
Telpon genggam yang Tama taruh di atas nakas berdering. Tama mengalihkan pandangannya dari buku yang tengah ia baca,ia menoleh ke arah nakas,sedikit menggeser tubuhnya ke tepi kasur lalu meraih benda pipih tersebut untuk melihat nama pemanggil.
(Ray is calling...)
"Ray?" Tama berguman dengan kedua alis terangkat naik.
"Tumben." Gumannya lagi sambil menggeser icon hijau,mengangkat panggilan tersebut.
"Halo,Ray."
^^^"gue ganggu?"^^^
Tama menegakkan tubuhnya,posisinya berubah jadi duduk bersila. Satu tangannya menutup buku yang tadi ia baca lalu meletakkannya ke tepi bantal.
"Gak ganggu,gue lagi baca novel."
^^^"Cih,kayak cewek."^^^
Bukannya langsung mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan,pria yang menelpon Tama malam-malam itu malah meledeknya.
"Lo kalau ada masalah yang mau
di ceritain,ya to the poin aja.
Gak usah pake acara ledek-ledekan
dulu. Doyan banget nyari pelampiasan."
Ucapan Tama di sambut dengan helaan napas berat. Tama tersenyum miring,ia yakin kata-katanya barusan pastilah langsung menusuk ulu hati temannya itu.
Habisnya Tama jengkel juga,ia tahu pasti,jika temannya ini tak mungkin menelponnya malam-malam jika tidak ada hal penting yang ingin ia ceritakan. Lagi pula Tama pun tahu bahwa sahabatnya itu tidak segabut itu,untuk menganggunya malam-malam,jika tak ada keperluan.
Apalagi dengan opening,"gue ganggu?" . Dari sana saja Tama sudah bisa menebak bahwasanya ada hal yang serius yang ingin di bicarakan oleh Reyno.
"Jadi? Mau cerita apa?"
Tak tega membuat sang sahabat terdiam lama,Tama akhirnya kembali membuka topik pembicaraan.
Sejenak panggilan terjeda,lalu beberapa detik setelahnya berubah ke panggilan video.
Mata Tama menelisik dari balik layar ia menyadari ada sesuatu yang janggal.
"Ray? Lo? Lo ngerokok?"
Tama terlihat shock saat melihat sahabatnya mengisap benda yang selama ini paling ia antisipasi tersebut.
^^^"Gue lagi sumpek."^^^
^^^"Bokap gue tiba-tiba bahas soal dia,^^^
^^^parahnya lagi dia minta gue ke rumah sakit.^^^
^^^Sesuatu yang selama ini,yeah..^^^
^^^Lo tau lah.^^^
Sesuai dugaan Tama. Temannya itu sedang dalam masalah. Tama terdiam sejenak. Ia paham bahwasanya sesuatu yang barusan Reyno sampaikan adalah sesuatu yang selama ini turut andil mengubah hampir keseluruhan aspek kehidupannya.
"Kita perlu ketemuan? Atau gue ke rumah lo sekarang?"
Tak ada solusi ataupun bantuan dengan jarak yang cukup jauh. Jadi sebagai sahabat yang baik,Tama ingin hadir di saat Reyno membutuhkannya.
^^^"Gue lagi gak pengen keluar,^^^
^^^Tapi ketemuan di rumah juga bukan pilihan^^^
^^^yang baik." ^^^
"Terus gimana?"
^^^"Ya gak gimana-gimana. ^^^
^^^Gue cuma lagi kepikiran. ^^^
^^^Apa udah saatnya buat ^^^
^^^gue sama dia ketemu lagi? ^^^
^^^Menurut lo? ^^^
^^^Baiknya gue turutin atau enggak?"^^^
Tama terdiam. Pertanyaan sahabatnya itu barusan cukup membuat otak kapasitas dua ram-nya itu ngelag. Ia jadi tidak bisa mikir dan bingung juga,harus memberikan solusi bagaimana.
Secara ia pun tau bahwa masa lalu sahabatnya itu dengan kedua orangtuanya tidak terlalu menyenangkan,apalagi dengan sosok yang harus ia temui di rumah sakit. Andai bukan karena hutang nyawa,mungkin sahabatnya itu sudah lama pergi meninggalkan rumah.
