Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]

Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]
Episode 45


__ADS_3

Setelah lama Andheera mengayuh sepeda akhirnya ia sampai ke daerah sekolahnya, samar-samar ia melihat seseorang yang tengah berlari ke arahnya, sontak Andheera kebingungan lalu memperlambat kayuhannya seraya mengamati siapa sebenarnya yang tengah berlari ke arahnya itu.


“Vivian..” gumam Andheera saat ia menyadari ternyata seseorang yang tengah berlari ke arahnya adalah karibnya yang akan ditemuinya.


“putar balik putar balik!!” seru Vivian dari kejauhan masih berusaha berlari secepat yang ia bisa.


“ayo putar balik Andheera!!” geram Vivian yang hampir sampai padanya.


Meski masih merasa kebingungan namun Andheera menuruti keinginan temannya itu untuk memutar balik arah sepedeanya secepat kilat, namun pandangannya masih tertuju kebelakang. Saat Vivian menaiki sepeda sekilas ia melihat seseorang dibelakang yang berlumuran cairan got, mencoba berjalan cepat seraya mengucek-ucek kedua matanya yang belum bisa terbuka sepenuhnya.


“apaan tuh.” Tanya Andheera polos seraya mengernyitkan dahinya.


“HEEYYY!!! JANGAN LARI AKAN KU ADUKAN KAU PADA KEPALA SEKOLAH!!” teriak orang yang berlumuran cairan got itu.


“tanganmu kenapa? Aah tidak bisa, awas biar aku yang memboncengmu!!” seru Vivian saat melihat Andheera yang malah berdiri disampingnya bukannya naik ke bangku belakang.


“ayo cepat naik.” kata Vivian lagi seraya menarik tangan Andheera untuk duduk dibangku belakang, tanpa berlama-lama lagi Vivian langsung mengayuh sepedanya dengan kekuatan penuh seolah ia tengah berada di sirkuit, hingga Andheera yang diboncengnya pun hampir terjengkang ke belakang sebab ia belum sempat berpegangan pada Vivian.


“apa yang kau lakukan padanya?” tanya Andheera masih dengan wajah yang sangat kebingungan akibat situasi yang tak terduga ini.


“akan ku ceritakan nanti di toko komik.” Sahut Vivian.


Sesampainya di toko komik, mereka berdua kompak mengernyitkan dahi begitu memasuki toko komik, sebab mereka melihat seseorang yang tidak asing tengah berdiri di belakang meja kasir lalu menyunggingkan senyum cerahnya kala mereka bertiga saling bertatapan.


“kak Brian? ku kira kakak latihan.” Ujar Vivian.


“jadwal latihan ku saat malam.” Paparnya masih dengan senyum yang menambah ketampanan seorang Kimbrian.


“kak Brian bekerja paruh waktu? Sejak kapan.” timbrung Andheera.


“iya, emm mungkin sudah mau 2 minggu, kau mau beli komik Andheera?”


“tidak, aku hanya menemani Vivian dia yang akan beli.” Katanya seraya melirik ke arah Vivian yang berada sidampingnya.


“begitu, tanganmu kenapa?” tanya Brian khawatir.


“aku terjatuh dari sepeda.” Ujarnya.


“kenapa gak lebih hati-hati sih coba aku lihat.” Katanya lagi sembari mengulurkan tangannya untuk meminta lengan gadis tersebut diletakan diatas telapak tangannya.


“aku akan mulai mencari komik dulu, kau tunggu disini saja aku tak akan lama, oiya komik genre roman masih di tempat yang sama kan?” timbrung Vivian yang tampak diacuhkan oleh kedua temannya itu.


“hmm baiklah, (respon Andheera)


seleranya mirip Keenan dulu.” Gumamnya pelan saat Vivian sudah pergi.


“iya tentu di sudut sana,” respon Brian menanggapi pertanyaan Vivian.


“hah siapa katamu?” tanya Brian yang tidak terlalu jelas mendengar nama yang Andheera sebutkan.


“aah tidak,  oiia apa semuanya lancar?” tanya Andheera yang mengawali percakapan ringan dengan mantan kekasihnya.


“entahlah aku merasa ini benar-benar sulit, memutuskan untuk hidup mandiri tanpa dukungan orang tua juga harus mengumpulkan uang untuk debut nanti, karena agensiku agensi kecil jadi banyak biaya yang harus ku tanggung sendiri.” Lirihnya seraya menundukan kepala dan menarik nafas.


“aku memang tak tahu sesulit apa yang kak Brian alami saat ini tapi.. bertahanlah. Jika kau belum merasa bahagia itu artinya kau belum sampai ke akhir.” Andheera tersenyum lebar seraya menatap wajah Brian lekat.       


