![Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]](https://asset.asean.biz.id/mimpi-dan-harapan--pov---andheera-.webp)
Beberapa saat fikiran Andheera hanya tefokus pada hal-hal mengerikan yang kemungkinan akan terjadi pada Lyra, sampai salah satu perawat yang berbicara padanya pun tak terdengar olehnya, sebab ditelinganya hanya terdengar bunyi alat-alat pacu jantung begitu pun dengan alat medis lainnya yang keluar masuk ke dalam telinga gadis tersebut.
Dan sampai pada akhirnya ada seorang dokter yang tak sengaja menabrak bahu Andheera hingga membuatnya kembali tersadar.
“maaf nona tolong ke bagian administrasi dulu.” ulang salah satu perawat yang sedari tadi mencoba berbicara padanya.
“i..iyaa..” respon Andheera tergagap masih tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Lyra yang masih belum tersadar, ia menunggu sampai tirai ruangan Lyra tertutup rapat kemudian pergi ke bagian Administrasi dengan langkah sedikit terhuyung.
Mungkin karena sudah tengah malam suasana di rumah sakit tak begitu ramai, hanya terlihat beberapa perawat yang berseliweran, begitu juga para staf non medis yang tengah berjaga malam tampak sesekali menguap karena rasa kantuk yang mulai menyerangnya.
“ada yang bisa dibantu?” salah satu staf administrasi didepan Andheera menanyakan tujuan Andheera berdiri dihadapannya.
“nona, wali dari pasien yang baru masuk ruang UGD barusan ya?” staff itu bertanya kembali karena Andheera masih terdiam seolah tengah memikirkan banyak hal.
Tak lama ia melihat salah seorang dokter keluar dari dalam tirai Lyra, seperti ada yang ingin dokter itu katakana, pandangannya langsung tertuju pada Andheera yang masih berdiri di depan meja Administrasi.
“kau wali dari pasien? Syukurlah jantungnya bisa kembali berdetak, namun pasien harus segera dioperasi karena lukanya cukup dalam, jika kau menyetujuinya kami akan langsung mengambil tindakan.” Jelas si dokter yang terbilang cukup muda untuk dipanggil bapak-bapak.
“apa kondisinya cukup parah?” gumam Andheera seraya menatap wajah sang dokter dengan penuh kekhawatiran.
“iya karena dia sudah banyak kehilangan darah seharusnya dia lebih cepat dibawa ke rumah sakit, kondisinya sekarang sangat mengkhawatirkan.” Paparnya.
“baiklah lakukan apapun yang terbaik dokter.” ujar Andheera mencoba tetap tenang.
“kalau begitu kau harus mengisi formulir dulu.” timbrung staff administrasi sembari memberikan beberapa lembar kertas pada Andheera.
“iya.” meski ia berusaha tenang namun tak dapat dipungkiri, perasaan terdalamnya ia sangat megkhawatirkan Lyra, terlihat dari tangannya yang sedikit gemetar memegang bolpoin.
Setelah Andheera menandatangani surat persetujuan operasi Lyra, dokter itu pergi meninggalkan Andheera untuk memulai prosedur operasi sederhana.
“kau tak perlu khawatir dokter Hanyooka pasti bisa menyelamatkan kakak mu.” seakan mengerti apa yang tengah Andheera fikirkan, staff admin itu tersenyum ramah mencoba menenangkan gadis yang masih berkutat dengan kertas administrasinya.
Sekitar 30 menit kemudian.
Diruang tunggu.
Tapp.. tap.. terdengar suara langkah kaki mendekati Andheera yang tengah duduk dikursi ruang tunggu.
“apa yang sebenarnya terjadi Andheera?” tanya Anha meminta penjelasan yang lebih detail pada temannya.
“kau sudah menghubungi keluarganya?” Andheera tak peduli pertanyaan Anha, ia malah menanyakan hal lain.
“aku sudah menghubungi wali kelas kita tapi tak diangkat, lagipula sekarang jam 2 pagi para guru pasti mematikan ponselnya. Besok pagi ku coba hubungi lagi, bagaimana denganmu kau baik-baik saja?” Anha duduk disebelah Andheera seraya memegang tangan Andheera yang tak dapat berhenti gemetar.
“hemm.. “ respon Andheera dengan sedikit tenaga yang tesisa, ia terus menundukan kepala menahan semua emosi yang bergejolak dalam tubuhnya.
“kau sudah melakukan yang kau bisa Andheera.” melihat kondisi Andheera saat ini, Anha seperti melihat seseorang yang berbeda, wajah angkuh, serta pribadi yang kuat tenggelam dalam kelemahan yang Andheera tampakan malam ini.