"Lo pikirin lagi deh baik-baik. Udah cukup juga pengorbanan lo selama hampir dua tahun ini kan? Gak perlu lo tambah lagi,ya kecuali kalau emang lo se-peduli itu sama dia."
^^^"Jadi menurut lo,gue gak ^^^
^^^perlu ke rumah sakit kan?"^^^
"Gue gak ngomong gitu Ray.
Maksud gue,kalau lo emang udah siap
buat ketemu sama dia lagi,ya sah-sah aja.
Lo bisa aja ke rumah sakit besok.
"Atau...,perlu gue temenin?"
^^^"Gue lagi kepikiran ide gila."^^^
Tama mengernyit,apa maksud ucapan sahabatnya itu? Tama takut saja,di saat-saat seperti ini, sahabatnya itu berubah menjadi orang nekat yang melakukan hal-hal yang bisa saja membahakan dirinya sendiri. Tidak boleh terjadi,setidaknya sebagai seorang sahabat,Tama ingin sedikit berguna.
"Lo jangan macam-macam deh Ray.
Gue masih bisa bantu lo. Lo masih punya gue,
punya Fadil,Fendy,Sky. Kita semua bakalan
ada buat lo. Just call me,or there,kapan pun
__ADS_1
lo butuh kita. Okey?"
Terlihat Reyno mengangguk sembari menyimpulkan lengkungan tipis di bibirnya.
^^^"Makasih bro. Lo tetap yang terbaik.^^^
^^^Gue bisa andelin kapanpun itu kan?"^^^
Tama tersenyum lebar.
"Pastinya. Kabarin gue kalo lo berubah pikiran.
Gue siap temenin lo ke rumah sakit,dan kalau pun lo
gak siap pergi ke rumah sakit. Gue bisa
temenin lo keluyuran malam-malam,asal satu.
Rokok yang lo pegang.
Buang sekarang!!"
Tama menangkap jelas jika sahabatnya itu tengah tertawa. Seakan meledeknya,namun Tama juga lega saat Reyno akhirnya menekan puntung rokok itu ke lantai.
^^^"Udah,udah gue matiin rokoknya. ^^^
^^^Nanti gue buang deh,langsung ^^^
^^^ke tong sampah. Bisa berabe ^^^
^^^kalo sampe di temuin bibi ^^^
^^^Apalagi di cepuin. Beh..."^^^
Tama tertawa kecil. Cukup lega karena akhirnya Reyno kembali menampakkan tawa dan guyonan lepas. Tidak di paksakan seperti di awal-awal tadi.
"Istirahat sana. Masalah tadi gak
usah terlalu di pikirin. Intinya tenangin
dulu sumber masalah yang ada dalam diri
lo,kalau udah tenang baru ambil keputusan.
Hidup lo,lo yang pegang kendali.
^^^"Iya,iya! Bawel banget lo^^^
^^^kayak emak-emak."^^^
Tama tertawa lebar.
"Sekali-kali. Biar lo tau gimana rasanya di omelin emak. Lo kan gak pernah ngerasain.
Tama meledek.
Terlihat Reyno tersenyum miring dari balik layar.
^^^"Siapa bilang? ^^^
^^^di omelin emak."^^^
"Oh ya? Kapan?
^^^"Tadi siang.^^^
^^^For the first time."^^^
♡♡♡
Hari ini Callista berangkat ke sekolah dengan di antar oleh Kalandra. Sebenarnya pagi tadi Digo sempat menghubunginya dan menanyakan apakah ia perlu di jemput atau tidak. Callista sebenarnya ingin-ingin saja,namun sayangnya sang abang melarang.
Semenjak kejadian di mana Reyno hampir menciumnya kemarin,Kalandra jadi antisipasi perihal cowok yang mendekati Callista. Alhasil bahkan Digo yang tidak membuat masalah apa-apa pun turut di antisipasi olehnya.
Sebenarnya Callista pun tak mempersalahkan hal itu,karena sejujurnya,selama dua minggu ini ia sudah cukup lelah menghadapi banyak gosip yang beredaran seputar dirinya.
Dengan di antar ke sekolah oleh Kalandra,Calista bisa kembali merasakan kehidupan normal seperti sebelum ia menerima tantangan Laura.
"Inget dek,yang bener sekolahnya. Jangan peduliin omongan orang,kalau omongannya unfaedah. Ngerti?"
"Emmm."
Calista menyahut malas.
