Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]

Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]
Episode 59


__ADS_3

“kau akan menyanyi dan menari di depan semua orang?! waahh luar biasa!! apa kau benar-benar Andheera yang ku kenal?” ujar Vivian seraya menatap temannya itu dengan perasaan yang tidak percaya sama sekali dengan berita yang baru ia dengar.


“berhentilah menatap ku seperti itu, aku hanya terpaksa melakukannya!” sahut Andheera seraya mengunyah makanannya.


“terpakasa kenapa?” timbrung Jessy penasaran.


Begitupun dengan yang lainnya, yang ikut menunggu jawaban dari Andheera mereka terus menatap Andheera dengan pandangan yang menganggu.


“rahasia..” respon Andheera datar membuat yang lainnya langsung berdecak kesal kemudian melanjutkan kembali menyantap makanannya.


“kak meda ngga akan datang?” tanya Vivian.


“kurasa engga, dia pasti sedang menangis dipojokan.” celoteh Andheera, membuat Vivian kebingungan dengan jawabannya.


“karena kekasihnya kecilnya tidak jadi menemuinya.” Tambahnya lagi untuk memberikan penjelasan lebih lanjut.


“meda punya pacar? waaah seperti apa seleranya Kakak punya fotonya?” seru Ben masih dengan mulut yang dipenuhi makanan.


“ammm.. minta saja pada kakakmu.” Sahut Andheera.


“isshh.. ayolah Kakak, meda tak akan memberitahuku.” Rengek Ben.


“apa kau memiliki masalah dengan kak meda, kurasa kau tak terlalu akrab dengannya.” Timbrung Vivian.


“dia sangat menyebalkan, waktu kecil dulu dia selalu merebut semua makanan juga mainan yang diberikan omma padaku.” Ungkapnya lengkap dengan raut wajah yang sangat mendukung.


“bener juga sih, kak meda memang sedikit menyebalkan, saat bermain game juga dia tak pernah mau mengalah sekalipun!” balas Vivian yang tak kalah julidnya membicarakan seseorang dibelakang.


“dan juga kak Vian tahu, saat dia tidur dia sering sekali mengigau bahkan sampai pernah menendangku hingga aku terjatuh! uhh.”


Jessy dan Brian hanya bisa tersenyum renyah mendengar kekompakan mereka berdua menjelekkan kakak Andheera.


“hey.. apa kau tak ingat, dulu kau sering diam-diam mengendap masuk ke kamar Kakak dan tidur dikamar Kakak, ditambah selama kau tidur tak pernah sekalipun kau bergerak, membuat Kakak berfikir apa kau masih hidup atau sudah mati.” Timbrung Andheera, membuat yang lainnya cekikikan akibat tingkah laku Ben kecil dahulu.


“aku tidur dikamar Kakak, karena aku tak ingin terlambat ke sekolah.” Pembelaan Bennedict.


“kau yakin? bukan karena kau malas membereskan tempat tidurmu?” timpal Vivian yang ikut menggoda Ben.


Tak dapat berkata-kata lagi Ben hanya menunjukan raut wajah merajuknya, sedangkan yang lain masih tak dapat menghentikan tawa renyahnya seraya memandangi bocah lelaki tersebut.


***


Malam harinya, di apartemen Hyunjie.


Setelah beres merapihkan semua pakaian putranya ke dalam lemari pakaiannya, ia pun keluar dari kamar Keenan dan berjalan menuju ruang tengah bersiap untuk menonton drama favoritenya yang sebentar lagi akan tayang, ditemani dengan cemilan keripik yang sudah ditaruh di meja sebelumnya.


Kreett.. suara pintu terbuka tanda seseorang uang telah ditungguinya telah pulang.

__ADS_1


“kau darimana saja Keenan?” tanya ibunya begitu putranya berjalan melewati dirinya.


