![Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]](https://asset.asean.biz.id/mimpi-dan-harapan--pov---andheera-.webp)
Apartemen Andheera.
Andheera mendapatkan apartemen ini dari Neneknya saat ulang tahunnya yang ke 15. Alih-alih meminta dibelikan mobil atau hal mewah lainnya, Andheera lebih memilih dibelikan sebuah Apartement, sebuah tempat untuk persembunyiannya.
Bagi Andheera, apartementnya adalah rumah keduanya disaat ia ingin menyendiri dan menahan emosi yang kadang tak terkendali. Di apartement juga tersedia tempat untuk berolah raga serta sebuah ruangan kosong tempat Andheera berlatih taekwondo bersama Vivian dilengkapi beberapa peralatan tinju seperti 2 buah samsak dan alat pelindung.
Di bagian tengah dekat sofa ruang tamu ada sebuah piano yang biasanya Andheera mainkan saat hatinya butuh ketenangan, Andheera akan menciptakan melodi sendiri untuk menenangkan hatinya. Peralatan di dapur yang juga tak kalah lengkap dengan peralatan yang ada dirumahnya, mungkin bisa dibilang ia seringkali mengambil peralatan dapur dirumahnya, makanya ART dirumahnya selalu mengeluh kehilangan spatula, panci, blender dan banyak lagi.
Hanya Vivian yang mengetahui keberadaan Apartement Andheera, sebab Andheera tak membiarkan siapapun masuk ke dalam tempat pribadinya termasuk kakak dan ayahnya tak ada yang tahu jika Andheera memiliki apartement, Diana pun hanya sebatas tahu Andheera memiliki apartement namun tak pernah tahu tempatnya berada dimana.
Terlepas dari lengkapnya fasilitas yang ada di Apartement, Namun tak seperti kebanyakan anak ABG pada umumnya yang sudah memiliki kendaraan sendiri, Mobil mewah yang dipakai untuk ke sekolah atau berpergian dengan pasangan, meski belum cukup umur mereka bisa mengendarainya karena orang tua mereka orang-orang yang berpengaruh, tak ada yang bisa melaranganya.
Lain halnya dengan Andheera, seperti tak berniat untuk belajar mengendarai Mobil, Andheera masih nyaman mengendarai Sepeda tua pemberian ayahnya saat ulang tahunnya yang ke 10.
Sesampainya di Apartemen, Andheera langsung berjalan menuju ruang latihan taekwondo kemudian mengganti bajunya dengan seragam taekwondo. Vivian pun mengikuti langkah temannya, setelah meletakan ransel di sofa dan kue tart miliknya ia masukan ke dalam lemari Es, ia menyusul Andheera ke ruang latihan.
Vivian melihat Andheera sudah siap dengan seragam taekwondo, tanpa berlam-lam ia langusng memulai pemanasan sebelum melanjutkan aksinya memukul-mukul samsak untuk meluapkan emosinya yang sudah tak tertahankan.
“jangan terlalu berlebihan, tanganmu masih sakitkan.” Vivian yang tengah berbaring di matras sembari memainkan ponsel mengingatkan Andheera akan kondisi tangannya yang terluka.
Namun sepertinya Andheera tak menghiraukan Vivian, Andheera meninju samsak dengan sekuat tenaga.
BUK..BUK..BUK !! suara samsak yang terkena pukulan serta tendangan Andheera terdengar begitu nyaring tiada henti, seolah ia benar-benar ingin melampiaskan semua amarahnya pada sebuntal samsak yang tidak bersalah.
Bulir-bulir cairan keringat Andheera mulai membasahi wajah dan tubuhnya yang tertutupi seragam taekwondo. Vivian yang sedari tadi tenang memainkan ponsel kini mulai khawatir dengan kondisi lengan temannya, Vivian pun bangun lalu duduk sembari terus mengamati pergerakan Andheera.
“apa kau sudah gila? Berhentilah Andheera!!” seru Vivian tak tahan melihat kegilaan Andheera, sontak membuat Andheera berhenti sesaat lalu menatap tajam ke arah Vivian.
“kalau begitu kau ingin bertarung?” ajak Andheera seraya menunjukan tatapan penuh amarah.
“bukannya aku tak mau, tapi keadaan tanganmu tidak dalam kondisi baik.” timpal Vivian mencoba membuat Andheera mengerti akan kekhawatirannya.
“kalau begitu lupakan.” Andheera bersiap untuk memukul kembali samsaknya.
“oke.. oke tunggu, aku pakai seragamku dulu,” ujar Vivian kemudian berdiri serta berjalan menuju lokernya untuk memakai seragam taekwondo miliknya.
“astaga! terkadang ada saat dimana aku menyesal mengatakan jika dia teman baik ku.” gumamnya saat berjalan menuju loker tempat penyimpanan seragam taekwondo.
Selagi menunggu Vivian tiba-tiba ingatan masa kecilnya kembali muncul dalam bayangan Andheera.