"Abang udah ngingetin tentang hal itu sebanyak tiga puluh kali...,gak capek apa?"
"Ckk,demi lo juga kali! Lo kira gue ngomong hal kayak gini buat kebaikan gue? Kalau lo di apa-apain lagi kayak kemarin gimana?"
"Kemarin Callista belum di apa-apain abang! Baru mau! Gak usah lebay deh."
Jemari Kalandra reflelks menjewer kesak telinga sang adik.
"Lo ya,kalau di bilangin,nyaut mulu! Sekali-kali manut aja,bisa gak?"
"Enggak!"
"Dek.."
"Iya,ih iya! Udah ah,di omelin mulu dari kemarin. Bisa telat nih gue."
"Ya udah sana turun!"
"Ya udah nih gue turun."
Dengan kesal Callista membuka pintu mobil lalu membantingnya lagi. Kelakuannya lagi-lagi membuat Kalandra mengusap dada.
"Dasar bocah."
♡♡♡
Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Hari ini grup kelas sebelas IPS satu tengah sibuk membahas tentang pesta ulang tahun Laura yang akan di adakan nanti malam.
Sesuai ketentuan yang tertera di undangan,setiap tamu yang datang wajib membawa patner ataupun pasangan mereka. Terutama untuk Callista,di mana gadis itu secara pribadi di tantang oleh Laura agar bisa membawa pacar di hari ulang tahunnya Laura itu.
__ADS_1
Harap makhlum sajalah, tentang kenapa hanya Callista yang sebegitu di tekan oleh Laura. Semua tak lain adalah karena walaupun Callista cantik,sedari baru masuk ke Bina Bangsa,sampai saat ini,Callista tidak pernah terlihat dekat dengan laki-laki manapun.
Sebenarnya tak ada yang aneh,hanya saja bagi remaja pada umumnya,jomblo di masa putih abu-abu itu menyedihkan. Walaupun katanya pacaran itu dosa,tapi para remaja cenderung lebih senang melanggar dengan dalih tidak punya pacar berati cupu dan enggak laku.
Paling parah lagi,Callista bahkan sampai di juluki jones saking tidak pernahnya dekat dengan cowok. Bayangkan saja,selama satu tahun setengah,ia terus-terusan saja dijadikan bahan cibiran bahkan tertawaan.
Tak jarang teman-temannya bahkan menyarankan ide konyol dengan menyuruhnya mencoba mencari pacar lewat aplikasi pencari jodoh. Sungguh konyol.
Tapi untuk kali ini,atau tepatnya tiga minggu belakangan ini,julukan Callista si Miss. Jones,agaknya mulai meredam bahkan sepertinya akan sepenuhnya hilang.
Semenjak ia di ketahui berhubungan dengan Digo dua minggu lalu,kini tak ada lagi julukan jones yang harus ia terima,namun sebaliknya kini ia mendapat masalah baru lagi.
Akibat kecerobohannya yang menargetkan Reyno di awal tantangan,ia jadi terkena getah saat cowok itu mengconfessnya,bukan lagi mendapat julukan jones. Ia malah mendapat julukan yang lebih parah dengan di tuding sebagai plyagirl dan di anggap suka mempermainkan laki-laki.
Tapi lupakan lah masalah julukan playgirl. Karena yang harus Callista pikirkan saat ini adalah tentang baju. Baju apa yang akan ia kenakan nanti? Itulah hal yang harus ia pikirkan.
"Denger-denger beberapa anak Bina Bangsa lettingan sebelas ada yang gak ikut ya Ra,katanya Reyno juga enggak ikut?"
Callista diam-diam menguping. Di barisan paling depan,Laura and the geng tengah membicarakan Reyno dengan suara yang cukup nyaring.
"Dari dua hari yang lalu tuh Reyno gak masuk. Gue udah tanya Tama,katanya Reyno sakit."
Mata Callista sontak menajam.
Reyno sakit? Dari dua hari yang lalu?
Dua hari yang lalu kan Bang Kala sempat nonjokin Reyno.
Enggak-enggak. Gak mungkin kan,Reyno sakit gara-gara di tonjok bang Kala? Bisa berabe kalau anak orang sampe kenapa-napa.
Callista mendadak panik sendiri,kedua kakinya bergerak-gerak gelisah dan kedua tangannya tanpa sadar menggaruk-garuk meja.
