![Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]](https://asset.asean.biz.id/mimpi-dan-harapan--pov---andheera-.webp)
Beberapa menit setelah Vivian mengganti baju seragam, Vivian kembali dengan membawa mangkuk yang berisikan tokpoki pesanan Andheera, dalam perjalanannya menuju meja, Vivian sedikit terkejut karena ia baru mengetahui akan bakat terpendam Andromeda.
Gadis itu terkejut sembari memegangi mangkuk yang berisikan tokpoki, untuk sesaat ia hanya berdiri memandangi Andromeda dengan tatapan tak biasa, dan juga dengan mulut yang setengah menganga kemudian melanjutkan langkahnya kembali setelah sadar.
“Kakak, apa kau seorang rapper?” tanya Vivian lalu duduk, kembali bergabung dengan kedua kakak beradik yang konyol ini.
“ini tokpokimu.” Vivian menaruh mangkuk tokpoki di depan Andheera yang tengah asyik memainkan ponsel.
Andheera pun meletakan ponsel nya di meja lalu beralih untuk melahap tokpoki miliknya yang masih panas.
“Andheera..” panggil Andromeda dengan tatapan sinis.
“hmm..” respon Andheera masih terfokus dengan makanannya.
“kau tak mendengarkan Kakak?” Andromeda merajuk.
“tidak.” jawab Andheera acuh.
“sudahlah, Kakak kan bisa menghubungi gebetan Kakak lagi.” Timpal Vivian menengahi.
Mendengar saran dari Vivian, akhirnya Andromeda mengalah kemudian mencoba menghubungi Tsuyu kembali, masih dengan perasaan kesalnya. Saking kesalnya Andromeda menekan keyboard laptop menggunakan tenaga dalam.
“keyboard laptopmu tak memiliki salah apapun Kakak.” ujar Vivian saat mendengar suara keyboard laptop Andromeda, terdengar seperti ia tengah menekan mesin ketik jaman dahulu kala.
Berulang kali Andromeda mencoba menghubungi kembali Tsuyu, namun sepertinya Tsuyu sudah mulai sibuk kembali karena ia tak menjawab panggilan video call darinya.
“tak di jawab?” tanya Vivian yang mendengar helaan nafas berat Andromeda.
“iya.” sahut Andromeda lemas seraya menyandarkan tubuhnya.
“iya sudah besok lagi saja.” kata Vivian lagi dengan nada lembut membuat hati Andromeda luluh dan berhenti mempermasalahkannya.
“aiisshh..” keluh Andromeda lalu menenggelamkan wajah diantara lengannya yang tertumpuk diatas meja, mencoba menahan emosi yang melanda hatinya karena kejahilan adiknya.
“aku akan menghabiskan akhir pekanku di rumah Vivian, Kakak, sampaikan pada ayah.” Ujar Andheera yang masih menikmati makanannya.
“kalau begitu Kakak juga.” respon Andromeda masih pada posisinya.
“Kakaka..!!” rengek Andheea.
“iyaa iyaa baiklah, Kakak bercanda.” Andromeda bangkit lalu memasukan kembali laptop miliknya ke dalam tasnya.
“sepertinya mood Kakak masih sangat jelek, bagaimana kau akan bertanggung jawab sekarang Andheera?” keluh Andromeda sebab sudah terlanjur bad mood.
“hmm, baiklah ayo kita main sepedahan.” ajak Andheera karena merasa bersalah.
“kau ikut kan vian?” tambah Andheera menoleh ke arah Vivian yang diam-diam meminum minuman milik Andheera lagi.
“tentu kalian mau bersenang-senang tanpa aku, ayoo!!” seru Vivian penuh antusias seraya bangkit dari tempat duduknya.
“Vian, Kakak titip tas, tas ini terlalu berat untuk dibawa.” Ucap Andromeda saat ia bangkit dari tempat duduknya.
“okaay, berikan saja pada kak Hani disana.” Vivian menunjuk ke arah ruangan Hani disamping meja kasir.
__ADS_1
Selagi menunggu Andromeda menyimpan tas besarnya, Andheera dan Vivian berjalan lebih dulu keluar untuk mengambil sepeda milik Vivian yang disampan digarasi. Saat Andromeda keluar tampak keduanya sudah siap untuk mengayuh sepedanya masing-masing.
“Kakak dibonceng Vivian saja.” ujar Andheera sembari menoleh kebelakang dan memperhatikan kakaknya yang tengah mengecek Kamera miliknya, kemudian ia mengalungkan tali kamera setelah selesai melakukan pengecekan.
“kau bercanda, masa Kakak dibonceng?” protes Andromeda merasa harga dirinya terluka karena ia harus dibonceng perempuan.