11 Tahun yang lalu.
Andheera kecil yang polos tengah memperhatikan percakapan ibunya di telfon perlahan ia berjalan mendekati Hyemi yang berdiri membelakanginya.
#kapan kau akan pulang?# Hyemi bertanya pada seseorang ditelfon.
#iya baiklah,# katanya lagi dengan nada yang sangat lembut.
#tidak, aku hanya ingin bertanya karena merindukanmu,#( mendengar itu Andheera kecil menyimpulkan bahwa yang tengah di telfon ibunya adalah ayahnya.) #baiklah aku tutup,# Hyemi mengakhiri percakapannya ditelfon dengan senyum manis yang terukir dibibirnya.
Ketika ia berbalik, ia mendapati putri kecilnya tengah berdiri tanpa ekspresi di hadapannya , sontak Hyemi terkejut hingga menjatuhkan ponselnya.
__ADS_1
“apa?! Berhentilah menatapku seperti itu!!” seru Hyemi yang ketakutan lalu mundur perlahan.
“aku hanya ingin melihat ibuku sendiri, apa itu tak boleh?” Andheera kecil masih menatap tajam kedua mata Hyemi yang tampak sangat ketakutan.
“kalau aku tahu kau akan terlahir mengerikan seperti ini, aku takan membiarkanmu hidup kau bahkan sangat mirip seperti dirinya!” hyemi bergumam pelan, namun masih tetap terdengar jelas oleh Andheera kecil.
“mamaa, aku menyayangimu.” Andheera berjalan perlahan mendekati Hyemi yang terus mundur menjauhinya.
“BERHENTI!!” Hyemi membantingkan barang yang ada di sekitarnya untuk membuat Andheera berhenti berjalan mendekatinya.
“kenapa? Apa aku membuat kesalahan maa? Kenapa hanya kakak yang mama sayangi? Aku juga putri mama kan.” Andheera berjalan kembali mendekati Hyemi yang sudah terpojok tak bisa mundur lagi.
Seperti sudah kehilangan akal Hyemi mendorong Andheera hingga kepalanya terbentur dinding kemudian pingsan seketika. Karena saking ketakutannya Hyemi sampai mencelakai putri nya sendiri.
Hyemi panik melihat Andheera terbaring tak berdaya dengan luka dikepala akibat benturan yang cukup keras tadi. Buru-buru Hyemi menggendong Andheera keluar menuju garasi mobil, disisi lain Andromeda yang kala itu baru pulang sekolah merasa curiga dengan sikap Hyemi yang tengah menggendong adiknya.
Ia langsung berlari, diam-diam masuk ke dalam mobil yang dikendarai Hyemi tanpa sepengetahuan Hyemi. Andromeda bersembunyi dibalik kursi Hyemi sembari terus memandangi adiknya yang trtidur dikursi sebelah Hyemi.
Sampai akhirnya Andheera pun tersadar, Andheera melihat kakaknya tengah bersembunyi dibalik kursi sembari terus memandanginya dengan penuh khawatir. Andromeda tampak sangat ketakutan karena Hyemi terus menancapkan gasnya, Hyemi seperti hilang kendali ia kebut-kebutan dijalanan. Hyemi masih belum sadar jika Andheera sudah bangun, sebab ia terlalu fokus pada jalanan.
Sampai kecelakaan Tragis tak terhindarkan, karena mobil melaju begitu cepat Hyemi tak bisa menghindar dan ikut terlibat dalam kecelakaan beruntun yang ada dihadapannya.
Dari arah belakangpun ada beberapa mobil yang menghantam mobil Hyemi hingga mobil Hyemi akhirnya terbalik.
***
“Andheera, kau melamun?” Vivian berulang kali mencoba memanggil nama Andheera namun gadis itu sama sekali tak bergeming, hingga akhirnya Vivian memutuskan mendorong samsak ke arah wajahnya. “HEY!!” teriak Vivian diiringi dengan hantaman keras samsak yang mengenai wajah Andheera.
“tunggu.. tunggu, kau yakin tanganmu baik-baik saja kan?” Vivian memastikan karena khawatir.
“tentuu!!” Andheera mengepalkan kedua tangannya untuk menutupi darah yang sudah menembus kain kassa, sebab ia tak ingin Vivian mengetahuinya.
“okee baiklah, karena kau yang memaksa jangan salahkan aku jika wajahmu biru-biru.” ujar Vivian sembari tersenyum penuh arti mencoba mengatur strategi untuk mengalahkan gadis yang sudah berlatih tekwondo sejak kecil.
“tunjukan saja kemampuanmu!!” sahut Andheera lengkap dengan senyum menyeringai.
20 menit mereka bertarung saling memukul, menendang dan menangkis seolah tengah dalam pertandingan Taekwondo yang sebenarnya. Baik Andheera maupun Vivian, keduanya sama-sama kompetitif, meski Vivian baru belajar taekwondo beberapa tahun terakhir tapi kemampuan Vivian tak bisa diremehkan.
