Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]

Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]
Episode 47


__ADS_3

Pagi hari di kamar Andromeda.


“AAAAAAAAA!!..” teriak Andromeda yang terdengar begitu nyaring, kala ia membuka matanya Andromeda benar-benar terkejut mendapati sebuah wajah tepat dihadapan wajahnya hingga refleks membuatnya menendang adiknya sendiri sampai tersungkur ke bawah.


“aawww..(ringis gadis malang itu yang masih setengah sadar, sembari mengusap bokongnya Andheera mencoba bangun lalu menatap tajam kearah Andromeda)


KAKAKA!! Aku ini adikmu!!” geram Andheera seraya menyipitkan kedua matanya tanda ia benar-benar kesal pada kakaknya.


“ya Kakak gak tahu, lagian kenapa juga kau tidur diranjang Kakak.” Dalihnya mencoba keluar dari amukan adiknya.


“ada Vivian dikamarku, AAugghh..!!” Andheera mencoba berdiri masih memegangi bokongnya yang tampak sangat kesakitan akibat serangan tiba-tiba dari kakaknya.


“apa di kehidupan sebelumnya kalian pasangan kekasih, kenapa kebiasaan kalian berdua tak ada bedanya, huftt menyebalkan.” Andheera menggerutu sembari berjalan keluar kamar Andromeda.


“tanganmu kenapa lagi Andheera?” tanya Andromeda yang menyadari telapak tangan Andheera lagi-lagi ditempel plester besar yang hampir menutupi seluruh telapak tangan adiknya itu.


“aku terjatuh.” sahut Andheera sekenanya.


“apa kau ini masih anak-anak selalu saja terjatuh dan melukai tubuhmu sendiri.” Ujar Andromeda.


“Kakak mau sarapan apa?” tanya Andheera sebelum keluar dari kamar kakak nya ia membalikan badannya ke arah Andromeda yang masih terduduk di ranjangnya.


“kau mau buat sarapan?” Andromeda malah balik bertanya.


“kan ada Vivian.” ucap Andheera.


“aaahh benar juga, terserah saja, karena apapun yang dibuat Vivian pasti enak hehehe.” Kata Andromeda seraya membayangkan semua makanan lezat di dalam kepalanya.


“okee, cepat mandi dan lap air liurmu itu.” Ujar Andheera mengakhiri percakapannya dipagi hari kemudian menutup pintu kamar Andromeda dengan sedikit bantingan.


***


Sementara itu di kediaman Hyunjie -Yogyakarta.


Keenan terlihat sangat sibuk menyiapkan makanan untuk sarapan, lain hal nya dengan Ibunya yang baru saja siuman, wanita berparas cantik itu berjalan menghampiri putranya di dapur dengan raut wajah berseri-seri sebab ia sudah mencium aroma wangi masakan Keenan, Hyunjie sudah tak tahan ingin segera mencicipinya.


“sangat beruntung wanita yang akan menjadi istrimu nanti Keenan, tak ada satu pun hal yang tak bisa kau lakukan, mama jadi merasa gak rela melepasmu hehe.” Ujar Hyunjie sembari memperhatikan Keenan yang tengah memasak dengan membelakanginya.


“cuci wajah dan sikat gigi dulu mah.” Ujar Keenan yang melihat ibunya malah asyik nangkring di meja makan masih dengan wajah bangun tidurnya.


“aah iya baiklah hehe, tunggu mamah ya jangan dihabiskan.” Serunya kemudian berlari kecil menuju kamar mandi, Keenan hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis.


***


30 menit kemudian akhirnya Andromeda keluar dari kamar, ia berjalan menghampiri meja makan untuk bergabung bersama ayah dan juga adiknya yang sudah lebih dulu berada di meja makan.


“waaaahh wangi banget, mana Vivian katanya dia nginep disini.” Ujar Andromeda yang kemudiab duduk bergabung dengan keluarga kecilnya.


“dia pergi setelah bikin sarapan.” Sahut Andheera yang tengah menyantap sarapan paginya.


“kok gitu, gak ikut sarapan?” tanyanya seraya mengerutkan keningnya.

__ADS_1


“dia bawa sebagian makanannya kok, mungkin dia mau makan sama orang lain.” Kata Andheera lagi.


“siapa?” sahut Andromeda yang memulai mengolesi roti lapisnya dengan selai rasa coklat mint.


“Augh..!!!” geram Andheera sebab kakaknya itu tak kunjung berhenti bertanya padanya.


“kemarin kalian jadi berangkat berdua?” timbrung Reza.


