Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]

Mimpi Dan Harapan [POV : Andheera]
Episode 15 (Rencana kejutan untuk Andromeda)


__ADS_3

“Dheera..” panggil Vivian dengan nada lembut sembari mendorong trolly dan melihat-lihat ke sekeliling.


“hmm..” jawab Andheera yang tengah asyik memainkan ponsel.


“bagaimana Yerim menurutmu?” Tanya Vivian, Andheera sedikit bingung karena tiba-tiba Vivian membahas Yerim namun tetap tak mengalihkan fokusnya pada layar ponsel miliknya.


“kau pernah piket bersama Yerim kan?


Apa dia juga tak terlihat tulus bagimu, kukira kau sudah berteman dengannya, karena kalian sudah mematahkan sapu kelas bersama hhehee.” Goda Vivian yang kembali mencoba berinteraksi dengan gadis es batu itu.


“aku yang mematahkannya.” Andheera mengakui kesalahannya.


“benarkah, terus kenapa Yerim yang mengaku mematahkan sapu itu dan mengganti dengan uang sakunya, padahal uang sakunya ga banyak lho.” Andheera terkejut mendengar cerita Vivian hingga membuat Andheera menghentikan aktifitasnya sesaat.


“darimana kau tahu Yerim yang mengaku mematahkan sapu?” tanya Andheera, seakan ia ingin penjelasan lebih lanjut mengenai informasi yang baru saja ia berikan.


“Anha teman sebangku ku, saat Yerim memberikan uang untuk ganti sapu yang ia patahkan aku ada disana. Itu tandanya Yerim benar-benar tulus ingin berteman denganmu kan.” Tambah Vivian seraya mengusap bagian atas kepala Andheera lalau mengambil beberapa bahan makanan yang berada dirak pajangan dan menaruhnya ke atas trolly.


“tapi dia sangat bodoh.” celetuk Andheera kemudian kembali memainkan ponselnya.


“lalu bagaimana denganku?


Otak ku hampir sama dengannya, kenapa kau mau berteman denganku tapi Yerim tidak?” Vivian masih mencoba membujuk gadis keras kepala itu seraya mulai mendorong kembali trolly yang berisikan bayi besar itu.


“1 saja orang bodoh sudah membuatku pusing, apalagi ditambah jadi 2.” Celotehnya yang membuat Vivian mengehal nafasa dalam dan tetap mencoba bersabar menghadapi gadis angkuh yang berada dihadapannya ini.


“hmm, aku tak menerima alasanmu, pokoknya kau harus mencoba berteman dengan semua teman-temanku.” Kekeh Vivian.


“gak mau tuh!” Andheera dengan lantang menolak, membuat Vivian kesal lalu melepas genggaman tangannya dari trolly, hingga trolly yang dinaiki Andheera berjalan sendiri, Vivian pun panik kemudian mengejarnya, ia tak menyangka jika trolly itu akan berjalan sendiri.


“ommaaaa!! Vivian mau membunuhku.” seru Andheera kala troly nya melewati Lorong tempat Diana tengah asyik membaca keterangan kandungan sebuah bungkus bumbu makanan.


Mendengar teriakan Andheera, Diana langsung menoleh seraya membelalakan kedua matanya, karena terkejut melihat trolly yang dinaiki cucunya berjalan sendiri dengan Vivian yang berusaha mengejarnya tak jauh dibelakang.


“apa sebenarnya yang dilakukan mereka berdua, aku seperti memiliki cucu yang berusia 5 tahun.” Gumam Diana sembari menggelengkan kepala dan menutupi wajahnya karena malu dengan kelakuan cucunya.


Hampir 1 jam berlalu mereka menghabiskan waktu di supermarket, Diana menyadari ada yang berbeda dengan Andheera, Diana terus memperhatikan Andheera bercanda dan tertawa begitu lepas bersama Vivian.


Senyum, tawa itu benar-benar tulus tidak seperti dibuat-buat, kebahagiaan itu benar adanya, Andheera terlihat seperti gadis remaja normal lainnya.


Setelah selesai berbelanja.


“tunggu sebentar, aku kebelet.” kata Andheera lalu ngacir ke kamar mandi.


“omma juga ke kamar mandi dulu, kau duluan saja ke parkiran ya sama pak Budi.” ujar Diana pada Vivian juga pak Budi yang baru saja bergabung bersama mereka.


Vivian menurut dengan senyum manisnya ia pun berjalan keluar menuju parkiran bersama pak Budi yang membantunya untuk mendorong trolly yang berisikan kresek penuh belanjaan sampai ke mobilnya.