“jika tak mau Kakak bisa lari, ayoo Vian!” tak perduli dengan keluhan kakaknya, Andheera memutuskan untuk pergi saja, kemudian diikuti oleh Vivian yang tersenyum sebelum mulai mengayuh sepeda menyusul temannya.
“astaga HEY!! tunggu Kakak!” Andromeda berlari untuk mengejar Vivian yang lebih dekat darinya.
Karena tak tega, Vivian berhenti untuk memboncengi Andromeda yang tampak kelelahan berlari mengejarnya.
“huuuhh.. haaahhhh.. huuuhhhh, waaaah aku tak tahu kau memiliki sisi menyebalkan juga seperti Andheera, Vivian.” gerutu Andromeda lalu duduk dikursi penumpang dengan tangan satunya yang mencengkram erat baju Vivian.
Vivian hanya tersenyum mendengar gerutuan Andromeda, lalu mengayuh kembali dengan kekuatan penuh untuk mengejar Andheera yang telah jauh.
“oiia, foto dan video kamaren sudah Kakak kirim yaa lewat email.” ujar Andromeda sembari melepas cenkramannya dari baju Vivian, dan beralih untuk fokus mengambil gambar selagi mereka bermain sepedahan menggunakan kamera kesayangannya.
“hheem, (Vivian meresponnya hanya dengan dehaman)
Kakak, apa menjadi photographer sudah menjadi impian mu sejak dulu?” mereka mulai mengobrol ringan sedangkan Andheera asyik dengan dunianya sendiri.
“tidak, Kakak baru menekuni bidang ini saat akhir semester kuliah, makanya jurusan kuliah dan pekerjaan Kakak yang sekarang gak nyambung hehehe.” jawab Andromeda dengan tawa renyahnya.
“kenapa? Tiba-tiba Kakak berubah fikiran?” tanya Vivian penasaran.
“tidak, bukan berubah fikiran, dari awal Kakak belum tahu impian atau tujuan masa depan Kakak , makanya ayah yang memilihkan kuliah dan juga jurusan untuk Kakak, sebenarnya ayah berharap Kakak mengikuti jejak ayah bergabung dalam perusahaannya. Karena mengingat nilai Kakak cukup tinggi mungkin Kakak bisa lebih sukses dari ayah, jika Kakak mengikuti jejak ayah.” meski tengah fokus memotret, lelaki yang sangat menyukai potret pemandangan itu tetap sabar menjawab pertanyaan Vivian.
“bagaimana dengan om Reza?” sahut Vivian.
“ayah hanya memberikan jalan, tapi jika anaknya memiliki pilihan lain, ayah tak akan menentangnya, ia akan tersenyum lalu berkata. Kau sudah menemukan jalanmu sendiri, syukurlah.” pungkas Andromeda.
“aku iri sekali dengan kehangatan keluarga Kakak, andai aja om Reza mau mengadopsi aku menjadi anak perempuannya hhahahaa!!” celetuk vivian diiringi dengan tawa bahagia, lalu menambah kecepatan mengayuh sepedanya seolah ia sudah mendapat energy positive yang membuatnya semangat.
“pelan-pelan Vivian!” seru Andromeda panik, lalu buru-buru mencengkram erat baju vivian dengan kedua tangannya membiarkan kameranya bergelantung dilehernya.
“PEGANGAN AJA YANG KUAT KAKAK!!” bak seorang pembalap Vivian terus mengayuh sepeda sampai bisa mendahului Andheera.
Alhasil mereka berdua malah jadi kebut-kebutan, tak ada yang mau mengalah baik Andheera maupun Vivian, sama-sama kompetitif hingga membuat Andromeda mual karena aksi sepedahan Vivian yang ugal-ugalan.
Lain dengan kedua gadis remaja itu, mereka berdua malah tampak sangat bahagia sembari tertawa lepas menikmati hari sore yang indah.
“YUHUUU hhhahaaaa!!” seru Vivian dengan sesekali melepas kedua tangannya dari stang sepeda membuat Andromeda semakin panik.
“YANG KALAH BELIKAN CEMILAN!!” teriak Andheera dari belakang lalu mendahului Vivian.
Merasa sudah ditantang, Vivian pun tak mau kalah, ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyusul Andheera yang sudah jauh mendauluinya.
***
Di taman.
Langit sore itu tampak semakin gelap, seiring dengan turunnya sang matahari yang mulai digantikan oleh pesona indahnya rembulan malam, ketiganya masih asyik bermain hingga tak sadar jika waktu telah cepat berlalu.
__ADS_1
Sudah lama sejak mereka bermain diluar bersama, Iya.. sejak pertengkaran antara Vivian dan Andheera membuat situasi canggung, Andromeda pun tak memiliki keberanian untuk mencampuri masalah adiknya, ia terus menunggu membiarkan Andheera yang menyelesaikannya sendiri.