“terimakasih Andheera.” kata Brian lengkap dengan ukiran box smile yang menghiasi wajah tampannya.


“hmm..” respon Andheera seraya menunjukan senyum tipisnya.


“hey apa yang kalian bicarakan?” timbrung Vivian membuyarkan suasana penuh romance antara Andheera dan Brian.

__ADS_1


“tidak ada, kau sudah selesai?” jawab Andheera.


“iya hanya beberapa komik, gak lama kan?” Vivian memastikan jika kepergiannya tadi tidak membuat Andheera lama menunggu, seraya menaruh semua buku yang ia peluk ke atas meja kasir.


“engga, aku tunggu diluar.” Kata Andheera kemudian pergi.


“oke, berapa kak?” Vivian kembali mengalihkan fokusnya pada Brian yang tengah menghitung buku komik yang akan ia beli.                                                                                                          


“semuanya 125.000 ribu.” Jawab Brian seraya melempar senyum ramah pada pelanggannya.


“amm.. kak Brian masih menyukai Andheera, itukah alasan kakak tak bisa menyukaiku.” Gumam Vivian sembari mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.


“iya.” Jawabnya singkat lalu memberikan uang kembalian dari pembelian komik Vivian.


“baiklah aku mengerti, terimakasih.” Pungkas Vivian mengakhiri percakapan singkatnya kemudian pergi menyusul Andheera yang sudah berada diluar.


“sudah selesaikan, mau ku antar sampai rumah juga?” tanya Andheera begitu melihat Vivian keluar dari toko ia masih berdiri disamping sepedanya.


“kau takan bisa memboncengku dengan tanganmu yang terluka.” Sahut Vivian seraya menatap lirih ke arah lengan Andheera yang terbalut kain kassa.


“kalau begitu aku antarkan kau sampai halte.” Ucapnya lagi sembari menaiki sepedanya.             


“tumben kau ingin cepat-cepat pulang, biasanya di akhir pekan kau selalu tinggal di Apartementmu.”


“kakak ku sakit.” Papar Andheera membuat Vivian terkejut hingga membulatkan kedua matanya.


“benarkah? kalau begitu aku yang akan mengantarkanmu pulang, minggir kau duduk dibelakang!!” seru Vivian sedikit mendorong tubuh Andheera agar ia pindah ke tempat duduk belakang hingga dirinya bisa mengambil alih kemudi sepeda, lalu mulai mengayuh sepedanya dengan kecepatan penuh seperti sebelumnya yang ia lakukan.


“YAAAA!! tak perlu seperti ini juga Vivian!! JIKA INGIN KE ALAM BAKA SENDIRIAN SAJA KAGAK PERLU AJAK-AJAK!!!” teriak Andheera seraya mengeratkan pelukannya sebab Vivian sudah diluar kendali sekarang ini.


Setelah para gadis itu pergi, seorang gadis lain yang tampak lebih muda mendekati meja kasir Brian dengan raut wajah nya yang cerah.


“ammm.. hehe.” Brian malah nyengir merespon pertanyaan gadis manis itu.


“waahhhh kalau begitu ijinkan aku menjadi penggemar pertama kakak, aku akan menunggu kakak debut dan menjadi fans setia kakak.” Katanya dengan penuh antusias dan tak hentinya menebar senyum manis untuk Brian membuatnya tersipu malu.


“eeyyyy itu masih sangat jauh karena aku baru saja memulainya.” Ujar Brian dengan kedua pipinya yang mulai memerah.


“jangan khawatir berapa lamapun itu aku akan tetap menunggu, jadi berjuanglah okeey.” Tambahnya seraya mengangkat satu tangannya mengajak Brian untuk high five tak menunggu lama Brian langsung merespon high fivenya lengkap dengan tawa bahagia berkat penggemar pertamanya yang tak terduga.


***


Toserba kompleks rumah Andheera.


“kau mau beli apa? Katanya harus cepat-cepat pulang.” Ujar Vivian saat Andheera memintanya untuk berhenti sejenak di toserba dekat kompleks rumahnya.


“cemilanku habis, cemilan juga penting.” Sahutnya seraya melangkah masuk ke dalam toserba, sementara Vivian masih mencoba memarkirkan sepedanya di depan toserba.


“kalau begitu belikan aku juga.” Seru Vivian yang kemudian berjalan menyusul temannya yang sudah lebih dulu masuk.


“Hey Anha.” Sapa Vivian lengkap dengan senyum cerahnya.


“ooh hey Vivian, habis darimana?” tanya Anha yang tengah menghitung stock rokok di etalase.


“toko komik, kau sudah makan?” tanya Vivian yang masih ingin melakukan percakapan sederhana dengan Anha.