“kemarin..?” sahut Andromeda kebingungan.


“tentu kemarin sangat seru sekali bukan Kakak, meskipun Cuma aku dan Kakak tapi kita bersenang-senang ayah.” Timpal Andheera membuat Andromeda semakin kebingungan dengan apa yang terjadi sebenarnya kemarin.


“maaf ya, lain kali ayah janji akan menyempatkan waktu untuk kalian berdua.” Ujarnya kemudian meneguk air mimnumnya beberapa kali.


“kalau begitu luangkan waktu ayah untuk nanti tanggal 32 Juli, 2 pekan lagi, untuk nonton konser BTS.” Sahut Andheera mencoba memberikan saran agar ayahnya bisa menebus kesalahannya.


“okee ayah janji.” Serunya dengan penuh percaya diri.


“bagaimana kalau kita pakai t-shirt couple warna pink hehehe.” Kata Andhromeda penuh antusias.


“Kakak saja yang pakai dengan ayah.” Respon Andheera ketus.


“ayoolah Kakak selalu ingin memakai t-shirt couple dari dulu tapi belum kesampean juga.” Ujarnya dengan nada lirih.


“gak mau, lagipula pink? Kakak tak malu memakai t-shirt warna pink?”


“kenapa harus malu, warna pink itu menandakan kalau Kakak lelaki yang manis,”


“ciih!” Andheera membuang muka lalu bangkit dari tempat duduknya untuk mengakhiri sarapan di pagi hari bersama keluarga kecilnya.


“hanya bermain-main ayah.” kata Andheera sembari berjalan menuju kamarnya.


“akhir-akhir ini ayah kelihatan sibuk sekali bahkan weekend pun ayah masih tetap bekerja, apa perusahaan baik-baik saja ayah?” tanya Andromeda yang tiba-tiba saja menyinggung soal keadaan perusahaab ayahnya.


“tentu, semuanya baik-baik saja kau tak perlu khawatir, jaga saja adikmu, ayah pergi.” Pungkasnya kemudian bangkit dari tempat duduknya.


“ammm.. jika ayah butuh bantuan, ayah bisa bilang padaku, ayah tahukan putra ayah ini sangat pintar aku bisa mempelajari apapun dengan cepat.” Imbuhnya kala Reza membalikan tubuhnya.


Reza hanya merespon dengan senyum manisnya kemudian mengusap kepala Andromeda sebelum akhirnya pergi meninggalkan Andromeda sendiri di meja makan.


“apa hanya perasaanku saja, ayah terlihat semakin kurus.” Gumam Andromeda seraya memandangi punggung ayahnya yang tengah berjalan.


Tak ingin berfikir yang aneh-aneh Andromeda beranjak dari tempat duduknya, setelah menyelesaikan sarapan paginya ia pun meninggalkan meja makan dengan membawa gelas yang berisikan sisa susu yang akan ia minum dalam perjalanannya menuju kamar untuk membawa kunci motor.


***


Kembali ke kediaman Hyunjie -Yogyakarta.


Hyunjie dan Keenan tampak telah siap untuk menyantap sarapan paginya, ketika Keenan ingin menyantap suapan pertamanya tiba-tiba saja suara bel berbunyi membuat tangannya refleks menaruh kembali sendok yang hampir masuk ke dalam mulutnya, ia lebih memilih untuk melihat siapa yang berkunjung kekediamannya pagi-pagi buta begini.


Dengan langkah yang malas ia langsung membukakan pintu rumahnya.

__ADS_1


“hey hehehe,” sapa Jiso sembari melebarkan senyumannya.


Keenan mengernyitkan dahinya melihat sosok yang tidak diundang tengah berdiri dihadapannya, dan yang lebih mengejutkannya lagi gadis itu masih memakai piyama tidur juga rambut yang sedikit kacau, Keenan sempat berfikir jika temannya itu tidur sambil berjalan namun melihat deretan gigi Jiso dan juga mata senyumnya membuat ia yakin jika Jiso sepenuhnya tersadar.


“kau tak akan membiarkanku masuk?” tambah Jiso melihat Keenan yang terus berdiri didepannya hingga menghalangi pintu masuk, Keenan pun akhirnya sedikit memiringkan tubuhnya membiarkan gadis itu masuk bersamaan dengan aura cerahnya.


Jiso langsung duduk di meja makan setelah menyapa Ibu Keenan seolah ia juga penghuni rumah ini, ia tidak canggung sama sekali.


