![Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]](https://asset.asean.biz.id/mimpi-dan-harapan--pov---andheera-.webp)
Didalam Resto.
“kau darimana sih, ku kira kau kabur dan meninggalkan kita disini, lihat tuh mereka berdua sudah pesan banyak.” Ujar Brian ketika Andheera sudah bergabung di meja mereka.
“kak Dheera boleh ga kalau aku nanti nambah buat dibungkus juga..”
“hey kak Dhera itu masih pelajar jangan buat kakakku kehabisan uang bekalnya.” Timpal Ben tak terima jika Jessy ingin menambah makanannya untuk dibawa pulang, mendengar omelan temannya itu Jessy malah cemberut.
“boleh asal kau tak memakan semuanya sendiri, kau harus berbagi.” Ujar Andheera ramah.
“OKEE!! Aku akan membaginya dengan Uju, Joan dan kak Yerim jika masih ada sisa aku akan membaginya juga dengan kedua orang tuaku hihihihi.”
“banyak sekali anggota keluargamu sudah seperti anak kucing saja.” Goda Brian diiringi dengan tawa ledekan diakhir.
“huh!!” Jessi mendecak sedikit kesal sembari menikmati makanannya.
“kau masih memiliki adik? kukira Yerim hanya memiliki 2 adik kembar.” Ujar Andheera.
“kakak kenal kak Yerim?” Jessy sedikit bingung.
“iya dia teman sekelasku.” Kata Andheera lagi.
“waaaahhhhh!!! pantas saja kau sangat baik padaku terimakasih kak Dheera. Oiya Mmm.. aku hanya ingin memastikan aja kak Dheera dan kak Brian tidak sedang berkencan kan?” tanya Jessy tiba-tiba membuat situasi canggung seketika.
Brian dan Ben kompak terbatuk saking terkejutnya mendengar pertanyaan random Jessy. “uuhuuuk..uuhuuk!!”
“memangnya kenapa?” respon Andheera santai disaat yang lain sibuk meredakan batuknya dengan meminum air yang ada didepannya.
“karena aku akan menikahi kak Brian saat dewasa nanti.” Tuturnya dengan nada tegas juga senyum lebar.
“HEY!! Kau tak boleh asal bicara seperti itu!” seru Ben seolah tidak menerima keputusan Jessy.
“memangnya kenapa, kurasa aku udah cukup cantik tuh.” Kata Jessy, sepertinya ia tak terlalu memperdulikan perkataan Ben, ia malah melanjutkan makannya kembali sedangkan Ben masih cemberut kesal.
“okee akan kutunggu kau 10 tahun lagi, aku akan datang melamarmu.” Sahut Brian semakin memicu kecemburuan dalam diri Ben.
“benarkah ahahahaha!! SETUJU, aku janji akan terus menjaga jari manisku agar tetap kosong sampai waktunya tiba.” Meski Jessy tahu itu hanyalah sebuah omong kosong yang Brian lontarkan sebagai kalimat penghibur untuknya, namun ia tetap merasa sangat bahagia hingga tak hentinya tersenyum sembari mengunyah makanannya.
Begitupun dengan Brian, ia pun menyambut senyum manis Jessy dengan senyum kotak andalannya seolah dunia ini miliki mereka berdua sedangkan Andheera dan Ben yang juga berada di meja yang sama hanyalah debu yang tak terlihat.
“nih makan yang banyak ya biar kau bisa tumbuh setinggi Andheera hihihi.” tambah Brian seraya mengusap kepala Jessy lembut.
“gak mau, aku lebih suka terlihat imut disamping kak Brian daripada hampir menyamai tinggi kakak.” Timpalnya.
__ADS_1
“aiisshh, jika kalian berdua tidak akan makan pergilah!!” seru Ben penuh dengan emosi yang membara tak tahan melihat situasi romance yang tak terduga.