"Heh.."
Calista terlonjak kaget saat pundaknya di sentuh oleh seseorang.
"Karamel! Ngagetin tau!"
Ternyata orang yang barusan menyentuh pundak Callista adalah Karamel. Cewek itu nyengir lebar,tidak merasa bersalah ataupun minta maaf padahal ia sudah membuat Callista kaget.
"Makanya,jangan ngelamun. Lagian,mikirin apa sih?"
Callista mendengus. "Mau tau banget emang?"
"Gak juga sih."
"Ya udah..!"
Satu pukulan kecil dari punggung tangan Karamel mendarat di bahu Callista.
"Yee..,Kalis gak seru ih!"
"Bilang dong,aku kepo nih."
Dengan lebaynya Karamel mendekatkan kupingnya ke mulut Callista membuat gadis itu harus menjauhkan kepalanya agar bibirnya tidak terkena rambut dan kuping Karamel.
"Pala lo bau terasi anjir!!"
Buru-buru Callista mendorong kepala teman sebangkunya yang kurang ajar itu.
"Jam istirahat nanti gue cerita. Bareng sama Alina,okey?"
"Sip!" Karamel menunjukkan dua jempolnya sekaligus.
♡♡♡
"Alina di undang juga? Datang sama siapa nanti?"
Suara cempreng Karamel menjadi pembuka topik pembicaraan di jam istirahat kedua ini.
Durasi istirahat kedua yang lebih lama dari durasi istirahat pertama tak ayal membuat ketiga remaja perempuan itu memilih menghabiskan waktunya dengan bergosip di belakangan bangunan perpustakaan,salah satu tempat yang agaknya jauh dari kebisingan pelajar.
"Sama bang Kalandra lah,siapa lagi emang. Abang gue kan kalau sama Alina di ajak apa aja mau."
Callista menyahut sewot. Di sebelahnya,Alina hanya mengulas senyum tipis. Bersikap sok cool di depan calon adik ipar,sah-sah saja,bukan?
"Ohh..,jadi abangnya Callista itu pacaran sama Alina?"
Callista dan Alina menggeleng kompak.
"Gak pacaran Kar,cuma deket."
"Iya deket. Deket dari kecil,gedenya paling kawin."
"Plak..."
Satu pukulan gemas mendarat di bibir Callista.
"Yang sopan kalau ngomong. Gue cepuin ke Kala,mau lo?" Alina melotot garang,memberi ancaman pada Callista dan mulutnya yang kurang ajar itu.
"Ya,ya,ya deh. Maaf,gak kawin tapi bakalan di nikahin,semoga aja."
Callista tampaknya belum kapok dengan satu tabokan,mungkin harus di lelepin di palung Mariana,baru ia akan diam.
"Btw,nanti dress codenya yang cewek pakai dress yang cowok pake jas. Kamu sama Digo nyaris baju Lis?"
Karamel menggeleng. "Belum,janjinya sih pulang sekolah nanti. Kenapa? Lo mau bareng?"
Karamel mengangguk cepat. "Iya boleh. Kebetulan aku sama Tama juga belum sempat nyari baju,dua hari ini Tama tuh kayak sibuk banget tau!"
"Kesal deh,tiap malam biasanya kita sleep call,tapi udah dua malam ini enggak. Biasanya setiap pulang sekolah kita itu nyempetin buat jalan-jalan atau sekedar vidio call,tapi dari dua hari kemarin,dia gak sempet mulu."
Bahkan Tama skip latihan dua kali. Ngeselin banget kan? Aku yakin kalian kalau jadi aku juga bakalan kesal banget sama dia."
Callista tersenyum meledek,sebelah tangannya terulur mengusap puncak kepala Karamel membuat gadis itu melotot.
"Apa sih Lis. Jangan perlakuin aku kayak bocil deh!" Bentaknya galak.
"Lagian aku yakin,Tama sesibuk ini pasti gara-gara sahabatnya yang namanya Ray-Ray itu. Heran deh,kalau udah berhubungan sama si Ray-Ray itu,Tama bisa ngelupain aja termasuk gue! Kesel,kesel,kesel!!
Karamel terus misuh-misuh tidak jelas,lain halnya dengan Callista dan Alina yang justru saling bertatapan bingung.
"Ray siapa?"
__ADS_1
♡♡♡