“kau sudah lebih baik?” tanya Keenan begitu menutup pintu rumahnya ia berjalan menuju dapur untuk mengambil piring tambahan karena ada tambahan jiwa yang perlu diberi makan.


“tidak, kenapa kau tak menjenguk ku?”


“sudah banyak yang merawatmu disana,” jawab Keenan seraya menaruh piring juga alat makan di depan Jiso.


“tapi..”


“berhenti merengek dan makan.” Tegas Keenan kemudian kembali melanjutkan sarapan paginya yang sempat tertunda, Jiso pun terdiam dan mengalah untuk tidak mempermasalahkannya lagi.


“kau ada kegiatan hari ini, bisa temani tante shoping?” Hyunjie mencoba membuat situasi kembali mencair.


“tentu, aku bisa tante hehehe.” Seru Jiso yang kembali tersenyum setelah di omeli Keenan beberapa detik yang lalu.


***


Di panti asuhan.


Hari ini sengaja Vivian bangun pagi untuk membuat banyak makanan, selain menyiapkan sarapan untuk keluarga Reza, gadis manis itu berniat untuk membawa sebagian besar masakannya ke panti asuhan agar semua teman dan adiknya bisa mencicipi masakan yang dibuatnya dengan sepenuh hati.


Benar saja kedatangan Vivian disambut hangat oleh semua penghuni panti asuhan, tak terkecuali dari bunda Marisa yang kemarin tak sempat bertemu karena bunda Marisa berada diluar kota, kini mereka semua berkumpul di pekarangan belakang panti asuhan dengan menggelar tikar mereka sangat menikmati semua makanan yang Vivian bawa sampai habis tak tersisa.


Sama halnya dengan anak-anak lain setelah mereka menghabiskan makanannya anak-anak yang masih berumur 7 sampai 10 tahunan itu bermain kejar-kejaran, tawa kebahagiaan itu begitu nyata seolah baru kemarin Vivian pergi meninggalkan keluarga besarnya disini, tak pernah terfikirkan ia akan kembali pada tempat ini, iya tempat dimana ia menemukan keluarga yang begitu tulus menyayanginya lebih dari siapapun.


Sementara adik-adiknya bermain dengan 1 temannya yang bernama Elis, permainan yang umum Elis yang matanya ditutupi oleh ikatan hingga tak bisa melihat ia harus berusaha menemukan adik-adik kecilnya yang tengah mengelilingi sembari menggodanya dengan menoel Elis mencoba memberi tanda jika mereka berada tidak jauh dari Elis.


Vivian dan Nayung masih duduk dipekarangan yang beralaskan tikar sembari menyaksikan kebahagian yang berada didepannya, senyum, tawa itu begitu nyaring terdengar membuat keduanya ikut merasakan kebahagiaan itu.


“tungg aku,”


“hah..” respon Nayung sembari menoleh, Vivian yang tiba-tiba bicara membuat Nayung tak begitu mendengarnya.


“aku janji, aku akan membuatmu bisa berjalan kembali suatu hari nanti.” Giliran Vivian yang kini melirik ke arah Nayung lengkap dengan senyum yang diiringi kedua mtanya yang mulai berkaca-kaca..


Meski sedikit terkejut dengan ungkapan Vivian, namun Nayung malah membalasnya dengan senyum lebar penuh ketulusan.


“terimakasih Vivian, tapi kau tak perlu melakukan itu karena aku baik-baik saja sekarang, kau lakukan saja apa yang membuatmu bahagia, dulu kau pernah bilang ingin belajar diluar Negeri, kau ingin sekali menjadi chef bukan, dengan rasa masakanmu itu ku yakin kau akan sukses nantinya bahkan mungkin kau bisa menggantikan chef Renata di master chef hiihihihi.” Goda Nayung sembari menyenggol pelan bahu temannya itu.


“maafkan aku Nayung, aku sempat berfikir untuk tak pernah kembali hiksss.. hiksss (mendengar perkataan Nayung membuat hati Vivian seakan teriris-iris, ia membayangkan betapa jahatnya dirirnya dulu hingga Vivian tak mampu menahan isakan tangis yang mulai menyerang kemudian memeluk Nayung erat) jika bukan karena kak Brian..”


“karena kau sudah menemukan jalan pulang, jadi berhenti terus menyalahkan dirimu sendiri Vivian, kau juga sudah banyak menangis kemarin jadi mari kita hanya bahagia sekarang, oKeenan..”


Vivian mengangguk pelan dalam pelukan Nayung, ia masih mencoba menahan tangisnya.

__ADS_1


***


Bersambung…


__ADS_2