementara itu Diana pun ikut menikmati teh hangat nya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari Vivian.


“itu.. karena jika Andheera melihat foto ibunya, omma takut ingatan Andheera tentang masa kecilnya kembali. Sebenarnya masa kecil Andheera tidak begitu bagus, omma bersyukur sejak kecelakaan tragis itu Andheera kehilangan semua ingatan buruk masa kecilnya.” Paparnya.


“Jadi Andheera bisa menjalani hidupnya dengan normal.” Tambah Diana seraya menaruh kembali the hangatnya di atas meja.


“kecelakaan tragis?” Vivian mengulang kalimat Diana.


“iyaa, kau tahu kecelakaan beruntun yang terjadi 11 tahun lalu, yang melibatkan 100 mobil di jembatan dekat Bandara Incheon Jakarta. Kecelakaan yang banyak mengakibatkan korban Jiwa termasuk seorang aktris yang tengah naik daun pun meninggal karena kecelakaan tragis itu, tak ada yang tahu penyebab pastinya, hanya disimpulkan dengan kecelakaan beruntun akibat salah satu rem blong.”


“Beruntung sebelum ledakan besar  terjadi kedua cucu omma juga Hyemi putri omma sudah keluar dari mobil, tapi sayangnya Hyemi harus mengalami koma selama berbulan-bulan hingga akhirnya ia pun meninggal.”


“kecelakaan yang paling bersejarah? sampai jalannya harus ditutup untuk perbaikan dalam beberapa hari, jadi Andheera juga terlibat.” Gumam Vivian yang merespon cerita dari Diana.


Vivian mencoba mengingat kecelakaan yang paling bersejarah dimasa itu yang menggemparkan kota Jakarta, karena banyak memakan korban jiwa bukan hanya pengendara mobil namun beberapa petugas pemadam kebakaran dan tenaga medis  juga ikut menjadi korban ledakan mobil-mobil yang saling bertabrakan.


“sejak saat itu Andheera tak memiliki ingatan apapun, bahkan pada awalnya Andheera  tak mengenali ayahnya sendiri, omma dan juga Andromeda. Hati omma sangat sakit tapi juga bersyukur karena dengan begitu Andheera bisa memulai kehidupan barunya tanpa adanya penyesalan.”  


“sekarang bagaimana kalau gentian, omma akan mendengarkan cerita masa kecilmu.” Tambah Diana, saat Vivian masih terdiam tak merespon cerita terakhirnya.


“bisa dibilang masa kecilku pun tak begitu menyenangkan omma.” Vivian meraih kedua tangan Diana untuk menggenggamnya erat.


“aku tak banyak memiliki kenangan dengan kedua orang tuaku, karena mereka sudah meninggal sewaktu aku berumur 7 tahun, aku tinggal dipanti asuhan cukup lama sebelum akhirnya kakekku menemukanku dan membawaku pergi dari panti asuhan.” Sambungnya.


“andai saja aku memiliki nenek seperti omma, hikss (isak vivian masih mencoba menahan tangis pilunya)kakekku sangat jahat omma, dia penyebab kedua orang tuaku selalu bertengkar, bahkan disaat terakhir mereka, mereka masih belum sempat berdamai lalu tiba-tiba rumahku kebakaran.” Vivian tetap menahan tangisannya dalam pelukan Diana.


“aku sangat benci kakekku!” tukas Vivian sembari mengepalkan tangannya mencoba menahan emosinya, mendengar cerita tentang keluarga vivian, hati Diana terasa sakit tanpa sadar Diana meneteskan air mata, kemudian mencoba menepuk nepuk punggung vivian untuk menenangkan gadis malang itu.


***


Di ruang tamu.


Setelah puas bermain, Andheera naik kekamar dan posisinya digantikan oleh ayahnya. Seolah tengah mengikuti pertandingan game sebenarnya ayah dan anak itu begitu kompetitif hingga tak perduli dengan hal sekitarnya.


“AAIIISSHHHH !!!” lagi-lagi Reza kalah dari Andromeda kemudian membantingkan stick PS karena kesal.


“AYAH!! bagaimana jika sticknya rusak,” keluh Andromeda. “kalau kalah ya akui dong kekalahannya jangan malah marah sama sticknya, bukan sticknya yang salah tapi kemampuan jemarimu yang lemah karena ayah sudah semakin tua aahahahha!!” tak tahan dengan ledekan putra sulungnya Reza pun mengapit kepala Andromeda dalam ketiaknya seraya menjitak kepala Andromeda berulang kali.


“AARRGGHH sakit ayaaah!! aaarrrrgghh!!” rengek Andromeda dalam apitan ayahnya, namun karena ayahnya lebih kuat membuat Andromeda kesuliatan untuk melepaskan diri dari ayahnya.


“aughh.. lepaskan!! sepertinya aku akan pingsan, ketekmu sangat bau ayaahh!!” Andromeda terus meronta-ronta dalam apitan ketiak Reza.