Vivian tak pantang menyerah dan terus menyerang Andheera dengan ganas, namun Andheera berhasil menangkis pukulan Vivian karena dibandingkan dengan kemampuan Vivian, Andheera masih jauh lebih unggul terbukti dari luka lebam yang didapat, Vivian lebih banyak memilikinya baik diwajah maupun di tubuhnya. Mereka bertarung sampai akhirnya Vivian pun menyerah karena kelelahan.
Kemudian mereka berbaring di matras mencoba mengatur pernafasannya masing-masing sebelum menoleh saling memandangi luka lebam yang di dapat.
“HHAHAAAHAHAAA!!” tawa mereka serempak, bukannya kesakitan mereka malah tertawa bersama seolah beban berat telah terangkat dalam tubuh mereka.
“apa yang kau fikirkan saat memukulku, sepertinya kondisi hatimu juga tak cukup baik.” gumam Andheera lalu beralih memandangi langit-langit.
“kakek ku.” jawab Vivian. “aku hanya tak mengerti, berulang kali aku berfikir apa yang membuat kakek sangat membenci ayahku, aku.. aku tak menemukannya, Andheera.
Mereka saling mencintai, apa cinta adalah sebuah kesalahan?” Vivian menoleh ke arah Andheera yang tengah memandangi langit-langit.
“kakek ku bersikeras memisahkan ibu dari ayah,
__ADS_1
tapi kenapa? Apa alasannya?” Vivian bangkit kemudian duduk menekuk kedua kakinya, Andheera menoleh ke arah Vivian lalu ikut bangkit dan memandangi temannya yang tampak masih terus menahan kesedihannya.
“Ayahku sudah cukup bekerja keras dengan membangun sebuah kafe, ayah berjuang dari 0 sampai akhirnya kafeku ramai pengunjung dan pendapatan pun semakin meningkat..” nada suara Vivian mulai bergetar kini ia tak bisa lagi menahannya, tangan Andheera perlahan menggenggam tangan gadis malang itu seolah ingin menguatkan.
“Tapi kakek tetap tak bisa terima, kakek ingin membawa pergi aku dan ibuku meninggalkan ayah. Sampai akhirnya hal mengerikan itu terjadi, aku kehilangan keduanya.. Ayah dan ibuku.. huu huuu huuu!!” akhirnya tangis Vivian pecah seiring dengan hatinya yang tengah merindukan kedua orang tuanya.
Melihat Vivian yang kesakitan Andheera tak tahan lalu memeluk Vivian dengan erat, ia seolah merasakan sakit yang sama seperti Vivian. “hhuu..huuuu..huuu !!” Vivian semakin meluapkan kesedihan dalam isak tangisnya yang sedari tadi terus ia tahan, tangan Andheera mencoba membelai kepala Vivian untuk sedikit menenangkannya.
“sum I mak hil got gat don o je wa, nun tul him jo cha ob ton o nu ri
to ban bok dwel gon man ga ta, ul go shi pun ni mam a ra na do tok ga tun gol
ooh woooh.. jam shi shwi o ga do dwe.. oohh.. chon chon hi go ro do dwe
nol ta ra o nun gu rim ja ma jo him gyo ul ten..” Andheera menyanyikan lagu untuk Vivian sembari terus membelai kepala Vivian berharap apa yang dilakukannya bisa sedikit menenangkan hatinya.
“gwen cha na yo gwen cha na yo yo gi ne ga is su ni ka yo
gwen cha na yo gwen cha na yo it ji ma yo ne ga it tan gol..” Andheera meneruskan nyanyiannya sampai Vivian merasa lebih baik, suara Andheera sangat merdu hingga membuat Vivian tersentuh dan merasa lebih baik.
#arti dari lagu korea tersebut.
Kemarin disaat kau merasa tak bisa bernafas
dan hari ini kau merasa tak memiliki kekuatan untuk membuka matamu
dank kau merasa semuanya akan terulang kembali
hatimu rasanya ingin menangis, aku mengerti itu semua
karena aku pun merasakan hal yang sama
Tidak apa-apa jika kau ingin beristirahat sebentar
tidak apa-apa jika kau ingin berjalan lebih lambat
bahkan disaat bayangan yang mengikutimu menjadi tak tertahankan
tidak apa, tidak apa sebab aku akan berada disini
tidak apa, tidak apa jangan lupa bahwa aku ada disini.
Song, X1-I’m here for you.
Sesaat segalanya terasa sulit untuk dihadapi, namun saat teman baiknya itu sudah memeluk erat Vivian dan menyanyikan lagu untuk menenangkan fikirannya, Vivian sadar jika ia tak sendiri, ia memiliki Andheera yang akan terus menemani dan menguatkannya.
Hanya yang memiliki luka yang sama yang dapat mengerti. Karena Andheera pun memiliki luka dalam keluarganya, Andheera tau betul bagaimana sakit dan beban yang harus ia tanggung sendirian.
***
Bersambung…
__ADS_1