
Kemarin terasa seperti mimpi,dan hari ini terasa seperti halusinasi. Entah Callista yang terlalu berlebihan dalam menanggapi sesuatu,ataukah memang ada yang salah?
Sejujurnya Callista sendiri pun tidak mau menganggap ini semua serius. Tapi tadi pagi,di hall sekolah,telinganya dengan jelas mendengar gosip siur perihal Reyno Margantara yang katanya mengambil cuti alias izin dua minggu untuk urusan yang tidak bisa di pastikan kejelasannya.
Semuanya benar-benar terasa tidak nyata. Bukankah mereka baru ketemu kemarin? Lantas kemana dan apa tujuan pria itu pergi? Apa ini semua ada hubungannya dengan kelakuan Reyno yang aneh kemarin? Atau..
"Cal..,kamu udah ngerjain PR Biologi yang minggu lalu,belum? Aku nyontek dong.."
Apa Reyno kemarin sengaja bertingkah aneh untuk memberi kode padanya?
"Callista!! Pinjem PR kamu!!"
"Callista!!"
Pundak gadis itu di tepuk,membuat kesadarannya kembali.
"Eh,iya..?"
Gadis itu tersadar dari lamunannya,kemudian menolehkan kepalanya cepat pada makhluk berisik yang mengoceh di sebelahnya itu.
"Kenapa Kar?" Dengan tidak bersalahnya,Callista bertanya lagi,setelah sempat membuat Karamel bicara berulang kali.
Karamel memutar bola matanya dengan malas. "Pinjem PR Biologi Kalis! Aku belum sempat ngerjain kemarin.
Tanpa keberatan,Callista langsung menyodorkan buku PR miliknya,setelah mengeluarkannya dari tas.
"Kamu kayaknya banyak ngelamun,kenapa?"
Di sela-sela menyalin PR,Karamel menyempatkan diri untuk memperhatikan Callista yang tampak kembali bertopang dagu dengan tatapan gelisah.
"Callista.."
Dengan kesal gadis berwajah imut itu menepuk pundak Callista dengan lebih keras dari sebelumnya,hingga gadis itu berjengkit kaget.
Mata Karamel memicing. "Tuh kan,kamu ngelamun lagi!"
Kedua tangan Callista terangkat lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Gue lagi gak fokus Kar,maaf." Gadis itu menatap bersalah pada teman sebangkunya.
"Gue kayaknya mau ke UKS aja deh. Beneran gak fokus gue,gak enak badan."
Callista seketika berdiri dari tempat duduknya.
"Kamu sakit?" Karamel ikut berdiri seraya menempelkan punggung tangannya ke dahi Callista.
"Gak panas. Kamu sakit apa?"
"Gue pusing Kar."
Callista menurunkan tangan Karamel yang masih menempel di dahinya.
"Kamu pusing? Aku yang anter ke UKS,mau? Mumpung belum masuk."
Tanpa protes,Callista mengangguk. Karamel pun menyimpan buku dan pulpennya,lalu menggeser tubuhnya agar Callista bisa keluar dari kursinya.
Keduanya kemudian berjalan dengan posisi Karamel merangkul pundak Callista.
"Mau kemana?"
Seseorang menghadang langkah mereka. Kedua gadis itu mendongak.
"Digo,itu..mau ngantar Callista ke UKS."
Wajah Digo seketika berubah panik. Ia beralih menarik Callista dan gantian merangkulnya.
"Mau aku anter pulang,hm?"
__ADS_1
Callista menggeleng. "Aku mau ke UKS aja." Callista berujar lemah.
Dengan pelan Digo menggantikan posisi Karamel untuk mengantarkan pacarnya itu ke UKS.
"Ckk,kenapa sekolah sih,kalau sakit?"
"Tadi enggak kok."
Callista tidak berbohong. Tadi ia memang baik-baik saja,setidaknya sebelum ia mendengar kabar tentang Reyno yang katanya izin dua minggu. Luar bisa sekali efek dari berita itu,terbukti,Callista langsung migrain.
"Mau sekalian aku izinin ke guru,biar kamu gak usah masuk kelas sampai nanti baikan?"
Callista mengangguk lagi. "Boleh."
"Ya udah,aku keluar bentar ya. Kamu di sini dulu,sama Karamel."
Digo memberi kode pada Karamel yang berdiri di depan pintu masuk UKS.
"Masuk sini!"
"Jagain Callista bentar,gue mau ke ruang guru."
"Iya." Karamel menurut,lalu masuk ke dalam. Mendekati ranjang tempat Callista berbaring.
"Kok bisa sih,kamu sakitnya dadakan gini."
Karamel mengelus surai hitam Callista dengan lembut.
Callista tersenyum. "Kayak cowok gue aja lo."
"Ishh,masa aku di samain sama Digo. Enggak banget!" Karamel memberenggut.
"Aku serius tau Lis,sakit kamu itu terlalu dadakan. Tadi pagi kamu baik-baik aja perasaan."
Tak lantas menjawab,Callista malah kepikiran pada ponselnya. Ia lalu menoleh pada Karamel.
"Kar,boleh minta tolong gak?"
"Ponsel gue masih di kelas,di dalam tas. Bisa tolong ambilin."