Selagi ayah dan putranya tengah berkelahi, Vivian yang baru saja kembali setelah mengobrol diluar bersama Diana, gadis itu berjalan santai menaiki tangga menuju kamar Andheera, sembari sesekali masih menyeka air matanya.


Kamar Andheera.


Tampak Andheera tengah bersiap-siap mengganti celananya dengan training kemudian memakai jaket tebal, tak lupa Andheera juga menguncir rambutnya dengan rapih.

__ADS_1


“apa yang kau bicarakan dengan omma?” Andheera menatap kedua mata Vivian dengan tajam saat Vivian hendak melangkahkan kakinya untuk masuk ke kamarnya.


“hanya mendengar sedikit cerita masa kecilmu dan aku pun bercerita tentang diriku.” jawab Vivian seraya menunjukan deretan giginya yang putih dan rapih, ia pun berjalan menghampiri Andheera berdiri.


Saat Vivian sengaja untuk mendekatinya, Andheera malah hendak berjalan keluar dari kamarnya.          


“kau menangis?” tebak Andheera seraya memegang pegangan pintu.


“sedikit.” kata Vivian.


“kau pilih aku atau omma?” tiba-tiba Andheera mengajukan pertanyaan yang aneh. “kenapa, tak bisa jawab?” lanjut Andheera yang sudah siap untuk membuka pintu kamarnya dan meninggalkan Vivian, sebab temannya itu hanya terdiam kebingungan.


Kamar Andheera.


Tampak Andheera tengah bersiap-siap mengganti celananya dengan training kemudian memakai jaket tebal, tak lupa Andheera juga menguncir rambutnya dengan rapih.


“apa yang kau bicarakan dengan omma?” Andheera menatap kedua mata Vivian dengan tajam saat Vivian hendak melangkahkan kakinya untuk masuk ke kamarnya.


“hanya mendengar sedikit cerita masa kecilmu dan aku pun bercerita tentang diriku.” jawab Vivian seraya menunjukan deretan giginya yang putih dan rapih, ia pun berjalan menghampiri Andheera berdiri.


Saat Vivian sengaja untuk mendekatinya, Andheera malah hendak berjalan keluar dari kamarnya.          


“kau menangis?” tebak Andheera seraya memegang pegangan pintu.


“sedikit.” kata Vivian.


“kau pilih aku atau omma?” tiba-tiba Andheera mengajukan pertanyaan yang aneh. “kenapa, tak bisa jawab?” lanjut Andheera yang sudah siap untuk membuka pintu kamarnya dan meninggalkan Vivian, sebab temannya itu hanya terdiam kebingungan.


“bukan begitu, memangnya aku harus memilih?” keluh Vivian.


Tak ingin melanjutkan perdebatan Andheera memutuskan untuk pergi, ceklekk.. pintu kamar sudah terbuka.


“aku memilihmu, Andheera!” seru Vivian saat Andheera akan keluar kamar, terlihat senyum tipis dibibir gadis itu sebelum ia melanjutkan langkahnya berjalan keluar kamar.


“hey tunggu! aku juga mau ke apartemenmu?” sambung  Vivian kemudian mengambil ransel dan berjalan cepat menyusul langkah temannya yang sudah lebih dulu menuruni tangga.


“heemm,” sahut Andheera sambil berjalan perlahan agar Vivian bisa menyusulnya.


15 menit berlalu, suasana diruang tengah kini sepi, sudah tak ada lagi keributan seperti tadi. Dikarenakan baik Reza maupun Andromeda telah tumbang dan tertidur di sofa sembari berpelukan layaknya sepasang kekasaih yang tengah memadu asmara.


Melihat moment seperti itu membuat otak jail Vivian bekerja dengan cepat, ia mengeluarkan ponsel dari saku celana lalu memotret kemesraan antara Reza dan Andromeda.


“hiihihiiihii..” Vivian tertawa sepelan mungkin agar tak membangunkan mereka.


“Andheera tunggu, aku ambil kue ku dulu.” ujar Vivian setengah berbisik lalu berlari kecil menuju dapur mengambil kue tart yang ia taruh di lemari Es.


Namun Andheera tak mendengar, ia malah terus berjalan keluar meninggalkan Vivian. Saat Vivian berjalan kembali melewati ruang tengah, ia berjinjit pelan karena takut membangunkan Reza dan Andromeda yang sudah sangat terlelap dalam mimpinya.


Krreeett..  Suara pintu terbuka oleh Andheera refleks membuat kakaknya tersadar sesaat dari tidurnya.


“aaahh, bukannya itu Vivian kenapa dia berjalan seperti itu hhehee.” Andromeda terbangun meski tak sepenuhnya sadar karena nyawanya belum benar-benar kumpul, ia kebingungan melihat teman adiknya yang berjalan aneh, kemudian tertidur kembali seolah ia tengah mengigau.


***

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2