“mencari seseorang..” sahutnya kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


“dia kenapa, apa terjadi sesuatu.” Gumam Hyunjie, kemudian kembali beralih pada drama favoritenya yang sudah dimulai dan melupakan sikap putranya.


Di kamar mandi.


Layakanya adegan dalam drama korea, seorang cast lelaki yang memperlihatkan scene dirinya tengah bertelanjang dada seraya diguyur oleh air shower yang memabut tubuhnya basah seketika, ditunjang dengan tubuh atletis juga roti sobeknya yang sudah lama terbentuk setelah ia melakukan diet ketat dan olahraga rutin.


Dengan tinggi yang cukup mumpuni juga visual yang tidak diragukan lagi, sebenarnya ia bisa saja dengan mudahnya masuk dalam dunia entertaint seperti hal nya Eunjiso yang memutuskan untuk menjadi selebritis.


Namun lelaki yang baru saja menyelesaikan studi akhir di SMA Shinwa itu, tak memiliki niat sedikitpun untuk mengikuti jejak teman sekelasnya. Baginya menjadi keren itu adalah menjadi seorang atlet basket, karena teman kecilnya, Andheera sangat menyukainya.


“2 minggu itu waktu yang sangat lama, dan juga bisakah aku menemukannya.” Gumam Keeenan yang masih menikmati guyuran air shower sembari sesekali menyibakan rambutnya ke belakang.


***


Kembali ke resto Ahreum, tepatnya didapur.


Tampak Brian dan Bennedict tengah mencuci piring bersama setelah menghabiskan begitu banyak hidangan yang tersedia di meja makan, mereka juga harus bertanggung jawab pada piring dan mangkuk yang kotor, agar terlihat seperti anak yang berbakti hihi.


Beberapa menit sebelum baku hantam terjadi..


“kak Brian..” panggil Ben pelan sembari membilas piring yang sudah dibersihkan sebelumnya oleh Brian.


“iyaa.” Sahut Brian.


“enggak tuh, aku menyukai Jessy kecil.” Goda Brian diiringi dengan tawa renyahnya.


“aku serius kak Brian!” seru Ben seraya menaikan nada suaranya.


“hehehe.. memangnya kenapa, tiba-tiba kau menanyakan hal itu?” Brian malah bertanya balik alih-alih menjawab pertenyaan Ben.


“hanya ingin memperingati kak Brian saja, kalau-kalau kak Brian sampai menyakiti Kakakku, aku tak akan tinggal diam!” tegasnya seraya menunjukan sorot matanya yang tajam juga kedua jarinya yang didekatkan tepat ke kedua mata Brian seolah mempertegas apa yang baru saja ia katakan.


“iyaa.. iyaa baiklah hahahaha!!” sahutnya seraya menoel wajah imut Ben dengan busa sabun yang ada ditangannya.


Tak ingin kalah begitu saja, Ben membalasnya dengan cipratan air dari keran yang mengalir membuat wajah Brian basah seketika.


Dan baku hantam pun terjadi begitu Brian kembali membalas perlakuan Ben padanya, begitu seterusnya sampai area dapur dipenuhi oleh busa sabun juga cipratan air dimana-mana. Tak ada yang mau mengalah keduanya sama-sama gigih saling membalas, dengan dibumbui tawa dan teriakan yang membuat setiap orang di ruang tengah terusik.


“HEY!!” seru Vivian yang sangat terkejut mendapati area dapur penuh dengan kekacauan yang dibuat oleh 2 makhluk aneh tersebut.


Namun keduanya tak perduli sama sekali dengan kehadiran Vivian dan tetap melanjutkan bersenang-senang dengan saling melempar busa sabun hingga membuat lantai licin.


“biarkan saja, lagipula mereka juga yang akan membereskan kekacauannya, iya kan Bennedict!” timpal Andheera yang baru saja datang untuk menaruh piring kotor berisikan kulit semangka.