__ADS_1
Membuat Anha tersadar jika Andheera hanyalah gadis remaja biasa yang juga memiliki ketakutan seperti yang lainnya, selama ini Anha hanya melihat tampilan luar Andheera.
Gadis remaja yang dikenal sangat angkuh, arogan dan menakutkan karena sikap kasarnya, banyak yang ingin mendekatinya namun ia selalu menutup diri dari dunia luar, seolah ia bisa melakukan segala hal sendirian dan tak butuh siapapun disampingnya.
Tapi malam ini Andheera menunjukan sisi lain yang tersembunyi jauh dalam hatinya, merasa bertanggung jawab untuk menenangkan gadis malang tersebut, Anha mengeratkan genggaman tangan seraya memandangi Andheera lekat seakan berkata ‘semua akan baik-baik saja’.
***
Keesokan harinya, -Apartemen Andheera.
Setelah beberapa jam menunggu Opersi Lyra, serta memastikan Lyra baik-baik saja karena sudah dipindahkan ke ruang inap, Anha menyuruh Andheera pulang dan menyerahkan semuanya pada Anha sang ketua kelas yang dapat diandalkan.
Gadis ramping itu perlahan membuka kedua mata sipitnya, ia sudah terjaga dari tidur singkatnya, namun ia merasa tubuhnya tidak dalam kondisi baik, kemudian ia memutuskan untuk sedikit berolahraga dipagi hari setelah mengganti baju tidurnya dengan setelan training pendek.
Saat ia membuka pintu kamar sudah tampak Vivian tengah membuatkan sarapan dengan senyum lebarnya Vivian menyapa pagi Andheera yang tak begitu menyenangkan.
“apa kau bergadang semalaman Andheera?” tanya Vivian melihat Andheera yang meregangkan tubuhnya dalam perjalanannya melewati Vivian.
“hmmm..” respon seadanya Andheera sembari memakai sepatu.
“kau mau olahraga, tak kan sarapan dulu?” kata Vivian saat Andheera akan membuka pintu.
“nanti aja, (jawab Andheera)
oiia kau juga sesekali harus berolahraga Vivian, lihatlah pertumbuhanmu bukannya keatas malah melebar kesamping.” goda Andheera diakhiri dengan senyum smirk kemudian mulai berlari keluar menghindari amukan Vivian karena telah menganggunya.
***
Di depan ruangan Lyra, meski Anha sudah memberitahunya untuk pulang saja beristirahat dan biarkan Anha yang akan mengurus semuanya. Namun Andheera tak bisa menahan langkahnya untuk kembali melihat keadaan Lyra. Melihat Lyra sudah bisa duduk dan tersenyum, membuat Andheera merasa lega sekaligus bersyukur Lyra baik-baik saja.
“kakak yakin baik-baik saja? Tak perlu memberitahu orang tua kakak.” Ujar Anha yang khawatir pada keadaan Lyra.
“hhahaaha meski kau memberitahu mereka, mereka tak akan datang.” Balas Lyra diiringi dengan senyumnya diakhir kalimat.
“kenapa begitu, bukankah keluarga selalu ada.” Kata Anha lagi.
“amm, bolehkah aku menceritakan sedikit kisah hidupku padamu.”
“kalau kakak ga keberatan, aku akan mendengarkannya.”
“hhahhaha baiklah, kedua orang tuaku sudah bercerai saat aku masuk SMA, seperti kebanyakan anak-anak lainnya kau tahu, anak yang broken home aku sangat hancur tapi mereka tak perduli sama sekali akan perasaanku. Aku ikut dengan ayahku, dia sering meninggalkanku karena sibuk dengan pekerjaannya bahkan untuk meluangkan waktunya sedikitpun tak pernah bisa, jadi aku melakukan hal buruk agar mereka berdua memperhatikanku.” Paparnya.
“hal buruk?” Anha merespon cerita Lyra.
“iya, aku menjadi preman disekolah, sering membully anak-anak lemah, main sampai larut malam kadang juga tak pulang, dan yang paling buruk, usahaku yang terakhir agar mereka melihatku aku memakai narkoba, menyedihkan bukan.” Lirihnya masih tetap mencoba memberikan senyum hangatnya pada Anha.