“belum..” jawab Anha yang menghentikan aktifitas menghitungnya sejenak, agar bisa mengobrol dengan santai.


“kalau begitu ambilah beberapa cemilan, aku yang akan bayar.” Ujarnya sembari melirik ke arah rak cemilan.


“benarkah?” respon Anha lengkap dengan raut wajah yang sangat antusias.

__ADS_1


“iya, ayo cepat ambil.” Ujar Vivian sembari melangkah masuk ke dalam untuk mencari cemilan yang ia inginkan.


“okaayy.” Seru Anha, ia meletakan buku stock rokoknya di meja kasir, kemudian berlari kecil keluar dari area kasir untuk mengambil beberapa cemilan.


Ditempat lain, “kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak ya.” Gumam Andheera yang tengah memilih-milih cemilan yang akan ia beli.


Beberapa menit kemudian setelah mereka bertiga selesai memilih makanan yang diinginkan, mereka pun berkumpul di meja kasir dan menaruh semua cemilannya di meja.


“kau ingin aku yang membayar semua ini?” ujar Andheera yang sedikit shock dengan situasi yang terjadi saat ini.


“tentu kau bilang akan menjajani ku cemilan.” Sahut Vivian bersamaan dengan senyum penuh artinya.


“gak sekalian 1 toserba aja kau borong Vivian!” seru Andheera sedikit kesal dengan kelakuan karibnya itu.


“kantong kreseknya gak akan muat.” sahut Anha yang menanggapi perkataan Andheera seraya men scan cemian-cemilannya dengan penuh kehati-hatian.


“Aughh ****!” umpatnya.


“semuanya 225.000 ribu ada potongan diskon 10.000, jadi totalnya 215.000 ribu aja.” Ujar Anha seraya menyunggingkan senyum ramahnya menunggu Andheera mengeluarkan uangnya dari saku celananya.


“gak usah senyum seperti itu, kau menakutkan.” Ketus Andheera sedikit kesal karena merasa di jambret oleh kedua teman sekolahnya itu, ia pun mengeluarkan beberapa lembar kertas 100.000 ribuan lalu diberikan pada Anha.


“oke terimakasih yaa Andheera aku tak menyangka kau sangat baik hati.” Ucap Anha seraya memberikan kembalian nya pada Andheera.


“heemm.” Respon Andheera.


“pokoknya terimakasih Andheera aku akan mengunggahnya di IG kalau kau banyak membelikanku cemilan, apa nama IG mu nanti aku tag.” Kata Anha sembari mengeluarkan ponsel dari saku jinsnya.


“aku tak punya sosial media.” Jawabnya kemudian pergi sembari membawa jinjingan cemilan miliknya dan Vivian.


“tag aku saja oke, bye Anha.” pamit Vivian ia pergi sembari melambaikan tangannya lengkap dengan senyum cerahnya.


“okeee hati-hati kawan!!” Anha pun meresponnya dengan tawa lebar seraya melambaikan tangannya pada Vivian dari dalam.


Andheera menggantung belanjaannya di sepeda lalu pergi berjalan meninggalkan sepedanya untuk dibawa oleh Vivian.


“hey tunggu Andheera kau takan naik sepeda?” seru Vivian dari belakang seraya menuntun sepedanya menyusul Andheera.


“kau tak menaikinya?” tanya Andheera ketika melihat Vivian yang menuntun sepeda dan bukan menaikinya.


“tidak, aku ingin berjalan bersamamu, aahhhh suasananya sangat mendukung sekali aku jadi ingin nyanyi.” Celotehnya seraya memandangi langit malam yang begitu indah.


“kau tahu, sebenarnya suara jangkrik lebih merdu daripada suaramu.” Goda Andheera.


“hufftt.. Andheera.”


“apa lagi?” sahut Andheera dengan menaikan nada suaranya.


“apa kau bisa hidup tanpaku?” pertanyaan random yang Vivian ajukan membuat Andheera mengernyitkan keningnya.


“tentu, aku hanya perlu bernafas untuk hidup kan.” Ke swag an Andheera tak pernah ada akhirnya, hingga membuat Vivian geram kemudian menggeplak bagian belakang kepala Andheera.


Andheera hanya memandang Vivian dengan sinis selama beberapa saaat seraya mengusap kepalanya yang tampak kesakitan.


“apa!! Apa!! HAH?! kau ingin memukul ku juga.” Seru Vivian seraya membesar-besarkan kedua bola matanya.


Tak tahan melihat ekspresi Vivian yang sok-sok an berani menantang Andheera dengan tatapannya, alih-alih merasa takut Andheera malah tertawa mengejek, kemudian kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti sejenak akibat pertanyaan konyol Vivian yang tak terduga.


***


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2