Sontak Brian dan Jessy terkejut mendengar sentakan Ben, kemudian mengakhiri scene romance singkatnya dan kembali menyantap makanannya. “kau ini kenapa,” gumam Jessy pelan lengkap dengan lirikan tajam ke arah Ben sebab ia merasa aneh dengan sikap sohibnya itu.
Sementara 3 orang lainnya tengah sibuk berdebat kedua mata tajam Andheera melirik ke arah kamar mandi, ia melihat sekilas sang badut tadi berjalan memasuki kamar mandi dengan wajah lesunya. Karena penasaran ia pun beranjak dari tempat duduknya untuk menyusul sang badut ke kamar mandi.
“kau mau kemana?” tanya brian ketika ia melihat Andheera beranjak dari tempat duduknya.
“kamar mandi.” Jawabnya seadanya kemudian berjalan pergi menuju kamar mandi.
“padahal baru aja makan beberapa suap udah ke kamar mandi aja.” Gumam Jessy seraya memperhatikan langkah Andheera.
Sementara itu dikamar mandi.
Begitu ia membuka pintu kamar mandi, ia sudah mendapati seseorang tak sengaja menabrak sang badut hingga membuat ponsel yang digenggamnya terjatuh, dan seorang wanita yang menabrak itu tampak terburu-buru sampai tak sempat mengambilkan ponsel yang terjatuh kemudian pergi dengan permintaan maaf yang tergesa-gesa.
Sang badut tidak terlihat kesal atau marah ia malah memberikan senyuman ramah untuk wanita tadi yang kini telah pergi lalu ia mencoba meraih ponselnya yang tergeletak dilantai. Namun baru saja ia ingin membungkuk lengan gesit Andheera lebih dulu meraih ponselnya untuk mencoba mengambilkan ponsel milik badut tadi.
Karena jempol Andheera tak sengaja menyentuh layar ponsel membuat layar ponsel milik badut itu menyala dan menampilkan sebuah foto seorang gadis remaja yang tidak asing baginya. Sontak kedua mata Andheera membesar saking terkejutnya mengetahui kebenaran siapa wanita badut yang berdiri dihadapannya.
Ketika Andheera mengembalikan ponselnya dengan sedikit ukiran senyum diwajahnya ia malah mendapat respon yang tak terduga dari wanita badut.
“kakak nya Anha.. bisu.” Andheera membatin saat wanita tadi mengucapkan terimakasih dengan bahasa isyarat.
Sebuah cuplikan terlintas dalam benaknya ketika ia tengah menunggu bersama temannya Anha dirumah sakit, selama menunggu operasi Lyra, Anha sempat bercerita tentang dirinya agar suasana tidak tampak canggung dan bisa sedikit mencair.
“apa kau juga tak mengingatku Andheera, kita 1 SMP bahkan aku pernah 1 kelas denganmu, (meski Andheera tidak merespon, Anha tetap melanjutkan ceritanya) aku tak percaya sekarang pun kita bertemu kembali bukan hanya sekolah tapi juga dalam kelas yang sama.”
“meski awalnya aku tak yakin bisa masuk Kirin School tapi kakakku bersikeras menyuruhku sekolah disana, katanya aku harus berada ditempat yang bagus agar aku tidak diremehkan orang lain seperti dirinya yang hanya lulusan SMA biasa, kakakku juga mengorbankan kuliahnya agar bisa fokus bekerja untuk membiayai aku sekolah disana, aku senang tapi disaat yang sama aku juga merasa bersalah padanya.” Lanjutnya lagi.
“Kakak ku.. hanya bekerja di kantor kecil sebagai staff administrasi, jika dia bisa melanjutkan kuliahnya mungkin ia bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik karena dia sangat pintar.” Pungkasnya yang kemudian bersandar pada bahu Andheera seraya berusah sekuat mungkin untuk tidak meneteskan air mata kesedihannya.