Di toilet.


Tak lama setelah Andheera menyelesaikan urusannya dibilik kamar mandi, gadis itu melihat ommanya tengah bercermin di wastafel kamar mandi.


Andheera berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya, kemudian tersenyum ke arah cermin sembari memandangi Neneknya dari pantulan cermin dengan tatapan penuh arti.

__ADS_1


“omma lihatkan, aku baik-baik saja, tak ada yang aneh dariku. Jadi kumohon bawa kembali kak Minna, dia sangat menggangguku, omma.” Diana terkejut mendengar kenyataaan bahwa Andheera sudah tahu Mina adalah orang suruhan neneknya untuk mengawasi Andheera di Jakarta.


“meskipun omma dan ayah menganggap Kakak lebih pintar dariku, tapi siapa yang tahu…” Andheera mengangkat bahu dan tersenyum menyeringai membuat Diana merinding seketika, lalu pergi meninggalkan Diana yang masih terdiam membeku tak dapat berkata-kata.


***


Di perjalanan pulang Andromeda, kakak dari Andheera itu tampak sangat kelelahan karena terlalu lama mengayuh sepeda milik adik perempuannya.


Andromeda bukan type laki-laki yang suka berolahraga, sebab ia lebih memfokuskan dirinya pada pelajaran dibanding olahraga.


“huuuhh.. jadi ini rasanya mengayuh sepeda, adikku kuat sekali setiap hari pakai sepeda ke sekolah huuhh.. haahhh.. kalau aku jadi Andheera, aku sudah minta belikan motor daripada harus berolahraga sejauh ini huuuhh... haaahh!!”


Andromeda mengomel sepanjang perjalanan, sembari terus mengayuh sekuat tenaga dengan keringatnya yang kini sudah membasahi seluruh tubuh serta bajunya.


Dan akhirnya setelah hampir 40 menit berjuang mengayuh sepeda, Andromeda sampai di toserba kompleks rumahnya, merasa sudah tak sanggup Andromeda memutuskan untuk berhenti sejenak dan membeli minuman di toserba.


Selagi Andromeda memilih minuman di dalam, mobil yang dinaiki Andheera melewati toserba, Vivian yang saat itu melihat ke arah luar ia menyadari sepeda yang terparkir ditoserba adalah sepeda milik temannya.


“sepedamu ada di toserba Andheera.” kata Vivian sembari melihat sepeda yang terparkir di toserba kemudian menoleh ke arah Andheera yang tengah memainkan ponselnya.


“Kakak mungkin lelah dan membeli minuman di mini market hhehee.” Andheera malah tertawa polos.


“seharusnya kau mengajak kak Meda untuk berolahraga, sepertinya kak Meda laki-laki yang lemah hahhaha.” Vivian ikut meledek dan tertawa bersama Andheera.


Diana yang duduk dikursi depan mencoba melirik ke arah cermin mobil untuk melihat ekspresi cucunya saat ini, untuk sesaat ia merasa lega karena akhirnya Andheera bisa bercanda dan tertawa lepas.


Namun hati kecil Diana masih tak bisa percaya, apa yang dilihatnya saat ini benar-benar ketulusan Andheera atau malah kepalsuan.


Sesampainya dirumah.


“selamat datang Nyonya, bagaimana kabar Nyonya?” sambut bi Dharma yang dulunya pernah bekerja bersama Diana dikampung, namun setelah Reza pindah ke Jakarta Diana meminta Dharma untuk ikut dengan Reza dan mengurus cucu-cucunya di Jakarta.


“baik.” balas Diana sembari mengusap bahu bi dharma lengkap dengan senyum ramahnya, kemudian berjalan masuk duluan ke dalam.


Sedangkan pak Toni, bi Rani dan Minna membantu untuk menurunkan belanjaan didalam mobil.


“bibi apa semua sudah siap?” tanya Andheera yang baru turun dari mobil bersamaan dengan Vivian.


“sudah non.” jawab bi Dharma sedikit membungkuk.


“okee, masakan yang enak ya.” pinta Andheera sebelum ia masuk ke dalam.


“mohon bantuannya ya bii, terimakasih.” Vivian menambahkan kemudian berjalan menyusul Andheera ke dalam.


“sifat mereka benar-benar sangat terbalik, aku penasaran apa yang membuat mereka bisa berteman.” ujar bi Rani yang membawa jinjingan belanjaan melewati bi dharma.