__ADS_1


Sontak baik Ben maupun Brian menghentikan aktivitasnya seketika, dan memandangi Andheera yang berjalan melewatinya untuk menaruh piring di wasteful lengkap dengan sorot mata tajamnya.


Merasakan aura yang menyeramkan, refleks lengan Ben menekukan leher Brian untuk melakukan setengah membungkuk pada Andheera bersamanya tanda mereka berdua menyesali perbuatannya.


“iyaa Kakak..” sahut Ben.


Melihat tingkah laku keduanya Vivian hanya menggeleng kepala kemudian pergi bersamaan dengan Andheera yang menyusul dibelakangnya, setelah memastiakn jika kekacauan itu akan segera dibereskan oleh kedua makhluk tersebut.


“Hey! aku lebih tua darimu tahu.” Seru Brian yang tak terima dengan perlakuan Bennedict barusan yang terbilang kurang sopan.


“aku menyelamatkan nyawa kak Brian tahu!” sahut Ben yang kemudian berhenti bermain dan mulai membersihkan area dapur.


“cihhh!” ketus Brian yang masih merajuk.


***


Setelah hampir 1 jam berlalu..


Diruang tamu.


“sudah larut nih, ayo pulang.” Ajak Andheera yang membuat Vivian terhentak dari tidur sesaatnya di sofa.


“kalian nggak nginep aja disini?” saran Ahreum, melihat keadaan Vivian yang mengkhawatirkan sbab kedua matanya masih sangat lengket seakan enggan untuk bangun dari tidurnya.


“tidak, terimakasih tante, lain kali saja.” Respon Andheera seraya menepuk-nepuk pelan bokong Vivian agar cepat tersadar dalam mimpinya.


“ahhh.. iyaa..iyaa aku bangun.” Gumam Vivian seraya mengerang dan meregangkan tubuhnya.


“apa kak Brian masih dikamar Ben..” gumam Andheera yang kemudian berjalan menuju kamar keponakannya untuk memastikan keberadaan seniornya, diikuti oleh Vivian yang masih mencoba mengucek-ucek matanya.


Dan benar saja, begitu Andheera membuka pintu kamar Ben, ia mendapati 2 lelaki yang tengah tertidur pulas dengan posisi saling berpelukan, membuatnya mengerutkan dahinya untuk sesaat karena mengingat pertengkaran yang terjadi di dapur sebelumnya, hubungan mereka tak begitu bagus.


 “dia pasti sangat lelah..” gumam Vivian yang juga ikut memandangi pemandangan yang ambigu dihadapannya itu, refleks Andheera melirik kearahnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


“selama ini dia gak pernah hidup susah, semua apapun kebutuhannya selalu terpenuhi, dan siapa sangka kini dia lebih memilih jalan yang menyulitkan dirinya sendiri, hanya karena ambisinya sesaat.” Sambung Vivian yang membuat Andheera tersenyum penuh arti untuk menanggapinya.


“tante sudah memesankan taxi, kalian akan pulang sekarang?” tanya Ahreum seraya berjalan menghampiri kedua gadis tersebut yang masih terdiam di depan pintu kamar Bennedict.


“okee terimakasih tante.. ayoo.” Ujar Andheera pada Vivian yang masih terlihat memandangi lelaki yang pernah disukainya sepenuh hati.


“aku titip kak Brian yaa tante, tolong bangunkan jam 08:00 pagi, dia harus kerja paruh waktu.” Tambahnya sebelum benar-benar pergi.


“iyaa baiklah..” jawab Ahreum lengkap dengan senyum ramahnya.         


“Vivian pulang ya tante, terimakasih untuk makanannya, Vian akan sering mampir keresto.” Pamit Vivian seraya memeluk Ahreum sebagai tanda perpisahannya.


Vivian pun berjalan cepat menyusul Andheera setelah berpamitan dengan Ahreum.

__ADS_1


***


Bersambung…


__ADS_2