Diluar ruangan, Andheera juga mendengar jelas apa yang diceritakan Lyra pada Anha, ia merasa ada sesuatu yang aneh dalam hatinya sesuatu yang tak bisa ia ungkapkan, tanpa sadar ia merasakan air mata mengalir membasahi pipinya, walau Andheera tak menampakan ekspresi apapun dalam wajahnya, gadis cantik itu berusaha menahan rasa sakit yang tiba-tiba menusuk hatinya.
__ADS_1
Merasa sudah puas dengan melihat Lyra dari luar, Andheera berniat untuk kembali pulang, namun saat ia membalikan tubuh rampingnya.
“apa kau dekat dengan Andheera?” lanjut Lyra.
Kalimat yang menghetikan langkah Andheera diluar, kemudian melirik kembali ke dalam ruangan Lyra.
“tidak, mungkin dia menghubungiku karena aku ketua kelas hehe, Andheera bukan gadis yang mudah didekati.” Ujar Anha.
“begitu ya, bagaimana menurutmu dengan Andheera?” tanya Lyra, yang lagi-lagi menyinggung soal Andheera.
“emm, jujur dia sedikit menakutkan hehehe dan juga misterius.”
Lyra tersenyum mendengar pendapat Anha tentang andheera.
“apa yang menakutkan dari Andheera?” seolah ia sangat tertarik pada gadis kasar tersebut, ia begitu bersemangat kala menyebut nama Andheera.
“sorot matanya, ketika ada yang menyapa atau mengajaknya ngobrol dia hanya akan terdiam sambil melotot hihihi, ku kira dia pandai berkelahi juga tapi saat ku dengar dia dibully oleh senior kelas sampai babak belur, membuat aku berfikir kembali ternyata dia hanya mengandalkan sorot matanya yang tajam untuk menakuti orang-orang, karena nyatanya dia sangat lemah hahahaa.” Tuturnya dengan percaya diri, seakan dirinya benar-benar mengenal sosok Andheera.
Baik Lyra maupun Andheera yang tengah berdiri dibalik pintu ruangan, mengernyitkan dahinya secara bersamaan, kebingungan dengan kalimat terakhir Anha yang menyatakan jika Andheera tidak bisa berkelahi dan juga Andheea adalah gadis yang lemah, karena semua itu bertentangan dengan diri Andheera yang sebenarnya.
“Anha kau benar-benar tak tahu Andheera hhahahaha kau tahu seb..”
Krreett.. suara pintu ruangan Lyra terbuka, sontak Lyra dan Anha menoleh ke arah pintu. Keduanya tampak sedikit terkejut dengan kehadiran Andheera yang tak terduga.
“Andheera, bukannya aku sudah bilang untuk istirahat aja kenapa kau kembali kesini?” tanya Anha keheranan, melihat Andheera yang berjalan perlahan mendekatinya.
“aku.. aku baik-baik saja, kau saja yang pulang aku yang akan berjaga disini.” Andheera tergagap.
“tak perlu, disini banyak perawat ko yang bisa membantuku, kalian berdua pulang saja. Sebagai gantinya kalau aku pulang nanti kalian harus menjemputku oke.” Seru Lyra lengkap dengan senyum lebarnya.
“kakak sedang sakit mana bisa ditinggal sendiri.” Anha terkekeh.
“tak apa, lagipula bukannya kau harus kerja kan, aku baik-baik saja ko.” Kata Lyra lagi.
“iya sih, sebentar aku akan meminta bantuan ibuku.” ucap Anha seraya merogoh ponsel dari saku Jinsnya kemudian berniat menelfon ibunya.
“Anha.. (Lyra menghentikan jemari Anha agar tidak melanjutkan niatnya untuk menelfon ibunya) aku baik-baik saja percayalah, kalau ada yang terjadi aku akan langsung menghubungimu oke.” Lyra dan Anha tetap kekeh dengan pendiriannya, membuat Andheera memutar kedua bola matanya karena malas meghadapi perdebatan tak berguna seperti ini.
“baiklah, kalau begitu setelah part time ku selesai aku akan kembali, kakak ingin ku bawakan makanan apa? Kakakku sangat pandai memasak, aku tahu kok makanan dirumah sakit itu tidak enak hehehe.” Anha mengalah untuk saat ini namun pada akhirnya ia tetap tak bisa meninggalkan Lyra sendirian dimalam hari.
“Anha..” belum sempat Lyra menuntaskan kalimatnya namun Andheera sudah lebih dulu menyambar dengan perkataan kasarnya.
“bisakah kau pergi sekarang, kau tak lihat kak Lyra tak nyaman ada dirimu disini.” Andheera menyambar karena ingin meghentikan perdebatan antara Lyra dan Anha.
***
Bersambung…
__ADS_1