“benar juga.” timbrung pak Toni yang berjalan selangkah dibelakang bi Rani.


Di ruang tengah segalanya telah dipersiapkan, lain hal nya dengan Andheera yang tampak biasa-biasa saja, temannya, Vivian yang takjub dengan dekorasi pesta ulang tahun yang dibuat oleh para asisten rumah tangga Andheera.


Vivian mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan dengan kedua mata yang bersinar dan mulut yang menganga. Seolah baru pertama kali ia melihat pemandangan indah ini.


Andheera memilih buru-buru ke kamarnya untuk membersihkan diri serta mengganti seragamnya.

__ADS_1


“vian ganti bajumu dulu!” seru Andheera dari lantai atas membuat Vivian tersadar lalu berlari menyusul Andheera ke kamar.


“aah okee.” gumamnya lalu berlari kecil menaiki tangga menyusul temannya yang sudah lebih dulu berada dikamar.


***


Diruang tamu.


Lampu ruangan sengaja dimatikan agar menambah efek dramatis, dan semua anggota keluarga beserta para asisten rumah tangga sudah berkumpul untuk memberikan kejutan pada putra sulung Reza.


Begitu juga dengan Andheera, ia berdiri paling depan diruang tamu sembari memegangi balon dan jarum.


“hehe, aku sudah tak sabar ingin menusuk balon ini.” terdengar suara gumaman Andheera menambah efek horror dalam suasana hening.


“hey!” bisik Vivian sepelan mungkin yang agak jauh di belakang.


“kenapa ? aku hanya akan menusuk balonnya kan bukan wa.. “


DUUAARRRR.. balon pun tak sengaja meletus karena perdebatan tadi membuat tangan Andheera bergerak menusuk balon yang berada dalam genggamannya.


“AAAaaaaaa!!” teriak kedua kakak beradik itu serempak.


Ternyata tak lama setelah perdebatan itu terjadi, Andromeda sudah berada tepat di depan adiknya, mereka berdua sama-sama terkejut karena balonnya meletus disaat yang tidak terencana.


Buru-buru pak Toni menyalakan lampu rumah agar bisa melihat apa yang terjadi, Andheera yang terkejut masih memegang jarum ditangannya sedangkan Andromeda terduduk dibawah saking kagetnya.


Para ART, Reza, Diana juga Vivian tampak tengah menahan tawanya melihat Andheera yang juga terkejut akibat perbuatannya.


“karma cepat sekali datanganya ahhaaha.” ledek Vivian.


“hey! ini semua salahmu, (Andheera langsung mengejar Vivian) kalau saja kau tak mengajakku bicara aiisshhh.” Gerutu Andheera yang masih berusaha mengejar temannya.


Selagi Andheera dan Vivian bermain kejar-kejaran serta baku hantam memakai bantal kursi. Diana berjalan mendekati Andromeda, Diana membantu Andromeda berdiri lalu memeluknya dengan penuh kasih sayang.


“bagaimana kabarmu sayang.” Ujar Diana lengkap dengan tatapan hangatnya.


“aku sangat merindukanmu omma, sangatttt.” Andromeda mengeratkan pelukannya.


“baiklah, ayo tiup lilin, buat permohonan dan potong kuenya.” Diana dan Andromeda berjalan menuju kue tart.


Saat Andheera maupun Vivian berlari hendak melewati ayahnya, dengan sigap ke dua lengan kekarnya menangkap kerah baju Andheera dan Vivian untuk menghentikan kekacauan yang lebih buruk terjadi.


“berhenti bermain-main oke atau kalian tak boleh ikut makan!” ancaman Reza berhasil, akhirnya kedua gadis itu berhenti bermain-main, mereka berdua menurut kemudian mendekati kue tart Andromeda.


Andromeda tengah mengajukan permohonan nya sembari memejamkan kedua matanya,sedangkan Andheera dan Vivian seperti sudah tak sabar menunggu untuk memakan kue nya, mereka berdua terus memandangi kue itu dengan air liur yang hampir menetes.


“Kakak kau tak tidurkan?!” geram Andheera karena kakaknya terlalu lama memejamkan matanya.


Mendengar rengekan adiknya yang sudah tidak sabar lagi untuk menunggu, lelaki yang tengah berulang tahun itu langsung membuka mata bersiap untuk meniup lilin, namun Andheera lagi-lagi menjahili kakaknya dengan mendahului meniup lilinnya.


“hmm, ommaaaa..” rengek Andromeda pada Diana seperti anak kecil yang permennya diambil oleh seorang preman.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2