"Boleh. Bentar ya aku ambil." Dengan baik hatinya,Karamel langsung beranjak dari duduknya,dan kembali ke kelas untuk mengambil ponsel Callista.
Sampai di dalam kelas,ia menuju laci lalu mengambil ponsel Callista dari dalam tas yang tersimpan di sana.
Bukannya bermaksud untuk kepo,namun saat di angkat,layar ponsel Callista menampakkan sembilan panggilan tak terjawab dan nama pemanggilnya adalah Reyno.
Saat Karamel hendak memasukkan ponsel itu ke sakunya,hp Callista kembali bergetar.
Nama Reyno terpampang di sana.
Walau agak ragu,namun Karamel memberanikan diri untuk mengangkat telepon tersebut.
"Halo,Reyno.."
"Callista?"
"ini aku Karamel,Callistanya lagi di UKS."
Hening sejenak,sebelum akhirnya telepon terputus.
Karamel menatap bingung pada layar ponselnya yang sudah menghitam itu. Ingin sejenak berpikir,tapi jam masuk hampir tiba.
Alhasil,Karamel mengurungkan niatnya dan kembali ke UKS.
"Lis,ini ponsel kamu. Maaf sebelumnya,tapi tadi ada telepon dari Reyno. Udah aku angkat,anehnya pas aku bilang kamu di UKS,telponnya langsung mati.
Alis Callista berkedut bingung.
__ADS_1
"Mana ponsel gue?"
Dengan segera Karamel memberikan ponsel Callista pada pemiliknya.
Callista mengambil alih ponselnya,dan langsung melakukan panggilan balik.
Ingin rasanya Callista mengumpat,saat mbak-mbak operator menjawab teleponnya dengan mengatakan bahwa nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.
Sebenarnya ada apa dengan Reyno?
♡♡♡
Karamel sudah kembali ke kelas,tepat setelah Digo masuk ke ruangan UKS. Bersamaan dengan kedatangan Digo,bel sekolah juga berdering.
Seperti biasanya,seragam basket dan bandana warna merah sudah terpasang sempurna pada tempatnya masing.
Cowok itu kemudian mendekati meja Callista dengan kedua tangan yang terisi semangkuk bubur dan sebotol air mineral.
"Makan dulu ya,biar ada tenaga?"
Callista mengangguk.
"Lo gak belajar di kelas?" Callista bertanya di sela-sela suapannya.
"Aku ada tanding sama sekolah lain minggu depan,jadi latihannya agak di forsir. Tapi aku tetap belajar Lis,cuma tugasnya di bawa pulang dan dikumpulin besok pagi."
"Ah..,begitu." Callista akhirnya mengangguk paham. Ternyata menjadi seseorang yang diandalkan di sekolah tidaklah mengenakkan. Tugas mereka akan bertambah,sehingga kemungkinan untuk main-main di sekolah tidak banyak.
Bahkan di beberapa kesempatan,Callista sering melihat Digo membawa buku pelajaran ke pinggir lapangan dan membacanya di sana sebelum latihan di mulai.
Mengingat betapa sibuknya seorang Digo Sadewa di sekolah,Callista agaknya merasa bersalah karena sudah membuat pria itu repot dengan menunggunya di UKS.
Hap..
Tangan Callista menggenggam tangan Digo,membuat pria yang akan mengangkat sendok itu mengurungkan niatnya.
"Kenapa? Udah Kenyang ya?"
Callista menggeleng. "Enggak,biar gue makan sendiri aja. Lo kan ada latihan,gue gak papa kok,ditinggal sendirian."
"Tapi kan.."
"Digo,lo terlalu baik sama gue. Gue takut kalau suatu saat,sikap lo ini nyakitin diri lo sendiri."
Sendok yang semula berada di genggaman Digo,berpindah kembali ke dalam mangkuk. Cowok itu juga kenyimpan mangkuk yang ia pegang ke sisi ranjang.
Kedua tangannya kemudian bergerak memegangi kedua pundak Callista dan menatapnya dalam.
"Kalau ada hal yang seharusnya aku sesalin nanti,satu-satunya,jika aku gak perjuangin kamu. Jadi entah nanti kamu bakalan sama aku atau enggak,selama aku bisa,aku mau terus berjalan bersisian di sebelah kamu."
"Aku gak mau ngejar kamu berlebihan karena aku gak mau kamu lari. Tapi aku juga gak mau balik badan dan biarin kamu jalan sendiri,aku kau tetap ada di samping kamu,terlepas dari apapun perasaan kamu. Jangan maksa aku buat nyerah Callista,karena aku enggak bisa."
"I,m in love with you,Callista Andriana."
♡♡♡
Hari ini aku double up...,bayar utang karna gak up kemarin...
Wkwk,sebenarnya selain sibuk,aku juga lagi sakit,alergi dingin ku kumat,udahlah gatel2,flu,tenggorokkan ku juga sakit,dan agak susah napas. Tapi demi kalian yang mungkin aja nunggu,aku maksain buat up.
Love u kalian...
♡♡
oh ya,sebelum.lanjut...
mampir dulu yuk ke novel temen otor yang gak kalah kecenya ini...
__ADS_1
Baca sinopsisnya dulu ya...