“apa sebuah keluarga biasanya seperti ini, mengorbankan dirinya sendiri dengan berdalih menjaga keluarganya yang lain agar ia merasa baik-baik saja.” Kata Andheera dalam hati, tak lama kemudian wanita itu pergi melewati Andheera seraya melemparkan senyum ramah, Andheera hanya meresponnya dengan senyum tipis sebelum wanita tadi benar-benar hilang dari pandangannya.
Selang beberapa menit Andheera pun keluar dari kamar mandi, gadis manis itu langsung berjalan menuju meja nya kembali serta melanjutkan makan siang bersama teman-temannya.
“kenapa dengan wajahmu?” tanya Brian lagi begitu Andheera duduk dikursinya.
“tidak.” balas Andheera datar kemudian melanjutkan makannya.
“sepertinya sudah waktunya aku pergi.” ujar Brian sembari membereskan alat makannya di mangkuk lalu meminum seteguk air.
“kerja part time lagi kak?” tanya Jessy penasaran.
__ADS_1
“iya aku gak boleh terlambat jadi aku pergi sekarang ya, makasih buat makanannya Andheera lain kali aku yang akan mentraktirmu, bye.” Pamitnya lalu berlari secepat kilat.
“padahal makanannya belum sampai perut hufft..
Kak Dheera, apa kak Brian semiskin itu sampai harus kerja part time dibeberapa tempat. Belum lagi kak Brian juga harus fokus pada pelajaran sekolah karena sebentar lagi kak Brian akan lulus dan juga masa trainne nya, aku kasihan sekali padanya.”
“kalau kau kasihan padanya kau saja yang penuhi kebutuhannya.” Jawab Andheera santai sembari mengunyah makanannya.
“kakak, aku juga miskin tahu, aku dapet uang jajan dari membantu mengantarkan pesanan roti bukan dengan cuma-cuma. Jangan samakan aku denganmu.” Cetusnya.
Mendengar kalimat terakhir Jessy membuat Andheera mengerutkan dahinya.
“kak Dheera fikir aku tak tahu, selain dari sepedamu yang biasa saja, kak Dheera memakai semua barang branded juga fashionmu meskipun terlihat simple hanya kaos dan jins tapi itu semua bermerk.” Sambungnya lagi.
“apa kau tak berfikir kalau yang ku pakai itu palsu.” Sahut Andheera.
“hey ayolaah!! kak Dheera meremehkanku, aku sering melihatnya karena semua teman-temanku memakai merk yang sama, aku bisa tahu hanya dengan sekali lihat.” Sombongnya.
“bagaimana denganku?” timbrung Ben tiba-tiba bersuara.
“kau sama denganku,
tunggu tapi kalau difikir-fikir sepertinya jaket yang dikenakan kak Brian juga bermerk apalagi jam tangannya. Ahhh.. aku tak bisa memperhatikan dengan jelas selain melihat wajahnya yang tampan huuh.” Dengusnya.
“YAAK!!” sentak Ben seraya menghentakan sendok ke mangkuknya.
“astaga, kau kenapa sih.” Kaget Jessy hampir saja ia merasakan jantungnya akan berpindah tempat.
“Berhentilah menyebut namanya, dia sudah pergi dari tadi tahu!!” ketus Bennedict penuh emosi.
“kau tahu, hari ini kau benar-benar aneh Ben.” Timpal Jessy seraya menggeleng kepalanya.
“itu.. “
“apa kau sudah selesai Jessy?” tanya Andheera yang mencoba mengakhiri perdebatan diantara 2 bocah remaja itu.
“aahh iya aku sudah selesai kok.” Katanya lengkap dengan senyum cerah seperti biasanya.
“kau tunggu diluar saja, aku akan membayar dulu.” Ujar Andheera yang terdengar seperti sebuah perintah.
“oke.” Patuh Jessy yang kemudian bangkit dari kursinya kemudian pergi lebih dahulu.
***
__ADS_1
Bersambung...