Seperti perjanjiannya diawal dengan Vivian, jika yang kalah harus membeli cemilan, sudah jelas Vivian tak mungkin bisa mengalahkan Andheera dalam hal apapun, Andheera memang selalu lebih unggul darinya (kecuali kemampuan masak Vivian yang tak tertandingi) Vivian pasrah menerima nasib, setelah ia kalah kemudian menurunkan Andromeda di taman, Vivian langsung pergi lagi menggoes sepedanya untuk membeli cemilan di toserba terdekat.
“Kakak baik-baik saja?” tanya Andheera, kemudian berbaring diatas rerumputan yang terlihat bersih dari sampah atau kotoran semacamnya, mungkin taman ini selalu terawat hingga banyak pengunjung juga yang sering berbaring dengan nyaman diatasnya.
“tidak, Kakak tidak baik-baik saja, kau tak lihat wajah Kakak yang hampir mengeluarkan kembali makanan yang baru saja Kakak makan!” gerutu kakaknya sembari menahan mual diperutnya, ia duduk disebelah Andheera yang tengah berbaring.
Andheera tak menanggapinya, sebab ia terlalu sibuk untuk memandangi bintang malam yang mulai bermunculuan seiring dengan waktu yang telah berganti.
“kau tak mendengar keluhan Kakak, apa yang kau lihat?” protes Andromeda karena merasa dirinya diabaikan.
Andheera menunjuk ke arah langit sebelum ia bersuara. “Kakak.. apa kau pernah mendengar, tentang orang yang sudah tidak ada akan menjadi bintang dilangit, mereka akan terus mengawasi dan menerangi kita dijalan yang gelap, menuntun kita agar bisa sampai ketempat tujuan.”
“itu hanya mitos atau semacam cerita fiksi, tak ada hal yang seperti itu adikku.” Andromeda memutuskan untuk ikut berbaring disebelah adik perempuannya, sembari memandangi langit seperti yang dilakukan Andheera.
“benarkah, hhehee (tawa yang tampak menyedihkan)
apa semuanya baik-baik saja Kakak?” Andheera tiba-tiba mengkhawatirkan kakaknya tanpa alasan.
***
“apa maksudmu?” Andromeda menoleh ke arah Andheera, berharap ia mendapat penjelasan yang lebih lanjut.
“pekerjaan Kakak.” Tambah Andheera seraya melirih sesaat ke arah kakaknya.
“aahh itu, (Andromeda kembali beralih memandangi langit)
menyenangkan.. meski kadang banyak hal yang membuat Kakak lelah dan ingin menyerah, tapi ini jalan yang Kakak pilih, Kakak harus menyelesaikannya sampai akhir.” Jelasnya seraya menunjukan senyum lebarnya.
“benar, jika kita sudah memilih jalannya, kita harus bisa bertanggung jawab dan menyelesaikannya sampai akhir bukan. Karena kita sendiri yang memilih.” Gumam Andheera seraya menyunggingkan senyum tipisnya pada langit malam, Andromeda menoleh ke arah adiknya lagi seperti ada hal yang ingin adiknya sampaikan, tapi dirinya tak dapat mengartikannya.
“apa kau ingin tahu satu rahasia?” bisik Andromeda sembari memiringkan tubuhnya agar bisa melihat wajah adiknya lebih jelas.
“apa?” jawab Andheera sedikit malas.
“impian ayah.” bisik Andromeda lagi sembari memonyongkan bibirnya ke dekat telinga Andheera.
“sudah jelaskan selain hobinya yang membuat taman bunga, ayah adalah seorang pembisnis yang sukses hehe.” ujar Andheera tak tertarik dengan ocehan kakaknya.
“kau salah, sebenarnya kita berdua memiliki darah seni dari ayah, aku menyukai Foto dan kau memiliki suara yang bagus.” Jelas Andromeda.
“Kakak ingin bilang apa sih?” ujar Andheera menaikan nada suaranya, karena Andromeda yang terus bertele-tele.
“selain hoby nya membuat taman bunga, impian ayah adalah menjadi penulis sebuah cerita fiksi, apa kau tahu cerita fiksi yang pernah booming pada jaman kita SD dulu cerita fiksi Winter bear.” Sambung Andromeda.
Mendengar judul cerita itu, membuat bola mata Andheera seakan ingin keluar dari cangkangnya, satu wajah dimasa lalu tiba-tiba muncul memenuhi fikiran Andheera, wajah yang sudah lama dirindukannya, Andheera perlahan melirik kearah Andromeda yang tengah tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapih.
“winter bear?” Andheera belum pecaya dengan apa yang ia dengar barusan.
***
Bersambung…
__ADS_1